Senin, 23 Mei 2011

Active Learning, Belajar Yang Mengasyikan

Oleh:

Mishad*

Yang saya dengar, saya lupa

Yang saya lihat, saya ingat

Yang saya kerjakan, saya pahami

(Konfusius)

Besok siang saya harus mengajar perdana, bab metodologi penelitian sosiologi di kelas XII program ilmu sosial. Terus terang pikiran saya waktu itu agak pesimis dapat menyampaikan materi itu secara maksimal atau tidak. Maklum, materi pelajarannya berat, kondisi waktunya siang dengan tingkat pemahaman siswa program IPS yang rata-rata intelektualnya sedang atau bahkan kurang. Hal ini membuat saya berpikir keras. Intinya, yang saya pikirkan adalah bagaimana siswa kelas XII IPS itu bisa menerima materi tersebut dengan pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan (PAKEM).

Terbersit di benak saya untuk melakukan apa yang dikatakan Konfusius, yaitu “yang saya kerjakan saya pahami”. Singkat cerita, untuk menyampaikan materi metodologi penelitian saya kemudian menyiapkan instrumen pembelajaran berupa sejumlah angket. Kemudian saya juga menyiapkan konsep dan instrumen pengkodean data, matriks data, rekapitulasi data, dan tabulasi data. Lalu, saya buat alur kerja yang harus saya lakukan di depan siswa dalam skenario pembelajaran. Tidak lupa, saya juga membuat sistematika tugas yang harus dilakukan siswa agar target materi dalam pembelajaran saya ke siswa tuntas.

Alhamdulillah, ketika saat mengajar itu tiba. Saya terapkan apa yang harus saya lakukan dan dilakukan oleh siswa. Pertama, setelah saya beri petunjuk cara pembuatan dan pengisiannya semua siswa langsung saya beri angket lengkap dengan instruksi untuk mengisinya secara benar. Kedua, mereka harus maju satu persatu ke depan untuk memindah hasil isian angket ke matriks data yang saya tuliskan di papan sesuai dengan pengkodean data yang mereka buat. Ketiga, dari matriks data tersebut mereka lalu membuat rekapitulasi data dan selanjutnya mentabulasikannya. Keempat, mereka membuat keterangan dari hasil tabulasi data mereka dan menyimpulkannya. Kelima setelah saya beri contoh sistematika sebuah laporan penelitian, mereka saya tugaskan untuk menentukan judul penelitian, membuat angket, pengkodean data, matriks data, rekapitulasi data, tabulasi data, menarik kesimpulan, dan membuat laporan secara berkelompok sesuai dengan judul penelitian mereka.

Saya melihat, dengan aktivitas learning to do atau learning by doing siswa saya tampak bersemangat. Setelah melakukannya, mereka menjadi paham tentang bagaimana cara menentukan judul, membuat instrumen penelitian, mengolah data, menganalisis data, dan menyimpulkan hasil penelitian. Siswa saya akhirnya berkata “Ehm..pak ternyata meneliti itu mudah”. Alhamdulillah, ternyata dengan pembelajaran aktif dengan prinsip “yang saya kerjakan saya paham” itu tepat sekali. Materi metodologi penelitian yang sulit dipahami siswa lewat ceramah dan latihan soal menjadi mudah dikerjakan dengan pendelegasian dan kerja kelompok. Kesimpulan saya, pembelajaran aktif (active learning) adalah satu cara yang efektif agar pembelajaran yang kita lakukan menyenangkan dan berhasil mencapai target tuntas.

Memang, variasi metode mengajar guru sangat diperlukan untuk memacu minat belajar siswa. Dengan berlakuknya kurikulum berbasis kompetensi, guru harus kreatif mencari model-model pembelajaran yang PAKEM. Salah satu metode belajar yang bisa dilakukan adalah dengan model pembelajaran aktif (active learning). Ciri mendasar dari pembelajaran aktif adalah dibentuknya kelompok, siswa aktif, guru lebih sebagai fasilitator, adanya media pembelajaran atau alur permainan (role-playing). Pembelajaran aktif bertujuan menyinergikan kemampuan melihat (visual), mendengar (auditorial), dan perilaku (kinestetik) siswa.

Seperti yang telah kita ketahui, sebagian besar orang cenderung mudah lupa tentang apa yang mereka dengar dan lihat saja. Salah satu alasan yang paling menarik adalah kaitannya dengan tingkat kecepatan bicara guru dan tingkat kecepatan mendengar siswa. Pada umumnya, guru ketika berbicara normal adalah dengan kecepatan 100 hingga 200 kata per menit. Sedangkan siswa normal hanya dapat merekam sekitar 50 sampai 100 kata saja atau setengahnya. Apalagi kalau gurunya bicara cepat dan lama, maka bisa dipastikan siswa akan pudar konsentrasinya. Berdasarkan hasil penelitian, siswa hanya mampu mendengarkan (tanpa memikirkan) 400-500 kata per menit saja. Apabila siswa mendengarkan dengan waktu yang berkepanjangan dan bicaranya guru tidak jelas, maka siswa cenderung jenuh. Pikiran mereka bisa mengembara entah ke mana.

Dalam penelitian Polio (1984) menunjukkan , bahwa dalam perkuliahan bergaya ceramah, mahasiswa kurang menaruh perhatian selama 40% dari seluruh waktu kuliah. Penelitian McKeachie (1986) memperkuat hasil temuan Polio, yaitu mahasiswa dapat mengingat 70% dalam sepuluh menit pertama kuliah, sedangkan dalam 10 menit terakhir, mereka hanya dapat mengingat 20% materi kuliah. Tidak heran jika mahasiswa dalam kuliah psikologi yang disampaikan dengan gaya ceramah hanya mengetahui 8 % lebih banyak dari kelompok pembanding yang sama sekali belum pernah mengikuti kuliah itu.

Hasil penelitian Pike (1989) menunjukkan adanya peningkatan pemahaman siswa sekitar 200% ketika digunakan media visual dalam mengajarkan kosa kata. Bahkan waktu yang digunakan untuk menyajikan sebuah konsep dapat berkurang hingga 40% ketika media visual digunakan untuk mendukung presentasi lisan. Hal ini lantaran media gambar punya nilai tiga kali lebih efektif dari kata-kata saja. Siswa terkadang suka belajar dengan cara mendengarkan. Di antara mereka juga ada yang suka belajar dengan gaya melihat atau mengamati. Namun cukupkah kita mengajar dengan mengasah kemampuan mendengar (auditori) atau melihat (visual) siswa saja?

Masih ada keterampilan siswa yang perlu difungsikan, yaitu kemampuan unjuk kerja (kinestetik). Untuk menyinergikan tiga gaya belajar tersebut diperlukan metode cara pembelajar aktif (active learning). Kegiatan belajar bersama secara berkelompok yang merupakan ciri pembelajaran aktif dapat memacu siswa belajar aktif. Melalui kegiatan kerjasama kelompok kecil-kecil akan memungkinkan mereka untuk memperoleh pemahaman dan penguasaan materi pelajaran. Metode belajar bersama, seperti Jigsaw akan mendorong siswa untuk tidak hanya belajar bersama namun juga mengajarkan antara satu dengan yang lain.

Mengajar adalah Belajar “When You Theach, You Learn”

Guru yang berkeyakinan mengajar adalah belajar menanggapi pertanyaan sangat cemerlang dengan respon lebih cemerlang. Guru menggali pertanyaan lebih dalam lagi, merumuskan, dan menghubungkan dengan teori yang sudah ada—walau belum terjawab. Kecemerlangan siswa diakui dan diungkapkan langsung di depan kelas. Siswa semakin percaya diri untuk mengembangkan pengetahuan.

Selanjutnya, guru dapat menawarkan dan merencanakan studi lebih lanjut berkenaan dengan pertanyaan sangat cemerlang. Studi dapat dilakukan bersama-sama antara guru dan siswa. Studi lanjut ini dapat berupa studi pustaka ataupun eksperimen. Sementara guru yang tidak meyakini mengajar adalah belajar akan kesulitan bila dihadapkan pada pertanyaan sangat cemerlang. Ia akan menutupi ketidaktahuannya dengan berlaku keras atau membatasi kreativitas siswa dan proses pembelajaran yang ideal pun terhenti.

Jika ada siswa yang bosan mengikuti suatu pelajaran, maka itu merupakan salah satu indikasi guru sebagai “leader” kurang profesional. Jika siswa semakin lama merasa semakin tertarik, lalu menyelami kedalaman materi yang disampaikan oleh guru, maka itulah profil guru profesional. Guru profesional meyakini, bahwa hidup adalah belajar terus menerus menuju kesempurnaan. Belajar bukan hanya bentuk resmi di kelas. Belajar memiliki makna yang luas. Saat di rumah, berbincang-bincang dengan anakpun dapat dimanfaatkan sebagai momen belajar. Saat di perjalanan menuju kantorpun kita dapat sambil belajar.

Penelitian terakhir tentang otak menunjukkan, bahwa otak manusia paling sedikit terdiri dari 100 milyar sel otak aktif atau neuron. Dalam setiap menit, sel-sel aktif itu mampu menciptakan sambungan baru tidak kurang 100 ribu jalur. Dengan potensi yang demikian besar tidak ada alasan bagi manusia untuk tidak menjadi cerdas. Ingat apa yang pernah disampaikan Buckminster Fuller, yaitu “All children are born geniouses” (semua anak terlahir jenius).

Bila kita hendak mengambil contoh untuk membandingkan otak orang cerdas dengan biasa, dapat kita ambil contoh otak Einstein. Otak Einstein berkembang 10% lebih baik dari otak orang biasa. Perkembangan ini terjadi pada bagian otak matematis dan verbal—yang merupakan parameter IQ. Sementara otak matematis dan verbal adalah bagian kecil dari keseluruhan otak manusia—sekitar 20%. Jadi otak Einstein berkembang lebih baik dari orang biasa yang kira-kira hanya sebesar 2%.

Lalu timbul pertanyaan, mengapa banyak orang “bodoh”? Atau lebih tepatnya mengapa banyak orang yang otaknya tidak berkembang? Dalam buku The Learning Revolution dan Quantum Learning dijelaskan, bahwa manusia memiliki tipe tertentu dalam menerima dan mengolah informasi. Manusia digolongkan menjadi tiga tipe dalam menyerap informasi, yaitu auditif, visual, dan kinestesik. Sementara dalam mengolah informasi ada empat tipe yaitu sekuensial kongkret, sekuensial abstrak, acak kongkret, dan acak abstrak.

Kita mungkin mengharap, bahwa ada tipe terbaik dibanding tipe lain, sehingga ada orang yang lebih cerdas. Ternyata tidak ada, artinya semua tipe adalah baik. Orang akan cerdas apabila ia menerima dan mengolah informasi sesuai dengan tipenya. Orang akan tampak “bodoh” bila sistem pendidikan tidak mengakomodasi tipenya. Dengan demikian tugas pendidikan adalah mengidentifikasi tipe-tipe anak didik, kemudian menyusun rencana pendidikan yang sesuai. Tidak tepat memperlakukan semua anak didik dengan cara yang sama.

Seorang guru yang meyakini, bahwa siswa memiliki otak tak hingga, senantiasa mencari cara bagaimana agar siswa mampu mengaktualisasikan potensi itu. Guru pantang menyerah bila siswa belum menguasai materi tertentu, maka bukan otak siswa yang tidak mampu. Tetapi gaya guru dan motivasi siswa yang belum selaras.

Active Learning: Model Belajar Yang Mengasyikkan

Ada bermacam-macam cara untuk menyusun diskusi dan mendapatkan respon dari siswa dalam pembelajaran aktif. Kita juga dapat menggabungkan beberapa metode ini—sebagai misal menggunakan sub-diskusi kemudian mengundang juru bicara dari masing-masing kelompok untuk bertugas dalam sebuah panel. Untuk lebih jelasnya, menurut Melvin L. Silberman (2004) beberapa metode pembelajaran aktif dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

1. Diskusi terbuka : Diskusi terbuka yang sifatnya langsung sangatlah menarik. Jika anda khawatir kalau-kalau diskusi berkepanjangan , peringatkanlah siswa lebih dahulu. Untuk mendorong siswa supaya berpartisipasi, tanya berapa di antara kalian yang memiliki jawaban atas pertanyaan saya. Kemudian tunjuk salah satu siswa yang mengacungkan jari.

2. Kartu jawaban: Bagikan kartu indeks dan mintakan jawaban atas pertanyaan anda tanpa menyertakan nama. Serahkan atau sebarkan kartu indeks itu kepada semua kelompok. Gunakan kartu jawaban untuk menghemat waktu atau untuk melindungi privasi dari jawaban yang bisa menyinggung perasaan. Tuntutan untuk memberikan jawaban secara ringkas pada selembar kartu merupakan keunggulan juga.

3. Jajak pendapat: susunlah sebuah survei singkat yang diisi dan dihitung hasilnya di tempat itu juga, atau lakukan pemungutan suara secara lisan. Gunakan pemungutan suara untuk mendapatkan data secara cepat dan dalam bentuk yang bisa dihitung. Jika anda menggunakan survei tertulis, upayakan untuk menyampaikan kembali hasilnya kepada siswa selekas mungkin. Jika anda menggunakan survey lisan, mintalah siswa untuk mengacungkan jari atau perintahkan siswa untuk menunjukkan kartu jawaban.

4. Diskusi sub kelompok: Bagilah siswa menjadi sub-sub kelompok yang terdiri dari tiga anggota atau lebih untuk berbagi dan mencatat informasi. Gunakan diskusi sub kelompok bila anda memiliki cukup waktu untuk memproses pertanyaan dan soal. Ini merupakan salah satu metode utama untuk mendapatkan partisipan dari seluruh siswa.

5. Mitra belajar: Perintahkan siswa untuk mengerjakan tugas atau mendiskusikan pertanyaan-pertanyaan utama dengan siswa yang duduk di sebelahnya. Gunakan mitra belajar bila anda ingin melibatkan semua siswa. Tapi dengan cara ini tidak cukup waktu untuk melaksanakan diskusi kelompok kecil . Sebuah pasangan merupakan konfigurasi kelompok yang baik untuk membangun hubungan saling mendukung dan untuk melaksanakan aktivitas kompleks yang tidak cocok dengan konfigurasi kelompok besar.

6. Penyemangat: Datangi semua kelompok dan mintai jawaban singkat atas pertanyaan utama. Gunakan kalimat penyemangat bila anda menginginkan sesuatu secara cepat dari siswa. Penggalan kalimat, semisal “Usaha yang bisa kita lakukan untuk memberantas korupsi di Indonesia adalah……..”. dapat menjadi semacam penyemangat atau pelecut. Untuk menghindari perulangan, perintahkan siswa untuk memberi sumbang saran baru tentang proses yang sedang berlangsung.

7. Model Panel: Perintahkan sejumlah kecil siswa untuk mengemukakan pendapat mereka di depan kelas. Sebuah panel informal dapat dibentuk dengan meminta pendapat dari sejumlah siswa yang sudah ditentukan yang masih berada di tempat duduk masing-masing. Lakukan penggiliran panelis agar semua bisa berpartisipasi.

8. Ruang Terbuka (Fishbowl): Perintahkan sebagian siswa untuk membentuk lingkaran diskusi, dan perintahkan sebagian lain untuk membentuk lingkaran pendengar di sekeliling mereka. Bawalah kelompok baru ke lingkaran dalam untuk melanjutkan diskusi. Gunakan formasi ruang terbuka untuk membantu pemfokusan pada diskusi kelompok besar. Meski memakan waktu, cara ini merupakan metode terbaik untuk mengkombinasikan keunggulan dari diskusi kelompok besar dan kecil.

9. Permainan: Gunakan latihan yang menyenangkan atau permainan kuis untuk memancing pendapat, pengetahuan, atau keterampilan siswa. Tayangan di TV semisal kuis “Family 100” atau “Tebak kata” bisa digunakan sebagai landasan permainan yang mendorong siswa untuk berpartispasi. Gunakan permainan yang bisa membangkitkan semangat dan keterlibatan siswa. Permainan juga sangat membantu menciptakan suasana dramatis yang kelak akan terus diingat oleh siswa.

10. Memanggil pembicara selanjutnya: Perintahkan siswa untuk tunjuk jari, ketika mereka ingin berbagi pendapat, dan perintahkan agar pembicara yang sekarang untuk menunjuk pembicara berikutnya (bukannya guru yang menunjuknya). Gunakan teknik ini, bila anda yakin ada minat yang cukup besar terhadap diskusi atau aktivitas belajar, dan anda ingin meningkatkan interaksi siswa.

Dengan menerapkan active learning, maka diharapkan siswa lebih tersalurkan kemampuan visual, auditori dan kinestetiknya secara bersama. Hal ini sejalan dengan metode belajar kontrusktivistik yang mengasah kemampuan siswa menemukan sendiri (inquiry) konsep materi yang dipelajarinya. Melalui mendengar, melihat, dan unjuk kerja sangat dimungkinkan siswa akan menemukan sendiri materi yang dipelajarinya. Selain itu, situasi yang tercipta dalam active learning terasa siswa lebih kreatif, efektif, dan dalam situasi menyenangkan.

Tidak ada komentar: