Salah satu peristiwa paling bersejarah di indonesia adalah sumpah pemuda (28 Oktober 1928). Rumusan / teks sumpah pemuda ditulis oleh Moehammad Yamin. tentang Sumpah ini awalnya dicabakan oleh Soegondo walau akhirnya dijelaskan secara rinci oleh Yamin.
Tentang isi teks dari Sumpah pemuda adalah sebagai berikut :
PERTAMA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia.
KEDOEA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia.
KETIGA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia.
Gagasan tentang penyelenggaraan Kongres Pemuda II (momen pembacaan teks sumpah pemuda)adalah dari Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI). Saat kongres ini ditudup diperdengarkan lagu Indonesia raya karya Wage Rudolf Supratman. Yang akhirnya juga ditutup dengan mengumumkan rumusan hasil kongres. Oleh para pemuda saat itu, rumusan itu diucapkan sebagai Sumpah Setia.
Para peserta dari kongres sumpah pemuda ini adalah dari berbagai organisasi pemuda seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, PPPI, Pemuda Kaum Betawi bahkan ada juga keturunan Tionghoa yang bertindak sebagai pengamat.
Dari teks tentang artikel sejarah yang bintang dapat, gedung tempat pemakaian dari acara ini adalah Bangunan di Jalan Kramat Raya 106,. Sebuah bangunan tempat pemondokan bagi pelajar maupun mahasiswa. Sekarang gedung ini dikenal dengan Gedung Sumpah Pemuda
Untuk artikel sejarah lebih lengkap silahkan lihat di wikipedia tentang sumpah pemuda. Gambar diatas adalah teks sumpah pemuda yang saya dapat melalui internet. Semoga kita dapat terus menghayati dan melaksanakan cita-cita para pahlawan kita.
Pengikut
Selasa, 27 Oktober 2009
Selasa, 15 September 2009
Mudik
Oleh:
Mishad Khairi
Malam itu suasana kota Malang tampak semarak sekali. Suara takbir bersahut-sahutan dari beberapa mushola dan masjid. Bahkan ada beberapa kendaraan, mulai sepeda motor, pick up hingga truk membawa rombongan takbir keliling. Semua kegiatan tersebut dilakukan dalam rangka takbiran untuk mengagungkan asma Allah SWT. Allahu Akbar ... Allahu Akbar .... Allahu Akbar.
Di saat yang sama, Azis dan Ali kelihatan masih sibuk menyiapkan agenda pelaksanaan sholat Idhul Fitri besok hari. Mereka memasang tenda dan menggelar karpet tambahan untuk persiapan jika jamaah sholat Ied besok meluber sampai keluar masjid. Dua pemuda perantau ini harus bersabar untuk tidak mudik ke kampungnya sebelum distribusi zakat fitrah/Maal dan pelaksanaan sholat Ied di masjidnya tuntas. Azis dan Ali adalah dua mahasiswa sebuah PTN di Malang yang kuliah sambil ber-khidmah- di sebuah masjid perumahan.
Nasib Azis dan Ali masih mending jika di bandingkan dengan nasib Mukhlas. Mukhlas adalah seoarang TKI yang bekerja di luar negeri. Dia berpisah dengan anak istri yang ada di tanah air. Saat hari raya seperti ini, dia belum tentu bisa pulang. Hal ini lantaran ikatan pekerjaan yang belum bisa ditinggalkan. Di samping itu, jika pulang tiap tahun, maka akan menambah pengeluaran. Mukhlas harus bersabar untuk menunda kepulangannya pada lebaran tahun depan agar bisa membawa uang lebih. Mungkin masih banyak cerita lain tentang mereka yang harus sabar untuk menunda keinginan mudiknya. Walaupun agak tertunda momen mudik pada hari raya adalah kebutuhan yang tak bisa digantikan dengan telpon, sms, apalagi dengan mengirim kartu lebaran kepada sanak famili di kampung.
Arus Mudik Tahun Ini
Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal menyatakan jumlah pemudik Hari raya Idhul Fitri 2008 diperkirakan mencapai sekitar 15,8 juta jiwa. "Dari perkiraan jumlah pemudik tersebut yang menggunakan angkutan darat sekitar 9.888.000 jiwa, terdiri dari angkutan jalan 6.922.000 jiwa, angkutan sungai danau dan penyeberangan 2.966.000 jiwa. Rata-rata tumbuh sekitar 5,2 persen dari tahun lalu," kata Menhub di Semarang, Jumat (29/8). Kemudian yang menggunakan angkutan kereta api (KA) sekitar 2.377.000 jiwa atau naik 5,38 persen dari tahun lalu. Pemudik yang memanfaatkan angkutan laut sekitar 1.018.000 jiwa, angkutan udara 1.885.000 jiwa atau naik 9,32 persen dari tahun lalu. "Penumpang angkutan laut diperkirakan naik paling tinggi sekitar 10 persen yang tahun lalu hanya mencapai 926.000 jiwa. Kondisi ini diperkirakan berlangsung pada H-7 hingga H+7 Hari raya Idhul Fitri 2008," katanya. Ia mengatakan, jumlah kendaraan motor tanpa sepeda motor diperkirakan meningkat 4,61 persen yakni 1.808.150 kendaraan tahun 2007 menjadi 1.891.523 kendaraan tahun 2008. Sejumlah kendaraan tersebut terdiri dari mobil pribadi sebanyak 1.284.488 kendaraan, bus besar 1999.451 kendaraan, bus sedang 43.994 kendaraan, nonbus 64.468 kendaraan, dan truk 263.000.Selain itu, katanya, sekitar 2.506.572 sepeda motor diperkirakan akan hilir mudik selama Hari raya Idhul Fitri. Kesiapan sarana, katanya, untuk angkutan jalan sebanyak 34.395 bus, dengan kapasitas 16,5 juta orang, angkutan sungai danau dan penyeberangan 127 kapal dengan kapasitas 11,4 juta orang, 223 KA dengan kapasitas 3,25 juta orang, angutan laut 593 kapal kapasitas 3,3 juta orang, dan angkutan udara 183 pesawat kapasitas 2,11 juta orang."Jumlah sarana yang ada melebihi permintaan. Sarana dan kebutuhan cukup memadai untuk mengangkut 15,79 juta jiwa arus mudik," katanya. (KOMPAS, 30/8/2008)
Mengapa Harus Mudik?
Mudik, sebuah istilah yang akan sangat hangat menjadi pembicaraan pada bulan ramadhan terutama menjelang Idhul Fitri tiba. Puluhan tahun istilah ini telah dikenal masyarakat luas di Indonesia dari berbagai kalangan. Menurut Krismanto (2007), mudik berasal dari kata udik, yang bisa diartikan pedalaman atau bisa juga pinggiran, namun dalam hal ini pedalaman dikonotasikan multidimensi. Secara harfiah berarti kembali dari sebuah titik pusat kehidupan masyarakat ke pedalaman atau pinggiran daerah mereka berasal, sedangkan secara simbolik mudik merupakan budaya masyarakat Indonesia yang berdimensi religius, dimensi demografi, ekonomi, dan lain lain.
Setiap tahun tepatnya di hari raya Idhul Fitri masyarakat yang sehari-harinya hiruk pikuk mencari penghidupan di kota akan mudik pulang kampung. Dari kota manapun mereka akan ramai-ramai pulang ke keluarganya masing-masing untuk merayakan hari raya Idhul Fitri bersama-sama. Namun karena kota Jakartalah yang terbesar dalam urusan mudik ini maka sorotan mudik akan terpusat di kota Jakarta. Mereka akan mudik menuju berbagai penjuru tanah air dari Sabang bahkan sampai Merauke.
Hiruk pikuk mudik manusia sebanyak itu tak ayal membuat pemerintah sibuk untuk mengurusinya terutama dalam hal transportasi. Berbagai macam transportasi baik darat, udara dan laut disiagakan. Bahkan untuk transportasi tertentu sudah sibuk sejak sebulan yang lalu atau awal Ramadhan. Tak heran jika tiket Kereta api dan pesawat sudah jadi barang langka dan mahal justru ketika Idhul Fitri semakin dekat. Kelangkaan dan mahal itulah yang membuat sebagian masyarakat rela menggunakan sepeda motor walaupun dengan jarak yang sangat jauh dan berisiko tinggi akan kecelakaan. Bahkan jumlahnyapun setiap tahun terus meningkat.
Memang untuk urusan mudik ini masyarakat akan rela melakukan apa saja demi tercapainya tujuan mereka ber-Hari raya Idhul Fitri bersama keluarga di kampung. Mereka rela antri tiket berjam-jam bahkan bisa seharian. Tiket semahal apapun akan mereka beli bahkan melalui calo tiket sekalipun. Bahkan tiket tanpa tempat duduk pun merek tetap beli asalkan terangkut. Bermudik dengan sepeda motor juga banyak mereka tempuh, padahal dengan sepeda motor itu mereka akan kepanasan, kehujanan, bahkan menjadi armada yang paling rawan kecelakaan di jalan raya.
Hikmah Mudik
Memang inilah uniknya budaya mudik, tak dapat diingkari banyak hikmah yang bisa diambil dari budaya ini. Hikmah secara religi jelas bahwa mudik merupakan sebuah silaturahmi masal dari umat Islam yang sehari-hari hidup di kota kepada keluarga dan familinya di desa. Keyakinan bahwa silaturahmi merupakan perbuatan amaliyah yang berpahala besar, membuka pintu rezeki dan menambah usia harapan hidup bertambah seakan-akan membakar tekad dan semangat umat untuk ramai-ramai mudik di Idhul Fitri. Sebenarnya mudik juga banyak dilakukan pada waktu-waktu tertentu, namun Idhul Fitri lah momen yang paling sakral. Hikmah lainnya adalah secara kebangsaan, mudik jelas akan semakin memperkuat tali persaudaraan dan persatuan bangsa. Akan nampak jelas ikatan kekeluargaan yang kuat dan kental masyarakat yang tinggal di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di momen mudik Idhul Fitri itu. Belum lagi mereka yang mudik antar kota lain di seluruh wilayah tanah air selain Jakarta. Mereka yang menyebar dari berbagai penjuru kota akan saling bertemu di kampung dan berbagi cerita dan kisah hidup.
Hikmah secara sosial ekonomi, mudik merupakan sebuah gambaran kepulangan masal dari masyarakat daerah yang telah bertekad melakukan sebuah mobilitas sosial di kota. Secara umum mobilitas sosial dapat digambarkan sebagai sebuah proses perpindahan atau kesempatan untuk berpindah pada kelompok-kelompok sosial yang berada di masyarakat, terutama sekali proses perpindahan dari kelompok masyarakat yang kurang beruntung menjadi masyarakat yang lebih beruntung secara sosial ekonomi. Kota adalah menjadi tempat tujuan mereka untuk bermobilitas sosial tersebut, walaupun pada kenyataannya mereka belum tentu berhasil melakukannya. Berhasil dalam arti pindah dari kurang beruntung menjadi beruntung secara ekonomi. Dari proses tersebut tentu banyak materi, cerita dan pengalaman yang mereka bagikan kepada sanak saudara ketika mudik. Alhasil hikmah ini membawa dampak baik positif maupun negatif.
Positifnya adalah mereka yang berhasil melakukan proses mobilitas dari kurang beruntung menjadi beruntung secara ekonomi yang kemudian dikenal dengan istilah ”orang sukses” akan membawa keberhasilannya secara materi itu ke desanya. Milayaran bahkan trilyunan rupiah akan masyarakat bawa ketika bermudik. Mereka akan belanjakan rupiah mereka baik di sepanjang perjalanan maupun di desanya. Dampak ini sungguh luar biasa. Pemerataan ekonomi yang tidak usah repot-repot direncanakan pemerintah, tapi sudah pasti terjadi setiap tahunnya. Dari hal yang paling sepele seperti membeli makan di jalan-jalan ketika macet, warung makan di sepanjang perjalanan, memberi angpao kepada sanak famili, belanja keperluan Hari raya Idhul Fitri di desa, servis motor dan mobil di bengkel-bengkel daerahnya, bahkan bisa jadi sampai membangun atau renovasi rumah di desa. Tapi dengan adanya mudik nilai kebermaknaan Idhul Fitri akan menjadi semakin mengena dan mendalam baik untuk diri pribadi setiap muslim, keluarganya, masyarakat desanya bahkan sampai pada negara ini. Wallahua’lam
Mishad Khairi
Malam itu suasana kota Malang tampak semarak sekali. Suara takbir bersahut-sahutan dari beberapa mushola dan masjid. Bahkan ada beberapa kendaraan, mulai sepeda motor, pick up hingga truk membawa rombongan takbir keliling. Semua kegiatan tersebut dilakukan dalam rangka takbiran untuk mengagungkan asma Allah SWT. Allahu Akbar ... Allahu Akbar .... Allahu Akbar.
Di saat yang sama, Azis dan Ali kelihatan masih sibuk menyiapkan agenda pelaksanaan sholat Idhul Fitri besok hari. Mereka memasang tenda dan menggelar karpet tambahan untuk persiapan jika jamaah sholat Ied besok meluber sampai keluar masjid. Dua pemuda perantau ini harus bersabar untuk tidak mudik ke kampungnya sebelum distribusi zakat fitrah/Maal dan pelaksanaan sholat Ied di masjidnya tuntas. Azis dan Ali adalah dua mahasiswa sebuah PTN di Malang yang kuliah sambil ber-khidmah- di sebuah masjid perumahan.
Nasib Azis dan Ali masih mending jika di bandingkan dengan nasib Mukhlas. Mukhlas adalah seoarang TKI yang bekerja di luar negeri. Dia berpisah dengan anak istri yang ada di tanah air. Saat hari raya seperti ini, dia belum tentu bisa pulang. Hal ini lantaran ikatan pekerjaan yang belum bisa ditinggalkan. Di samping itu, jika pulang tiap tahun, maka akan menambah pengeluaran. Mukhlas harus bersabar untuk menunda kepulangannya pada lebaran tahun depan agar bisa membawa uang lebih. Mungkin masih banyak cerita lain tentang mereka yang harus sabar untuk menunda keinginan mudiknya. Walaupun agak tertunda momen mudik pada hari raya adalah kebutuhan yang tak bisa digantikan dengan telpon, sms, apalagi dengan mengirim kartu lebaran kepada sanak famili di kampung.
Arus Mudik Tahun Ini
Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal menyatakan jumlah pemudik Hari raya Idhul Fitri 2008 diperkirakan mencapai sekitar 15,8 juta jiwa. "Dari perkiraan jumlah pemudik tersebut yang menggunakan angkutan darat sekitar 9.888.000 jiwa, terdiri dari angkutan jalan 6.922.000 jiwa, angkutan sungai danau dan penyeberangan 2.966.000 jiwa. Rata-rata tumbuh sekitar 5,2 persen dari tahun lalu," kata Menhub di Semarang, Jumat (29/8). Kemudian yang menggunakan angkutan kereta api (KA) sekitar 2.377.000 jiwa atau naik 5,38 persen dari tahun lalu. Pemudik yang memanfaatkan angkutan laut sekitar 1.018.000 jiwa, angkutan udara 1.885.000 jiwa atau naik 9,32 persen dari tahun lalu. "Penumpang angkutan laut diperkirakan naik paling tinggi sekitar 10 persen yang tahun lalu hanya mencapai 926.000 jiwa. Kondisi ini diperkirakan berlangsung pada H-7 hingga H+7 Hari raya Idhul Fitri 2008," katanya. Ia mengatakan, jumlah kendaraan motor tanpa sepeda motor diperkirakan meningkat 4,61 persen yakni 1.808.150 kendaraan tahun 2007 menjadi 1.891.523 kendaraan tahun 2008. Sejumlah kendaraan tersebut terdiri dari mobil pribadi sebanyak 1.284.488 kendaraan, bus besar 1999.451 kendaraan, bus sedang 43.994 kendaraan, nonbus 64.468 kendaraan, dan truk 263.000.Selain itu, katanya, sekitar 2.506.572 sepeda motor diperkirakan akan hilir mudik selama Hari raya Idhul Fitri. Kesiapan sarana, katanya, untuk angkutan jalan sebanyak 34.395 bus, dengan kapasitas 16,5 juta orang, angkutan sungai danau dan penyeberangan 127 kapal dengan kapasitas 11,4 juta orang, 223 KA dengan kapasitas 3,25 juta orang, angutan laut 593 kapal kapasitas 3,3 juta orang, dan angkutan udara 183 pesawat kapasitas 2,11 juta orang."Jumlah sarana yang ada melebihi permintaan. Sarana dan kebutuhan cukup memadai untuk mengangkut 15,79 juta jiwa arus mudik," katanya. (KOMPAS, 30/8/2008)
Mengapa Harus Mudik?
Mudik, sebuah istilah yang akan sangat hangat menjadi pembicaraan pada bulan ramadhan terutama menjelang Idhul Fitri tiba. Puluhan tahun istilah ini telah dikenal masyarakat luas di Indonesia dari berbagai kalangan. Menurut Krismanto (2007), mudik berasal dari kata udik, yang bisa diartikan pedalaman atau bisa juga pinggiran, namun dalam hal ini pedalaman dikonotasikan multidimensi. Secara harfiah berarti kembali dari sebuah titik pusat kehidupan masyarakat ke pedalaman atau pinggiran daerah mereka berasal, sedangkan secara simbolik mudik merupakan budaya masyarakat Indonesia yang berdimensi religius, dimensi demografi, ekonomi, dan lain lain.
Setiap tahun tepatnya di hari raya Idhul Fitri masyarakat yang sehari-harinya hiruk pikuk mencari penghidupan di kota akan mudik pulang kampung. Dari kota manapun mereka akan ramai-ramai pulang ke keluarganya masing-masing untuk merayakan hari raya Idhul Fitri bersama-sama. Namun karena kota Jakartalah yang terbesar dalam urusan mudik ini maka sorotan mudik akan terpusat di kota Jakarta. Mereka akan mudik menuju berbagai penjuru tanah air dari Sabang bahkan sampai Merauke.
Hiruk pikuk mudik manusia sebanyak itu tak ayal membuat pemerintah sibuk untuk mengurusinya terutama dalam hal transportasi. Berbagai macam transportasi baik darat, udara dan laut disiagakan. Bahkan untuk transportasi tertentu sudah sibuk sejak sebulan yang lalu atau awal Ramadhan. Tak heran jika tiket Kereta api dan pesawat sudah jadi barang langka dan mahal justru ketika Idhul Fitri semakin dekat. Kelangkaan dan mahal itulah yang membuat sebagian masyarakat rela menggunakan sepeda motor walaupun dengan jarak yang sangat jauh dan berisiko tinggi akan kecelakaan. Bahkan jumlahnyapun setiap tahun terus meningkat.
Memang untuk urusan mudik ini masyarakat akan rela melakukan apa saja demi tercapainya tujuan mereka ber-Hari raya Idhul Fitri bersama keluarga di kampung. Mereka rela antri tiket berjam-jam bahkan bisa seharian. Tiket semahal apapun akan mereka beli bahkan melalui calo tiket sekalipun. Bahkan tiket tanpa tempat duduk pun merek tetap beli asalkan terangkut. Bermudik dengan sepeda motor juga banyak mereka tempuh, padahal dengan sepeda motor itu mereka akan kepanasan, kehujanan, bahkan menjadi armada yang paling rawan kecelakaan di jalan raya.
Hikmah Mudik
Memang inilah uniknya budaya mudik, tak dapat diingkari banyak hikmah yang bisa diambil dari budaya ini. Hikmah secara religi jelas bahwa mudik merupakan sebuah silaturahmi masal dari umat Islam yang sehari-hari hidup di kota kepada keluarga dan familinya di desa. Keyakinan bahwa silaturahmi merupakan perbuatan amaliyah yang berpahala besar, membuka pintu rezeki dan menambah usia harapan hidup bertambah seakan-akan membakar tekad dan semangat umat untuk ramai-ramai mudik di Idhul Fitri. Sebenarnya mudik juga banyak dilakukan pada waktu-waktu tertentu, namun Idhul Fitri lah momen yang paling sakral. Hikmah lainnya adalah secara kebangsaan, mudik jelas akan semakin memperkuat tali persaudaraan dan persatuan bangsa. Akan nampak jelas ikatan kekeluargaan yang kuat dan kental masyarakat yang tinggal di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di momen mudik Idhul Fitri itu. Belum lagi mereka yang mudik antar kota lain di seluruh wilayah tanah air selain Jakarta. Mereka yang menyebar dari berbagai penjuru kota akan saling bertemu di kampung dan berbagi cerita dan kisah hidup.
Hikmah secara sosial ekonomi, mudik merupakan sebuah gambaran kepulangan masal dari masyarakat daerah yang telah bertekad melakukan sebuah mobilitas sosial di kota. Secara umum mobilitas sosial dapat digambarkan sebagai sebuah proses perpindahan atau kesempatan untuk berpindah pada kelompok-kelompok sosial yang berada di masyarakat, terutama sekali proses perpindahan dari kelompok masyarakat yang kurang beruntung menjadi masyarakat yang lebih beruntung secara sosial ekonomi. Kota adalah menjadi tempat tujuan mereka untuk bermobilitas sosial tersebut, walaupun pada kenyataannya mereka belum tentu berhasil melakukannya. Berhasil dalam arti pindah dari kurang beruntung menjadi beruntung secara ekonomi. Dari proses tersebut tentu banyak materi, cerita dan pengalaman yang mereka bagikan kepada sanak saudara ketika mudik. Alhasil hikmah ini membawa dampak baik positif maupun negatif.
Positifnya adalah mereka yang berhasil melakukan proses mobilitas dari kurang beruntung menjadi beruntung secara ekonomi yang kemudian dikenal dengan istilah ”orang sukses” akan membawa keberhasilannya secara materi itu ke desanya. Milayaran bahkan trilyunan rupiah akan masyarakat bawa ketika bermudik. Mereka akan belanjakan rupiah mereka baik di sepanjang perjalanan maupun di desanya. Dampak ini sungguh luar biasa. Pemerataan ekonomi yang tidak usah repot-repot direncanakan pemerintah, tapi sudah pasti terjadi setiap tahunnya. Dari hal yang paling sepele seperti membeli makan di jalan-jalan ketika macet, warung makan di sepanjang perjalanan, memberi angpao kepada sanak famili, belanja keperluan Hari raya Idhul Fitri di desa, servis motor dan mobil di bengkel-bengkel daerahnya, bahkan bisa jadi sampai membangun atau renovasi rumah di desa. Tapi dengan adanya mudik nilai kebermaknaan Idhul Fitri akan menjadi semakin mengena dan mendalam baik untuk diri pribadi setiap muslim, keluarganya, masyarakat desanya bahkan sampai pada negara ini. Wallahua’lam
Kamis, 13 Agustus 2009
Menjadikan Puasa Ramadhan Penuh Hikmah
Oleh:
Mishad Khairi
Bulan ramadhan tahun 1430 Hijriyah hampir tiba. Datangnya bulan ramadhan disambut dengan beragam aktifitas kaum muslim. Aktifitas itu mulai dari renovasi masjid atau musholla, tradisi megengan (baca:sedekah saling kirim makanan), ziarah kubur, hingga saling memberi ucapan selamat menunaikan ibadah puasa lewat milis atau sms. Sambutan ramadhan berupa publikasi pun tidak kalah ramainya. Lihat saja spanduk penyambutan ramadhan bertebaran diberbagai jalan protokol, kantor-kantor, hingga perusahaan-perusahaan. Tidak kalah santernya iklan di media massa, seperti di surat kabar, majalah, radio, televisi, bahkan di internet mayoritas membawa pesan ramadhan. Bukan hanya iklan, kini rubrik acara di radio dan TV juga didominasi oleh tema-tema yang bernuansa ramadhan.
Terlepas dari beberapa perusahaan yang mengiklankan tema ramadhan dengan tujuan melariskan produknya atau hanya untuk meraup keuntungan ekonomi semata. Mudah-mudahan apa saja yang dilakukan oleh kaum muslim dalam menyongsong bulan Ramadhan, dengan ragam kegiatan, merupakan bentuk rasa senang atas kehadirannya. Sabda nabi Muhammad SAW dalam sebuah Haditsnya: “Man fariha biduhûli ramadhâna harrama Allahu jasadahu ‘alanniron”. Barang siapa yang bergembira dengan datangnya bulan Ramadhan, maka Allah mengharamkan jasadnya atas api neraka. Salah satu ibadah penting yang dilakukan dalam bulan ramadhan aalah puasa ramadhan.
Puasa Ramadhan adalah suatu kewajiban bagi orang-orang beriman, sesuai yang termaktub dalam Kitabullah, Sunnah Rasul-Nya dan ijma’ kaum muslimin. Dalam Al Qur’an, berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (Al Baqarah: 183)
Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Islam dibangun di atas lima hal: bersaksi bahwasanya tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi kecuali Alloh dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Alloh, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan dan haji ke Baitullah.” (Muttafaqun ‘alaih dari Ibnu ‘Umar)
Kaum muslimin bersepakat, bahwa puasa Ramadhan adalah wajib hukumnya. Maka barangsiapa yang mengingkari kewajiban puasa Ramadhan, berarti dia dianggap murtad Puasa Ramadhan diwajibkan mulai pada tahun kedua hijriyyah. Ini berarti Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam sempat melakukannya selama sembilan kali. Karena beliau menjumpai 9 kali bulan ramadhan sejak diperintahkan oleh Alloh Ta’ala. Puasa Ramadhan wajib bagi setiap muslim yang telah ‘aqil baligh dan berakal sehat. Maka puasa tidak wajib bagi orang kafir dan tidak akan diterima pahalanya jika ada di antara mereka yang melakukannya sampai dia masuk Islam.
Puasa juga tidak wajib bagi anak kecil sampai dia ‘aqil baligh. ‘Aqil balighnya ini diketahui ketika dia telah masuk usia 15 tahun atau tumbuh rambut kemaluannya atau keluar air mani (sperma) ketika bermimpi. Ini bagi anak laki-laki, sementara bagi anak wanita ditandai dengan haidh (menstruasi). Maka jika seorang anak telah mendapati tanda-tanda ini, maka dia telah ‘aqil baligh. Akan tetapi dalam rangka sebagai latihan dan pembiasaan, sebaiknya seorang anak (yang belum baligh –pent) disuruh untuk berpuasa, jika kuat dan tidak membahayakannya.
Puasa juga tidak wajib bagi orang yang kehilangan akal, baik itu karena gila atau penyakit syaraf atau sebab lainnya. Berkenaan dengan inilah jika ada orang yang telah menginjak dewasa namun masih tetap idiot dan tidak berakal sehat, maka tidak wajib baginya berpuasa dan tidak pula menggantinya dengan membayar fidyah.
Hikmah dan Manfaat Puasa Puasa disyari’atkan dan difardhukan oleh Alloh kepada hamba-hamba-Nya mempunyai hikmah dan manfaat yang banyak sekali. Di antara hikmah puasa adalah bahwasanya puasa itu merupakan ibadah yang bisa digunakan seorang hamba untuk ber-taqarrub kepada Alloh dengan meninggalkan kesenangan-kesenangan dunianya seperti makan, minum dan menggauli istri dalam rangka untuk mendapatkan ridha Rabb-nya dan keberuntungan di kampung kemuliaan (baca: kampung akhirat).
Dengan puasa ini jelas bahwa seorang hamba akan lebih mementingkan kehendak Rabb-nya daripada kesenangan-kesenangan pribadinya. Lebih cinta kampung akhirat daripada kehidupan dunia.Hikmah puasa yang lain adalah bahwa puasa adalah sarana untuk menghadapi derajat takwa apabila seseorang melakukannya sesuai dengan syari’at. Alloh Ta’ala berfirman (yang artinya):“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (Al-Baqarah:183)
Orang yang berpuasa berarti diperintahkan untuk bertakwa kepada Alloh, yakni dengan mengerjakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Inilah tujuan agung dari disyari’atkannya puasa. Jadi bukan hanya sekedar melatih untuk meninggalkan makan, minum dan menggauli istri.
Apabila kita membaca ayat tersebut, maka tentulah kita mengetahui apa hikmah diwajibkannya puasa, yakni takwa dan menghambakan diri kepada Alloh.Adapun takwa adalah meninggalkan keharaman-keharaman, dan kata takwa ini ketika dimutlakkan (penggunaannya) maka mengandung makna mengerjakan perintah-perintah dan meninggalkan larangan-larangan, Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:
(مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزَّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ للهِ عَزَّ وَجَلَّ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ)
“Barangsiapa yang tidak bisa meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta maka Alloh tidak butuh terhadap amalan dia meninggalkan makanan dan minumannya.” (HR. Al-Bukhariy)
Berdasarkan dalil ini, maka diperintahkan terhadap setiap orang yang berpuasa untuk mengerjakan segala kewajiban, demikian juga menjauhi hal-hal yang diharamkan baik berupa perkataan maupun perbuatan. Maka kita tidak boleh mencela, ghibah (menggunjing orang lain), berdusta, mengadu domba antar mereka, menjual barang dagangan yang haram, mendengarkan apa saja yang haram yang itu semuanya dapat melalaikan dari ketaatan kepada Alloh, serta menjauhi segala bentuk keharaman lainnya.
Apabila seseorang mengerjakan semuanya itu dalam satu bulan penuh dengan penuh keimanan dan mengharap pahala kepada Alloh maka itu akan memudahkannya kelak untuk istiqamah di bulan-bulan tersisa lainnya dalam tahun tersebut.Akan tetapi betapa sedihnya, kebanyakan orang yang berpuasa tidak membedakan antara hari puasanya dengan hari berbukanya, mereka tetap menjalani kebiasaan yang biasa mereka lakukan yakni meninggalkan kewajiban-kewajiban dan mengerjakan keharaman-keharaman, mereka tidak merasakan keagungan dan kehormatan puasa.
Perbuatan ini memang tidak membatalkan puasa tetapi mengurangi pahalanya, bahkan seringkali perbuatan-perbuatan tersebut merusak pahala puasa sehingga hilanglah pahalanya. Hikmah puasa yang lainnya adalah seorang kaya akan mengetahui nilai nikmat Alloh dengan kekayaannya itu di mana Alloh telah memudahkan baginya untuk mendapatkan apa yang diinginkannya, seperti makan, minum dan menikah serta apa saja yang dibolehkan oleh Alloh secara syar’i. Alloh telah memudahkan baginya untuk itu. Maka dengan begitu ia akan bersyukur kepada Rabb-nya atas karunia nikmat ini dan mengingat saudaranya yang miskin. Dengan begitu ia akan berderma kepadanya dalam bentuk shadaqah dan perbuatan yang baik lainnya.
Diantara hikmah puasa juga adalah melatih seseorang untuk menguasai dan berdisiplin dalam mengatur jiwanya. Sehingga ia akan mampu memimpin jiwanya untuk meraih kebahagiaan dan kebaikannya di dunia dan di akhirat serta menjauhi sifat kebinatangan.Puasa juga mengandung berbagai macam manfaat kesehatan yang direalisasikan dengan mengurangi makan dan mengistirahatkan alat pencernaan pada waktu-waktu tertentu serta mengurangi kolesterol yang jika terlalu banyak akan membahayakan tubuh. Juga manfaat lainnya dari puasa sangat banyak.
Banyak sekali ayat yang tegas dan muhkam (qath’i) dalam Kitabullah yang mulia, memberikan anjuran untuk puasa sebagai sarana untuk taqarrub kepada Alloh ‘Azza wa Jalla dan juga menjelaskan keutamaan-keutamaannya, seperti firman ALLOH (yang artinya) : “Sesungguhnya kaum muslimin dan muslimat, kaum mukminin dan mukminat, kaum pria yang patuh dan kaum wanita yang patuh, dan kaum pria serta wanita yang benar (imannya) dan kaum pria serta kaum wanita yang sabar (ketaatannya), dan kaum pria serta wanita yang khusyu’, dan kaum pria serta wanita yang bersedekah, dan kaum pria serta wanita yan berpuasa, dan kaum pria dan wanita yang menjaga kehormatannya (syahwat birahinya), dan kaum pria serta wanita yang banyak mengingat Alloh, Alloh menyediakan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar” [QS: Al-Ahzab : 35]
Dan firman ALLOH (yang artinya) : “Dan kalau kalian puasa, itu lebih baik bagi kalian kalau kalian mengetahuinya” [QS: Al-Baqarah : 184].
Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan dalam hadits yang shahih bahwa puasa adalah benteng dari syahwat, perisai dari neraka. Alloh Tabaraka wa Ta’ala telah mengkhususkan satu pintu surga untuk orang yang puasa. Puasa bisa memutuskan jiwa dari syahwatnya, menahannya dari kebiasaan-kebiasaan yang jelek, hingga jadilah jiwa yang tenang. Inilah pahala yang besar, keutamaan yang agung ; dijelaskan secara rinci dalam hadits-hadits shahih berikut ini, dijelaskan dengan penjelasan yang sempurna.
1. Puasa Adalah Perisai (Pelindung)
Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam menyuruh orang yang sudah kuat syahwatnya dan belum mampu untuk menikah agar berpuasa, menjadikannya sebagai wijaa’[memutuskan] bagi syahwat ini, karena puasa menahan kuatnya anggota badan hingga bisa terkontrol, menenangkan seluruh anggota badan, serta seluruh kekuatan (yang jelek) ditahan hingga bisa taat dan dibelenggu dengan belenggu puasa. Telah jelas bahwa puasa memiliki pengaruh yang menakjubkan dalam menjaga anggota badan yang dhahir dan kekuatan bathin.
Oleh karena itu Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai sekalian para pemuda, barangsiapa di antara kalian telah mampu ba’ah [mampu dgn berbagai macam persiapannya] hendaklah menikah, karena menikah lebih menundukkan pandangan, dan lebih menjaga kehormatan. Barangsiapa yang belum mampu menikah, hendaklah puasa karena puasa merupakan wijaa’ (pemutus syahwat) baginya” [Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)
Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa surga diliputi dengan perkara-perkara yang tidak disenangi, dan neraka diliputi dengan syahwat. Jika telah jelas demikian -wahai muslim- sesungguhnya puasa itu menghancurkan syahwat, mematahkan tajamnya syahwat yang bisa mendekatkan seorang hamba ke neraka, puasa menghalangi orang yang puasa dari neraka. Oleh karena itu banyak hadits yang menegaskan bahwa puasa adalah benteng dari neraka, dan perisai yang menghalangi seseorang dari neraka.
Bersabda Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam (yang artinya) : “Tidaklah seorang hamba yang puasa di jalan Alloh kecuali akan Alloh jauhkan dia (karena puasanya) dari neraka sejauh tujuh puluh musim” [Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim. Sabda Rasulullah : "70 musim" yakni : perjalanan 70 tahun, demikian dikatakan dalam Fathul Bari 6/48. Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Puasa adalah perisai, seorang hamba berperisai dengannya dari api neraka” (Hadits Riwayat Ahmad).
Daalam hadits lain, Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang berpuasa sehari di jalan Alloh maka di antara dia dan neraka ada parit yang luasnya seperti antara langit dengan bumi” (Hadits Riwayat Tirmidzi). Dan dikeluarkan pula oleh At-Thabrani di dalam Al-Kabir 8/260,274, 280 dari dua jalan dari Al-Qasim dari Abi Umamah. Dan pada bab dari Abi Darda', dikeluarkan oleh Ath-Thabrani di dalam Ash-Shagir 1/273.
2. Puasa Bisa Memasukkan Hamba ke Surga
Dari Abu Umamah RadhiyAllohu ‘anhu katanya, “Aku berkata (kepada Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam) : “Wahai Rasulullah, tunjukkan padaku suatu amalan yang bisa memasukkanku ke surga.? Beliau menjawab : “Atasmu puasa, tidak ada (amalan) yang semisal dengan itu” (Hadits Riwayat Nasa'i 4/165, Ibnu Hibban hal. 232 Mawarid, Al-Hakim 1/421)
3. Pahala Orang Puasa Tidak Terbatas (Seluruhnya terkumpul pembahasannya pada hadits-hadits yang akan datang)
4. Orang Puasa Punya Dua Kegembiraan (Seluruhnya terkumpul pembahasannya pada hadits-hadits yang akan datang)
5. Bau Mulut Orang Yang Puasa Lebih Wangi dari Baunya Misk (Seluruhnya terkumpul pembahasannya pada hadits-hadits yang akan datang)
Dari Abu Hurairah Radhiyallohu ‘anhu, (bahwasanya) Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Semua amalan bani Adam untuknya kecuali puasa [Baginya pahala yang terbatas, kecuali puasa karena pahalanya tidak terbatas] , karena puasa itu untuk-Ku dan Aku akan membalasnya, puasa adalah perisai, jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa janganlah berkata keji dan berteriak-teriak, jika ada orang yang mencercanya atau memeranginya, maka ucapkanlah : ‘Aku sedang berpuasa’ [1]. Demi dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, sesunguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Alloh daripada bau misk[2] orang yang puasa mempunyai dua kegembiraan, jika berbuka mereka gembira, jika bertemu Rabbnya mereka gembira karena puasa yang dilakukannya” [Hadits Riwayat:Bukhari dan Muslim)
Di dalam riwayat Bukhari Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Meninggalkan makan, minum dan syahwatnya karena puasa untuk-Ku, dan Aku yang akan membalasnya, kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipat yang semisal dengannya”
Di dalam riwayat Muslim Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Semua amalan bani Adam akan dilipatgandakan, kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipat yang semisal dengannya, sampai tujuh ratus kali lipat. Alloh Ta’ala berfirman : “Kecuali puasa, karena puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya, dia (bani Adam) meninggalkan syahwatnya dan makanannya karena Aku” Bagi orang yang puasa ada dua kegembiraan ; gembira ketika berbuka dan gembira ketika bertemu Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang puasa di sisi Alloh adalah lebih wangi daripada bau misk”
6. Puasa dan Al-Qur’an Akan Memberi Syafa’at Kepada Ahlinya di hari Kiamat
Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda “Puasa dan Al-Qur’an akan memberikan syafaat kepada hamba di hari Kiamat, puasa akan berkata : “Wahai Rabbku, aku akan menghalanginya dari makan dan syahwat, maka berilah dia syafa’at karenaku”.
7. Puasa Sebagai KafaratDiantara keistimewaan puasa yang tidak ada dalam amalan lain adalah ; Alloh menjadikannya sebagai kafarat bagi orang yang memotong rambut kepalanya (ketika haji) karena ada udzur sakit atau penyakit di kepalanya, kaparat bagi yang tidak mampu memberi kurban, kafarat bagi pembunuh orang kafir yang punya perjanjian karena membatalkan sumpah, atau yang membunuh binatang buruan di tanah haram dan sebagai kafarat zhihar. Akan jelas bagimu dalam ayat-ayat berikut ini.
Alloh Ta’ala juga berfirman (yang artinya) : “Dan jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat (denda) yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang mukmin. Barangsiapa yang tidak memperolehnya, maka hendaklah (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut sebagai cara taubat kepada Alloh. Dan adalah Alloh Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (An-Nisaa' : 92)
Demikian pula, puasa dan shadaqah bisa menghapuskan fitnah seorang pria dari harta, keluarga dan anaknya. Dari Hudzaifah Ibnul Yaman RadhiyAllohu ‘anhu, Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Fitnah pria dalam keluarga (isteri), harta dan tetangganya, bisa dihapuskan oleh shalat, puasa dan shadaqah” (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim).
8. Orang yang Puasa mendapatkan Ar RayyanDari Sahl bin Sa’ad Radhiyallohu ‘anhu, dari Nabi Shallallohu ‘alaihi wa sallam (bahwa beliau) bersabda) : “Sesungguhnya dalam surga ada satu pintu yang disebut dengan Rayyan, orang-orang yang puasa akan masuk di hari kiamat nanti dari pintu tersebut, tidak ada orang selain mereka yang memasukinya. Jika telah masuk orang terkahir yang puasa ditutuplah pintu tersebut. Barangsiapa yang masuk akan minum, dan barangsiapa yang minum tidak akan merasa haus untuk selamanya” (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim).
Wallohua’lam
Mishad Khairi
Bulan ramadhan tahun 1430 Hijriyah hampir tiba. Datangnya bulan ramadhan disambut dengan beragam aktifitas kaum muslim. Aktifitas itu mulai dari renovasi masjid atau musholla, tradisi megengan (baca:sedekah saling kirim makanan), ziarah kubur, hingga saling memberi ucapan selamat menunaikan ibadah puasa lewat milis atau sms. Sambutan ramadhan berupa publikasi pun tidak kalah ramainya. Lihat saja spanduk penyambutan ramadhan bertebaran diberbagai jalan protokol, kantor-kantor, hingga perusahaan-perusahaan. Tidak kalah santernya iklan di media massa, seperti di surat kabar, majalah, radio, televisi, bahkan di internet mayoritas membawa pesan ramadhan. Bukan hanya iklan, kini rubrik acara di radio dan TV juga didominasi oleh tema-tema yang bernuansa ramadhan.
Terlepas dari beberapa perusahaan yang mengiklankan tema ramadhan dengan tujuan melariskan produknya atau hanya untuk meraup keuntungan ekonomi semata. Mudah-mudahan apa saja yang dilakukan oleh kaum muslim dalam menyongsong bulan Ramadhan, dengan ragam kegiatan, merupakan bentuk rasa senang atas kehadirannya. Sabda nabi Muhammad SAW dalam sebuah Haditsnya: “Man fariha biduhûli ramadhâna harrama Allahu jasadahu ‘alanniron”. Barang siapa yang bergembira dengan datangnya bulan Ramadhan, maka Allah mengharamkan jasadnya atas api neraka. Salah satu ibadah penting yang dilakukan dalam bulan ramadhan aalah puasa ramadhan.
Puasa Ramadhan adalah suatu kewajiban bagi orang-orang beriman, sesuai yang termaktub dalam Kitabullah, Sunnah Rasul-Nya dan ijma’ kaum muslimin. Dalam Al Qur’an, berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (Al Baqarah: 183)
Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Islam dibangun di atas lima hal: bersaksi bahwasanya tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi kecuali Alloh dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Alloh, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan dan haji ke Baitullah.” (Muttafaqun ‘alaih dari Ibnu ‘Umar)
Kaum muslimin bersepakat, bahwa puasa Ramadhan adalah wajib hukumnya. Maka barangsiapa yang mengingkari kewajiban puasa Ramadhan, berarti dia dianggap murtad Puasa Ramadhan diwajibkan mulai pada tahun kedua hijriyyah. Ini berarti Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam sempat melakukannya selama sembilan kali. Karena beliau menjumpai 9 kali bulan ramadhan sejak diperintahkan oleh Alloh Ta’ala. Puasa Ramadhan wajib bagi setiap muslim yang telah ‘aqil baligh dan berakal sehat. Maka puasa tidak wajib bagi orang kafir dan tidak akan diterima pahalanya jika ada di antara mereka yang melakukannya sampai dia masuk Islam.
Puasa juga tidak wajib bagi anak kecil sampai dia ‘aqil baligh. ‘Aqil balighnya ini diketahui ketika dia telah masuk usia 15 tahun atau tumbuh rambut kemaluannya atau keluar air mani (sperma) ketika bermimpi. Ini bagi anak laki-laki, sementara bagi anak wanita ditandai dengan haidh (menstruasi). Maka jika seorang anak telah mendapati tanda-tanda ini, maka dia telah ‘aqil baligh. Akan tetapi dalam rangka sebagai latihan dan pembiasaan, sebaiknya seorang anak (yang belum baligh –pent) disuruh untuk berpuasa, jika kuat dan tidak membahayakannya.
Puasa juga tidak wajib bagi orang yang kehilangan akal, baik itu karena gila atau penyakit syaraf atau sebab lainnya. Berkenaan dengan inilah jika ada orang yang telah menginjak dewasa namun masih tetap idiot dan tidak berakal sehat, maka tidak wajib baginya berpuasa dan tidak pula menggantinya dengan membayar fidyah.
Hikmah dan Manfaat Puasa Puasa disyari’atkan dan difardhukan oleh Alloh kepada hamba-hamba-Nya mempunyai hikmah dan manfaat yang banyak sekali. Di antara hikmah puasa adalah bahwasanya puasa itu merupakan ibadah yang bisa digunakan seorang hamba untuk ber-taqarrub kepada Alloh dengan meninggalkan kesenangan-kesenangan dunianya seperti makan, minum dan menggauli istri dalam rangka untuk mendapatkan ridha Rabb-nya dan keberuntungan di kampung kemuliaan (baca: kampung akhirat).
Dengan puasa ini jelas bahwa seorang hamba akan lebih mementingkan kehendak Rabb-nya daripada kesenangan-kesenangan pribadinya. Lebih cinta kampung akhirat daripada kehidupan dunia.Hikmah puasa yang lain adalah bahwa puasa adalah sarana untuk menghadapi derajat takwa apabila seseorang melakukannya sesuai dengan syari’at. Alloh Ta’ala berfirman (yang artinya):“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (Al-Baqarah:183)
Orang yang berpuasa berarti diperintahkan untuk bertakwa kepada Alloh, yakni dengan mengerjakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Inilah tujuan agung dari disyari’atkannya puasa. Jadi bukan hanya sekedar melatih untuk meninggalkan makan, minum dan menggauli istri.
Apabila kita membaca ayat tersebut, maka tentulah kita mengetahui apa hikmah diwajibkannya puasa, yakni takwa dan menghambakan diri kepada Alloh.Adapun takwa adalah meninggalkan keharaman-keharaman, dan kata takwa ini ketika dimutlakkan (penggunaannya) maka mengandung makna mengerjakan perintah-perintah dan meninggalkan larangan-larangan, Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:
(مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزَّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ للهِ عَزَّ وَجَلَّ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ)
“Barangsiapa yang tidak bisa meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta maka Alloh tidak butuh terhadap amalan dia meninggalkan makanan dan minumannya.” (HR. Al-Bukhariy)
Berdasarkan dalil ini, maka diperintahkan terhadap setiap orang yang berpuasa untuk mengerjakan segala kewajiban, demikian juga menjauhi hal-hal yang diharamkan baik berupa perkataan maupun perbuatan. Maka kita tidak boleh mencela, ghibah (menggunjing orang lain), berdusta, mengadu domba antar mereka, menjual barang dagangan yang haram, mendengarkan apa saja yang haram yang itu semuanya dapat melalaikan dari ketaatan kepada Alloh, serta menjauhi segala bentuk keharaman lainnya.
Apabila seseorang mengerjakan semuanya itu dalam satu bulan penuh dengan penuh keimanan dan mengharap pahala kepada Alloh maka itu akan memudahkannya kelak untuk istiqamah di bulan-bulan tersisa lainnya dalam tahun tersebut.Akan tetapi betapa sedihnya, kebanyakan orang yang berpuasa tidak membedakan antara hari puasanya dengan hari berbukanya, mereka tetap menjalani kebiasaan yang biasa mereka lakukan yakni meninggalkan kewajiban-kewajiban dan mengerjakan keharaman-keharaman, mereka tidak merasakan keagungan dan kehormatan puasa.
Perbuatan ini memang tidak membatalkan puasa tetapi mengurangi pahalanya, bahkan seringkali perbuatan-perbuatan tersebut merusak pahala puasa sehingga hilanglah pahalanya. Hikmah puasa yang lainnya adalah seorang kaya akan mengetahui nilai nikmat Alloh dengan kekayaannya itu di mana Alloh telah memudahkan baginya untuk mendapatkan apa yang diinginkannya, seperti makan, minum dan menikah serta apa saja yang dibolehkan oleh Alloh secara syar’i. Alloh telah memudahkan baginya untuk itu. Maka dengan begitu ia akan bersyukur kepada Rabb-nya atas karunia nikmat ini dan mengingat saudaranya yang miskin. Dengan begitu ia akan berderma kepadanya dalam bentuk shadaqah dan perbuatan yang baik lainnya.
Diantara hikmah puasa juga adalah melatih seseorang untuk menguasai dan berdisiplin dalam mengatur jiwanya. Sehingga ia akan mampu memimpin jiwanya untuk meraih kebahagiaan dan kebaikannya di dunia dan di akhirat serta menjauhi sifat kebinatangan.Puasa juga mengandung berbagai macam manfaat kesehatan yang direalisasikan dengan mengurangi makan dan mengistirahatkan alat pencernaan pada waktu-waktu tertentu serta mengurangi kolesterol yang jika terlalu banyak akan membahayakan tubuh. Juga manfaat lainnya dari puasa sangat banyak.
Banyak sekali ayat yang tegas dan muhkam (qath’i) dalam Kitabullah yang mulia, memberikan anjuran untuk puasa sebagai sarana untuk taqarrub kepada Alloh ‘Azza wa Jalla dan juga menjelaskan keutamaan-keutamaannya, seperti firman ALLOH (yang artinya) : “Sesungguhnya kaum muslimin dan muslimat, kaum mukminin dan mukminat, kaum pria yang patuh dan kaum wanita yang patuh, dan kaum pria serta wanita yang benar (imannya) dan kaum pria serta kaum wanita yang sabar (ketaatannya), dan kaum pria serta wanita yang khusyu’, dan kaum pria serta wanita yang bersedekah, dan kaum pria serta wanita yan berpuasa, dan kaum pria dan wanita yang menjaga kehormatannya (syahwat birahinya), dan kaum pria serta wanita yang banyak mengingat Alloh, Alloh menyediakan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar” [QS: Al-Ahzab : 35]
Dan firman ALLOH (yang artinya) : “Dan kalau kalian puasa, itu lebih baik bagi kalian kalau kalian mengetahuinya” [QS: Al-Baqarah : 184].
Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan dalam hadits yang shahih bahwa puasa adalah benteng dari syahwat, perisai dari neraka. Alloh Tabaraka wa Ta’ala telah mengkhususkan satu pintu surga untuk orang yang puasa. Puasa bisa memutuskan jiwa dari syahwatnya, menahannya dari kebiasaan-kebiasaan yang jelek, hingga jadilah jiwa yang tenang. Inilah pahala yang besar, keutamaan yang agung ; dijelaskan secara rinci dalam hadits-hadits shahih berikut ini, dijelaskan dengan penjelasan yang sempurna.
1. Puasa Adalah Perisai (Pelindung)
Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam menyuruh orang yang sudah kuat syahwatnya dan belum mampu untuk menikah agar berpuasa, menjadikannya sebagai wijaa’[memutuskan] bagi syahwat ini, karena puasa menahan kuatnya anggota badan hingga bisa terkontrol, menenangkan seluruh anggota badan, serta seluruh kekuatan (yang jelek) ditahan hingga bisa taat dan dibelenggu dengan belenggu puasa. Telah jelas bahwa puasa memiliki pengaruh yang menakjubkan dalam menjaga anggota badan yang dhahir dan kekuatan bathin.
Oleh karena itu Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai sekalian para pemuda, barangsiapa di antara kalian telah mampu ba’ah [mampu dgn berbagai macam persiapannya] hendaklah menikah, karena menikah lebih menundukkan pandangan, dan lebih menjaga kehormatan. Barangsiapa yang belum mampu menikah, hendaklah puasa karena puasa merupakan wijaa’ (pemutus syahwat) baginya” [Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)
Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa surga diliputi dengan perkara-perkara yang tidak disenangi, dan neraka diliputi dengan syahwat. Jika telah jelas demikian -wahai muslim- sesungguhnya puasa itu menghancurkan syahwat, mematahkan tajamnya syahwat yang bisa mendekatkan seorang hamba ke neraka, puasa menghalangi orang yang puasa dari neraka. Oleh karena itu banyak hadits yang menegaskan bahwa puasa adalah benteng dari neraka, dan perisai yang menghalangi seseorang dari neraka.
Bersabda Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam (yang artinya) : “Tidaklah seorang hamba yang puasa di jalan Alloh kecuali akan Alloh jauhkan dia (karena puasanya) dari neraka sejauh tujuh puluh musim” [Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim. Sabda Rasulullah : "70 musim" yakni : perjalanan 70 tahun, demikian dikatakan dalam Fathul Bari 6/48. Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Puasa adalah perisai, seorang hamba berperisai dengannya dari api neraka” (Hadits Riwayat Ahmad).
Daalam hadits lain, Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang berpuasa sehari di jalan Alloh maka di antara dia dan neraka ada parit yang luasnya seperti antara langit dengan bumi” (Hadits Riwayat Tirmidzi). Dan dikeluarkan pula oleh At-Thabrani di dalam Al-Kabir 8/260,274, 280 dari dua jalan dari Al-Qasim dari Abi Umamah. Dan pada bab dari Abi Darda', dikeluarkan oleh Ath-Thabrani di dalam Ash-Shagir 1/273.
2. Puasa Bisa Memasukkan Hamba ke Surga
Dari Abu Umamah RadhiyAllohu ‘anhu katanya, “Aku berkata (kepada Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam) : “Wahai Rasulullah, tunjukkan padaku suatu amalan yang bisa memasukkanku ke surga.? Beliau menjawab : “Atasmu puasa, tidak ada (amalan) yang semisal dengan itu” (Hadits Riwayat Nasa'i 4/165, Ibnu Hibban hal. 232 Mawarid, Al-Hakim 1/421)
3. Pahala Orang Puasa Tidak Terbatas (Seluruhnya terkumpul pembahasannya pada hadits-hadits yang akan datang)
4. Orang Puasa Punya Dua Kegembiraan (Seluruhnya terkumpul pembahasannya pada hadits-hadits yang akan datang)
5. Bau Mulut Orang Yang Puasa Lebih Wangi dari Baunya Misk (Seluruhnya terkumpul pembahasannya pada hadits-hadits yang akan datang)
Dari Abu Hurairah Radhiyallohu ‘anhu, (bahwasanya) Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Semua amalan bani Adam untuknya kecuali puasa [Baginya pahala yang terbatas, kecuali puasa karena pahalanya tidak terbatas] , karena puasa itu untuk-Ku dan Aku akan membalasnya, puasa adalah perisai, jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa janganlah berkata keji dan berteriak-teriak, jika ada orang yang mencercanya atau memeranginya, maka ucapkanlah : ‘Aku sedang berpuasa’ [1]. Demi dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, sesunguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Alloh daripada bau misk[2] orang yang puasa mempunyai dua kegembiraan, jika berbuka mereka gembira, jika bertemu Rabbnya mereka gembira karena puasa yang dilakukannya” [Hadits Riwayat:Bukhari dan Muslim)
Di dalam riwayat Bukhari Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Meninggalkan makan, minum dan syahwatnya karena puasa untuk-Ku, dan Aku yang akan membalasnya, kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipat yang semisal dengannya”
Di dalam riwayat Muslim Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Semua amalan bani Adam akan dilipatgandakan, kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipat yang semisal dengannya, sampai tujuh ratus kali lipat. Alloh Ta’ala berfirman : “Kecuali puasa, karena puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya, dia (bani Adam) meninggalkan syahwatnya dan makanannya karena Aku” Bagi orang yang puasa ada dua kegembiraan ; gembira ketika berbuka dan gembira ketika bertemu Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang puasa di sisi Alloh adalah lebih wangi daripada bau misk”
6. Puasa dan Al-Qur’an Akan Memberi Syafa’at Kepada Ahlinya di hari Kiamat
Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda “Puasa dan Al-Qur’an akan memberikan syafaat kepada hamba di hari Kiamat, puasa akan berkata : “Wahai Rabbku, aku akan menghalanginya dari makan dan syahwat, maka berilah dia syafa’at karenaku”.
7. Puasa Sebagai KafaratDiantara keistimewaan puasa yang tidak ada dalam amalan lain adalah ; Alloh menjadikannya sebagai kafarat bagi orang yang memotong rambut kepalanya (ketika haji) karena ada udzur sakit atau penyakit di kepalanya, kaparat bagi yang tidak mampu memberi kurban, kafarat bagi pembunuh orang kafir yang punya perjanjian karena membatalkan sumpah, atau yang membunuh binatang buruan di tanah haram dan sebagai kafarat zhihar. Akan jelas bagimu dalam ayat-ayat berikut ini.
Alloh Ta’ala juga berfirman (yang artinya) : “Dan jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat (denda) yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang mukmin. Barangsiapa yang tidak memperolehnya, maka hendaklah (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut sebagai cara taubat kepada Alloh. Dan adalah Alloh Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (An-Nisaa' : 92)
Demikian pula, puasa dan shadaqah bisa menghapuskan fitnah seorang pria dari harta, keluarga dan anaknya. Dari Hudzaifah Ibnul Yaman RadhiyAllohu ‘anhu, Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Fitnah pria dalam keluarga (isteri), harta dan tetangganya, bisa dihapuskan oleh shalat, puasa dan shadaqah” (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim).
8. Orang yang Puasa mendapatkan Ar RayyanDari Sahl bin Sa’ad Radhiyallohu ‘anhu, dari Nabi Shallallohu ‘alaihi wa sallam (bahwa beliau) bersabda) : “Sesungguhnya dalam surga ada satu pintu yang disebut dengan Rayyan, orang-orang yang puasa akan masuk di hari kiamat nanti dari pintu tersebut, tidak ada orang selain mereka yang memasukinya. Jika telah masuk orang terkahir yang puasa ditutuplah pintu tersebut. Barangsiapa yang masuk akan minum, dan barangsiapa yang minum tidak akan merasa haus untuk selamanya” (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim).
Wallohua’lam
Kamis, 06 Agustus 2009
AGUSTUSAN
Oleh:
Mishad Khoiri
Butiran bening keringat mulai keluar dari pori-pori kulit wajah pria yang sudah berumur itu. Desahan nafas panjang mulai keluar sesekali dari mulut dan hidungnya. Ketegangan tidak bisa disembunyikan dari raut wajahnya yang semakin berkerut. Pak Doso sebut saja sopir truk itu tampak kesal karena terjebak dalam kemacetan lalu lintas. Di pikirannya sudah terbayang, satu kontainer barang bawaannya bakal telat nyampai di tempat tujuan. Kerugian waktu, pikiran, dan tenaga sudah terpampang di depan mata. Sebenarnya yang membuat prihatin Pak Doso adalah mengenai penyebab kemacetan lalu lintas waktu itu. Penyebabnya bukan perbaikan jalan, kecelakaan, atau faktor teknis lainnya. Akan tetapi kemacetan itu disebabkan oleh acara pawai agustusan yang diadakan oleh warga setempat.
Saya yakin kita juga sering mengalami hal yang sama, seperti yang dirasakan Pak Doso. Ketika agustusan tidak jarang gang-gang atau jalan-jalan ditutup oleh warga dengan alasan ada kegiatan pentas atau lomba-lomba agustusan. Kita yang saat itu ada keperluan penting terpaksa seringkali tidak bisa melewati jalan/gang tersebut. Saya tidak mempermasalahkan tentang partisipasi kita untuk memperingati hari kemerdekaan. Tetapi tidak adakah cara lain yang lebih baik dalam rangkah memperingati proklamasi kemerdekaan itu.
Sebagai contoh kegiatan pawai agustusan yang menyebabkan terjebaknya truk pak Doso dan kendaraan lainnya. Saya lihat kegiatan tersebut tidak hanya memacetkan, akan tetapi juga tidak atau kurang manfaat. Peserta pawai yang terdiri dari utusan beberapa desa mengikuti kegiatan tersebut. Satu desa mengirim satu delegasi tim/kelompok barisan dengan tema yang rata-rata kurang memaknai kemerdekaan. Dari pengamatan saya, rata-rata mereka membawakan tema yang sekedar lucu dan “eksploitasi gender” (baca: wanita memerankan pria sedangkan yang pria memerankan wanita). Dengan dandanan tak lazim dan sensual mereka pawai berarak-arakan di jalan dan memacetkan lalu lintas dengan alasan atas nama memperingati kemerdekaan.
Tidak hanya itu, di kampung-kampung agustusan sering diperingati dengan cara-cara yang kontroversial, kurang makna, bahkan merusak. Ada kecenderungan antar kampung seringkali bersaing seru ketika memperingati kemerdekaan. Alhamdulillah, sebagian kegiatan juga cukup bahkan sarat makna, seperti kerja bakti, lomba kebersihan, mengecat pagar, trotoar, dan poskamling, tasyakuran dan lain-lain. Hanya saja kita juga menjumpai kegiatan yang kurang baik, seperti adu petasan, adu kencang-kencangan sound system, kegiatan lomba yang tidak mendidik, mabuk-mabukan di malam kemerdekaan, dan lain-lain.
Keprihatinan kita yang cukup mendalam adalah ketika masyarakat menganggap kegiatan yang kurang baik itu dianggap sebagai sesuatu yang biasa dan rutinitas. Bahkan ada justifikasi “La wong satu tahun sekali ya ndak apa-apa”, “Demi memperingati kemerdekaan begini saja ya ndak apa-apa”, “Agustusan yang penting meriah” dan lain-lain. Suatu saat agaknya kita perlu merenung dan membayangkan apa kata para pahlawan kita yang gugur di medan perang demi kemerdekaan ketika melihat kegiatan peringatan agustusan yang melenceng itu? Apakah mereka tidak menangis jika kucuran darah mereka diperingati dengan adu petasan? Apakah mereka tetap tersenyum ketika melihat pemuda yang asyik pesta miras di malam peringatan kemerdekaan?
Sebenarnya ada beberapa pertanyaan yang cukup mendasar tentang kemerdekaan yang hakiki bagi bangsa ini. Yaitu, apakah kita sekarang ini sudah benar-benar terbebas dari berbagai belenggu penjajahan? Apakah dengan dibacanya teks proklamasi dan hengkangnya pasukan Belanda dari negeri ini menandakan telah berakhirnya masa penjajahan itu? Kalau belum berakhir penjajahan itu, lalu penjajahan macam apa yang terjadi sekarang ini?
Jawabnya adalah penjajahan itu masih ada, tetapi model dan bentuknya muncul dengan wajah baru. Dia bukan berupa pendudukan negara atas sebuah negara atau ia bukan hanya menguasai satu atau dua negara. Imperialisme modern itu berupa sosialisasi pola atau sistem tertentu dalam hal ideologi, politik, ekonomi, budaya, dan agama yang dimiliki oleh suatu negara atau lebih luasnya peradaban barat hingga menembus ke seantero jagad (mendunia). Menurut Dr. Yusuf Al-Qaradhawi dalam buku yang bertajuk “Islam dan Globalisasi Dunia” dikatakan oleh beliau bahwa globalisasi (‘Aulamah) menghilangkan batas-batas kenasionalan dalam bidang ekonomi (perdagangan) dan membiarkan segala sesuatu bebas melintas dunia dan menembus level internasional sehingga terancamlah nasib suatu bangsa atau negara yang dianggap belum bisa bersaing, termasuk Indonesia.
Bentuk riilnya penjajahan modern yang bertopeng globalisai adalah dalam penjajahan di bidang ekonomi, politik, dan sosial budaya. Di bidang ekonomi kita sudah melihat bagaimana investasi asing sudah mengusai bumi kita. Privatisasi BUMN yang menyebabkan terjualnya aset bangsa ke pihak asing dan eksploitasi sebagian besar barang tambang kita oleh asing adalah contoh imperealisme di bidang ekonomi. Di bidang politik kita juga sering ditekan oleh asing. Sebagai contoh tekanan politik asing adalah memberi hak diplomatik pada tentara Amerika untuk program NAMRU yang digelindingkan USA. Tekanan politik asing juga sangat tampak pada penanganan pemerintah terhadap isu terorisme.
Dalam bidang sosial-budaya kita mengenal misi imperialisme itu dengan istilah 3 F, yaitu Food, Funny, dan Fashion. Pertama, Food atau makanan. Kita lihat, berapa banyak gerai makanan, kafe-kafe, dan restoran asing yang menjamur di Indonesia. Parahnya, kebanyakan di antara kita sangat bangga untuk mengkonsumsi makanan beresep import. Kita lebih punya gengsi jika makan atau minum di gerai Kentucky Fried Chiken atau Pizza Hut dari pada di Warung Pecel Madiun atau Soto Ayam Lamongan. Kita tidak sadar telah memberi keuntungan yang besar pada pengusaha makanan asing yang mungkin saja keuntungan itu digunakan untuk gerakan misionaris dan kemaksiatan.
Kedua, Funny, permainan dan hiburan. Dunia permainan dan hiburan menempati rating yang tinggi dikonsumsi oleh masyarakat kita. Model-model permainan dan hiburan yang mengarah pada pemborosan, perjudian dan kemaksiatan cukup marak di Indonesia. Play Station (PS) sangat digemari anak-anak dan pelajar di Indonesia. Dampaknya, uang saku mereka yang seharusnya lebih produktif digunakan untuk membeli buku bacaan digunakan untuk menyewa PS. Belum lagi waktu yang seharusnya digunakan belajar, terbuang percuma hanya digunakan main PS. Di kalangan remaja dan dewasa, juga sangat gemar mengunjungi tempat permainan dan hiburan. Bahkan untuk melihat pertandingan sepak bola piala dunia saja harus nonton bareng di kafe-kafe. Bahkan tidak jarang diselingi dengan acara judi taruhan.
Sekarang, mulai marak perjudian terselubung melalui kuis sms. Caranya, konsumen berlomba-lomba mengirim sms dengan memilih atau menjawab sesuatu ke penyelenggara judi terselubung itu. Karena harga per sms itu tarifnya lebih mahal dari tarif normal, maka mereka meraup keuntungan dari selisih tarif sms tersebut. Sebagian keuntungan dari selisih tarif tersebut digunakan untuk memberi hadiah pemenang dan sisanya sebagai keuntungan. Unsur judi ini terlihat dari konsumen yang harus mengeluarkan uang untuk menjawab kuis tersebut dan mereka mengharap hadiah. Sedangkan dari pihak penyelenggara unsur judi terlihat dari usaha untuk mencari keuntungan dalam penyelengaraan kuis tersebut di samping memberi hadiah yang uangnya diambil dari hasil selisih tarif sms konsumen.
Dengan maraknya permainan dan hiburan, masyarakat kita menjadi lalai dan hidupnya menjadi tidak produktif. Waktunya yang seharusnya digunakan untuk bekerja habis digunakan di arena hiburan dan permainan. Kebutuhan hidupnya yang seharusnya dicukupi dengan hasil kerja menjadi tidak jelas karena kita menggantungkan diri dari mengharap hadiah. Permainan dan hiburan yang menjurus pada perjudian, kemaksiatan, dan berlebihan menyebabkan kita malas dan terjerumus pada lembah kehancuran.
Ketiga, Fashion atau Mode dan pakaian. Salah satu pemicu kemaksiatan di tengah-tengah masyarakat kita disebabkan mode dan pakaian. Salah satu buktinya adalah pernah terjadi seorang bocah SMP yang memperkosa siswa SD. Menurut pengakuannya, dia melakukan itu karena terangsang ketika melihat tarian film India dengan pakaian yang terlihat pusarnya. Dunia mode dan pakaian begitu menggejala di masyarakat kita. Ujung-ujungnya mode dan pakaian Barat yang dijadikan rujukan oleh muda-mudi kita. Kita masih ingat, betapa mode rambut artis Demi moore bintang utama film Ghost pernah mendunia di eranya. Begitu juga dengan pakaian, model pakaian you can see, yang dipakai artis-artis barat betapa sangat digemari remaja kita.
Alhasil penjajahan dalam bentuk yang riil, yaitu ekonomi, politik, dan sosial budaya dengan kendaraan globalisasi sebenarnya ada di depan mata kita. Jangan menganggap penjajahan itu hanya pendudukan negara atas negara lain yang bisa dibebaskan dengan proklamasi kemerdekaan. Sadarlah jika penjajahan melalui topeng globalisasi lebih halus tetapi dampaknya sangat kronis. Oleh karena itu mari kita isi kegiatan agustusan tahun ini dan tahun-tahun mendatang dengan penuh introspeksi diri dan mengadakan kegiatan yang positif serta mencerdaskan umat. Jika umat ini memili IPTEKS dan IMTAQ yang baik, maka kita bisa melawan dan melepaskan diri dari penjajahan asing dalam bentuk dan model apapun. Wallahua’lam
Mishad Khoiri
Butiran bening keringat mulai keluar dari pori-pori kulit wajah pria yang sudah berumur itu. Desahan nafas panjang mulai keluar sesekali dari mulut dan hidungnya. Ketegangan tidak bisa disembunyikan dari raut wajahnya yang semakin berkerut. Pak Doso sebut saja sopir truk itu tampak kesal karena terjebak dalam kemacetan lalu lintas. Di pikirannya sudah terbayang, satu kontainer barang bawaannya bakal telat nyampai di tempat tujuan. Kerugian waktu, pikiran, dan tenaga sudah terpampang di depan mata. Sebenarnya yang membuat prihatin Pak Doso adalah mengenai penyebab kemacetan lalu lintas waktu itu. Penyebabnya bukan perbaikan jalan, kecelakaan, atau faktor teknis lainnya. Akan tetapi kemacetan itu disebabkan oleh acara pawai agustusan yang diadakan oleh warga setempat.
Saya yakin kita juga sering mengalami hal yang sama, seperti yang dirasakan Pak Doso. Ketika agustusan tidak jarang gang-gang atau jalan-jalan ditutup oleh warga dengan alasan ada kegiatan pentas atau lomba-lomba agustusan. Kita yang saat itu ada keperluan penting terpaksa seringkali tidak bisa melewati jalan/gang tersebut. Saya tidak mempermasalahkan tentang partisipasi kita untuk memperingati hari kemerdekaan. Tetapi tidak adakah cara lain yang lebih baik dalam rangkah memperingati proklamasi kemerdekaan itu.
Sebagai contoh kegiatan pawai agustusan yang menyebabkan terjebaknya truk pak Doso dan kendaraan lainnya. Saya lihat kegiatan tersebut tidak hanya memacetkan, akan tetapi juga tidak atau kurang manfaat. Peserta pawai yang terdiri dari utusan beberapa desa mengikuti kegiatan tersebut. Satu desa mengirim satu delegasi tim/kelompok barisan dengan tema yang rata-rata kurang memaknai kemerdekaan. Dari pengamatan saya, rata-rata mereka membawakan tema yang sekedar lucu dan “eksploitasi gender” (baca: wanita memerankan pria sedangkan yang pria memerankan wanita). Dengan dandanan tak lazim dan sensual mereka pawai berarak-arakan di jalan dan memacetkan lalu lintas dengan alasan atas nama memperingati kemerdekaan.
Tidak hanya itu, di kampung-kampung agustusan sering diperingati dengan cara-cara yang kontroversial, kurang makna, bahkan merusak. Ada kecenderungan antar kampung seringkali bersaing seru ketika memperingati kemerdekaan. Alhamdulillah, sebagian kegiatan juga cukup bahkan sarat makna, seperti kerja bakti, lomba kebersihan, mengecat pagar, trotoar, dan poskamling, tasyakuran dan lain-lain. Hanya saja kita juga menjumpai kegiatan yang kurang baik, seperti adu petasan, adu kencang-kencangan sound system, kegiatan lomba yang tidak mendidik, mabuk-mabukan di malam kemerdekaan, dan lain-lain.
Keprihatinan kita yang cukup mendalam adalah ketika masyarakat menganggap kegiatan yang kurang baik itu dianggap sebagai sesuatu yang biasa dan rutinitas. Bahkan ada justifikasi “La wong satu tahun sekali ya ndak apa-apa”, “Demi memperingati kemerdekaan begini saja ya ndak apa-apa”, “Agustusan yang penting meriah” dan lain-lain. Suatu saat agaknya kita perlu merenung dan membayangkan apa kata para pahlawan kita yang gugur di medan perang demi kemerdekaan ketika melihat kegiatan peringatan agustusan yang melenceng itu? Apakah mereka tidak menangis jika kucuran darah mereka diperingati dengan adu petasan? Apakah mereka tetap tersenyum ketika melihat pemuda yang asyik pesta miras di malam peringatan kemerdekaan?
Sebenarnya ada beberapa pertanyaan yang cukup mendasar tentang kemerdekaan yang hakiki bagi bangsa ini. Yaitu, apakah kita sekarang ini sudah benar-benar terbebas dari berbagai belenggu penjajahan? Apakah dengan dibacanya teks proklamasi dan hengkangnya pasukan Belanda dari negeri ini menandakan telah berakhirnya masa penjajahan itu? Kalau belum berakhir penjajahan itu, lalu penjajahan macam apa yang terjadi sekarang ini?
Jawabnya adalah penjajahan itu masih ada, tetapi model dan bentuknya muncul dengan wajah baru. Dia bukan berupa pendudukan negara atas sebuah negara atau ia bukan hanya menguasai satu atau dua negara. Imperialisme modern itu berupa sosialisasi pola atau sistem tertentu dalam hal ideologi, politik, ekonomi, budaya, dan agama yang dimiliki oleh suatu negara atau lebih luasnya peradaban barat hingga menembus ke seantero jagad (mendunia). Menurut Dr. Yusuf Al-Qaradhawi dalam buku yang bertajuk “Islam dan Globalisasi Dunia” dikatakan oleh beliau bahwa globalisasi (‘Aulamah) menghilangkan batas-batas kenasionalan dalam bidang ekonomi (perdagangan) dan membiarkan segala sesuatu bebas melintas dunia dan menembus level internasional sehingga terancamlah nasib suatu bangsa atau negara yang dianggap belum bisa bersaing, termasuk Indonesia.
Bentuk riilnya penjajahan modern yang bertopeng globalisai adalah dalam penjajahan di bidang ekonomi, politik, dan sosial budaya. Di bidang ekonomi kita sudah melihat bagaimana investasi asing sudah mengusai bumi kita. Privatisasi BUMN yang menyebabkan terjualnya aset bangsa ke pihak asing dan eksploitasi sebagian besar barang tambang kita oleh asing adalah contoh imperealisme di bidang ekonomi. Di bidang politik kita juga sering ditekan oleh asing. Sebagai contoh tekanan politik asing adalah memberi hak diplomatik pada tentara Amerika untuk program NAMRU yang digelindingkan USA. Tekanan politik asing juga sangat tampak pada penanganan pemerintah terhadap isu terorisme.
Dalam bidang sosial-budaya kita mengenal misi imperialisme itu dengan istilah 3 F, yaitu Food, Funny, dan Fashion. Pertama, Food atau makanan. Kita lihat, berapa banyak gerai makanan, kafe-kafe, dan restoran asing yang menjamur di Indonesia. Parahnya, kebanyakan di antara kita sangat bangga untuk mengkonsumsi makanan beresep import. Kita lebih punya gengsi jika makan atau minum di gerai Kentucky Fried Chiken atau Pizza Hut dari pada di Warung Pecel Madiun atau Soto Ayam Lamongan. Kita tidak sadar telah memberi keuntungan yang besar pada pengusaha makanan asing yang mungkin saja keuntungan itu digunakan untuk gerakan misionaris dan kemaksiatan.
Kedua, Funny, permainan dan hiburan. Dunia permainan dan hiburan menempati rating yang tinggi dikonsumsi oleh masyarakat kita. Model-model permainan dan hiburan yang mengarah pada pemborosan, perjudian dan kemaksiatan cukup marak di Indonesia. Play Station (PS) sangat digemari anak-anak dan pelajar di Indonesia. Dampaknya, uang saku mereka yang seharusnya lebih produktif digunakan untuk membeli buku bacaan digunakan untuk menyewa PS. Belum lagi waktu yang seharusnya digunakan belajar, terbuang percuma hanya digunakan main PS. Di kalangan remaja dan dewasa, juga sangat gemar mengunjungi tempat permainan dan hiburan. Bahkan untuk melihat pertandingan sepak bola piala dunia saja harus nonton bareng di kafe-kafe. Bahkan tidak jarang diselingi dengan acara judi taruhan.
Sekarang, mulai marak perjudian terselubung melalui kuis sms. Caranya, konsumen berlomba-lomba mengirim sms dengan memilih atau menjawab sesuatu ke penyelenggara judi terselubung itu. Karena harga per sms itu tarifnya lebih mahal dari tarif normal, maka mereka meraup keuntungan dari selisih tarif sms tersebut. Sebagian keuntungan dari selisih tarif tersebut digunakan untuk memberi hadiah pemenang dan sisanya sebagai keuntungan. Unsur judi ini terlihat dari konsumen yang harus mengeluarkan uang untuk menjawab kuis tersebut dan mereka mengharap hadiah. Sedangkan dari pihak penyelenggara unsur judi terlihat dari usaha untuk mencari keuntungan dalam penyelengaraan kuis tersebut di samping memberi hadiah yang uangnya diambil dari hasil selisih tarif sms konsumen.
Dengan maraknya permainan dan hiburan, masyarakat kita menjadi lalai dan hidupnya menjadi tidak produktif. Waktunya yang seharusnya digunakan untuk bekerja habis digunakan di arena hiburan dan permainan. Kebutuhan hidupnya yang seharusnya dicukupi dengan hasil kerja menjadi tidak jelas karena kita menggantungkan diri dari mengharap hadiah. Permainan dan hiburan yang menjurus pada perjudian, kemaksiatan, dan berlebihan menyebabkan kita malas dan terjerumus pada lembah kehancuran.
Ketiga, Fashion atau Mode dan pakaian. Salah satu pemicu kemaksiatan di tengah-tengah masyarakat kita disebabkan mode dan pakaian. Salah satu buktinya adalah pernah terjadi seorang bocah SMP yang memperkosa siswa SD. Menurut pengakuannya, dia melakukan itu karena terangsang ketika melihat tarian film India dengan pakaian yang terlihat pusarnya. Dunia mode dan pakaian begitu menggejala di masyarakat kita. Ujung-ujungnya mode dan pakaian Barat yang dijadikan rujukan oleh muda-mudi kita. Kita masih ingat, betapa mode rambut artis Demi moore bintang utama film Ghost pernah mendunia di eranya. Begitu juga dengan pakaian, model pakaian you can see, yang dipakai artis-artis barat betapa sangat digemari remaja kita.
Alhasil penjajahan dalam bentuk yang riil, yaitu ekonomi, politik, dan sosial budaya dengan kendaraan globalisasi sebenarnya ada di depan mata kita. Jangan menganggap penjajahan itu hanya pendudukan negara atas negara lain yang bisa dibebaskan dengan proklamasi kemerdekaan. Sadarlah jika penjajahan melalui topeng globalisasi lebih halus tetapi dampaknya sangat kronis. Oleh karena itu mari kita isi kegiatan agustusan tahun ini dan tahun-tahun mendatang dengan penuh introspeksi diri dan mengadakan kegiatan yang positif serta mencerdaskan umat. Jika umat ini memili IPTEKS dan IMTAQ yang baik, maka kita bisa melawan dan melepaskan diri dari penjajahan asing dalam bentuk dan model apapun. Wallahua’lam
Senin, 20 Juli 2009
Isra’ Mi’raj Dalam Prespektif Al Qur’an, Hadits dan Sains
Oleh:
Mishad Khairi
Dalam pengertiannya, Isra’ Mi’raj merupakan perjalanan suci, dan bukan sekadar perjalanan “wisata” biasa bagi Rasul. Sehingga peristiwa ini menjadi perjalanan bersejarah yang akan menjadi titik balik dari kebangkitan dakwah Rasulullah SAW. John Renerd dalam buku ”In the Footsteps of Muhammad: Understanding the Islamic Experience,” seperti pernah dikutip Azyumardi Azra, mengatakan bahwa Isra Mi’raj adalah satu dari tiga perjalanan terpenting dalam sejarah hidup Rasulullah SAW, selain perjalanan hijrah dan Haji Wada. Isra Mi’raj, menurutnya, benar-benar merupakan perjalanan heroik dalam menempuh kesempurnaan dunia spiritual.
Ketika Nabi Muhammad SAW menceritakan pengalamannya pergi dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, kemudian ke langit ke 7 hingga Sidratul Muntaha dalam waktu semalam, maka orang-orang kafir Quraisy mentertawakannya, sementara banyak orang yang telah masuk Islam, akhirnya murtad kembali karena tidak percaya akan Isra’ dan Mi’raj.
Abu Bakar ra, ketika ditanyakan apakah dia mempercayai Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad, dengan penuh keyakinan berkata, “Jika yang berkata demikian itu adalah Muhammad bin Abdullah, maka yang lebih aneh dari itu pun aku percaya, karena sesungguhnya Muhammad itu tidak pernah berbohong.” Meski Nabi Muhammad SAW tidak pernah berbohong sehingga sampai dijuluki Al Amin (Yang Terpercaya) oleh orang Quraisy Mekkah, tapi hanya sedikit Muslim sajalah yang beriman akan cerita Nabi Muhammad SAW. Abu Bakar adalah salah satu dari sedikit orang itu yang dengan tegas menyatakan keyakinannya, sehingga beliau dijuluki Ash Shiddiq.
Hingga sekarangpun banyak Muslim yang masih ragu akan kebenaran Isra’ dan Mi’raj, meski itu nyata tertuang dalam Al Qur’an dan juga hadits Nabi yang shahih. Bagaimana mungkin orang bisa pergi dari Mekkah hingga Yerusalem, kemudian ke langit ke 7 dan kembali lagi dalam semalam? Itu tidak rasional, begitu pendapat mereka. Ada juga yang berpendapat apa yang dialami Nabi tidak lebih dari mimpi (perjalanan rohani) belaka.
Padahal jika hanya mimpi, itu bukan mu’jizat Allah! Kita semua bisa mimpi pergi ke negeri asing, ke bulan, bahkan ke langit dalam sekejap. Selain itu, tak mungkin terjadi kegemparan yang demikian heboh, sehingga orang-orang kafir pada tertawa, orang-orang Islam yang imannya pas-pasan murtad kembali, dan Abu Bakar sampai digelari Ash Shiddiq.
Tinjauan Al-Qur'an dan Hadits
Di dalam QS. Al-Isra':1 Allah menjelaskan tentang isra':
Maha Suci Allah, yang Telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang Telah kami berkahi sekelilingnya[*] agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya dia adalah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.
(Al Israa’:1)
[*] Maksudnya: Al Masjidil Aqsha dan daerah-daerah sekitarnya dapat berkat dari Allah dengan diturunkan nabi-nabi di negeri itu dan kesuburan tanahnya.
Dan tentang mi'raj Allah menjelaskan dalam QS. An-Najm:13-18:
"Dan sesungguhnya dia (Nabi Muhammad SAW) telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, di Sidratul Muntaha*. Di dekat (Sidratul Muntaha) ada syurga tempat tinggal. (Dia melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh suatu selubung. Penglihatannya tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar."
[*] Sidratul Muntaha adalah tempat yang paling tinggi, di atas langit ke-7, yang Telah dikunjungi nabi ketika Mi'raj.
Sidratul muntaha secara harfiah berarti 'tumbuhan sidrah yang tak terlampaui', suatu perlambang batas yang tak seorang manusia atau makhluk lainnya bisa mengetahui lebih jauh lagi. Hanya Allah yang tahu hal-hal yang lebih jauh dari batas itu. Sedikit sekali penjelasan dalam Al-Qur'an dan hadits yang menerangkan apa, di mana, dan bagaimana sidratul muntaha itu.
Kejadian-kejadian sekitar isra' dan mi'raj dijelaskan di dalam hadits- hadits nabi. Dari hadits-hadits yang sahih, didapati rangkaian kisah-kisah berikut. Suatu hari malaikat Jibril datang dan membawa Nabi, lalu dibedahnya dada Nabi dan dibersihkannya hatinya, diisinya dengan iman dan hikmah. Kemudian didatangkan buraq, 'binatang' berwarna putih yang langkahnya sejauh pandangan mata. Dengan buraq itu Nabi melakukan isra' dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsha (Baitul Maqdis) di Palestina.
Nabi SAW shalat dua rakaat di Baitul Maqdis, lalu dibawakan oleh Jibril segelas khamr (minuman keras) dan segelas susu; Nabi SAW memilih susu. Kata malaikat Jibril, "Engkau dalam kesucian, sekiranya kau pilih khamr, sesatlah ummat engkau."
Dengan buraq pula Nabi SAW melanjutkan perjalanan memasuki langit dunia. Di sana dijumpainya Nabi Adam yang dikanannya berjejer para ruh ahli surga dan di kirinya para ruh ahli neraka. Perjalanan diteruskan ke langit ke dua sampai ke tujuh. Di langit ke dua dijumpainya Nabi Isa dan Nabi Yahya. Di langit ke tiga ada Nabi Yusuf. Nabi Idris dijumpai di langit ke empat. Lalu Nabi SAW bertemu dengan Nabi Harun di langit ke lima, Nabi Musa di langit ke enam, dan Nabi Ibrahim di langit ke tujuh. Di langit ke tujuh dilihatnya baitul Ma'mur, tempat 70.000 malaikat shalat tiap harinya, setiap malaikat hanya sekali memasukinya dan tak akan pernah masuk lagi.
Perjalanan dilanjutkan ke Sidratul Muntaha. Dari Sidratul Muntaha didengarnya kalam-kalam ('pena'). Dari sidratul muntaha dilihatnya pula empat sungai, dua sungai non-fisik (bathin) di surga, dua sungai fisik (dhahir) di dunia: sungai Efrat dan sungai Nil. Lalu Jibril membawa tiga gelas berisi khamr, susu, dan madu, dipilihnya susu. Jibril pun berkomentar, "Itulah (perlambang) fitrah (kesucian) engkau dan ummat engkau." Jibril mengajak Nabi melihat surga yang indah. Inilah yang dijelaskan pula dalam Al-Qur'an surat An-Najm. Di Sidratul Muntaha itu pula Nabi melihat wujud Jibril yang sebenarnya.
Puncak dari perjalanan itu adalah diterimanya perintah shalat wajib. Mulanya diwajibkan shalat lima puluh kali sehari-semalam. Atas saran Nabi Musa, Nabi SAW meminta keringanan dan diberinya pengurangan sepuluh- sepuluh setiap meminta. Akhirnya diwajibkan lima kali sehari semalam. Nabi enggan meminta keringanan lagi, "Saya telah meminta keringan kepada Tuhanku, kini saya rela dan menyerah." Maka Allah berfirman, "Itulah fardlu-Ku dan Aku telah meringankannya atas hamba-Ku."
Urutan kejadian sejak melihat Baitul Ma'mur sampai menerima perintah shalat tidak sama dalam beberapa hadits, mungkin menunjukkan kejadian- kajadian itu serempak dialami Nabi. Dalam kisah itu, hal yang fisik (dzhahir) dan non-fisik (bathin) bersatu dan perlambang pun terdapat di dalamnya. Nabi SAW yang pergi dengan badan fisik hingga bisa shalat di Masjidil Aqsha dan memilih susu yang ditawarkan Jibril, tetapi mengalami hal-hal non-fisik, seperti pertemuan dengan ruh para Nabi yang telah wafat jauh sebelum kelahiran Nabi SAW dan pergi sampai ke surga. Juga ditunjukkan dua sungai non-fisik di surga dan dua sungai fisik di dunia. Dijelaskannya makna perlambang pemilihan susu oleh Nabi Muhammad SAW, dan menolak khamr atau madu. Ini benar-benar ujian keimanan, bagi orang mu'min semua kejadian itu benar diyakini terjadinya. Allah Maha Kuasa atas segalanya.
"Dan (ingatlah), ketika Kami wahyukan kepadamu: "Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia". Dan Kami tidak menjadikan pemandangan yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia...." (QS. 17:60).
"Ketika orang-orang Quraisy tak mempercayai saya (kata Nabi SAW), saya berdiri di Hijr (menjawab berbagai pertanyaan mereka). Lalu Allah menampakkan kepada saya Baitul Maqdis, saya dapatkan apa yang saya inginkan dan saya jelaskan kepada mereka tanda-tandanya, saya memperhatikannya...." (HR. Bukhari, Muslim, dan lainnya).
Prespektif Sains
Pada zaman sekarang ini, perjalanan Isra’ Mi’raj yang jauh dalam waktu sedemikian singkat, seharusnya sudah mulai masuk di akal kita. Dulu orang menganggap perjalanan dari Mekkah ke Yerusalem dalam semalam mustahil. Itu wajar, karena mereka masih naik onta yang kecepatannya tak lebih dari 60 km per jam. Tapi sekarang dengan pesawat tempur yang canggih (contohnya pesawat SR-71 Blackbird) yang kecepatannya sampai mach 3 (3 kali kecepatan suara atau sekitar 3000 km per jam), maka perjalanan itu bisa di tempuh dalam waktu kurang dari 4 jam dengan teknologi manusia pada zaman ini! Bahkan manusia telah mampu menciptakan roket yang bisa melaju hingga lebih dari 40 ribu kilometer per jam. Artinya dalam waktu kurang dari satu jam, bumi sudah selesai dikitari!
Teknologi telpon, memungkinkan suara seseorang bisa diterima hampir seketika meski jaraknya sampai 20 ribu kilometer (misalnya dari Hawaii ke Eropa), walaupun kecepatan suara itu cuma sekitar 1000 kilometer per jam. Menurut nalar manusia primitif, seharusnya suaranya tertunda hingga 20 jam. Teknologi manusia memungkinkan hal itu terjadi.
Sekarang kita bisa mengirim e-mail atau berita dengan sekejap meski jaraknya puluhan ribu kilometer. Di zaman kuno, hal itu tidak mungkin. Begitu pikiran orang-orang yang kuno. Di zaman yang akan datang, teknologi manusia akan terus berkembang dan berkembang, sehingga kecepatan pesawat akhirnya bisa mendekati kecepatan cahaya.
Bagaimana dengan teknologi ciptaan Allah? Lebih jelek atau lebih baik dari buatan makhluknya? Jika akal kita masih sehat, tentulah kita akan mengakui bahwa Allah Maha Kuasa tentu akan jauh lebih hebat kemampuannya ketimbang manusia yang cuma makhluk ciptaannya. Manusia hanya bisa membuat dari bahan yang sudah diciptakan oleh Allah SWT, sementara Allah mampu menciptakan sesuatu dari ketidak-adaan. Jika manusia bisa membuat logam mati yang tidak bergerak menjadi pesawat yang berkecepatan tinggi hingga beberapa kali kecepatan suara, bukankah Allah SWT yang telah menciptakan cahaya dengan kecepatan 300 ribu kilometer per DETIK lebih mampu lagi menciptakan kendaraan atau makhluk yang jauh lebih cepat dari cahaya?
Ada satu cerita. Konon ada seekor semut yang hinggap di kopiah seorang haji. Pak Haji ini, kemudian pergi dari Surabaya ke Banjarmasin pada pagi hari, kemudian kembali lagi pada sore hari. Ketika semut itu berkata, bahwa dia telah pergi ke Banjarmasin pada pagi hari, kemudian kembali lagi pada sore hari, maka teman-temannya tidak percaya. “Tidak mungkin!” Demikian kata teman-temannya. Surabaya dan Banjarmasin itukan jaraknya lebih dari 1000 km dan terpisah laut yang luas, bagaimana mungkin kamu pulang pergi ke sana cuma dalam sehari?”
Begitulah pikiran semut. Jika semut itu yang pergi sendiri, itu memang tidak mungkin. Tapi kalau semut itu menumpang pada teknologi manusia, bukankah hal itu jadi mungkin?
Demikian pula Nabi Muhammad SAW. Jika Nabi Muhammad SAW pergi sendiri, tentulah tak akan bisa melakukannya dalam semalam, meski hanya pergi ke Yerusalem. Tapi karena Allah SWT yang menyediakan kendaraannya serta memperjalankan Nabi, maka hal itu mungkin saja, karena Allah SWT adalah Tuhan yang Maha Kuasa. Allah SWT adalah pencipta segalanya, termasuk ruang dan waktu.
Menurut pikiran manusia (yang cuma makhluk ciptaan Allah SWT), hal itu mungkin tidak mungkin (terutama bagi orang yang imannya berada “di bawah garis kemiskinan”:), tapi kalau bagi Allah SWT, itu adalah hal yang mudah sekali.
Sesungguhnya, perjalanan melintas penjuru langit dan bumi itu dapat dilakukan oleh manusia (meski tidak sehebat Israa’ Mi’raj). Allah SWT telah menyatakan hal ini bahwa jin dan manusia bisa melakukan itu jika mereka memakai kekuatan (power):
“Hai jama`ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan.” [Ar Rahman:33]
Sekarang manusia telah menciptakan berbagai pesawat dari yang kekuatannya ribuan tenaga kuda (Horse Power), hingga jutaan tenaga kuda (bahkan lebih di masa depan nanti). Semakin modern kita, di mana terjadi banyak penemuan kendaraan-kendaraan yang berkecepatan makin lama makin tinggi, seharusnya perjalanan seperti Israa’ Mi’raj itu akan makin mudah diterima. Jika ada yang menganggap tidak masuk akal, tentu pikirannya tidak berbeda jauh dengan pikiran primitif orang-orang kafir Quraisy macam Abu Jahal dan Abu Lahab yang tinggal di zaman baheula.
Tentang Langit Lapis Tujuh
Peristiwa isra' mi'raj yang menyebut-nyebut tujuh langit mau tak mau mengusik keingintahuan kita akan hakikat langit, khususnya berkaitan dengan tujuh langit yang juga sering disebut-sebut dalam Al-Qur'an.
Bila kita dengar kata langit, yang terbayang adalah kubah biru yang melingkupi bumi kita. Benarkah yang dimaksud langit itu lapisan biru di atas sana dan berlapis-lapis sebanyak tujuh lapisan? Warna biru hanyalah semu, yang dihasilkan dari hamburan cahaya biru dari matahari oleh partikel-partikel atmosfer. Langit (samaa' atau samawat) berarti segala yang ada di atas kita, yang berarti pula angkasa luar, yang berisi galaksi, bintang, planet, batuan, debu dan gas yang bertebaran. Dan lapisan-lapisan yang melukiskan tempat kedudukan benda-benda langit sama sekali tidak ada.
Bilangan 'tujuh' sendiri dalam beberapa hal di Al-Qur'an tidak selalu menyatakan hitungan eksak dalam sistem desimal. Di dalam Al-Qur'an ungkapan 'tujuh' atau 'tujuh puluh' sering mengacu pada jumlah yang tak terhitung. Misalnya, di dalam Q.S. Al-Baqarah:261 Allah menjanjikan:
"Siapa yang menafkahkan hartanya di jalan Allah ibarat menanam sebiji benih yang menumbuhkan tujuh tangkai yang masing-masingnya berbuah seratus butir. Allah melipatgandakan apahala orang-orang yang dikehendakinya...."
Juga di dalam Q.S. Luqman:27:
"Jika seandainya semua pohon di bumi dijadikan sebagai pena dan lautan menjadi tintanya dan ditambahkan TUJUH lautan lagi, maka tak akan habis Kalimat Allah...."
Jadi 'tujuh langit' lebih mengena bila difahamkan sebagai tatanan benda-benda langit yang tak terhitung banyaknya, bukan sebagai lapisan-lapisan langit.
Lalu, apa hakikatnya langit dunia, langit ke dua, langit ke tiga, ... sampai langit ke tujuh dalam kisah isra' mi'raj? Mungkin ada orang mengada-ada penafsiran, mengaitkan dengan astronomi. Para penafsir dulu ada yang berpendapat bulan di langit pertama, matahari di langit ke empat, dan planet-planet lain di lapisan lainnya. Kini ada sembilan planet yang sudah diketahui, lebih dari tujuh. Tetapi, mungkin masih ada orang yang ingin mereka-reka. Kebetulan, dari jumlah planet yang sampai saat ini kita ketahui, dua planet dekat matahari (Merkurius dan Venus), tujuh lainnya --termasuk bumi-- mengorbit jauh dari matahari. Nah, orang mungkin akan berfikir langit dunia itulah orbit bumi, langit ke dua orbit Mars, ke tiga orbit Jupiter, ke empat orbit Saturnus, ke lima Uranus, ke enam Neptunus, dan ke tujuh Pluto. Kok, klop ya. Kalau begitu, Masjidil Aqsha yang berarti masjid terjauh dalam QS. 17:1, ada di planet Pluto.
Dan Sidratul Muntaha adalah planet ke sepuluh yang tak mungkin terlampaui. Jadilah, isra' mi'raj dibayangkan seperti kisah Science Fiction, perjalanan antar planet dalam satu malam. Na'udzu billah mindzalik.
Pengertian langit dalam kisah isra' mi'raj bukanlah pengertian langit secara fisik. Karena, fenomena yang diceritakan Nabi pun bukan fenomena fisik, seperti perjumpaan dengan ruh para Nabi. Langit dan Sidratul Muntaha dalam kisah isra' mi'raj adalah alam ghaib yang tak bisa kita ketahui hakikatnya dengan keterbatasan ilmu manusia. Hanya Rasulullah SAW yang berkesempatan mengetahuinya. Isra' mi'raj adalah mu'jizat yang hanya diberikan Allah kepada Nabi Muhammad SAW.
Bagaimanapun ilmu manusia tak mungkin bisa menjabarkan hakikat perjalanan isra' mi'raj. Allah hanya memberikan ilmu kepada manusia sedikit sekali (QS. Al-Isra: 85). Hanya dengan iman kita mempercayai bahwa isra' mi'raj benar-benar terjadi dan dilakukan oleh Rasulullah SAW. Rupanya, begitulah rencana Allah menguji keimanan hamba-hamba-Nya (QS. Al-Isra:60) dan menyampaikan perintah shalat wajib secara langsung kepada Rasulullah SAW.
Makna Penting Isra’ Mi’raj
Makna penting isra' mi'raj bagi ummat Islam ada pada keistimewaan penyampaian perintah shalat wajib lima waktu. Ini menunjukkan kekhususan shalat sebagai ibadah utama dalam Islam. Shalat mesti dilakukan oleh setiap Muslim, baik dia kaya maupun miskin, dia sehat maupun sakit. Ini berbeda dari ibadah zakat yang hanya dilakukan oleh orang-orang yang mampu secara ekonomi, atau puasa bagi yang kuat fisiknya, atau haji bagi yang sehat badannya dan mampu keuangannya.
Shalat lima kali sehari semalam yang didistribusikan di sela-sela kesibukan aktivitas kehidupan, mestinya mampu membersihkan diri dan jiwa setiap Muslim. Allah mengingatkan:
"Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur'an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Ankabut:45)
Sehingga jika kita tarik benang merahnya, ada beberapa makna dalam perjalanan Rasulullah SAW ini. Pertama, adanya penderitaan dalam perjuangan yang disikapi dengan kesabaran yang dalam. Kedua, kesabaran yang berbuah balasan dari Allah berupa perjalanan Isra Mi’raj dan perintah shalat. Dan ketiga, shalat menjadi senjata bagi Rasulullah SAW dan kaum Muslimin untuk bangkit dan merebut kemenangan. Ketiga hal diatas telah terangkum dengan sangat indah dalam salah satu ayat Al-Quran, yang berbunyi “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. (Yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” Mishad Khairi
Daftar Rujukan:
- Al Qur’an Karim
- Ahmad Nurcholish, 2007, TELISIK::Isra’ Mi’raj dalam Beragam Persepektif, ICRP
- T. Djamaluddin,2007, ISRA' MI'RAJ: Mu'jizat, Salah Tafsir, dan Makna Pentingnya
(peneliti bidang matahari & lingkungan antariksa, Lapan, Bandung).
- Lukman santoso Az,2008 Hikmah Isra’ Mi’raj,Centre for Studies of Religion and State (CSRS) Yogyakarta
Mishad Khairi
Dalam pengertiannya, Isra’ Mi’raj merupakan perjalanan suci, dan bukan sekadar perjalanan “wisata” biasa bagi Rasul. Sehingga peristiwa ini menjadi perjalanan bersejarah yang akan menjadi titik balik dari kebangkitan dakwah Rasulullah SAW. John Renerd dalam buku ”In the Footsteps of Muhammad: Understanding the Islamic Experience,” seperti pernah dikutip Azyumardi Azra, mengatakan bahwa Isra Mi’raj adalah satu dari tiga perjalanan terpenting dalam sejarah hidup Rasulullah SAW, selain perjalanan hijrah dan Haji Wada. Isra Mi’raj, menurutnya, benar-benar merupakan perjalanan heroik dalam menempuh kesempurnaan dunia spiritual.
Ketika Nabi Muhammad SAW menceritakan pengalamannya pergi dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, kemudian ke langit ke 7 hingga Sidratul Muntaha dalam waktu semalam, maka orang-orang kafir Quraisy mentertawakannya, sementara banyak orang yang telah masuk Islam, akhirnya murtad kembali karena tidak percaya akan Isra’ dan Mi’raj.
Abu Bakar ra, ketika ditanyakan apakah dia mempercayai Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad, dengan penuh keyakinan berkata, “Jika yang berkata demikian itu adalah Muhammad bin Abdullah, maka yang lebih aneh dari itu pun aku percaya, karena sesungguhnya Muhammad itu tidak pernah berbohong.” Meski Nabi Muhammad SAW tidak pernah berbohong sehingga sampai dijuluki Al Amin (Yang Terpercaya) oleh orang Quraisy Mekkah, tapi hanya sedikit Muslim sajalah yang beriman akan cerita Nabi Muhammad SAW. Abu Bakar adalah salah satu dari sedikit orang itu yang dengan tegas menyatakan keyakinannya, sehingga beliau dijuluki Ash Shiddiq.
Hingga sekarangpun banyak Muslim yang masih ragu akan kebenaran Isra’ dan Mi’raj, meski itu nyata tertuang dalam Al Qur’an dan juga hadits Nabi yang shahih. Bagaimana mungkin orang bisa pergi dari Mekkah hingga Yerusalem, kemudian ke langit ke 7 dan kembali lagi dalam semalam? Itu tidak rasional, begitu pendapat mereka. Ada juga yang berpendapat apa yang dialami Nabi tidak lebih dari mimpi (perjalanan rohani) belaka.
Padahal jika hanya mimpi, itu bukan mu’jizat Allah! Kita semua bisa mimpi pergi ke negeri asing, ke bulan, bahkan ke langit dalam sekejap. Selain itu, tak mungkin terjadi kegemparan yang demikian heboh, sehingga orang-orang kafir pada tertawa, orang-orang Islam yang imannya pas-pasan murtad kembali, dan Abu Bakar sampai digelari Ash Shiddiq.
Tinjauan Al-Qur'an dan Hadits
Di dalam QS. Al-Isra':1 Allah menjelaskan tentang isra':
Maha Suci Allah, yang Telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang Telah kami berkahi sekelilingnya[*] agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya dia adalah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.
(Al Israa’:1)
[*] Maksudnya: Al Masjidil Aqsha dan daerah-daerah sekitarnya dapat berkat dari Allah dengan diturunkan nabi-nabi di negeri itu dan kesuburan tanahnya.
Dan tentang mi'raj Allah menjelaskan dalam QS. An-Najm:13-18:
"Dan sesungguhnya dia (Nabi Muhammad SAW) telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, di Sidratul Muntaha*. Di dekat (Sidratul Muntaha) ada syurga tempat tinggal. (Dia melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh suatu selubung. Penglihatannya tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar."
[*] Sidratul Muntaha adalah tempat yang paling tinggi, di atas langit ke-7, yang Telah dikunjungi nabi ketika Mi'raj.
Sidratul muntaha secara harfiah berarti 'tumbuhan sidrah yang tak terlampaui', suatu perlambang batas yang tak seorang manusia atau makhluk lainnya bisa mengetahui lebih jauh lagi. Hanya Allah yang tahu hal-hal yang lebih jauh dari batas itu. Sedikit sekali penjelasan dalam Al-Qur'an dan hadits yang menerangkan apa, di mana, dan bagaimana sidratul muntaha itu.
Kejadian-kejadian sekitar isra' dan mi'raj dijelaskan di dalam hadits- hadits nabi. Dari hadits-hadits yang sahih, didapati rangkaian kisah-kisah berikut. Suatu hari malaikat Jibril datang dan membawa Nabi, lalu dibedahnya dada Nabi dan dibersihkannya hatinya, diisinya dengan iman dan hikmah. Kemudian didatangkan buraq, 'binatang' berwarna putih yang langkahnya sejauh pandangan mata. Dengan buraq itu Nabi melakukan isra' dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsha (Baitul Maqdis) di Palestina.
Nabi SAW shalat dua rakaat di Baitul Maqdis, lalu dibawakan oleh Jibril segelas khamr (minuman keras) dan segelas susu; Nabi SAW memilih susu. Kata malaikat Jibril, "Engkau dalam kesucian, sekiranya kau pilih khamr, sesatlah ummat engkau."
Dengan buraq pula Nabi SAW melanjutkan perjalanan memasuki langit dunia. Di sana dijumpainya Nabi Adam yang dikanannya berjejer para ruh ahli surga dan di kirinya para ruh ahli neraka. Perjalanan diteruskan ke langit ke dua sampai ke tujuh. Di langit ke dua dijumpainya Nabi Isa dan Nabi Yahya. Di langit ke tiga ada Nabi Yusuf. Nabi Idris dijumpai di langit ke empat. Lalu Nabi SAW bertemu dengan Nabi Harun di langit ke lima, Nabi Musa di langit ke enam, dan Nabi Ibrahim di langit ke tujuh. Di langit ke tujuh dilihatnya baitul Ma'mur, tempat 70.000 malaikat shalat tiap harinya, setiap malaikat hanya sekali memasukinya dan tak akan pernah masuk lagi.
Perjalanan dilanjutkan ke Sidratul Muntaha. Dari Sidratul Muntaha didengarnya kalam-kalam ('pena'). Dari sidratul muntaha dilihatnya pula empat sungai, dua sungai non-fisik (bathin) di surga, dua sungai fisik (dhahir) di dunia: sungai Efrat dan sungai Nil. Lalu Jibril membawa tiga gelas berisi khamr, susu, dan madu, dipilihnya susu. Jibril pun berkomentar, "Itulah (perlambang) fitrah (kesucian) engkau dan ummat engkau." Jibril mengajak Nabi melihat surga yang indah. Inilah yang dijelaskan pula dalam Al-Qur'an surat An-Najm. Di Sidratul Muntaha itu pula Nabi melihat wujud Jibril yang sebenarnya.
Puncak dari perjalanan itu adalah diterimanya perintah shalat wajib. Mulanya diwajibkan shalat lima puluh kali sehari-semalam. Atas saran Nabi Musa, Nabi SAW meminta keringanan dan diberinya pengurangan sepuluh- sepuluh setiap meminta. Akhirnya diwajibkan lima kali sehari semalam. Nabi enggan meminta keringanan lagi, "Saya telah meminta keringan kepada Tuhanku, kini saya rela dan menyerah." Maka Allah berfirman, "Itulah fardlu-Ku dan Aku telah meringankannya atas hamba-Ku."
Urutan kejadian sejak melihat Baitul Ma'mur sampai menerima perintah shalat tidak sama dalam beberapa hadits, mungkin menunjukkan kejadian- kajadian itu serempak dialami Nabi. Dalam kisah itu, hal yang fisik (dzhahir) dan non-fisik (bathin) bersatu dan perlambang pun terdapat di dalamnya. Nabi SAW yang pergi dengan badan fisik hingga bisa shalat di Masjidil Aqsha dan memilih susu yang ditawarkan Jibril, tetapi mengalami hal-hal non-fisik, seperti pertemuan dengan ruh para Nabi yang telah wafat jauh sebelum kelahiran Nabi SAW dan pergi sampai ke surga. Juga ditunjukkan dua sungai non-fisik di surga dan dua sungai fisik di dunia. Dijelaskannya makna perlambang pemilihan susu oleh Nabi Muhammad SAW, dan menolak khamr atau madu. Ini benar-benar ujian keimanan, bagi orang mu'min semua kejadian itu benar diyakini terjadinya. Allah Maha Kuasa atas segalanya.
"Dan (ingatlah), ketika Kami wahyukan kepadamu: "Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia". Dan Kami tidak menjadikan pemandangan yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia...." (QS. 17:60).
"Ketika orang-orang Quraisy tak mempercayai saya (kata Nabi SAW), saya berdiri di Hijr (menjawab berbagai pertanyaan mereka). Lalu Allah menampakkan kepada saya Baitul Maqdis, saya dapatkan apa yang saya inginkan dan saya jelaskan kepada mereka tanda-tandanya, saya memperhatikannya...." (HR. Bukhari, Muslim, dan lainnya).
Prespektif Sains
Pada zaman sekarang ini, perjalanan Isra’ Mi’raj yang jauh dalam waktu sedemikian singkat, seharusnya sudah mulai masuk di akal kita. Dulu orang menganggap perjalanan dari Mekkah ke Yerusalem dalam semalam mustahil. Itu wajar, karena mereka masih naik onta yang kecepatannya tak lebih dari 60 km per jam. Tapi sekarang dengan pesawat tempur yang canggih (contohnya pesawat SR-71 Blackbird) yang kecepatannya sampai mach 3 (3 kali kecepatan suara atau sekitar 3000 km per jam), maka perjalanan itu bisa di tempuh dalam waktu kurang dari 4 jam dengan teknologi manusia pada zaman ini! Bahkan manusia telah mampu menciptakan roket yang bisa melaju hingga lebih dari 40 ribu kilometer per jam. Artinya dalam waktu kurang dari satu jam, bumi sudah selesai dikitari!
Teknologi telpon, memungkinkan suara seseorang bisa diterima hampir seketika meski jaraknya sampai 20 ribu kilometer (misalnya dari Hawaii ke Eropa), walaupun kecepatan suara itu cuma sekitar 1000 kilometer per jam. Menurut nalar manusia primitif, seharusnya suaranya tertunda hingga 20 jam. Teknologi manusia memungkinkan hal itu terjadi.
Sekarang kita bisa mengirim e-mail atau berita dengan sekejap meski jaraknya puluhan ribu kilometer. Di zaman kuno, hal itu tidak mungkin. Begitu pikiran orang-orang yang kuno. Di zaman yang akan datang, teknologi manusia akan terus berkembang dan berkembang, sehingga kecepatan pesawat akhirnya bisa mendekati kecepatan cahaya.
Bagaimana dengan teknologi ciptaan Allah? Lebih jelek atau lebih baik dari buatan makhluknya? Jika akal kita masih sehat, tentulah kita akan mengakui bahwa Allah Maha Kuasa tentu akan jauh lebih hebat kemampuannya ketimbang manusia yang cuma makhluk ciptaannya. Manusia hanya bisa membuat dari bahan yang sudah diciptakan oleh Allah SWT, sementara Allah mampu menciptakan sesuatu dari ketidak-adaan. Jika manusia bisa membuat logam mati yang tidak bergerak menjadi pesawat yang berkecepatan tinggi hingga beberapa kali kecepatan suara, bukankah Allah SWT yang telah menciptakan cahaya dengan kecepatan 300 ribu kilometer per DETIK lebih mampu lagi menciptakan kendaraan atau makhluk yang jauh lebih cepat dari cahaya?
Ada satu cerita. Konon ada seekor semut yang hinggap di kopiah seorang haji. Pak Haji ini, kemudian pergi dari Surabaya ke Banjarmasin pada pagi hari, kemudian kembali lagi pada sore hari. Ketika semut itu berkata, bahwa dia telah pergi ke Banjarmasin pada pagi hari, kemudian kembali lagi pada sore hari, maka teman-temannya tidak percaya. “Tidak mungkin!” Demikian kata teman-temannya. Surabaya dan Banjarmasin itukan jaraknya lebih dari 1000 km dan terpisah laut yang luas, bagaimana mungkin kamu pulang pergi ke sana cuma dalam sehari?”
Begitulah pikiran semut. Jika semut itu yang pergi sendiri, itu memang tidak mungkin. Tapi kalau semut itu menumpang pada teknologi manusia, bukankah hal itu jadi mungkin?
Demikian pula Nabi Muhammad SAW. Jika Nabi Muhammad SAW pergi sendiri, tentulah tak akan bisa melakukannya dalam semalam, meski hanya pergi ke Yerusalem. Tapi karena Allah SWT yang menyediakan kendaraannya serta memperjalankan Nabi, maka hal itu mungkin saja, karena Allah SWT adalah Tuhan yang Maha Kuasa. Allah SWT adalah pencipta segalanya, termasuk ruang dan waktu.
Menurut pikiran manusia (yang cuma makhluk ciptaan Allah SWT), hal itu mungkin tidak mungkin (terutama bagi orang yang imannya berada “di bawah garis kemiskinan”:), tapi kalau bagi Allah SWT, itu adalah hal yang mudah sekali.
Sesungguhnya, perjalanan melintas penjuru langit dan bumi itu dapat dilakukan oleh manusia (meski tidak sehebat Israa’ Mi’raj). Allah SWT telah menyatakan hal ini bahwa jin dan manusia bisa melakukan itu jika mereka memakai kekuatan (power):
“Hai jama`ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan.” [Ar Rahman:33]
Sekarang manusia telah menciptakan berbagai pesawat dari yang kekuatannya ribuan tenaga kuda (Horse Power), hingga jutaan tenaga kuda (bahkan lebih di masa depan nanti). Semakin modern kita, di mana terjadi banyak penemuan kendaraan-kendaraan yang berkecepatan makin lama makin tinggi, seharusnya perjalanan seperti Israa’ Mi’raj itu akan makin mudah diterima. Jika ada yang menganggap tidak masuk akal, tentu pikirannya tidak berbeda jauh dengan pikiran primitif orang-orang kafir Quraisy macam Abu Jahal dan Abu Lahab yang tinggal di zaman baheula.
Tentang Langit Lapis Tujuh
Peristiwa isra' mi'raj yang menyebut-nyebut tujuh langit mau tak mau mengusik keingintahuan kita akan hakikat langit, khususnya berkaitan dengan tujuh langit yang juga sering disebut-sebut dalam Al-Qur'an.
Bila kita dengar kata langit, yang terbayang adalah kubah biru yang melingkupi bumi kita. Benarkah yang dimaksud langit itu lapisan biru di atas sana dan berlapis-lapis sebanyak tujuh lapisan? Warna biru hanyalah semu, yang dihasilkan dari hamburan cahaya biru dari matahari oleh partikel-partikel atmosfer. Langit (samaa' atau samawat) berarti segala yang ada di atas kita, yang berarti pula angkasa luar, yang berisi galaksi, bintang, planet, batuan, debu dan gas yang bertebaran. Dan lapisan-lapisan yang melukiskan tempat kedudukan benda-benda langit sama sekali tidak ada.
Bilangan 'tujuh' sendiri dalam beberapa hal di Al-Qur'an tidak selalu menyatakan hitungan eksak dalam sistem desimal. Di dalam Al-Qur'an ungkapan 'tujuh' atau 'tujuh puluh' sering mengacu pada jumlah yang tak terhitung. Misalnya, di dalam Q.S. Al-Baqarah:261 Allah menjanjikan:
"Siapa yang menafkahkan hartanya di jalan Allah ibarat menanam sebiji benih yang menumbuhkan tujuh tangkai yang masing-masingnya berbuah seratus butir. Allah melipatgandakan apahala orang-orang yang dikehendakinya...."
Juga di dalam Q.S. Luqman:27:
"Jika seandainya semua pohon di bumi dijadikan sebagai pena dan lautan menjadi tintanya dan ditambahkan TUJUH lautan lagi, maka tak akan habis Kalimat Allah...."
Jadi 'tujuh langit' lebih mengena bila difahamkan sebagai tatanan benda-benda langit yang tak terhitung banyaknya, bukan sebagai lapisan-lapisan langit.
Lalu, apa hakikatnya langit dunia, langit ke dua, langit ke tiga, ... sampai langit ke tujuh dalam kisah isra' mi'raj? Mungkin ada orang mengada-ada penafsiran, mengaitkan dengan astronomi. Para penafsir dulu ada yang berpendapat bulan di langit pertama, matahari di langit ke empat, dan planet-planet lain di lapisan lainnya. Kini ada sembilan planet yang sudah diketahui, lebih dari tujuh. Tetapi, mungkin masih ada orang yang ingin mereka-reka. Kebetulan, dari jumlah planet yang sampai saat ini kita ketahui, dua planet dekat matahari (Merkurius dan Venus), tujuh lainnya --termasuk bumi-- mengorbit jauh dari matahari. Nah, orang mungkin akan berfikir langit dunia itulah orbit bumi, langit ke dua orbit Mars, ke tiga orbit Jupiter, ke empat orbit Saturnus, ke lima Uranus, ke enam Neptunus, dan ke tujuh Pluto. Kok, klop ya. Kalau begitu, Masjidil Aqsha yang berarti masjid terjauh dalam QS. 17:1, ada di planet Pluto.
Dan Sidratul Muntaha adalah planet ke sepuluh yang tak mungkin terlampaui. Jadilah, isra' mi'raj dibayangkan seperti kisah Science Fiction, perjalanan antar planet dalam satu malam. Na'udzu billah mindzalik.
Pengertian langit dalam kisah isra' mi'raj bukanlah pengertian langit secara fisik. Karena, fenomena yang diceritakan Nabi pun bukan fenomena fisik, seperti perjumpaan dengan ruh para Nabi. Langit dan Sidratul Muntaha dalam kisah isra' mi'raj adalah alam ghaib yang tak bisa kita ketahui hakikatnya dengan keterbatasan ilmu manusia. Hanya Rasulullah SAW yang berkesempatan mengetahuinya. Isra' mi'raj adalah mu'jizat yang hanya diberikan Allah kepada Nabi Muhammad SAW.
Bagaimanapun ilmu manusia tak mungkin bisa menjabarkan hakikat perjalanan isra' mi'raj. Allah hanya memberikan ilmu kepada manusia sedikit sekali (QS. Al-Isra: 85). Hanya dengan iman kita mempercayai bahwa isra' mi'raj benar-benar terjadi dan dilakukan oleh Rasulullah SAW. Rupanya, begitulah rencana Allah menguji keimanan hamba-hamba-Nya (QS. Al-Isra:60) dan menyampaikan perintah shalat wajib secara langsung kepada Rasulullah SAW.
Makna Penting Isra’ Mi’raj
Makna penting isra' mi'raj bagi ummat Islam ada pada keistimewaan penyampaian perintah shalat wajib lima waktu. Ini menunjukkan kekhususan shalat sebagai ibadah utama dalam Islam. Shalat mesti dilakukan oleh setiap Muslim, baik dia kaya maupun miskin, dia sehat maupun sakit. Ini berbeda dari ibadah zakat yang hanya dilakukan oleh orang-orang yang mampu secara ekonomi, atau puasa bagi yang kuat fisiknya, atau haji bagi yang sehat badannya dan mampu keuangannya.
Shalat lima kali sehari semalam yang didistribusikan di sela-sela kesibukan aktivitas kehidupan, mestinya mampu membersihkan diri dan jiwa setiap Muslim. Allah mengingatkan:
"Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur'an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Ankabut:45)
Sehingga jika kita tarik benang merahnya, ada beberapa makna dalam perjalanan Rasulullah SAW ini. Pertama, adanya penderitaan dalam perjuangan yang disikapi dengan kesabaran yang dalam. Kedua, kesabaran yang berbuah balasan dari Allah berupa perjalanan Isra Mi’raj dan perintah shalat. Dan ketiga, shalat menjadi senjata bagi Rasulullah SAW dan kaum Muslimin untuk bangkit dan merebut kemenangan. Ketiga hal diatas telah terangkum dengan sangat indah dalam salah satu ayat Al-Quran, yang berbunyi “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. (Yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” Mishad Khairi
Daftar Rujukan:
- Al Qur’an Karim
- Ahmad Nurcholish, 2007, TELISIK::Isra’ Mi’raj dalam Beragam Persepektif, ICRP
- T. Djamaluddin,2007, ISRA' MI'RAJ: Mu'jizat, Salah Tafsir, dan Makna Pentingnya
(peneliti bidang matahari & lingkungan antariksa, Lapan, Bandung).
- Lukman santoso Az,2008 Hikmah Isra’ Mi’raj,Centre for Studies of Religion and State (CSRS) Yogyakarta
Rabu, 24 Juni 2009
Memilih Presiden
Oleh:
Mishad Khairi
Pagi itu masih kelihatan gelap. Tapi saya sudah berada di kendaraan karena saya harus pergi ke luar kota. Kebetulan saya duduk di dekat sopir. Walaupun hanya sebentar, saya sempat berbicara dengan sopir tersebut. ” Pak, saat pilihan presiden nanti milih siapa?” tanya saya kepada dia. ”Mas, saya kemungkinan nggak nyontreng ....” sahut sopir itu. ”Lebih baik kerja saja mas, rugi kalau libur soalnya presidennya siapa pun saya ya ..... tetap nyopir mas..” timpal dia lagi. Sambil terus menyetir mobilnya, dia tampak pesimis jika pemilu presiden yang akan memilih pemimpin negara akan membantu mengubah nasibnya.
Terbersit di benak saya, pendapat dari pak sopir sekilas sepertinya ”benar”. Tapi jawaban itu terkesan terlalu menyederhanakan masalah. Anggapan bahwa siapapun presidennya, maka nasib kita akan tetap sama saya rasa belum tepat. Bagaimanapun sebuah komunitas sangat dipengaruhi oleh pemimpinnya, apalagi sebuah negara. Saya yakin walaupun ”bukan yang terbaik”, maka di antara 3 kandidat capres pasti ada yang lebih baik. Ada kaidah ushul ”Maala yudroku kulluh la yutroku kulluh” (Kalau tidak bisa diambil semuanya, maka jangan tinggalkan semuanya). Sepertinya kita harus memilih siapa yang lebih ”baik” di antara para capres-cwapres tersebut.
Kriteria Pilihan khalayak umum
Kecenderungan mayoritas pemilih di Indonesia, menjatuhkan pilihannya dalam pemilu (pileg atau pilpres) adalah karena interest atau kepentingan dan kriterianya masing-masing. Seperti karena kekerabatan, karena kesukuan, karena satu partai, karena satu ormas, karena menguntungkan posisinya baik di birokrasi (pemerintahan) atau BUMN, karena kefanatikan (sama-sama perempuan/sama-sama laki-laki, sama-sama militer), karena fisik (ganteng, cantik, tinggi besar, menarik dan lain-lain), karena intelektual dan kepangkatan (pintar, bergelar, jenderal), dan sebagainya.
Walaupun tidak tertulis, ada konvensi yang mengarahkan opini mayoritas masyarakat Indonesia, bahwa presiden Indonesia itu harus Islam, Jawa, dan militer (atau memiliki wapres milter). Secara proporsional konvensi di atas sangat rasional karena 80% penduduk Indonesia adalah muslim, 60% penduduk di Indonesia berada di Jawa, dan militer dianggap sebagai simbol keamanan negara. Walaupun isu kesukuan dianggap sudah tidak populer, tapi kenyataannya masih kuat pengaruhnya.
Menjelang pilpres latar belakang ormas juga sering dibawa ke arena kampanye. Anehnya, jauh sebelum pilpres mereka seringkali tidak begitu peduli dengan identitas ormasnya. Iklan politik para capres/cawapres seringkali memanfaatkan ormas tertentu untuk mendulang suaranya. Para menteri dan petinggi BUMN tidak mau ketinggalan untuk berkampanye. Langsung atau tidak, ada indikasi para menteri dan Dirut/komisaris BUMN turut berpartisipasi dalam mengkampanyekan/mendanai capres tertentu. Dengan mendukung capres tertentu mereka berharap tetap langgeng bertengger di jabatannya dan tidak mau diganti kecuali jika naik pangkat.
Perang slogan juga tampak seru. Mega-Prabowo dengan slogan ekonomi kerakyatan tampak bersemangat membawa misi perubahan bagi bangsa ini. Mereka menganggap pemerintahan sekarang cenderung liberal. Sistem ekonomi negara sekarang ini dianggap neo-liberal (berpihak pada pemilik modal). Dengan semboyan pro rakyat dan mbelo wong cilik, Mega-Pro ingin memajukan sektor pertanian, perikanan, dan peternakan yang dianggapnya selama ini terpinggirkan. Dalam iklan dan kampanyenya, Prabowo menyampaikan keinginanya untuk mengembalikan Indonesia sebagai macan Asia.
Sementara SBY-Boediono dengan slogan ”Lanjutkan” ingin meneruskan kepemimpinannya (menyelesaikan program kerjanya yang belum tuntas) 5 tahun lagi. Boediono menolak dikatakan sebagai penganut paham ekonomi neo-liberal. Bahkan secara terbuka mereka mengkampanyekan misi ekonomi mereka dengan istilah ”ekonomi jalan tengah”. Klaim keberhasilan SBY selama menjadi presiden yang menonjol adalah menciptakan ”clean government”. Keberhasilan mereka dalam pemberantasan korupsi (bahkan besan SBY sampai sekarang juga ditahan oleh KPK) sering dijadikan senjata untuk kampanye. SBY juga dianggap sebagai sosok yang penuh kharisma dan tebar pesona sehingga mayoritas survey menyatakan jika beliau masih menduduki capres terpopuler.
Lain lagi dengan JK-Win. Dengan slogan lebih cepat lebih baik, mereka ingin menawarkan percepatan dalam pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. Klaim Jusuf Kalla dalam memutuskan kebijakan pemerintah (terutama dalam bidang ekonomi dan perdamaian) diakui oleh beberapa pihak. Sehingga muncul gelar ”The Real President” yang disandangkan oleh mantan perdana Mentri Singapura Lee Kwan Yew dan Prof. Syafi’i Ma’arif untuk JK. Mandat yang luas dari Presiden SBY untuk JK rupanya juga dimanfaatkan untuk komoditas politik. Slogan pasangan nusantara agaknya juga cukup efektif untuk mereka. Sebab merekalah satu-satunya pasangan yang mengakomodasi etnik non Jawa–Jawa. Kedekatan dengan beberapa tokoh ulama’, kalangan habaib, dan istri yang berjilbab tampak menambah point tersendiri bagi JK yang akhir-akhir ini tampak menonjolkan ke-NU-annya itu.
Kriteria Pemimpin Menurut Islam
Sebagai seorang muslim, maka cara berpikir dan bertindak kita dalam menyikapi Pilpres 2009 juga harus berpedoman dengan kriteria Islam. Ada baiknya kita belajar dari sikap sahabat Abu Bakar ketika diangkat sebagai kholifah pertama, beliau berpidato,”wahai manusia, sesungguhnya aku telah diangkat menjadi pimpinan kalian, padahal aku bukan orang yang terbaik dari kalian. Jika kalian melihat aku berada diatas kebenaran, maka tolonglah aku. Dan jika kalian melihat aku berada di atas kebatilan, maka luruskan aku. Taatlah padaku selagi aku takut kepada Allah di tengah kalian, dan jika aku durhaka pada-Nya, maka tidak ada kewajiban bagi kalian untuk taat kepadaku.”
Ungkapan sahabat utama tersebut merupakan cerminan yang harus diutarakan tokoh Islam ketika didaulat menjadi pemimpin. Islam sangat berbeda dengan konsep yang dibawa oleh politik bangsa Barat. Kepemimpinan dalam Islam dihitung sebagai alat atau jalan, dan otomatis tidak menjadi tujuan. Kepemimpinan merupakan tanggungjawab sehingga sedapat mungkin dipikul sebagai amanah dan rasa takut.
Adapun Islam telah menyodorkan kriteria seseorang untuk menjadi pemimpin. Pertama, beragama Islam/muslim. Al Mawardi dan Al Ghozali menyebut sifat-sifat pemimpin hanya hanya ada pada orang Islam. Misalnya, bertaqwa dan mampu berijtihad karena mengetahui hukum-hukum Islam. Kedua, akhlakul karimah. Penegasan tentang akhlakul karimah ini sangat jelas. Sebelum Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi Rosul, beliau selalu legitimed dari aspek moral. Oleh karena itu, beliau diberi gelar Al Amin. Ketiga, kepabelitas (kemampuan leader dan manajerial) menjadi syarat seorang pemimpin, termasuk mampu mengendalikan kondisi yang terjadi.
Imam Abu Ya’la menjelaskan, “kalau ada dua kandidat yang dicalonkan, sedang potensi yang menonjol dari satu orang adalah kepandaian, dan dari satunya lagi adalah keberanian, maka dilihat kebutuhan hidup masyarakat saat itu. Bila yang dibutuhkan seorang pemimpin yang mampu mengembangkan wilayah-wilayah Islam untuk menumpas kedloliman atau karena umat sedang dalam ancaman musuh, seorang pemimpin pemberani lebih diutamakan. Adapun bila masyarakat berada dalam keterbelakangan, kebodohan, maka pemimpin yang berilmu lebih didahulukan”.
Keteladanan kepemimpinan Rasulullah Muhammad SAW hendaknya menjadi cermin pemimpin kita. Teladan kepemimpinan yang diberikan oleh Nabi Muhammad SAW hendaknya perlu ditiru. Rasulullah Muhammad SAW selalu pekah terhadap apa yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Perhatiannya kepada orang yang lemah, yatim piatu, orang yang sengsara, dan miskin adalah benar-benar perhatian seorang bapak yang penuh kasih, lembah lembut, dan mesra. Rasulullah juga dikenal adil dan bijaksana karena hak setiap orang masing-masing ditunaikan.
Sikap kasih dan sayang menjadi landasan dasar bagi awal perjuangan Nabi Muhammad SAW. Sikap ini terbukti efektif untuk membangun suatu pengaruh dan sebagai tangga pertama kepemimpinannya. Seperti yang dicontohkan oleh Muhammad Hussein Haekal tentang perilaku Rasulullah sehari-hari, yaitu bila ada orang yang mengajaknya berbicara, maka ia mendengar dengan hati-hati sekali, tanpa menoleh kepada orang lain. Tidak hanya mendengarkan kepada yang mengajaknya berbicara, bahkan ia memutarkan seluruh tubuhnya. Bicaranya sedikit sekali, lebih banyak mendengarkan. Bila berbicara selalu bersungguh-sungguh, tetapi sungguh pun begitu, ia pun tidak melupakan ikut membuat humor dan bersenda gurau, dan yang dikatakannya selalu yang sebenarnya. Kadang ia tertawa sampai kelihatan gerahamnya—semua itu terbawa oleh kodratnya yang selalu lapang dada dan menghargai orang lain. Bijaksana, murah hati dan mudah bergaul.
Berbeda dengan teknik yang dikembangkan oleh teori-teori kepemimpinan sekarang yang lebih menekankan pada teknik luar “outer beatuy”. Seperti senyum, mengingat nama, mau mendengar, atau fokus pada minat orang lain. Nabi Muhammad SAW lebih dari sekedar “kulit tersebut”. Menurut Ary Ginanjar, penulis Emotional Spiritual Quotient Sang Nabi akhiruzzaman--Muhammad SAW itu lebih memilih “inner beauty”—kecantikan dalam, yang begitu memukau dan tanpa cacat, yaitu perilaku beliau yang ber-akhlakul karimah.
Haekal memberikan cerita tentang keadilan dan kebijaksanaan Nabi Muhammad SAW. Saat itu, hampir terjadi perang saudara di Quraisy, ketika dua kelompok berselisih tentang siapa yang mendapat kehormatan untuk meletakkan batu “Hajar Aswad” di tempatnya. Tatkala mereka melihat Nabi Muhammad adalah orang pertama yang memasuki tempat itu, mereka berseru: “Ini Al Amin:kami dapat menerima keputusannya”. Nabi Muhammad SAW diminta untuk membuat sebuah keputusan. Ia berpikir sebentar, lalu katanya: “Kemarikan sehelai kain”. Setelah kain dibawakan, dihamparkannya dan diambilnya batu itu, lalu diletakkannya dengan tangannya sendiri, kemudian katanya: “Hendaknya setiap ketua kabilah memegang ujung kain ini”. Mereka yang berselisih bersama-sama membawa kain tersebut ke tempat batu yang akan diletakkan itu. Lalu Nabi Muhammad mengeluarkan batu itu dan meletakkannya di tempatnya. Karena mereka sama-sama mendapat kehormatan untuk meletakkan “Hajar Aswad”, maka perselisihan mereka pun berakhir dan bencana dapat dihindarkan.
Ini adalah sebuah contoh, sifat seorang pemimpin yang adil dan bijaksana. Pengikutnya akan merasa senang untuk berada di dekatnya dan mereka akan mengikuti karena mereka merasakan perhatian, kasih sayang dan kejujuran Rasulullah. Nabi Muhammad SAW mampu menunjukkan kepedulian sosial dengan ketulusan hatinya. Dia mampu memupuk hubungan yang baik dengan para sahabat dan lingkungan sosialnya. Tentu akan baik sekali, jika para pemimpin atau para tokoh kita sekarang ini membuka sejarah lagi, tentang bagaimana pola kepemimpinan Rasulullah Muhammad SAW.
Mudah-mudahan Presiden kita yang terpilih pada pemilu presiden 2009, 8 Juli 2009 mendatang adalah orang yang sanggup memikul amanah sebagaimana Abu Bakar yang memikulkan makanan untuk penduduknya yang kelaparan. Semoga pemimpin yang terpilih nanti adalah seorang pemimpin muslim yang mu’min, jujur, bijaksana, dan peduli terhadap sesama sehingga mampu mengantarkan bangsa ini menjadi “Baldatun Thoyyibatun Warabbun Ghofur”. Semoga negara ini menjadi bangsa yang religious, aman, tentram, dan jauh dari bencana yang kini seringkali menimpa bangsa kita, Amiin. Wallohua’lam
Mishad Khairi
Pagi itu masih kelihatan gelap. Tapi saya sudah berada di kendaraan karena saya harus pergi ke luar kota. Kebetulan saya duduk di dekat sopir. Walaupun hanya sebentar, saya sempat berbicara dengan sopir tersebut. ” Pak, saat pilihan presiden nanti milih siapa?” tanya saya kepada dia. ”Mas, saya kemungkinan nggak nyontreng ....” sahut sopir itu. ”Lebih baik kerja saja mas, rugi kalau libur soalnya presidennya siapa pun saya ya ..... tetap nyopir mas..” timpal dia lagi. Sambil terus menyetir mobilnya, dia tampak pesimis jika pemilu presiden yang akan memilih pemimpin negara akan membantu mengubah nasibnya.
Terbersit di benak saya, pendapat dari pak sopir sekilas sepertinya ”benar”. Tapi jawaban itu terkesan terlalu menyederhanakan masalah. Anggapan bahwa siapapun presidennya, maka nasib kita akan tetap sama saya rasa belum tepat. Bagaimanapun sebuah komunitas sangat dipengaruhi oleh pemimpinnya, apalagi sebuah negara. Saya yakin walaupun ”bukan yang terbaik”, maka di antara 3 kandidat capres pasti ada yang lebih baik. Ada kaidah ushul ”Maala yudroku kulluh la yutroku kulluh” (Kalau tidak bisa diambil semuanya, maka jangan tinggalkan semuanya). Sepertinya kita harus memilih siapa yang lebih ”baik” di antara para capres-cwapres tersebut.
Kriteria Pilihan khalayak umum
Kecenderungan mayoritas pemilih di Indonesia, menjatuhkan pilihannya dalam pemilu (pileg atau pilpres) adalah karena interest atau kepentingan dan kriterianya masing-masing. Seperti karena kekerabatan, karena kesukuan, karena satu partai, karena satu ormas, karena menguntungkan posisinya baik di birokrasi (pemerintahan) atau BUMN, karena kefanatikan (sama-sama perempuan/sama-sama laki-laki, sama-sama militer), karena fisik (ganteng, cantik, tinggi besar, menarik dan lain-lain), karena intelektual dan kepangkatan (pintar, bergelar, jenderal), dan sebagainya.
Walaupun tidak tertulis, ada konvensi yang mengarahkan opini mayoritas masyarakat Indonesia, bahwa presiden Indonesia itu harus Islam, Jawa, dan militer (atau memiliki wapres milter). Secara proporsional konvensi di atas sangat rasional karena 80% penduduk Indonesia adalah muslim, 60% penduduk di Indonesia berada di Jawa, dan militer dianggap sebagai simbol keamanan negara. Walaupun isu kesukuan dianggap sudah tidak populer, tapi kenyataannya masih kuat pengaruhnya.
Menjelang pilpres latar belakang ormas juga sering dibawa ke arena kampanye. Anehnya, jauh sebelum pilpres mereka seringkali tidak begitu peduli dengan identitas ormasnya. Iklan politik para capres/cawapres seringkali memanfaatkan ormas tertentu untuk mendulang suaranya. Para menteri dan petinggi BUMN tidak mau ketinggalan untuk berkampanye. Langsung atau tidak, ada indikasi para menteri dan Dirut/komisaris BUMN turut berpartisipasi dalam mengkampanyekan/mendanai capres tertentu. Dengan mendukung capres tertentu mereka berharap tetap langgeng bertengger di jabatannya dan tidak mau diganti kecuali jika naik pangkat.
Perang slogan juga tampak seru. Mega-Prabowo dengan slogan ekonomi kerakyatan tampak bersemangat membawa misi perubahan bagi bangsa ini. Mereka menganggap pemerintahan sekarang cenderung liberal. Sistem ekonomi negara sekarang ini dianggap neo-liberal (berpihak pada pemilik modal). Dengan semboyan pro rakyat dan mbelo wong cilik, Mega-Pro ingin memajukan sektor pertanian, perikanan, dan peternakan yang dianggapnya selama ini terpinggirkan. Dalam iklan dan kampanyenya, Prabowo menyampaikan keinginanya untuk mengembalikan Indonesia sebagai macan Asia.
Sementara SBY-Boediono dengan slogan ”Lanjutkan” ingin meneruskan kepemimpinannya (menyelesaikan program kerjanya yang belum tuntas) 5 tahun lagi. Boediono menolak dikatakan sebagai penganut paham ekonomi neo-liberal. Bahkan secara terbuka mereka mengkampanyekan misi ekonomi mereka dengan istilah ”ekonomi jalan tengah”. Klaim keberhasilan SBY selama menjadi presiden yang menonjol adalah menciptakan ”clean government”. Keberhasilan mereka dalam pemberantasan korupsi (bahkan besan SBY sampai sekarang juga ditahan oleh KPK) sering dijadikan senjata untuk kampanye. SBY juga dianggap sebagai sosok yang penuh kharisma dan tebar pesona sehingga mayoritas survey menyatakan jika beliau masih menduduki capres terpopuler.
Lain lagi dengan JK-Win. Dengan slogan lebih cepat lebih baik, mereka ingin menawarkan percepatan dalam pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. Klaim Jusuf Kalla dalam memutuskan kebijakan pemerintah (terutama dalam bidang ekonomi dan perdamaian) diakui oleh beberapa pihak. Sehingga muncul gelar ”The Real President” yang disandangkan oleh mantan perdana Mentri Singapura Lee Kwan Yew dan Prof. Syafi’i Ma’arif untuk JK. Mandat yang luas dari Presiden SBY untuk JK rupanya juga dimanfaatkan untuk komoditas politik. Slogan pasangan nusantara agaknya juga cukup efektif untuk mereka. Sebab merekalah satu-satunya pasangan yang mengakomodasi etnik non Jawa–Jawa. Kedekatan dengan beberapa tokoh ulama’, kalangan habaib, dan istri yang berjilbab tampak menambah point tersendiri bagi JK yang akhir-akhir ini tampak menonjolkan ke-NU-annya itu.
Kriteria Pemimpin Menurut Islam
Sebagai seorang muslim, maka cara berpikir dan bertindak kita dalam menyikapi Pilpres 2009 juga harus berpedoman dengan kriteria Islam. Ada baiknya kita belajar dari sikap sahabat Abu Bakar ketika diangkat sebagai kholifah pertama, beliau berpidato,”wahai manusia, sesungguhnya aku telah diangkat menjadi pimpinan kalian, padahal aku bukan orang yang terbaik dari kalian. Jika kalian melihat aku berada diatas kebenaran, maka tolonglah aku. Dan jika kalian melihat aku berada di atas kebatilan, maka luruskan aku. Taatlah padaku selagi aku takut kepada Allah di tengah kalian, dan jika aku durhaka pada-Nya, maka tidak ada kewajiban bagi kalian untuk taat kepadaku.”
Ungkapan sahabat utama tersebut merupakan cerminan yang harus diutarakan tokoh Islam ketika didaulat menjadi pemimpin. Islam sangat berbeda dengan konsep yang dibawa oleh politik bangsa Barat. Kepemimpinan dalam Islam dihitung sebagai alat atau jalan, dan otomatis tidak menjadi tujuan. Kepemimpinan merupakan tanggungjawab sehingga sedapat mungkin dipikul sebagai amanah dan rasa takut.
Adapun Islam telah menyodorkan kriteria seseorang untuk menjadi pemimpin. Pertama, beragama Islam/muslim. Al Mawardi dan Al Ghozali menyebut sifat-sifat pemimpin hanya hanya ada pada orang Islam. Misalnya, bertaqwa dan mampu berijtihad karena mengetahui hukum-hukum Islam. Kedua, akhlakul karimah. Penegasan tentang akhlakul karimah ini sangat jelas. Sebelum Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi Rosul, beliau selalu legitimed dari aspek moral. Oleh karena itu, beliau diberi gelar Al Amin. Ketiga, kepabelitas (kemampuan leader dan manajerial) menjadi syarat seorang pemimpin, termasuk mampu mengendalikan kondisi yang terjadi.
Imam Abu Ya’la menjelaskan, “kalau ada dua kandidat yang dicalonkan, sedang potensi yang menonjol dari satu orang adalah kepandaian, dan dari satunya lagi adalah keberanian, maka dilihat kebutuhan hidup masyarakat saat itu. Bila yang dibutuhkan seorang pemimpin yang mampu mengembangkan wilayah-wilayah Islam untuk menumpas kedloliman atau karena umat sedang dalam ancaman musuh, seorang pemimpin pemberani lebih diutamakan. Adapun bila masyarakat berada dalam keterbelakangan, kebodohan, maka pemimpin yang berilmu lebih didahulukan”.
Keteladanan kepemimpinan Rasulullah Muhammad SAW hendaknya menjadi cermin pemimpin kita. Teladan kepemimpinan yang diberikan oleh Nabi Muhammad SAW hendaknya perlu ditiru. Rasulullah Muhammad SAW selalu pekah terhadap apa yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Perhatiannya kepada orang yang lemah, yatim piatu, orang yang sengsara, dan miskin adalah benar-benar perhatian seorang bapak yang penuh kasih, lembah lembut, dan mesra. Rasulullah juga dikenal adil dan bijaksana karena hak setiap orang masing-masing ditunaikan.
Sikap kasih dan sayang menjadi landasan dasar bagi awal perjuangan Nabi Muhammad SAW. Sikap ini terbukti efektif untuk membangun suatu pengaruh dan sebagai tangga pertama kepemimpinannya. Seperti yang dicontohkan oleh Muhammad Hussein Haekal tentang perilaku Rasulullah sehari-hari, yaitu bila ada orang yang mengajaknya berbicara, maka ia mendengar dengan hati-hati sekali, tanpa menoleh kepada orang lain. Tidak hanya mendengarkan kepada yang mengajaknya berbicara, bahkan ia memutarkan seluruh tubuhnya. Bicaranya sedikit sekali, lebih banyak mendengarkan. Bila berbicara selalu bersungguh-sungguh, tetapi sungguh pun begitu, ia pun tidak melupakan ikut membuat humor dan bersenda gurau, dan yang dikatakannya selalu yang sebenarnya. Kadang ia tertawa sampai kelihatan gerahamnya—semua itu terbawa oleh kodratnya yang selalu lapang dada dan menghargai orang lain. Bijaksana, murah hati dan mudah bergaul.
Berbeda dengan teknik yang dikembangkan oleh teori-teori kepemimpinan sekarang yang lebih menekankan pada teknik luar “outer beatuy”. Seperti senyum, mengingat nama, mau mendengar, atau fokus pada minat orang lain. Nabi Muhammad SAW lebih dari sekedar “kulit tersebut”. Menurut Ary Ginanjar, penulis Emotional Spiritual Quotient Sang Nabi akhiruzzaman--Muhammad SAW itu lebih memilih “inner beauty”—kecantikan dalam, yang begitu memukau dan tanpa cacat, yaitu perilaku beliau yang ber-akhlakul karimah.
Haekal memberikan cerita tentang keadilan dan kebijaksanaan Nabi Muhammad SAW. Saat itu, hampir terjadi perang saudara di Quraisy, ketika dua kelompok berselisih tentang siapa yang mendapat kehormatan untuk meletakkan batu “Hajar Aswad” di tempatnya. Tatkala mereka melihat Nabi Muhammad adalah orang pertama yang memasuki tempat itu, mereka berseru: “Ini Al Amin:kami dapat menerima keputusannya”. Nabi Muhammad SAW diminta untuk membuat sebuah keputusan. Ia berpikir sebentar, lalu katanya: “Kemarikan sehelai kain”. Setelah kain dibawakan, dihamparkannya dan diambilnya batu itu, lalu diletakkannya dengan tangannya sendiri, kemudian katanya: “Hendaknya setiap ketua kabilah memegang ujung kain ini”. Mereka yang berselisih bersama-sama membawa kain tersebut ke tempat batu yang akan diletakkan itu. Lalu Nabi Muhammad mengeluarkan batu itu dan meletakkannya di tempatnya. Karena mereka sama-sama mendapat kehormatan untuk meletakkan “Hajar Aswad”, maka perselisihan mereka pun berakhir dan bencana dapat dihindarkan.
Ini adalah sebuah contoh, sifat seorang pemimpin yang adil dan bijaksana. Pengikutnya akan merasa senang untuk berada di dekatnya dan mereka akan mengikuti karena mereka merasakan perhatian, kasih sayang dan kejujuran Rasulullah. Nabi Muhammad SAW mampu menunjukkan kepedulian sosial dengan ketulusan hatinya. Dia mampu memupuk hubungan yang baik dengan para sahabat dan lingkungan sosialnya. Tentu akan baik sekali, jika para pemimpin atau para tokoh kita sekarang ini membuka sejarah lagi, tentang bagaimana pola kepemimpinan Rasulullah Muhammad SAW.
Mudah-mudahan Presiden kita yang terpilih pada pemilu presiden 2009, 8 Juli 2009 mendatang adalah orang yang sanggup memikul amanah sebagaimana Abu Bakar yang memikulkan makanan untuk penduduknya yang kelaparan. Semoga pemimpin yang terpilih nanti adalah seorang pemimpin muslim yang mu’min, jujur, bijaksana, dan peduli terhadap sesama sehingga mampu mengantarkan bangsa ini menjadi “Baldatun Thoyyibatun Warabbun Ghofur”. Semoga negara ini menjadi bangsa yang religious, aman, tentram, dan jauh dari bencana yang kini seringkali menimpa bangsa kita, Amiin. Wallohua’lam
Rabu, 29 April 2009
Pesan Untuk wakil Rakyat
Oleh:
Mishad Khoiri
Tubuh pria hitam manis itu tiba-tiba lemas. Rona wajahnya tampak pucat pasih. Suaranya terdengar begitu lirih dan berat. “Sampai sekarang masih dapat 3800 suara mas”. Kalimat itu yang keluar dari mulut Wawan, adik ipar saya yang ikut “nyaleg” di DPRD Lamongan ketika saya hubungi lewat ponselnya dua hari setelah pemilu legislatif (pileg). Terlepas dari ketidaksetujuan saya ketika dia ikut nyaleg, tapi lantaran dia masih saudara, maka ketika dia bersikukuh tetap nyaleg, maka saya hanya berpesan “Wan kamu harus siap menang dan siap kalah”. Karena dia menyatakan “siap”, maka selanjutnya saya berharap dan mendo’akan agar dia meraih yang terbaik.
Kira-kira enam hari setelah pemilu legislatif, saya mencoba menghubungi dia lagi. “Alhamdulillah mas saya memperoleh lebih dari 5000 suara dan insya Alloh jadi di urutan ke dua”. Suaranya kedengaran sudah lebih bertenaga, beda dengan nada suaranya empat hari lalu. “Alhamdulillah mudah-mudahan berkah ya Wan”. Saya sengaja hanya menjawab dengan ucapan selamat yang singkat, karena saya yakin dia sekarang sedang sibuk bersama tim suksesnya mengawal keamanan suaranya. Karena pemilu kali ini memang rawan kecurangan lantaran perebutan suara tidak hanya terjadi antar partai akan tetapi juga antar caleg dalam satu partai.
Cerita seputar caleg pasca pileg memang cukup menarik. Baik yang jadi maupun tidak jadi terkadang sama-sama kurang simpatiknya. Sultan Batugena, salah seorang petinggi partai demokrat sering menyindir partai rivalnya dengan kalimat “Menang mabuk kalah ngamuk”. Dia juga terlalu percaya diri dengan menyebut partainya “menang bersyukur dan jika kalah bersabar”. Fenomena ini memang dua-duanya terbukti, ada caleg yang ketika menang dia tidak mabuk dengan kemenangannya alias biasa-biasa saja. Tapi ada yang ketika menang pileg terus pesta mabuk. Termasuk caleg yang kalah juga demikian, banyak di antara mereka yang ketika kalah dengan santun menerima kekalahannya. Tapi ada juga yang ketika kalah mereka lalu mengamuk, bunuh diri, meninggal mendadak, dan bersikap aneh-aneh. Tingkah aneh itu seperti menarik kembali sumbangan yang pernah dikasihkannya ketika kampanye, menyegel sekolah, menyegel pasar, bahkan mangkir tidak melunasi pembayaran baliho, spanduk, dan pamlet yang dipesannya ke percetakan. Banyak juga caleg kalah pileg yang stres hingga harus menjalani pengobatan di rumah sakit jiwa atau padepokan spiritual.
Para caleg yang gagal itu bersikap kurang simpatik atau stres mungkin karena malu, sudah habis uang banyak, terlilit hutang, atau kecewa dengan alasan dicurangi. Al hasil kebanyakan para caleg memang tidak siap kalah, sehingga dia belum bisa menerima fakta. Jangan heran kalau sering terjadi kericuhan ketika diadakan rekapitulasi penghitungan suara baik di KPU pusat maupun di beberapa KPU daerah. Kini muncul tuduhan, bahwa pemilu 2009 penuh dengan kecurangan, Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang semrawut, dan sebagainya. Saya setuju kalau dua hal itu terjadi, tapi sebenarnya yang menjadi masalah krusial dalam pemilu 2009 adalah rumitnya teknik pencontrengan karena banyaknya partai dan caleg serta tingginya angka golput. Hal-hal seperti ini yang sepatutnya menjadi catatan penting pemerintah dan KPU untuk diantisipasi dalam pilpres dan pileg mendatang.
Fakta yang ada seolah-olah mengarahkan penilaian, jika caleg yang lolos pileg adalah yang sukses sedangkan yang gagal adalah mereka yang terpuruk. Saya rasa pendapat seperti itu tidak sepenuhnya tepat. Bagi caleg yang kalah di pileg saya rasa masih ada pilihan jalan hidup lain yang jauh lebih baik. Termasuk bagi caleg yang lolos pileg, jangan lupa amanah yang berat sudah ada di depan mata anda. Kita tahu lembaga legeslatif adalah institusi yang rentan masalah. Jika mereka tidak kapabel, profesional, dan jujur maka akan sangat sulit untuk menjalankan tugasnya dengan baik. DPR adalah wahana yang mulia bagi legeslatif yang bisa menjalankan amanah, tapi bisa juga menjadi bumerang bagi mereka yang mudah sekali tergoda dunia dan tidak hati-hati.
Bukti nyata yang sudah terjadi adalah tidak sedikit mereka yang bisa memperjuangkan nasib rakyat melalui lembaga DPR. Akan tetapi banyak juga di antara mereka yang menyelewengkan amanah yang diembannya. Sudah sekian banyak anggota legeslatif yang terjebak kasus suap/korupsi dan harus mendekam di penjara. Aktifitas mereka yang seharusnya memperjuangkan nasib rakyat berbalik menjadi ikut makan uang rakyat. Istilah ”siap” ternyata juga seharusnya berlaku pada caleg yang menang. Anggota legeslatif yang menyeleweng adalah contoh caleg yang tidak siap menang. Mungkin mereka ”kaget” dengan fasilitas serba wah yang diterimanya. Mereka juga silau dengan celah-celah kesempatan yang bisa disalahgunakan untuk melakukan tindak korupsi. Rupanya kebanyakan dari mereka membutuhkan dana yang banyak untuk mengembalikan modal kampanyenya dulu termasuk mengumpulkan dana guna ”nyaleg” lagi pada pileg berikutnya.
Mengingat begitu kompleknya amanah yang harus dijalankan oleh anggota legeslatif, maka perlu modal spiritual, mental dan profesionalisme bagi mereka. Modal spiritual adalah pemahaman agama yang baik (mafahim). Artinya seorang caleg harus memiliki pengetahuan agama yang baik sekaligus menindaklanjutinya dalam segala tindakan. Hal ini sangat penting, karena jika agama bagi anggota legeslatif dianggap sebagai pengetahuan saja (ma’lumat), maka mereka akan mudah sekali menyeleweng. Sudah terbukti anggota legeslatif yang melakukan korupsi dan bertindak asusila banyak juga diantara mereka yang memiliki pengetahuan agama yang bagus tapi lemah dalam mengimplementasikannya dalam perbuatan.
Modal mental lebih dimaksudkan pada kesungguhan (mujahadah) dan keajegan (istiqomah) di jalan kebenaran. Prinsip mujahadah dan istiqomah harus dimiliki oleh anggota DPR. Gaji dan tunjangan fasilitas cukup besar yang diterima oleh mereka harus signifikan dengan kinerja mereka. Anggota DPR harus bersungguh-sungguh membela nasib rakyat kapan pun ketika dibutuhkan. Bukan ketika masih kampanye saja turun dan membantu konstituennya. Tapi kalau sudah jadi lalu raib lari dari konstituennya, sering mangkir ketika sidang, dan tidak istiqomah (mudah sekali tergoda korupsi dan tindakan amoral lainnya).
Modal profesionalisme juga tidak kalah pentingnya. Seorang anggota DPR harus ahli di bidangnya (profesional). Di DPR terdiri dari beberapa komisi yang membidangi keahlian tertentu. Seorang anggota legeslatif akan dikelompokkan di beberapa komisi tersebut. Jika mereka tidak memiliki keahlian di bidang sesuai komisi tersebut, maka bisa diasumsikan bagaimana kinerja mereka? Parahnya dari data yang ada ditemukan banyak anggota legeslatif yang duduk di komisi yang tidak sesuai dengan keahliannya. Hasilnya out put produk kerja mereka masih belum berkualitas.
Jika dikembalikan pada sifat kenabian, maka seorang wakil rakyat yang menjadi pemimpin rakyat di dapil-nya itu harus memiliki 4 kriteria, yaitu shidiq (jujur), amanah (bisa dipercaya), tabligh (menyampaikan kebenaran), dan fatonah (cerdas). Bila 4 sifat ini tercermin dalam tindak tanduk anggota legeslatif, maka insya Alloh misi DPR untuk memperjuangkan rakyat bisa terealisasi. Selain itu, perbaikan sistem kerja di DPR juga perlu dilakukan. Mekanisme kerja di DPR yang rawan gratifikasi (suap) harus senantiasa diperbaiki dan diawasi. Karena tindak kejahatan (korupsi) anggota legeslatif itu muncul bukan hanya karena ada niat tapi juga karena adanya kesempatan.
Banyaknya celah dalam sistem kerja dan lemahnya pengawasan di lembaga legeslatif merupakan pemicu penyelewengan anggota DPR. Tapi sejak aktifnya ICW dan KPK dalam pemberantasan korupsi membuat anggota DPR berpikir dua kali untuk melakukan korupsi. Perbaikan mekanisme kerja di DPR perlu dilakukan untuk menutup celah adanya gratifikasi dan korupsi. Harapan kita, mudah-mudahan anggota legeslatif yang terpilih dalam pileg 2009 ini bisa menjalankan tugasnya dengan penuh amanah, amiin. Wallaua’lam
Mishad Khoiri
Tubuh pria hitam manis itu tiba-tiba lemas. Rona wajahnya tampak pucat pasih. Suaranya terdengar begitu lirih dan berat. “Sampai sekarang masih dapat 3800 suara mas”. Kalimat itu yang keluar dari mulut Wawan, adik ipar saya yang ikut “nyaleg” di DPRD Lamongan ketika saya hubungi lewat ponselnya dua hari setelah pemilu legislatif (pileg). Terlepas dari ketidaksetujuan saya ketika dia ikut nyaleg, tapi lantaran dia masih saudara, maka ketika dia bersikukuh tetap nyaleg, maka saya hanya berpesan “Wan kamu harus siap menang dan siap kalah”. Karena dia menyatakan “siap”, maka selanjutnya saya berharap dan mendo’akan agar dia meraih yang terbaik.
Kira-kira enam hari setelah pemilu legislatif, saya mencoba menghubungi dia lagi. “Alhamdulillah mas saya memperoleh lebih dari 5000 suara dan insya Alloh jadi di urutan ke dua”. Suaranya kedengaran sudah lebih bertenaga, beda dengan nada suaranya empat hari lalu. “Alhamdulillah mudah-mudahan berkah ya Wan”. Saya sengaja hanya menjawab dengan ucapan selamat yang singkat, karena saya yakin dia sekarang sedang sibuk bersama tim suksesnya mengawal keamanan suaranya. Karena pemilu kali ini memang rawan kecurangan lantaran perebutan suara tidak hanya terjadi antar partai akan tetapi juga antar caleg dalam satu partai.
Cerita seputar caleg pasca pileg memang cukup menarik. Baik yang jadi maupun tidak jadi terkadang sama-sama kurang simpatiknya. Sultan Batugena, salah seorang petinggi partai demokrat sering menyindir partai rivalnya dengan kalimat “Menang mabuk kalah ngamuk”. Dia juga terlalu percaya diri dengan menyebut partainya “menang bersyukur dan jika kalah bersabar”. Fenomena ini memang dua-duanya terbukti, ada caleg yang ketika menang dia tidak mabuk dengan kemenangannya alias biasa-biasa saja. Tapi ada yang ketika menang pileg terus pesta mabuk. Termasuk caleg yang kalah juga demikian, banyak di antara mereka yang ketika kalah dengan santun menerima kekalahannya. Tapi ada juga yang ketika kalah mereka lalu mengamuk, bunuh diri, meninggal mendadak, dan bersikap aneh-aneh. Tingkah aneh itu seperti menarik kembali sumbangan yang pernah dikasihkannya ketika kampanye, menyegel sekolah, menyegel pasar, bahkan mangkir tidak melunasi pembayaran baliho, spanduk, dan pamlet yang dipesannya ke percetakan. Banyak juga caleg kalah pileg yang stres hingga harus menjalani pengobatan di rumah sakit jiwa atau padepokan spiritual.
Para caleg yang gagal itu bersikap kurang simpatik atau stres mungkin karena malu, sudah habis uang banyak, terlilit hutang, atau kecewa dengan alasan dicurangi. Al hasil kebanyakan para caleg memang tidak siap kalah, sehingga dia belum bisa menerima fakta. Jangan heran kalau sering terjadi kericuhan ketika diadakan rekapitulasi penghitungan suara baik di KPU pusat maupun di beberapa KPU daerah. Kini muncul tuduhan, bahwa pemilu 2009 penuh dengan kecurangan, Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang semrawut, dan sebagainya. Saya setuju kalau dua hal itu terjadi, tapi sebenarnya yang menjadi masalah krusial dalam pemilu 2009 adalah rumitnya teknik pencontrengan karena banyaknya partai dan caleg serta tingginya angka golput. Hal-hal seperti ini yang sepatutnya menjadi catatan penting pemerintah dan KPU untuk diantisipasi dalam pilpres dan pileg mendatang.
Fakta yang ada seolah-olah mengarahkan penilaian, jika caleg yang lolos pileg adalah yang sukses sedangkan yang gagal adalah mereka yang terpuruk. Saya rasa pendapat seperti itu tidak sepenuhnya tepat. Bagi caleg yang kalah di pileg saya rasa masih ada pilihan jalan hidup lain yang jauh lebih baik. Termasuk bagi caleg yang lolos pileg, jangan lupa amanah yang berat sudah ada di depan mata anda. Kita tahu lembaga legeslatif adalah institusi yang rentan masalah. Jika mereka tidak kapabel, profesional, dan jujur maka akan sangat sulit untuk menjalankan tugasnya dengan baik. DPR adalah wahana yang mulia bagi legeslatif yang bisa menjalankan amanah, tapi bisa juga menjadi bumerang bagi mereka yang mudah sekali tergoda dunia dan tidak hati-hati.
Bukti nyata yang sudah terjadi adalah tidak sedikit mereka yang bisa memperjuangkan nasib rakyat melalui lembaga DPR. Akan tetapi banyak juga di antara mereka yang menyelewengkan amanah yang diembannya. Sudah sekian banyak anggota legeslatif yang terjebak kasus suap/korupsi dan harus mendekam di penjara. Aktifitas mereka yang seharusnya memperjuangkan nasib rakyat berbalik menjadi ikut makan uang rakyat. Istilah ”siap” ternyata juga seharusnya berlaku pada caleg yang menang. Anggota legeslatif yang menyeleweng adalah contoh caleg yang tidak siap menang. Mungkin mereka ”kaget” dengan fasilitas serba wah yang diterimanya. Mereka juga silau dengan celah-celah kesempatan yang bisa disalahgunakan untuk melakukan tindak korupsi. Rupanya kebanyakan dari mereka membutuhkan dana yang banyak untuk mengembalikan modal kampanyenya dulu termasuk mengumpulkan dana guna ”nyaleg” lagi pada pileg berikutnya.
Mengingat begitu kompleknya amanah yang harus dijalankan oleh anggota legeslatif, maka perlu modal spiritual, mental dan profesionalisme bagi mereka. Modal spiritual adalah pemahaman agama yang baik (mafahim). Artinya seorang caleg harus memiliki pengetahuan agama yang baik sekaligus menindaklanjutinya dalam segala tindakan. Hal ini sangat penting, karena jika agama bagi anggota legeslatif dianggap sebagai pengetahuan saja (ma’lumat), maka mereka akan mudah sekali menyeleweng. Sudah terbukti anggota legeslatif yang melakukan korupsi dan bertindak asusila banyak juga diantara mereka yang memiliki pengetahuan agama yang bagus tapi lemah dalam mengimplementasikannya dalam perbuatan.
Modal mental lebih dimaksudkan pada kesungguhan (mujahadah) dan keajegan (istiqomah) di jalan kebenaran. Prinsip mujahadah dan istiqomah harus dimiliki oleh anggota DPR. Gaji dan tunjangan fasilitas cukup besar yang diterima oleh mereka harus signifikan dengan kinerja mereka. Anggota DPR harus bersungguh-sungguh membela nasib rakyat kapan pun ketika dibutuhkan. Bukan ketika masih kampanye saja turun dan membantu konstituennya. Tapi kalau sudah jadi lalu raib lari dari konstituennya, sering mangkir ketika sidang, dan tidak istiqomah (mudah sekali tergoda korupsi dan tindakan amoral lainnya).
Modal profesionalisme juga tidak kalah pentingnya. Seorang anggota DPR harus ahli di bidangnya (profesional). Di DPR terdiri dari beberapa komisi yang membidangi keahlian tertentu. Seorang anggota legeslatif akan dikelompokkan di beberapa komisi tersebut. Jika mereka tidak memiliki keahlian di bidang sesuai komisi tersebut, maka bisa diasumsikan bagaimana kinerja mereka? Parahnya dari data yang ada ditemukan banyak anggota legeslatif yang duduk di komisi yang tidak sesuai dengan keahliannya. Hasilnya out put produk kerja mereka masih belum berkualitas.
Jika dikembalikan pada sifat kenabian, maka seorang wakil rakyat yang menjadi pemimpin rakyat di dapil-nya itu harus memiliki 4 kriteria, yaitu shidiq (jujur), amanah (bisa dipercaya), tabligh (menyampaikan kebenaran), dan fatonah (cerdas). Bila 4 sifat ini tercermin dalam tindak tanduk anggota legeslatif, maka insya Alloh misi DPR untuk memperjuangkan rakyat bisa terealisasi. Selain itu, perbaikan sistem kerja di DPR juga perlu dilakukan. Mekanisme kerja di DPR yang rawan gratifikasi (suap) harus senantiasa diperbaiki dan diawasi. Karena tindak kejahatan (korupsi) anggota legeslatif itu muncul bukan hanya karena ada niat tapi juga karena adanya kesempatan.
Banyaknya celah dalam sistem kerja dan lemahnya pengawasan di lembaga legeslatif merupakan pemicu penyelewengan anggota DPR. Tapi sejak aktifnya ICW dan KPK dalam pemberantasan korupsi membuat anggota DPR berpikir dua kali untuk melakukan korupsi. Perbaikan mekanisme kerja di DPR perlu dilakukan untuk menutup celah adanya gratifikasi dan korupsi. Harapan kita, mudah-mudahan anggota legeslatif yang terpilih dalam pileg 2009 ini bisa menjalankan tugasnya dengan penuh amanah, amiin. Wallaua’lam
Kamis, 16 April 2009
Benang Merah Feminisme
Oleh:
Mishad Khoiri
Masih ingat dengan ulah kontroversial Amina Wadud. Dia adalah asisten professor studi Islam di Departemen Filsafat dan Studi Islam Virginia Commontwelth University, Amerika Serikat. Amina menjadi khatibah dan memimpin sholat Jum’at yang makmumnya terdiri dari campuran lelaki dan perempuan. Alasan Aminah melakukan tindakan itu adalah karena tidak ada larangan pasti perempuan tidak boleh jadi imam. Sponsornya Muslim Wake Up dan Muslim Women’s Freedom Tour ingin bergerak lebih jauh lagi. Isu pembebasan perempuan dalam Islam seharusnya telah sampai ke praksis melampaui tataran wacana. Dan pelaksanaan shalat Jum’at ini adalah sebuah aksinya. Tindakan Amina yang kemudian dikenal dengan peristiwa “Historic Jum’ah” merupakan sebuah manuver di tingkat aksi yang akan berlanjut dengan aksi serupa pada Jumat berikutnya dengan menghadirkan seorang aktivis muslimah lainnya Asra Q. Nomani. Perempuan India-Amerika ini menulis buku “An Islamic Bill of Rights for Women the Bedroom”. Melalui buku ini dia mengadvokasikan “extramarital sexual intercourse, adultery, fornication (sex without marriage), "pleasurable sexual experience," zina and abortion for all Muslim and all non-Muslim women of the whole world.
Kronologi di atas adalah sebuah contoh dari gerakan perempuan yang menyatakan perang terhadap konservativisme dalam beragama. Dengan dalil kesetaraan Jender mereka merasa trend konservativisme agama terutama Islam sedang terjadi di belahan dunia manapun. Menurut mereka, terlepas dari apapun penyebabnya, dampak konservativisme itu paling nyata dirasakan kaum perempuan. Menurut Lies Marcoes (seorang aktivis gerakan feminisme Indonesia) , di beberapa negara di Eropa perdebatan dan bahkan ketegangan terjadi yang berkaitan dengan isu jilbab, perkawinan paksa atau pembatasan ruang gerak perempuan di ruang publik oleh keluarga. Negara dipaksa untuk tunduk pada keyakinan dan aturan agama yang seringkali sangat konservatif oleh komunitas muslim atas nama HAM dan demokrasi meskipun hasilnya seringkali melanggar hak hak kaum perempuan. Menurut Lies trend konservativisme ini juga melanda negara negara dengan penduduk Muslim terbesar yang selama ini dikenal cukup moderat seperti Indonesia dan Malaysia. Lies menambahkan, persuasi keagamaan yang bersifat memaksa seperti pemaksaan perempuan menggunakan jilbab, larangan perempuan menjadi pemimpin atau larangan perempuan bekerja akhir akhir ini secara sporadis muncul sebagai isu di Indonesia dan Malaysia. Dengan alasan melawan konservatisme agama terhadap kaum perempuan, maka menjamurlah gerakan-gerakan yang menamakan diri sebagai gerakan perempuan (feminisme).
Sejarah feminisme
Feminisme (tokohnya disebut Feminis) adalah sebuah gerakan perempuan yang menuntut emansipasi atau kesamaan dan keadilan hak dengan pria. Feminisme sebagai filsafat dan gerakan dapat dilacak dalam sejarah kelahirannya dengan kelahiran era Pencerahan di Eropa yang dipelopori oleh Lady Mary Wortley Montagu dan Marquis de Condorcet. Perkumpulan masyarakat ilmiah untuk perempuan pertama kali didirikan di Middelburg, sebuah kota di selatan Belanda pada tahun 1785. Menjelang abad 19 feminisme lahir menjadi gerakan yang cukup mendapatkan perhatian dari para perempuan kulit putih di Eropa. Perempuan di negara-negara penjajah Eropa memperjuangkan apa yang mereka sebut sebagai universal sisterhood.
Kata feminisme dikreasikan pertama kali oleh aktivis sosialis utopis, Charles Fourier pada tahun 1837. Pergerakan center Eropa ini berpindah ke Amerika dan berkembang pesat sejak publikasi John Stuart Mill, the Subjection of Women (1869). Perjuangan mereka menandai kelahiran feminisme Gelombang Pertama.
Pada awalnya gerakan ini memang diperlukan pada masa itu, dimana ada masa-masa pemasungan terhadap kebebasan perempuan. Sejarah dunia menunjukkan bahwa secara umum kaum perempuan (feminin) merasa dirugikan dalam semua bidang dan dinomor duakan oleh kaum laki-laki (maskulin) khususnya dalam masyarakat yang patriarki sifatnya. Dalam bidang-bidang sosial, pekerjaan, pendidikan, dan lebih-lebih politik hak-hak kaum ini biasanya memang lebih inferior ketimbang apa yang dapat dinikmati oleh laki-laki, apalagi masyarakat tradisional yang berorientasi Agraris cenderung menempatkan kaum laki-laki didepan, di luar rumah dan kaum perempuan di rumah. Situasi ini mulai mengalami perubahan ketika datangnya era Liberalisme di Eropa dan terjadinya Revolusi Perancis di abad ke-XVIII yang gemanya kemudian melanda Amerika Serikat dan ke seluruh dunia.
Suasana demikian diperparah dengan adanya fundamentalisme agama yang cenderung melakukan opresi terhadap kaum perempuan. Di lingkungan agama Kristen pun ada praktek-praktek dan kotbah-kotbah yang menunjang situasi demikian, ini terlihat dalam fakta bahwa banyak gereja menolak adanya pendeta perempuan bahkan tua-tua jemaat pun hanya dapat dijabat oleh pria. Banyak kotbah-kotbah mimbar menempatkan perempuan sebagai mahluk yang harus ´tunduk kepada suami!´
Dari latar belakang demikianlah di Eropa berkembang gerakan untuk ´menaikkan derajat kaum perempuan´ tetapi gaungnya kurang keras, baru setelah di Amerika Serikat terjadi revolusi sosial dan politik, perhatian terhadap hak-hak kaum perempuan mulai mencuat. Di tahun 1792 Mary Wollstonecraft membuat karya tulis berjudul Vindication of the Right of Woman yang isinya dapat dikata meletakkan dasar prinsip-prinsip feminisme dikemudian hari. Pada tahun-tahun 1830-1840 sejalan terhadap pemberantasan praktek perbudakan, hak-hak kaum prempuan mulai diperhatikan, jam kerja dan gaji kaum ini mulai diperbaiki dan mereka diberi kesempatan ikut dalam pendidikan dan diberi hak pilih, sesuatu yang selama ini hanya dinikmati oleh kaum laki-laki.
Secara umum pada gelombang pertama dan kedua hal-hal berikut ini yang menjadi momentum perjuangannya: gender inequality, hak-hak perempuan, hak reproduksi, hak berpolitik, peran gender, identitas gender dan seksualitas. Gerakan feminisme adalah gerakan pembebasan perempuan dari: rasisme, stereotyping, seksisme, penindasan perempuan, dan phalogosentrisme.
Respon Terhadap Feminisme
Ide-ide feminisme menjadi isu global semenjak PBB mencanangkan Dasawarsa I untuk Perempuan pada tahun 1975–1985. Sejak itu, isu-isu keperempuanan mewabah dalam berbagai bentuk forum baik di tingkat internasional, nasional, regional, maupun lokal. PBB di bawah kendali Amerika Serikat jelas sangat berkepentingan dan berperan besar dalam penularan isu-isu tersebut, baik dalam forum yang khusus membahas perempuan —seperti forum di Mexico tahun 1975, Kopenhagen tahun 1980, Nairobi tahun 1985, dan di Beijing tahun 1995— maupun forum tingkat dunia lainnya, seperti Konferensi Hak Asasi Manusia (HAM), KTT Perkembangan Sosial, serta KTT Bumi dan Konferensi Kependudukan.
Hingar bingarnya isu-isu feminisme tersebut melahirkan beraneka respon dari berbagai pihak di dunia Islam, di antaranya ialah semakin banyaknya para propogandis feminisme baik secara individual maupun kelompok, dari lembaga pemerintah maupun LSM-LSM. Feminisme yang aslinya merupakan derivat ide sekularisme atau sosialisme itu, akhirnya menginfiltrasi ke dalam Dunia Islam. Maka tersohorlah kemudian nama-nama feminis muslim semisal Fatima Mernissi (Maroko), Taslima Nasreen (Bangladesh), Riffat Hassan (Pakistan), Ashgar Ali Engineer (India), Amina Wadud Muhsin (Malaysia), serta Didin Syafrudin, Wardah Hafizah, dan Myra Diarsi (Indonesia). Secara kelompok, di Indonesia khususnya dapat disebut beberapa gerakan perempuan penganjur feminisme, seperti Yayasan Kalyanamitra, Forum Indonesia untuk Perempuan dan Islam (FIPI), Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (APIK), Yayasan Solidaritas Perempuan dan sebagainya.
Perjuangan keadilan dan kesetaraan jender di negeri ini sudah berlangsung lama, sejak sebelum Indonesia merdeka hingga era reformasi. Tokoh-tokoh dan isunya pun beragam. Mula-mula dirintis oleh individu-individu yang tak terlembaga dan terorganisasi secara sistemik. Mereka bergerak sendiri-sendiri. Mungkin karena hambatan dan keterbatasan, perempuan sekuler seperti RA Kartini, tak bersinergi dengan perempuan Muslim dalam memperjuangkan hak-hak perempuan. Karena pada masa ini, akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, tokoh-tokoh Muslim perempuan Muslim banyak yang muncul. Diantaranya Rohana Kuddus (Minangkabau), Rahmah el-Yunusiyah, dan lain-lain. Mereka telah mendirikan pesantren khusus perempuan (ma’had li al-banat). Di pesantren, remaja-remaja putri diajari baca tulis. Telah disadari, belajar membaca dan menulis bukan hanya hak khusus lelaki. Lalu muncul fenomena institusionalisasi gerakan dengan munculnya organisasi-organisasi perempuan seperti Persaudaraan Isteri, Wanita Sejati, Persatuan Ibu, Puteri Indonesia, Aisyiyah Muhammadiyah, dan Muslimat NU.Kini, muncul berbagai nama seperti Siti Chamamah Soeratno, Sinta Nuriyah Wahid, Lies Marcoes-Natsir, Farha Cicik, Siti Musdah Mulia, Maria Ulfa Anshar, dan Ruhainy Dzuhatin. Bahkan muncul juga feminis laki-laki yang menyokong secara moral-intelektual, seperti (alm.) Mansoer Fakih, Nasarudin Umar, Budy Munawar-Rachman, dan KH Hussein Muhammad. Generasi inilah yang kini akan memperjuangkan emansipasi, dan penghapusan kekerasan dalam rumah tangga yang bisa berupa fisik, psikis, seksual, atau penelantaran.
Senyatanya, ide-ide feminisme yang dilontarkan kelompok-kelompok tersebut nampaknya cukup berpotensi menitikkan air liur kaum muslimah yang lapar perjuangan, yakni mereka yang mempunyai semangat dan idealisme yang tinggi untuk menguah kenyataan yang ada menjadi lebih baik. Itu karena di samping didukung teknik penyuguhan yang “ilmiah”, ide-ide feminisme itu dikemas dengan retorika-retorika dan jargon-jargon emosional yang dapat menyentuh lubuk-lubuk perasaan mereka, seperti jargon “perjuangan hak-hak wanita”, “penindasan wanita”, “subordinasi wanita” dan lain-lain. Selain itu, realitas masyarakat yang berbicara terkadang memang menampilkan sosok kaum wanita yang memilukan : terpuruk di bidang kesehatan, pendidikan, pekerjaan, kesejahteraan, politik, sosial dan lain-lain. Walhasil, tak diingkari gerakan-gerakan perempuan itu berpotensi menyedot simpati para muslimah. Lalu, mesti bagaimana kaum muslimah bersikap?
Benang Merah Feminisme
Salah satu tema utama sekaligus prinsip pokok dalam ajaran Islam adalah persamaan antara manusia, baik antara lelaki dan perempuan maupun antar bangsa, suku dan keturunan. Perbedaan yang digarisbawahi dan yang kemudian meninggikan atau merendahkan seseorang hanyalah nilai pengabdian dan ketakwaannya kepada Alloh SWT. Hal ini sesuai dengan Firman-Nya:
Wahai seluruh manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (terdiri) dari lelaki dan perempuan dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal, sesungguhnya yang termulia di antara kamu adalah yang paling bertakwa (QS 49: 13).
Kedudukan perempuan dalam pandangan ajaran Islam tidak sebagaimana diduga atau dipraktekkan sementara masyarakat. Sebenarnya, kalau ditelaah dari tinjauan agama dan beberapa tradisi budaya lama, kedudukan wanita amat lah tinggi dan terhormat. Di dalam agama Islam diajarkan, bahwa orang yang harus dihormati disebut tiga kali adalah “ibu”, baru kemudian bapak, lalu suami, guru, dan seterusnya. Dalam Al Qur’an pun disitir, bahwa diharamkan bagi seorang suami yang sabar dan cinta kepada istrinya. Posisi mulia kaum wanita juga dijelaskan oleh Ibnu Hazm, seorang ulama’ besar Timur Tengah. Beliau menyatakan “Baik dan terpuji apabila seorang ibu atau istri melayani suaminya, membersihkan, dan mengatur rumah tempat tinggalnya, tetapi itu bukan merupakan kewajibannya. Makanan dan pakaian yang telah siap dan terjahit untuknya justru menjadi kewajiban ayah untuk menyediakannya”.
Dalam tinjauan Islam wanita sungguh di tempatkan pada peran dan memilki hak-hak yang istimewah. Wanita berhak mempunyai hartanya sendiri. Seperti mas kawin yang diberikan oleh suami, maka tidak boleh dijual/diminta lagi oleh sang suami tanpa seijin istri. Wanita berhak untuk menentukan pilihan terhadap suaminya yang diinginkannya, sehingga orangtua tidak boleh memaksakan jodoh atas anaknya. Wanita pun berhak menuntut cerai (khulu’), jikalau hak-hak mereka tidak dihiraukan oleh suami. Jadi tidak benar jika keinginan cerai (tala’) adalah harus muncul dari pihak suami.
Ternyata masih ada di tengah-tengah masyarakat kita yang belum mengerti, bahwa wanita adalah makhluk ciptaan sang khalik yang memiki peranan yang sangat mulya. Peran wanita adalah sebagai pekerja, partner kerja, mitra dialog, teman bertukar pikiran, disamping tugas utamanya “melayani” suami dan bersama suami “merawat” anak. Sementra suami bertanggungjawab mencari nafkah—mencukupi kebutuhan finansial keluarga termasuk menjadi bodyguard-nya istri dan anak. Jadi kurang tepat, jika tuntutan kaum perempuan dalam memperjuangkan kepentingannya adalah “persamaan” dan “kesetaraan”, karena perempuan dan laki-laki punya peran yang sedikit berbeda, karena sunnatullah (hukum alam). Akan lebih bijaksana, jika tuntutan kaum feminisme itu diarahkan pada tuntutan “Keadilan” yang lebih bermakna memperjuangkan wanita sesuai dengan perannya. Sampai kapan pun peran wanita tidaklah sama persis dengan laki-laki. Seperti kata Maurice Bardanche, dalam bukunya Histories des Fames yang mengingatkan kita “Janganlah hendak kaum ibu meniru kaum bapak, karena jika demikian, akan lahir bahkan telah lahir, jenis ketiga dari manusia”. Tentunya sebagai muslim kita berharap hendaknya ajaran Islam dijadikan benang merah dalam menyikapi fenomena feminisme. Wallahua’lam
Daftar Bacaan:
Wikipedia bahasa Indonesia, Feminisme, ensiklopedia bebas.htm Diakses 18 Maret 2009
Hamdan Nugroho, 2007, Sejarah Gerakan Feminisme. Ham's willing.htm. Diakses 18 Maret 2009
Dr. M. Quraish Shihab, 1996, kedudukan perempuan dalam islam. Penerbit Mizan, Cetakan 13, Rajab 1417/November 1996
Muhammad Shiddiq al-Jawi, 2007. Menyoal Feminisme Dan Gerakan Perempuan « Rumahku Surgaku.htm
Soenting Melajoe, 2008. Refleksi Gerakan Feminis « Soenting Melajoe.htm Diakses 18 Maret 2009
Nasaruddin Umar, 2000. Perspektif Jender Dalam Islam, Jurnal Pemikiran Islam PARAMADINA
Mishad Khoiri
Masih ingat dengan ulah kontroversial Amina Wadud. Dia adalah asisten professor studi Islam di Departemen Filsafat dan Studi Islam Virginia Commontwelth University, Amerika Serikat. Amina menjadi khatibah dan memimpin sholat Jum’at yang makmumnya terdiri dari campuran lelaki dan perempuan. Alasan Aminah melakukan tindakan itu adalah karena tidak ada larangan pasti perempuan tidak boleh jadi imam. Sponsornya Muslim Wake Up dan Muslim Women’s Freedom Tour ingin bergerak lebih jauh lagi. Isu pembebasan perempuan dalam Islam seharusnya telah sampai ke praksis melampaui tataran wacana. Dan pelaksanaan shalat Jum’at ini adalah sebuah aksinya. Tindakan Amina yang kemudian dikenal dengan peristiwa “Historic Jum’ah” merupakan sebuah manuver di tingkat aksi yang akan berlanjut dengan aksi serupa pada Jumat berikutnya dengan menghadirkan seorang aktivis muslimah lainnya Asra Q. Nomani. Perempuan India-Amerika ini menulis buku “An Islamic Bill of Rights for Women the Bedroom”. Melalui buku ini dia mengadvokasikan “extramarital sexual intercourse, adultery, fornication (sex without marriage), "pleasurable sexual experience," zina and abortion for all Muslim and all non-Muslim women of the whole world.
Kronologi di atas adalah sebuah contoh dari gerakan perempuan yang menyatakan perang terhadap konservativisme dalam beragama. Dengan dalil kesetaraan Jender mereka merasa trend konservativisme agama terutama Islam sedang terjadi di belahan dunia manapun. Menurut mereka, terlepas dari apapun penyebabnya, dampak konservativisme itu paling nyata dirasakan kaum perempuan. Menurut Lies Marcoes (seorang aktivis gerakan feminisme Indonesia) , di beberapa negara di Eropa perdebatan dan bahkan ketegangan terjadi yang berkaitan dengan isu jilbab, perkawinan paksa atau pembatasan ruang gerak perempuan di ruang publik oleh keluarga. Negara dipaksa untuk tunduk pada keyakinan dan aturan agama yang seringkali sangat konservatif oleh komunitas muslim atas nama HAM dan demokrasi meskipun hasilnya seringkali melanggar hak hak kaum perempuan. Menurut Lies trend konservativisme ini juga melanda negara negara dengan penduduk Muslim terbesar yang selama ini dikenal cukup moderat seperti Indonesia dan Malaysia. Lies menambahkan, persuasi keagamaan yang bersifat memaksa seperti pemaksaan perempuan menggunakan jilbab, larangan perempuan menjadi pemimpin atau larangan perempuan bekerja akhir akhir ini secara sporadis muncul sebagai isu di Indonesia dan Malaysia. Dengan alasan melawan konservatisme agama terhadap kaum perempuan, maka menjamurlah gerakan-gerakan yang menamakan diri sebagai gerakan perempuan (feminisme).
Sejarah feminisme
Feminisme (tokohnya disebut Feminis) adalah sebuah gerakan perempuan yang menuntut emansipasi atau kesamaan dan keadilan hak dengan pria. Feminisme sebagai filsafat dan gerakan dapat dilacak dalam sejarah kelahirannya dengan kelahiran era Pencerahan di Eropa yang dipelopori oleh Lady Mary Wortley Montagu dan Marquis de Condorcet. Perkumpulan masyarakat ilmiah untuk perempuan pertama kali didirikan di Middelburg, sebuah kota di selatan Belanda pada tahun 1785. Menjelang abad 19 feminisme lahir menjadi gerakan yang cukup mendapatkan perhatian dari para perempuan kulit putih di Eropa. Perempuan di negara-negara penjajah Eropa memperjuangkan apa yang mereka sebut sebagai universal sisterhood.
Kata feminisme dikreasikan pertama kali oleh aktivis sosialis utopis, Charles Fourier pada tahun 1837. Pergerakan center Eropa ini berpindah ke Amerika dan berkembang pesat sejak publikasi John Stuart Mill, the Subjection of Women (1869). Perjuangan mereka menandai kelahiran feminisme Gelombang Pertama.
Pada awalnya gerakan ini memang diperlukan pada masa itu, dimana ada masa-masa pemasungan terhadap kebebasan perempuan. Sejarah dunia menunjukkan bahwa secara umum kaum perempuan (feminin) merasa dirugikan dalam semua bidang dan dinomor duakan oleh kaum laki-laki (maskulin) khususnya dalam masyarakat yang patriarki sifatnya. Dalam bidang-bidang sosial, pekerjaan, pendidikan, dan lebih-lebih politik hak-hak kaum ini biasanya memang lebih inferior ketimbang apa yang dapat dinikmati oleh laki-laki, apalagi masyarakat tradisional yang berorientasi Agraris cenderung menempatkan kaum laki-laki didepan, di luar rumah dan kaum perempuan di rumah. Situasi ini mulai mengalami perubahan ketika datangnya era Liberalisme di Eropa dan terjadinya Revolusi Perancis di abad ke-XVIII yang gemanya kemudian melanda Amerika Serikat dan ke seluruh dunia.
Suasana demikian diperparah dengan adanya fundamentalisme agama yang cenderung melakukan opresi terhadap kaum perempuan. Di lingkungan agama Kristen pun ada praktek-praktek dan kotbah-kotbah yang menunjang situasi demikian, ini terlihat dalam fakta bahwa banyak gereja menolak adanya pendeta perempuan bahkan tua-tua jemaat pun hanya dapat dijabat oleh pria. Banyak kotbah-kotbah mimbar menempatkan perempuan sebagai mahluk yang harus ´tunduk kepada suami!´
Dari latar belakang demikianlah di Eropa berkembang gerakan untuk ´menaikkan derajat kaum perempuan´ tetapi gaungnya kurang keras, baru setelah di Amerika Serikat terjadi revolusi sosial dan politik, perhatian terhadap hak-hak kaum perempuan mulai mencuat. Di tahun 1792 Mary Wollstonecraft membuat karya tulis berjudul Vindication of the Right of Woman yang isinya dapat dikata meletakkan dasar prinsip-prinsip feminisme dikemudian hari. Pada tahun-tahun 1830-1840 sejalan terhadap pemberantasan praktek perbudakan, hak-hak kaum prempuan mulai diperhatikan, jam kerja dan gaji kaum ini mulai diperbaiki dan mereka diberi kesempatan ikut dalam pendidikan dan diberi hak pilih, sesuatu yang selama ini hanya dinikmati oleh kaum laki-laki.
Secara umum pada gelombang pertama dan kedua hal-hal berikut ini yang menjadi momentum perjuangannya: gender inequality, hak-hak perempuan, hak reproduksi, hak berpolitik, peran gender, identitas gender dan seksualitas. Gerakan feminisme adalah gerakan pembebasan perempuan dari: rasisme, stereotyping, seksisme, penindasan perempuan, dan phalogosentrisme.
Respon Terhadap Feminisme
Ide-ide feminisme menjadi isu global semenjak PBB mencanangkan Dasawarsa I untuk Perempuan pada tahun 1975–1985. Sejak itu, isu-isu keperempuanan mewabah dalam berbagai bentuk forum baik di tingkat internasional, nasional, regional, maupun lokal. PBB di bawah kendali Amerika Serikat jelas sangat berkepentingan dan berperan besar dalam penularan isu-isu tersebut, baik dalam forum yang khusus membahas perempuan —seperti forum di Mexico tahun 1975, Kopenhagen tahun 1980, Nairobi tahun 1985, dan di Beijing tahun 1995— maupun forum tingkat dunia lainnya, seperti Konferensi Hak Asasi Manusia (HAM), KTT Perkembangan Sosial, serta KTT Bumi dan Konferensi Kependudukan.
Hingar bingarnya isu-isu feminisme tersebut melahirkan beraneka respon dari berbagai pihak di dunia Islam, di antaranya ialah semakin banyaknya para propogandis feminisme baik secara individual maupun kelompok, dari lembaga pemerintah maupun LSM-LSM. Feminisme yang aslinya merupakan derivat ide sekularisme atau sosialisme itu, akhirnya menginfiltrasi ke dalam Dunia Islam. Maka tersohorlah kemudian nama-nama feminis muslim semisal Fatima Mernissi (Maroko), Taslima Nasreen (Bangladesh), Riffat Hassan (Pakistan), Ashgar Ali Engineer (India), Amina Wadud Muhsin (Malaysia), serta Didin Syafrudin, Wardah Hafizah, dan Myra Diarsi (Indonesia). Secara kelompok, di Indonesia khususnya dapat disebut beberapa gerakan perempuan penganjur feminisme, seperti Yayasan Kalyanamitra, Forum Indonesia untuk Perempuan dan Islam (FIPI), Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (APIK), Yayasan Solidaritas Perempuan dan sebagainya.
Perjuangan keadilan dan kesetaraan jender di negeri ini sudah berlangsung lama, sejak sebelum Indonesia merdeka hingga era reformasi. Tokoh-tokoh dan isunya pun beragam. Mula-mula dirintis oleh individu-individu yang tak terlembaga dan terorganisasi secara sistemik. Mereka bergerak sendiri-sendiri. Mungkin karena hambatan dan keterbatasan, perempuan sekuler seperti RA Kartini, tak bersinergi dengan perempuan Muslim dalam memperjuangkan hak-hak perempuan. Karena pada masa ini, akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, tokoh-tokoh Muslim perempuan Muslim banyak yang muncul. Diantaranya Rohana Kuddus (Minangkabau), Rahmah el-Yunusiyah, dan lain-lain. Mereka telah mendirikan pesantren khusus perempuan (ma’had li al-banat). Di pesantren, remaja-remaja putri diajari baca tulis. Telah disadari, belajar membaca dan menulis bukan hanya hak khusus lelaki. Lalu muncul fenomena institusionalisasi gerakan dengan munculnya organisasi-organisasi perempuan seperti Persaudaraan Isteri, Wanita Sejati, Persatuan Ibu, Puteri Indonesia, Aisyiyah Muhammadiyah, dan Muslimat NU.Kini, muncul berbagai nama seperti Siti Chamamah Soeratno, Sinta Nuriyah Wahid, Lies Marcoes-Natsir, Farha Cicik, Siti Musdah Mulia, Maria Ulfa Anshar, dan Ruhainy Dzuhatin. Bahkan muncul juga feminis laki-laki yang menyokong secara moral-intelektual, seperti (alm.) Mansoer Fakih, Nasarudin Umar, Budy Munawar-Rachman, dan KH Hussein Muhammad. Generasi inilah yang kini akan memperjuangkan emansipasi, dan penghapusan kekerasan dalam rumah tangga yang bisa berupa fisik, psikis, seksual, atau penelantaran.
Senyatanya, ide-ide feminisme yang dilontarkan kelompok-kelompok tersebut nampaknya cukup berpotensi menitikkan air liur kaum muslimah yang lapar perjuangan, yakni mereka yang mempunyai semangat dan idealisme yang tinggi untuk menguah kenyataan yang ada menjadi lebih baik. Itu karena di samping didukung teknik penyuguhan yang “ilmiah”, ide-ide feminisme itu dikemas dengan retorika-retorika dan jargon-jargon emosional yang dapat menyentuh lubuk-lubuk perasaan mereka, seperti jargon “perjuangan hak-hak wanita”, “penindasan wanita”, “subordinasi wanita” dan lain-lain. Selain itu, realitas masyarakat yang berbicara terkadang memang menampilkan sosok kaum wanita yang memilukan : terpuruk di bidang kesehatan, pendidikan, pekerjaan, kesejahteraan, politik, sosial dan lain-lain. Walhasil, tak diingkari gerakan-gerakan perempuan itu berpotensi menyedot simpati para muslimah. Lalu, mesti bagaimana kaum muslimah bersikap?
Benang Merah Feminisme
Salah satu tema utama sekaligus prinsip pokok dalam ajaran Islam adalah persamaan antara manusia, baik antara lelaki dan perempuan maupun antar bangsa, suku dan keturunan. Perbedaan yang digarisbawahi dan yang kemudian meninggikan atau merendahkan seseorang hanyalah nilai pengabdian dan ketakwaannya kepada Alloh SWT. Hal ini sesuai dengan Firman-Nya:
Wahai seluruh manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (terdiri) dari lelaki dan perempuan dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal, sesungguhnya yang termulia di antara kamu adalah yang paling bertakwa (QS 49: 13).
Kedudukan perempuan dalam pandangan ajaran Islam tidak sebagaimana diduga atau dipraktekkan sementara masyarakat. Sebenarnya, kalau ditelaah dari tinjauan agama dan beberapa tradisi budaya lama, kedudukan wanita amat lah tinggi dan terhormat. Di dalam agama Islam diajarkan, bahwa orang yang harus dihormati disebut tiga kali adalah “ibu”, baru kemudian bapak, lalu suami, guru, dan seterusnya. Dalam Al Qur’an pun disitir, bahwa diharamkan bagi seorang suami yang sabar dan cinta kepada istrinya. Posisi mulia kaum wanita juga dijelaskan oleh Ibnu Hazm, seorang ulama’ besar Timur Tengah. Beliau menyatakan “Baik dan terpuji apabila seorang ibu atau istri melayani suaminya, membersihkan, dan mengatur rumah tempat tinggalnya, tetapi itu bukan merupakan kewajibannya. Makanan dan pakaian yang telah siap dan terjahit untuknya justru menjadi kewajiban ayah untuk menyediakannya”.
Dalam tinjauan Islam wanita sungguh di tempatkan pada peran dan memilki hak-hak yang istimewah. Wanita berhak mempunyai hartanya sendiri. Seperti mas kawin yang diberikan oleh suami, maka tidak boleh dijual/diminta lagi oleh sang suami tanpa seijin istri. Wanita berhak untuk menentukan pilihan terhadap suaminya yang diinginkannya, sehingga orangtua tidak boleh memaksakan jodoh atas anaknya. Wanita pun berhak menuntut cerai (khulu’), jikalau hak-hak mereka tidak dihiraukan oleh suami. Jadi tidak benar jika keinginan cerai (tala’) adalah harus muncul dari pihak suami.
Ternyata masih ada di tengah-tengah masyarakat kita yang belum mengerti, bahwa wanita adalah makhluk ciptaan sang khalik yang memiki peranan yang sangat mulya. Peran wanita adalah sebagai pekerja, partner kerja, mitra dialog, teman bertukar pikiran, disamping tugas utamanya “melayani” suami dan bersama suami “merawat” anak. Sementra suami bertanggungjawab mencari nafkah—mencukupi kebutuhan finansial keluarga termasuk menjadi bodyguard-nya istri dan anak. Jadi kurang tepat, jika tuntutan kaum perempuan dalam memperjuangkan kepentingannya adalah “persamaan” dan “kesetaraan”, karena perempuan dan laki-laki punya peran yang sedikit berbeda, karena sunnatullah (hukum alam). Akan lebih bijaksana, jika tuntutan kaum feminisme itu diarahkan pada tuntutan “Keadilan” yang lebih bermakna memperjuangkan wanita sesuai dengan perannya. Sampai kapan pun peran wanita tidaklah sama persis dengan laki-laki. Seperti kata Maurice Bardanche, dalam bukunya Histories des Fames yang mengingatkan kita “Janganlah hendak kaum ibu meniru kaum bapak, karena jika demikian, akan lahir bahkan telah lahir, jenis ketiga dari manusia”. Tentunya sebagai muslim kita berharap hendaknya ajaran Islam dijadikan benang merah dalam menyikapi fenomena feminisme. Wallahua’lam
Daftar Bacaan:
Wikipedia bahasa Indonesia, Feminisme, ensiklopedia bebas.htm Diakses 18 Maret 2009
Hamdan Nugroho, 2007, Sejarah Gerakan Feminisme. Ham's willing.htm. Diakses 18 Maret 2009
Dr. M. Quraish Shihab, 1996, kedudukan perempuan dalam islam. Penerbit Mizan, Cetakan 13, Rajab 1417/November 1996
Muhammad Shiddiq al-Jawi, 2007. Menyoal Feminisme Dan Gerakan Perempuan « Rumahku Surgaku.htm
Soenting Melajoe, 2008. Refleksi Gerakan Feminis « Soenting Melajoe.htm Diakses 18 Maret 2009
Nasaruddin Umar, 2000. Perspektif Jender Dalam Islam, Jurnal Pemikiran Islam PARAMADINA
Langganan:
Postingan (Atom)