Pengikut

Rabu, 26 November 2008

Seputar Pembelajaran

Meluruskan Konsep Pembelajaran Tim Teaching
Oleh:
Mishad*

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang saat inisedangdikembangkan di Indonesia tampaknya menuntut peran guru untuk dapat mengimplementasikannya. Guru dituntut untuk dapat memenuhi sejumlah prinsip pembelajaran tertentu, diantaranya guru harus memperhatikan kebutuhan dan perbedaan individual, mengembangkan strategi pembelajaran yang memungkinkan siswa aktif, kreatif dan menyenangkan, serta menilai proses dan hasil pembelajaran siswa secara akurat dan komperhensif. Untuk dapat mengimplementasikan kurikulum dengan baik tampaknya masih ditemukan berbagai kendala, seperti persoalan rendahnya motivasi dan kemampuan guru itu sendiri, rasio antara guru dengan siswa yang tidak seimbang, dan keterbatasan sarana. Semua itu menuntut guru untuk dapat mengelola pembelajaran dan mengembangkan bentuk-bentuk strategi pembelajaran yang lebih tepat dan sesuai.

Pada umumnya strategi pembelajaran yang dikembangkan di sekolah cenderung dilakukan secara soliter. Dalam arti, pengelolaan pembelajaran menjadi tanggung jawab guru yang bersangkutan secara individual, baik dalam merencanakan, melaksanakan, maupun menilai pembelajaran siswa. Ketika dihadapkan dengan tuntutan kurikulum yang sangat kompleks dan kondisi nyata yang kurang kondusif, guru seringkali menjadi tidak berdaya dan memiliki keterbatasan untuk dapat mengimplementasikan kurikulum sesuai dengan apa yang diharapkan dan digariskan dalam ketentuan yang ada.

Mengenal Pembelajaran Tim Teaching
Bagi sebagian guru, memenuhi beban mengajar 24 jam pelajaran dalam satu minggu bisa jadi sangat berat. Karena itu, alternatif pembelajaran yang memungkinkan semua guru mampu mencapai beban tugas ini perlu dipikirkan. Team teaching (mengajar secara tim) adalah pilihan yang tepat yang memungkinkan memberi kesempatan sama kepada setiap guru dalam memenuhi ketentuan 24 jam pelajaran. Bahkan, team teaching juga diyakini bisa menjadi strategi dalam memberikan pelayanan pendidikan yang bermutu. Strategi ini bisa digunakan untuk menghindari kemungkinan akal-akalan mencapai 24 jam pelajaran tatap muka. Ditambahkan, mengajar secara tim oleh beberapaguru bisa memenuhi ideal rasio guru-siswa 1:10. Pembelajaraan interdisipliner bersamaan oleh beberapa guru yang komunikatif dan terkoordinir, sangatmemungkinkanmenghasilkan model pembelajaran inovatif dan produktif.
Team Teaching merupakan salah satu bentuk strategi pembelajaran yang melibatkan dua orang guru atau lebih dalam proses pembelajaran siswa, dengan pembagian peran dan tanggung jawab secara jelas dan seimbang. Melalui strategi Team Teaching, diharapkan antar mitra dapat bekerja sama dan saling melengkapi dalam mengelola proses pembelajaran. Setiap permasalahan yang muncul dalam proses pembelajaran dapat diatasi secara bersama-sama.
Jika melihat beberapa masalah yang terjadi dalam dunia pendidikan, dalam hal ini pihak sekolah dan guru-guru dituntut daya kreatifitasnya dalam memilih strategi yang tepat agar segala tuntutan yang ditujukan terhadap guru khususnya itu dapat terpenuhi dengan maksimal. Melihat permasalahan tersebut, tampaknya strategi Team Teaching merupakan cara yang tepat untuk jalan keluarnya. Team Teaching merupakan strategi pembelajaran yang kegiatan proses pembelajarannya dilakukan oleh lebih dari satu orang guru dengan pembagian peran dan tanggung jawabnya masing-masing. Definisi ini sesuai dengan yang dijelaskan oleh Martiningsih (2007) bahwa “Metode pembelajaran team teaching adalah suatu metode mengajar dimana pendidiknya lebih dari satu orang yang masing-masing mempunyai tugas.
Lebih lanjut Ahmadi dan Prasetya (2005) menyatakan bahwa Team teaching (pengajaran beregu) adalah suatu pengajaran yang dilaksanakan bersama oleh beberapa orang. Tim pengajar atau guru yang menyajikan bahan pelajaran dengan metode mengajar beregu ini menyajikan bahan pengajaran yang sama dalam waktu dan tujuan yang sama pula. Para guru tersebut bersama-sama mempersiapkan, melaksanakan, dan mengevaluasi hasil belajar siswa. Pelaksanaan belajarnya dapat dilakukan secara bergilir dengan metode ceramah atau bersama-sama dengan metode diskusi panel.

Beberapa Jenis strategi Pembelajaran Team Teaching

Sebenarnya ada beberapa jenis dari strategi Team Teaching, sesuai yang dijelaskan oleh Soewalni S (2007), yaitu :
1. Semi Team Teaching :
Tipe 1 = sejumlah guru mengajar mata pelajaran yang sama di kelas yang berbeda. Perencanaan materi dan metode disepakati bersama.
Tipe 2a = satu mata pelajaran disajikan oleh sejumlah guru secara bergantian dengan pembagian tugas, materi dan evaluasi oleh guru masing-masing.
Tipe 2b = satu mata pelajaran disajikan oleh sejumlah guru dengan mendesain siswa secara berkelompok.

2. Team Teaching Penuh
Tipe 3 = satu tim terdiri dari dua orang guru atau lebih, waktu kelas sama, pembelajaran mata pelajaran / materi tertentu. Perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi secara bersama dan sepakat.
Adapun variasi Team Teaching Penuh menurut Soewalni S (2007) ialah :
Pelaksanaan bersama, seorang guru sebagai penyaji atau menyampaikan informasi, seorang guru membimbing diskusi kelompok atau membimbing latihan individual.
Anggota tim secara bergantian menyajikan topik/materi. Diskusi / tanya jawab dibimbing secara bersama dan saling melengkapi jawaban dari anggota tim.
Seorang guru (senior) menyajikan langkah latihan, observasi, praktek dan informasi seperlunya. Kelas dibagi dalam kelompok, setiap kelompok dipandu seorang guru (tutor, fasilitator, mediator). Akhir pembelajaran masing-masing kelompok menyajikan laporan (lisan/tertulis) dan ditanggapi bersama serta disimpulkan bersama.
Namun, dari beberapa jenis Team Teaching yang dikemukakan oleh Soewalni S, penulis lebih condong ke jenis Team Teaching penuh, karena disana lebih terlihat nyata strategi Team Teaching-nya. Guru yang mengajar lebih dari satu orang, mereka mengajar di kelas yang sama dengan materi yang sama dan pada waktu yang sama, serta setiap perencanaan, pelaksanaan dan evaluasinya pun dilakukan atas kesepakatan bersama. Hal ini sangat sesuai dengan prinsip pembentukan team dalam sebuah pelaksanaan tugas, bahwa segala sesuatunya yang berkaitan dengan misi pencapaian tujuan dilakukan secara bersama-sama, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, sampai kepada evaluasi terhadap apa yang telah dilaksanakan.

Tahapan Pembelajaran dengan Strategi Team Teaching

Menurut Yeni Artiningsih (2008), tahapan pembelajaran dengan strategi tem teaching adalah sebagai berikut:
1. Tahap Awal
a. Perencanaan Pembelajaran Disusun secara Bersama
Perencanaan pembelajaran atau yang saat ini lebih populer dengan istilah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) harus disusun secara bersama-sama oleh setiap guru yang tergabung dalam Team Teaching. Agar setiap guru yang tergabung dalam team teaching memahami tentang apa-apa yang tercantum dalam isi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) tersebut, mulai dari standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator yang harus diraih oleh siswa dari proses pembelajaran, sampai kepada sistem penilaian hasil evaluasi siswa.
b. Metode Pembelajaran Disusun Bersama
Selain Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang harus disusun bersama oleh team, metode yang akan digunakan oleh mereka dalam proses pembelajaran Team Teaching pun harus direncanakan bersama-sama oleh anggota Team Teaching. Perencanaan metode secara bersama ini dilakukan agar setiap guru Team Teaching mengetahui alur proses pembelajaran dan tidak kehilangan arah pembelajaran.
c. Partner Team Teaching Memahami Materi dan Isi Pembelajaran
Guru sebagai partner dalam Team Teaching bukan hanya harus mengetahui tema dari materi yang akan disampaikan kepada siswa saja, lebih jauh dari itu, mereka juga harus sama-sama mengetahui dan memahami isi dari materi pelajaran tersebut. Hal ini agar keduanya bisa saling melengkapi kekurangan pengetahuan yang ada di dalam diri masing-masing. Terutama ini dapat dirasakan manfaatnya dalam penyampaian materi pada siswa dan menjawab pertanyaan-pertanyaan siswa atas penjelasan guru.
d. Pembagian Peran dan Tanggung Jawab Secara Jelas
Dalam Team Teaching, pembagian peran dan tanggung jawab masing-masing guru harus dibicarakan secara jelas ketika merencanakan proses pembelajaran yang akan dilaksanakan, agar ketika proses pembelajaran berlangsung di dalam kelas, mereka tahu peran dan tugasnya masing-masing. Tidak ada lagi yang namanya ketidakjelasan peran dan tanggung jawab dalam hal ini.
2. Tahap Inti
Satu guru sebagai pemateri dalam dua jam mata pelajaran penuh, dan satu orang sebagai pengawas dan pembantu team.
Dua orang guru bergantian sebagai pemateri dalam dua jam pelajaran, dalam hal ini berarti tugas sebagai pemateri dibagi dua dalam dua jam pelajaran yang ada.
3. Tahap Evaluasi
a. Evaluasi Guru
Evaluasi guru selama proses pembelajaran dilakukan oleh partner team setelah jam pelajaran berakhir. Evaluasi dilakukan oleh masing-masing partner dengan cara memberi kritikan-kritikan dan saran yang membangun untuk perbaikan proses pembelajaran selanjutnya. Dalam hal ini setiap guru yang diberi saran harus menerima dengan baik saran-saran tersebut, karena hakekatnya itulah kelebihan dari team teaching. Setiap guru harus merasa bahwa mereka banyak mengalami kekurangan dalam diri mereka, tidak merasa diri paling benar dan paling pintar. Evaluasi ini dilakukan di luar ruang kelas, ini dilakukan untuk menjaga image masing-masing guru dihadapan siswa.
b. Evaluasi Siswa
Evaluasi siswa dalam hal ini mencakup pembuatan soal evaluasi dan merencanakan metode evaluasi, yang semuanya dilakukan secara bersama-sama oleh guru Team Teaching. Atas kesepakatan bersama guru harus membuat soal-soal evaluasi yang akan diberikan kepada siswa, disini guru Team Teaching harus secara bersama-sama menentukan bentuk soal evaluasi, baik lisan ataupun tulisan, baik pilihan ganda, uraian, atau kombinasi antara keduanya.
Satu hal yang tak kalah pentingnya adalah dalam evaluasi siswa, guru juga diharuskan merencanakan metode evaluasi. Perencanaan metode evaluasi siswa ini di dalamnya mencakup pembagian peran dan tanggung jawab setiap guru Team Teaching dalam pelaksanaan evaluasi, serta pembagian pos-pos pengawasan.

Semakin berkembangnya kurikulum pengajaran, menuntut guru untuk semakin kreatif dalam melaksanakan proses pembelajaran di dalam kelas. Berbagai tuntutan yang ditujukan kepada guru pun semakin kompleks, diantaranya ialah guru dituntut untuk mampu memperhatikan perbedaan individual siswa, guru harus kreatif mendesain strategi pembelajaran yang memungkinkan siswa aktif dan nyaman belajar, serta guru pun dituntut untuk mampu melakukan penilaian terhadap proses dan hasil belajar siswa secara menyeluruh. Berbagai hal yang harus dipenuhi guru tersebut, tentu merupakan hal yang sulit jika semua itu dilakukan seorang diri, untuk itu membutuhkan partner agar semua hal tersebut dapat dilakukan secara maksimal. Maka salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan strategi Team Teaching dalam melaksanakan proses pembelajaran. Idealnya, jika memungkinkan team teaching dilakukan untuk semua mata pelajaran (IPA/IPS/Bahasa) sehingga tidak ada perlakuan yang berbeda atas rumpun pelajaran. Selain itu, jika dilakukan secara menyeluruh, maka akan terjadi interaksi antar mata pelajaran (terutama yang serumpun). Dan yang terpenting, dalam praktiknya strategi team teaching jangan sampai dipahami sebagai strategi “giliran teaching” atau gantian mengajar.

* Penulis adalah Guru Madrasah Terpadu MAN 3 MALANG, mantan tim pendamping proyek peningkatan mutu SLTP (Matching Grand) Diknas Jatim untuk wilayah Gresik dan Lamongan tahun 2003

Jumat, 31 Oktober 2008

Seputar Pendidikan

Homeschooling: Sebuah Alternatif pendidikan
Oleh:
Mishad*

Selama ini, tradisi atau pola pendidikan gaya bank (Banking System Education) menjadi patokan dan rujukan dalam proses pendidikan yang kita jalankan. Peserta didik menjadi robot-robot atau mesin-mesin hasil ciptaan bagi kepentingan industrialisasi dan ujung-ujungnya kepentingan pasar dan kapitalisme global. Pendidikan bukannya menjadi pembentuk kesadaran kritis bagi peserta didik, justru malah menjadi proses dan praktek dehumanisasi yang hampir menggerus dan mencabik-cabik nilai-nilai universal kemanusiaan. Pendidikan kita adalah pendidikan yang berkiblat pada pola developmentalisme ekonomi – pembangunanisme dalam istilah Orde Baru – yang berakibat sangat fatal dan ekses negatifnya kita rasakan sekarang ini. Bangsa kita menjadi bangsa yang bermental hipokrit, berkesadaran yang semu dan bersifat imitatif.
Konteks global sangat kita perlukan guna memperoleh bangunan paradigmatik yang kuat dan mantap bagi sistem pendidikan kita. Oleh karena itu pendidikan harus mampu mencetak sumber daya manusia yang transformatif dan terjamah segi afektif, kognitif dan psikomotoriknya sebagai bekal dalam menghadapi tantangan global yang mengemuka. Pendidikan yang memberikan bekal untuk memahami kehidupan dan bukan hanya pendidikan yang berorientasi bagi pemenuhan bekal “penghidupan” an sich. Tetapi pendidikan harus jauh berorientasi untuk menghasilkan sumber daya manusia yang secara kualitatif mampu melakukan transformasi secara aktif dan progessif dalam beragam level dan tingkatan masyarakat secara konsisten dan komprehensif. Sebuah proses pendidikan yang emansipatoris atau membebaskan akan menjadi kenyataan dan bukan angan-angan tak berujung. Akhir-akhir ini kita sering saksikan mulai banyak bermunculan sekolah-sekolah dengan alternatif pendekatan dan metodologi pengajaran “link & match yang cenderung praktis dan katanya lebih efektif mengelaborasi esensi pendidikan dengan aplikasi skill peserta didik. Program pendidikan tersebut sering kita kenal dengan istilah home schooling. Benarkah Homeschooling adalah salah satu alternatif pendidikan yang menuju ke arah tersebut?

Mengenal Homeschooling
Homeschooling merupakan pendidikan berbasis rumah, yang memungkinkan anak berkembang sesuai dengan potensi diri mereka masing-masing (Daryono, 2008). Sistem ini sendiri terlebih dahulu berkembang di Amerika Serikat dan beberapa negara lainnya di dunia. Baru kemudian mulai menjadi tren di Indonesia tahun-tahun belakangan ini. Sebenarnya jika kita flashback ke belakang sistem pembelajaran Homeschooling telah ada bahkan sejak sebelum jaman penjajahan dulu, beberapa tokoh penting kita seperti Ki Hajar Dewantara, Buya Hamka dan KH Agus Salim telah lebih dulu mengenyam sistem pengajaran Homeschooling ini. Pendidikan alternatif dengan model sekolah rumah (Homeschooling) tidak hanya menumbuhkan keinginan belajar secara fleksibel pada anak, namun juga mampu menumbuhkan karakter moral pada anak. Pasalnya, dengan menyerahkan proses belajar sebagai hak anak untuk mendapatkan pendidikan, akan mendorong anak untuk belajar berdisiplin dan bertanggung jawab, terhadap segala kegiatan belajar yang telah dilakukannya (Mulyadi, 2008).
Homeschooling telah tedapat kurang lebih 6 juta di berbagai Negara, termasuk Indonesia. Homeschooling lebih mengacu pada kompetensi praktis hubungan antara ketertarikan dan hobby individual. Serta fleksibilitas dari metode belajar mengajar tidak terbelenggu oleh dimensi ruang dan waktu secara formal dan menjamin tingkat kompetensi terealisir dengan baik. Dalam Homeschooling guru hanya sebagai pembimbing dan mengarahkan minat siswa dalam mata pelajaran yang disukai, dalam hal ini siswalah yang menjadi subyek kurikulum bukan menjadi obyek. Jam belajar lebih lentur karena mulai dari bangun tidur sampai berangkat tidur kembali. Dalam hal ijasah dan nilai masih menjadi domainnya pemerintah. Tetapi realitasnya Homeschooling menjadi pilihan alternatif ketika masyarakat mulai menyadari bahwa pola pendidikan formal di Indonesia belum menyentuh substansi kebutuhan riel tantangan dalam era globalisasi yang harus menyiapkan kompetensi yang relevan dan obyektif terhadap kebutuhan skiil dalam beraktivitas (bekerja atau berwirausaha). Homeschooling menggunakan standar kompetensi internasional.
Sering kita tahu bahwa seringnya pergantian kurikulum tanpa memperhatikan visi baik content maupun format penerapan di lapangan. Akibatnya guru kesulitan menginterpretasikan dan mengimplementasikan program kurikulum yang di buat oleh pemerintah, akhirnya siswalah yang menjadi terbelenggu untuk menerima konsep dan program pendidikan tersebut. Gabungan beberapa Homeschooling majemuk bisa menyusun dan menentukan silabus, bahan ajar, kegiatan pokok dan jadwal pelajaran. Masyarakat harus selektif dalam memilih program Homeschooling tidak semata-mata karena faktor status sosial saja melainkan karena memahami konstalasi dan dinamika dunia pendidikan di era globalisasi yang menuntut segi otentitas dan kultur lingkungan yang berkaitan dengan skill dan kompetensi serta bersifat individualistik.
Keberadaan Homeschooling di Indonesia saat ini semakin marak. Banyak orangtua berpendapat Homeschooling berhasil memenuhi kebutuhan-kebutuhan pendidikan yang direncanakan bagi anak-anaknya. Proses pendidikan Homeschooling ini, tidak sama dengan pendidikan formal di sekolah, tapi tetap mengacu kepada kurikulum yang ditetapkan pemerintah. Penerapannya sesuai dengan kemampuan dan daya serap siswa serta tidak ada pemaksaan terhadap pelajaran yang diberikan. Saat ini model pendidikan adalah sistem sekolah yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan. Namun ruang lingkup pendidikan yang sebenarnya itu jauh lebih luas daripada sistem sekolah. Proses pendidikan anak terjadi tidak hanya di ruang sekolah, tapi juga keluarga, pergaulan, lingkungan dan sebagainya. Jadi sekolah bukan satu-satunya cara bagi anak untuk memperoleh pendidikannya. Homeschooling termasuk model pendidikan yang digunakan sebagai alternatif institusi sekolah yang menempatkan anak sebagai subyek dengan pendekatan pendidikan di rumah dan berada di bawah naungan Direktorat Pendidikan Kesetaraan, Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah Depdiknas RI. Bagi peserta didik Homeschooling bisa memiliki sertifikat ijazah dengan mengikuti Ujian Nasional Pendidikan Kesetaraan (UNPK) paket A (kesetaraan SD), paket B (SMP) dan paket C (SMA) sesuai dengan tingkat kemampuan pendidikannya. Meskipun perkembangan Homeschooling ini begitu pesat di kota-kota besar, seperti Jakarta, Surabaya dan Medan, namun diakuinya tidak sedikit orangtua bahkan guru yang belum cukup mengetahui tentang model program pendidikan pada Homeschooling ini.
Tinjauan Hukum Homeschooling
Homeschooling sebenarnya sudah mempunyai payung hukum. Menurut, Harun Al Rosyid Kepala Balai Pengembangan Pendidikan Luar Sekolah dan Non Formal (BPPLSP) mengatakan sekolah rumah atau Homeschooling ini telah memiliki payung hukum UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Anak peserta Homeschooling dapat mengikuti ujian nasional berbarengan dengan siswa sekolah formal melalui sekolah mitra yang ditunjuk Dinas Pendidikan.. selain itu, di Indonesia, pendidikan dalam keluarga merupakan kegiatan pendidikan jalur informal, kutipan UU no 20/2003 Sisdiknas). Pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri. Negara tidak mengatur pada proses pembelajarannya, tetapi hasil pendidikan dari informal diakui sama dengan pendidikan formal dan nonformal setelah peserta didik lulus ujian sesuai dengan standar nasional pendidikan. Kemudian (kutipan pasal 90 SNP), peserta didik pendidikan informal dapat memperoleh sertifikat kompetensi yang setara dengan sertifikat kompetensi dari pendidikan formal setelah lulus uji kompetensi yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang terakreditasi atau oleh lembaga sertifikat mandiri / profesi sesuai ketentuan berlaku dan peserta didik pendidikan informal dapat memperoleh ijasah yang setara dengan Ijasah dari pendidikan dasar dan menengah jalur formal setelah lulus uji kompetensi dan ujian nasional yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang teraktreditasi sesuai ketentuan yang berlaku. Dari penjelasan ini maka dapat diketahui bahwa sebenarnya Homeschooling memiliki payung hukum yang jelas dalam melaksanakan metode pembelajaran yang mereka lakukan sehingga masyarakat tidak perlu merasa terlalu takut untuk menyekolahkan anaknya di dalam Homeschooling.
Sebuah Alternatif Pendidikan Menurut Huzaifah Hamid (2008) beberapa keunggulan Homeschooling sebagai pendidikan alternatif, yaitu karena sistem ini menyediakan pendidikan moral atau keagamaan, lingkungan sosial dan suasana belajar yang lebih baik, menyediakan waktu belajar yang lebih fleksibel. Juga memberikan kehangatan dan proteksi dalam pembelajaran terutama bagi anak yang sakit atau cacat, menghindari penyakit sosial yang dianggap orang tua dapat terjadi di sekolah seperti tawuran, kenakalan remaja, narkoba dan pelecehan. Selain itu sistem ini juga memberikan keterampilan khusus yang menuntut pembelajaran dalam waktu yang lama seperti pertanian, seni, olahraga, dan sejenisnya, memberikan pembelajaran langsung yang kontekstual, tematik, dan nonscholastik yang tidak tersekat-sekat oleh batasan ilmu. Ada keunggulan, pasti ada juga kekurangannya, begitu juga dengan Homeschooling, beberapa kekurangan harus siap dihadapi oleh orang tua yang memilih Homeschooling sebagai alternatif pendidikan, diantaranya tidak ada kompetisi atau bersaing. Sehingga anak tidak bisa membandingkan sampai dimana kemampuannya dibanding anak-anak lain seusia dia.. Selain itu anak belum tentu merasa cocok jika diajar oleh orang tua sendiri, apalagi jika memang mereka tidak punya pengalaman mengajar sebelumnya Kekurangan lain yang tidak bisa kita pungkiri adalah kurangnya interaksi dengan teman sebaya dari berbagai status sosial yang dapat memberikan pengalaman berharga untuk belajar hidup di masyarakat. Kemungkinan lainnya anak bisa terisolasi dari lingkungan sosial yang kurang menyenangkan sehingga akan kurang siap nantinya menghadapi berbagai kesalahan atau ketidakpastian. Faktor tingginya biaya Homeschooling juga menjadi salah satu kekurangan, karena dipastikan biaya yang dikeluarkan untuk memberikan pendidikan Homeschooling lebih besar dibanding jika kita mengikuti pendidikan formil di sekolah umum. Untuk menelaah lebih jauh tentang bagaimana pendidikan Homeschooling ini bisa lebih progresif berkembang di Indonesia, tentu tidak terlepas dari paradigma berfikir masyarakat yang mulai cenderung kritis dan selektif dan tentu saja evaluatif terhadap hasil yang sudah dicapai oleh pendidikan formal yang dikemas dan didesain oleh pemerintah. Secara empiris barangkali salah satu faktor yang mempengaruhi mengapa terjadi pergeseran dinamika pemikiran masyarakat terhadap pola pendidikan di Indonesia adalah salah satunya dikarenakan para orang tua murid sudah begitu menyadari bahwa sudah lama pendidikan kita di â?ohantui â?ooleh tingginya kekerasan sosiologis yang selama ini terjadi dalam interaksi dunia pendidikan kita. Kasus tawuran, seks bebas dan narkoba dikalangan pelajar dengan jumlah korban jiwa yang tidak sedikit adalah salah satu faktor yang menyebabkan para orang tua terbangun landasan berfikirnya untuk melakukan terobosan mencari pendidikan alternatif yang relatif aman buat anak-anaknya dan rezim diktatorianisme pendidik terhadap peserta didik yang selama ini menjadi budaya dalam pola pendidikan kita juga telah membuka mata sebagian masyarakat terutama para orang tua murid untuk lebih mempertimbangkan putra-putrinya untuk sekolah di pendidikan formal. Realitas lain yang perlu dicermati mengapa pendidikan Homeschooling ini menjadi pilihan alternatif masyarakat adalah ketika masyarakat mulai menyadari bahwa sebenarnya pola pendidikan formal di Indonesia belum menyentuh substansi kebutuhan riel tantangan dalam era globalisasi yang harus di respon secara kualitatif oleh peserta didik dengan menyiapkan kompetensi yang relevan dan obyektif terhadap kebutuhan skill mereka ketika mereka beraktivitas (bekerja atau berwirausaha). Dan salah satu aspek yang diangkat oleh program pendidikan Homeschooling ini adalah standard kompetensi internasional tersebut. Maka terjawab sudah bagaimana seharusnya stakeholders (pihak yang terlibat dan berkepentingan dalam dunia pendikan) termasuk dalam konteks ini juga pihak perusahaan dan instansi yang menampung dan mengakomodir kebutuhan tenaga kerja para lulusan untuk concern menyikapi maraknya pendidikan alternatif semisal Homeschooling ini dalam perspektif yang lebih otonom dan komprehensif, termasuk didalamnya memberikan solusi tentang otoritas standard kelulusan dan formalisasi pendidikan yang di atur secara baku dan menjadi domain pemerintah. Tinggal persoalannya adalah sejauhmana masyarakat lebih selektif memilih pendidikan Homeschooling ini, tidak semata-mata karena faktor status sosial karena memang biaya program pendidikan ini tidak sedikit (atau sekedar trend) saja. Melainkan karena memang masyarakat kita sudah memahami bagaimana konstalasi dan dinamika dunia pendidikan di era globalisasi ini yang menuntut segi otentitas dan kultur lingkungan mondial berkaitan dengan skill dan kompetensi. Kredibilitas program pendidikan Homeschooling ini bukan hanya diukur dari tingkat fleksibilitas dan kesan informalistik dengan nuansa yang lebih persuasif dan menyenangkan saja, dimensi belajar mengajar yang tidak terbelenggu oleh ruang dan waktu dengan model on the job method maupun off the job method, garansi dan konsepsi link & match dengan dunia usaha dan industri dan sebagainya. Namun tingkat kredibilitas program pendidikan Homeschooling ini juga di dasarkan atas legitimasi yang diberikan pemerintah. Apakah pemerintah mau lebih bersikap inklusif atau eksklusif dalam menyoal eksistensi program pendidikan Homeschooling ini yang nota bene bisa saja mengklaim dirinya setingkat dengan strata pendidikan yang sudah baku di Indonesia. Terlepas memang setiap program pendidikan yang diterapkan di Indonesia apapun itu bentuknya tidak menjamin semua aspek kognitif dan sosial peserta didik terakomodir dengan baik. Secara umum kelemahan dari Home Schooling yaitu sulitnya memperoleh dukungan atau tempat bertanya, kurangnya tempat sosialisasi dan orang tua harus trampil memfasilitasi proses pembelajaran serta evaluasi dan penyetaraannya. Adapun keunggulan dari Home Schooling yaitu memberikan kemandirian dan kreativitas bagi siswa serta tercapainya masyarakat belajar (learning society).
* Penulis Adalah Guru dan Tim Litbang di Madrasah Terpadu MAN 3 Malang, pernah menjadi konsultan pendampingan proyek peningkatan mutu SLTP (Matching Grand) Diknas Jatim tahun 2003

Jumat, 19 September 2008

SEPUTAR LEBARAN

Mudik

Oleh:
Mishad Khairi

Malam itu suasana kota Malang tampak semarak sekali. Suara takbir bersahut-sahutan dari beberapa mushola dan masjid. Bahkan ada beberapa kendaraan, mulai sepeda motor, pick up hingga truk membawa rombongan takbir keliling. Semua kegiatan tersebut dilakukan dalam rangka takbiran untuk mengagungkan asma Allah SWT. Allahu Akbar ... Allahu Akbar .... Allahu Akbar.

Di saat yang sama, Azis dan Ali kelihatan masih sibuk menyiapkan agenda pelaksanaan sholat Idhul Fitri besok hari. Mereka memasang tenda dan menggelar karpet tambahan untuk persiapan jika jamaah sholat Ied besok meluber sampai keluar masjid. Dua pemuda perantau ini harus bersabar untuk tidak mudik ke kampungnya sebelum distribusi zakat fitrah/Maal dan pelaksanaan sholat Ied di masjidnya tuntas. Azis dan Ali adalah dua mahasiswa sebuah PTN di Malang yang kuliah sambil ber-khidmah- di sebuah masjid perumahan.
Nasib Azis dan Ali masih mending jika di bandingkan dengan nasib Mukhlas. Mukhlas adalah seoarang TKI yang bekerja di luar negeri. Dia berpisah dengan anak istri yang ada di tanah air. Saat hari raya seperti ini, dia belum tentu bisa pulang. Hal ini lantaran ikatan pekerjaan yang belum bisa ditinggalkan. Di samping itu, jika pulang tiap tahun, maka akan menambah pengeluaran. Mukhlas harus bersabar untuk menunda kepulangannya pada lebaran tahun depan agar bisa membawa uang lebih. Mungkin masih banyak cerita lain tentang mereka yang harus sabar untuk menunda keinginan mudiknya. Walaupun agak tertunda momen mudik pada hari raya adalah kebutuhan yang tak bisa digantikan dengan telpon, sms, apalagi dengan mengirim kartu lebaran kepada sanak famili di kampung.
Arus Mudik Tahun Ini
Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal menyatakan jumlah pemudik Hari raya Idhul Fitri 2008 diperkirakan mencapai sekitar 15,8 juta jiwa. "Dari perkiraan jumlah pemudik tersebut yang menggunakan angkutan darat sekitar 9.888.000 jiwa, terdiri dari angkutan jalan 6.922.000 jiwa, angkutan sungai danau dan penyeberangan 2.966.000 jiwa. Rata-rata tumbuh sekitar 5,2 persen dari tahun lalu," kata Menhub di Semarang, Jumat (29/8). Kemudian yang menggunakan angkutan kereta api (KA) sekitar 2.377.000 jiwa atau naik 5,38 persen dari tahun lalu. Pemudik yang memanfaatkan angkutan laut sekitar 1.018.000 jiwa, angkutan udara 1.885.000 jiwa atau naik 9,32 persen dari tahun lalu. "Penumpang angkutan laut diperkirakan naik paling tinggi sekitar 10 persen yang tahun lalu hanya mencapai 926.000 jiwa. Kondisi ini diperkirakan berlangsung pada H-7 hingga H+7 Hari raya Idhul Fitri 2008," katanya. Ia mengatakan, jumlah kendaraan motor tanpa sepeda motor diperkirakan meningkat 4,61 persen yakni 1.808.150 kendaraan tahun 2007 menjadi 1.891.523 kendaraan tahun 2008. Sejumlah kendaraan tersebut terdiri dari mobil pribadi sebanyak 1.284.488 kendaraan, bus besar 1999.451 kendaraan, bus sedang 43.994 kendaraan, nonbus 64.468 kendaraan, dan truk 263.000.Selain itu, katanya, sekitar 2.506.572 sepeda motor diperkirakan akan hilir mudik selama Hari raya Idhul Fitri. Kesiapan sarana, katanya, untuk angkutan jalan sebanyak 34.395 bus, dengan kapasitas 16,5 juta orang, angkutan sungai danau dan penyeberangan 127 kapal dengan kapasitas 11,4 juta orang, 223 KA dengan kapasitas 3,25 juta orang, angutan laut 593 kapal kapasitas 3,3 juta orang, dan angkutan udara 183 pesawat kapasitas 2,11 juta orang."Jumlah sarana yang ada melebihi permintaan. Sarana dan kebutuhan cukup memadai untuk mengangkut 15,79 juta jiwa arus mudik," katanya. (KOMPAS, 30/8/2008)
Mengapa Harus Mudik?
Mudik, sebuah istilah yang akan sangat hangat menjadi pembicaraan pada bulan ramadhan terutama menjelang Idhul Fitri tiba. Puluhan tahun istilah ini telah dikenal masyarakat luas di Indonesia dari berbagai kalangan. Menurut Krismanto (2007), mudik berasal dari kata udik, yang bisa diartikan pedalaman atau bisa juga pinggiran, namun dalam hal ini pedalaman dikonotasikan multidimensi. Secara harfiah berarti kembali dari sebuah titik pusat kehidupan masyarakat ke pedalaman atau pinggiran daerah mereka berasal, sedangkan secara simbolik mudik merupakan budaya masyarakat Indonesia yang berdimensi religius, dimensi demografi, ekonomi, dan lain lain.
Setiap tahun tepatnya di hari raya Idhul Fitri masyarakat yang sehari-harinya hiruk pikuk mencari penghidupan di kota akan mudik pulang kampung. Dari kota manapun mereka akan ramai-ramai pulang ke keluarganya masing-masing untuk merayakan hari raya Idhul Fitri bersama-sama. Namun karena kota Jakartalah yang terbesar dalam urusan mudik ini maka sorotan mudik akan terpusat di kota Jakarta. Mereka akan mudik menuju berbagai penjuru tanah air dari Sabang bahkan sampai Merauke.
Hiruk pikuk mudik manusia sebanyak itu tak ayal membuat pemerintah sibuk untuk mengurusinya terutama dalam hal transportasi. Berbagai macam transportasi baik darat, udara dan laut disiagakan. Bahkan untuk transportasi tertentu sudah sibuk sejak sebulan yang lalu atau awal Ramadhan. Tak heran jika tiket Kereta api dan pesawat sudah jadi barang langka dan mahal justru ketika Idhul Fitri semakin dekat. Kelangkaan dan mahal itulah yang membuat sebagian masyarakat rela menggunakan sepeda motor walaupun dengan jarak yang sangat jauh dan berisiko tinggi akan kecelakaan. Bahkan jumlahnyapun setiap tahun terus meningkat.
Memang untuk urusan mudik ini masyarakat akan rela melakukan apa saja demi tercapainya tujuan mereka ber-Hari raya Idhul Fitri bersama keluarga di kampung. Mereka rela antri tiket berjam-jam bahkan bisa seharian. Tiket semahal apapun akan mereka beli bahkan melalui calo tiket sekalipun. Bahkan tiket tanpa tempat duduk pun merek tetap beli asalkan terangkut. Bermudik dengan sepeda motor juga banyak mereka tempuh, padahal dengan sepeda motor itu mereka akan kepanasan, kehujanan, bahkan menjadi armada yang paling rawan kecelakaan di jalan raya.
Hikmah Mudik
Memang inilah uniknya budaya mudik, tak dapat diingkari banyak hikmah yang bisa diambil dari budaya ini. Hikmah secara religi jelas bahwa mudik merupakan sebuah silaturahmi masal dari umat Islam yang sehari-hari hidup di kota kepada keluarga dan familinya di desa. Keyakinan bahwa silaturahmi merupakan perbuatan amaliyah yang berpahala besar, membuka pintu rezeki dan menambah usia harapan hidup bertambah seakan-akan membakar tekad dan semangat umat untuk ramai-ramai mudik di Idhul Fitri. Sebenarnya mudik juga banyak dilakukan pada waktu-waktu tertentu, namun Idhul Fitri lah momen yang paling sakral. Hikmah lainnya adalah secara kebangsaan, mudik jelas akan semakin memperkuat tali persaudaraan dan persatuan bangsa. Akan nampak jelas ikatan kekeluargaan yang kuat dan kental masyarakat yang tinggal di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di momen mudik Idhul Fitri itu. Belum lagi mereka yang mudik antar kota lain di seluruh wilayah tanah air selain Jakarta. Mereka yang menyebar dari berbagai penjuru kota akan saling bertemu di kampung dan berbagi cerita dan kisah hidup.
Hikmah secara sosial ekonomi, mudik merupakan sebuah gambaran kepulangan masal dari masyarakat daerah yang telah bertekad melakukan sebuah mobilitas sosial di kota. Secara umum mobilitas sosial dapat digambarkan sebagai sebuah proses perpindahan atau kesempatan untuk berpindah pada kelompok-kelompok sosial yang berada di masyarakat, terutama sekali proses perpindahan dari kelompok masyarakat yang kurang beruntung menjadi masyarakat yang lebih beruntung secara sosial ekonomi. Kota adalah menjadi tempat tujuan mereka untuk bermobilitas sosial tersebut, walaupun pada kenyataannya mereka belum tentu berhasil melakukannya. Berhasil dalam arti pindah dari kurang beruntung menjadi beruntung secara ekonomi. Dari proses tersebut tentu banyak materi, cerita dan pengalaman yang mereka bagikan kepada sanak saudara ketika mudik. Alhasil hikmah ini membawa dampak baik positif maupun negatif.
Positifnya adalah mereka yang berhasil melakukan proses mobilitas dari kurang beruntung menjadi beruntung secara ekonomi yang kemudian dikenal dengan istilah ”orang sukses” akan membawa keberhasilannya secara materi itu ke desanya. Milayaran bahkan trilyunan rupiah akan masyarakat bawa ketika bermudik. Mereka akan belanjakan rupiah mereka baik di sepanjang perjalanan maupun di desanya. Dampak ini sungguh luar biasa. Pemerataan ekonomi yang tidak usah repot-repot direncanakan pemerintah, tapi sudah pasti terjadi setiap tahunnya. Dari hal yang paling sepele seperti membeli makan di jalan-jalan ketika macet, warung makan di sepanjang perjalanan, memberi angpao kepada sanak famili, belanja keperluan Hari raya Idhul Fitri di desa, servis motor dan mobil di bengkel-bengkel daerahnya, bahkan bisa jadi sampai membangun atau renovasi rumah di desa. Tapi dengan adanya mudik nilai kebermaknaan Idhul Fitri akan menjadi semakin mengena dan mendalam baik untuk diri pribadi setiap muslim, keluarganya, masyarakat desanya bahkan sampai pada negara ini. Wallahua’lam

Selasa, 09 September 2008

SEPUTAR RAMADHAN

Ramadhan Bil Hikmah: Meniti Ibadah dan Mengais Berkah

Marhaban ya Ramadhan, Marhaban Ya Ramadhan, Marhaban Ya Ramadhan Jud Lana Bil Ghufron


Alhamdulillah, bulan suci Ramadhan 1429 H sudah hadir di tengah-tengah kita. Datangnya bulan ramadhan disambut dengan beragam aktifitas kaum muslim. Aktifitas itu mulai dari renovasi masjid atau musholla, tradisi megengan (baca:sedekah saling kirim makanan), ziarah kubur, hingga saling memberi ucapan selamat menunaikan ibadah puasa lewat milis atau sms. Sambutan ramadhan berupa publikasi pun tidak kalah ramainya. Lihat saja spanduk penyambutan ramadhan bertebaran diberbagai jalan protokol, kantor-kantor, hingga perusahaan-perusahaan. Tidak kalah santernya iklan di media massa, seperti di surat kabar, majalah, radio, televisi, bahkan di internet mayoritas membawa pesan ramadhan. Bukan hanya iklan, kini rubrik acara di radio dan TV juga didominasi oleh tema-tema yang bernuansa ramadhan.

Terlepas dari beberapa perusahaan yang mengiklankan tema ramadhan dengan tujuan melariskan produknya atau hanya untuk meraup keuntungan ekonomi semata. Mudah-mudahan apa saja yang dilakukan oleh kaum muslim dalam menyongsong bulan Ramadhan, dengan ragam kegiatan, merupakan bentuk rasa senang atas kehadirannya. Sabda nabi Muhammad SAW dalam sebuah Haditsnya: “Man fariha biduhûli ramadhâna harrama Allahu jasadahu ‘alanniron”. Barang siapa yang bergembira dengan datangnya bulan Ramadhan, maka Allah mengharamkan jasadnya atas api neraka.
Dalam sebuah riwayat disebutkan, bahwa Rasulullah SAW di akhir bulan Sya’ban mempersiapkan kaum muslimin untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan. Dalam kesempatan itu, Rasulullah menyampaikan sebuah nasehat yang amat indah sebagai berikut: “Wahai kaum muslimin, bulan Allah telah datang dengan membawa berkah, rahmat, dan ampunan bagi kita semua. Bulan ini merupakan bulan yang paling baik di sisi Allah. Hari-hari di bulan ini merupakan hari-hari terbaik, malam-malamnya merupakan malam-malam yang terbaik, serta detik-detiknya merupakan detik-detik terbaik. Dalam bulan Ramadhan, Allah mengundang tamu-tamu-Nya dan Allah menganugerahi mereka kasih sayang dan rahmat-Nya. Di bulan ini, setiap tarikan nafas memiliki pahala yang setara dengan dzikir kepada Allah dan tidur pun dinilai sebagai ibadah. Di bulan ini, setiap kali kalian bermunajat kepada Allah, maka Allah akan mengabulkan doa-doa kalian. Oleh karena itu, dengan kejujuran, ketenangan, dan hati yang bersih, mintalah kepada Allah agar memberikan taufik kepada kalian untuk berpuasa dan membaca Al-Quran. Orang yang celaka adalah orang yang di bulan agung dan penuh berkah ini, tidak mendapatkan rahmat dari Allah.”
Ketika menyaksikan hilal atau terbitnya bulan Ramadhan, Rasulullah SAW berdiri menghadap kiblat dan berdoa kepada Allah, meminta keamanan dan keselamatan serta memohon agar Allah menemaninya dalam sholat, puasa, dan membaca Al Quran. Dalam bulan Ramadhan, Rasulullah sangat banyak melakukan amal sholeh, di antaranya memberi makanan berbuka kepada orang yang berpuasa. Diriwayatkan, ketika bulan Ramadhan tiba, Rasulullah menunjukkan kasih sayang secara lebih besar kepada kaum fakir miskin. Rasulullah juga berpesan kepada kaum muslimin agar di dalam bulan ini, mereka banyak membaca Al Quran. Suatu hari beliau ditanyai oleh seseorang, “Apakah amal terbaik di bulan ini?” Rasulullah menjawab, “Pekerjaan terbaik yang dilakukan pada bulan Ramadhan adalah tidak melakukan segala sesuatu yang dilarang oleh Allah SWT.”
Umur manusia merupakan kumpulan dari detik-detik. Manusia yang beruntung adalah manusia yang berhasil memanfaatkan setiap detik dalam kehidupannya dengan cara yang bermanfaat. Langkah awal untuk memanfaatkan umur adalah mengenal kesempatan-kesempatan yang tiada bandingannya yang diberikan Allah kepada manusia. Suatu hari Allah berfirman kepada Nabi Daud A.S., “Dalam hari-hari kehidupan, ada saat-saat yang tiada bandingannya, berusahalah agar berada dalam naungan saat-saat tersebut.”
Bulan Ramadhan adalah salah satu momen penting yang memberikan semangat baru kepada jiwa manusia. Bulan suci Ramadhan bagaikan sebuah pesantren yang memiliki jam pelajaran padat, yang menyatukan seluruh bulan dalam setahun. Pelajaran-pelajaran yang disampaikan dalam pesantren ini sangatlah bermanfaat dan membangun. Manusia meskipun dengan seluruh uang yang dimilikinya, tidak akan mampu mendirikan pesantren semacam ini. Firman Allah dalam jiwa kaum muslimin sedemikian dalam dan memberikan pengaruh, sehingga kini setelah berlalu lebih dari 14 abad sejak diturunkannya hukum puasa melalui Rasulullah Muhammad SAW, pesantren ini terus berdiri dengan diikuti oleh jutaan santri dari berbagai penjuru dunia.
Kita tidak dapat membayangkan hikmah yang dimilikinya, selain kewajiban puasa. Sebut saja, rasa senang atas kehadirannya saja telah menjadi perhatian serius nabi atas keutamaannya, apa lagi yang lainnya, meskipun pada hakekatnya rasa senang tidak akan berarti apa-apa, jika tidak ada proses kelanjutan bagi peningkatan ibadah, yang berujung terciptanya peningkatan ketaqwaan.
Bulan Ramadhan, bulan Allah (syahr Allah). Penyebutan ini sesuai dengan ragamnya ibadah dan hikmahnya, dengan Allah sebagai penentu bagi lipatan hikmahnya (ganjaran). Yang hal ini tidak ditemukan pada bulan-bulan lainnya, sehingga sebagai bulan Allah, maka peneguhan diri menyambutnya menjadi keharusan bagi setiap individu, yaitu merespon anjuran-anjuran yang diajarkan agama baik dari al Qur’an, hadits maupun perilaku orang-orang shalih terdahulu (salaf al shalihîn).

Meniti Ibadah
Kewajiban puasa, bagi yang beriman, merupakan pokok dari rentetan ibadah ada dalam bulan Ramadhan, sebagaimana disinggung dalam al Qur’an, surat al Baqarah:183

artinya: Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan kepadamu puasa, sebagaimana diwajibkan kepada orang sebelum kamu, agar kamu menjadi orang yang bertaqwa”.
Predikat puncak pelaksanaan nilai puasa Ramadhan adalah sebagai insan yang bertaqwa (al Muttaqin). Namun, untuk mencapai ketaqwaan itu tidak semudah membalikkan tangan, sehingga pada kesempatan yang berbeda nabi Muhammad SAW memperingatkan dalam sebuah hadithnya “kam mi shâimin laysa lahu min siyâmihi illa al ju’a wa al athsa”, banyak orang berpuasa, tidak ada yang didapatnya, kecuali rasa lapar dan haus.
Pencapaian ketaqwaan harus diupayakan dengan keras oleh pelaku puasa dengan meningkatkan ibadahnya, baik siang maupun malam hari, lebih-lebih di akhir-akhir bulan Ramadhan. Di samping pada siang bolong ia harus menjaga keabsahan puasa itu, dengan tidak mengerjakan sesuatu yang membatalkan secara syar’i, misalnya minum, makan, berhubungan suami istri dan lan-lain.
Peningkatan ibadah itu dapat dilakukan dengan mengerjakan amalan-amalan yang menjadi anjuran agama, bukan kewajiban, misalnya shalat tarawih, tadarrus al Qur’an, shalat malam, i’tikaf dan beberapa amalan lainnya. Artinya, pada intinya pelaku puasa seyogyanya mengisi hari-harinya dengan kegiatan apapun yang dapat menghadir dirinya untuk mendekatkan diri pada Allah SWT.
Dari sekian amalan-amalan itu, peringatan nabi tentang “banyaknya pelaku puasa yang hanya dapat haus dan lapar” merupakan cambuk bagi pelaku puasa agar berhati-hati dalam mengerjakan puasanya, sekalipun secara syar’i puasa yang dilakukan hanya sekedar menggugurkan kewajiban.
Sebagai kelanjutannya, maka bagi pelaku puasa diharapkan juga berpuasa secara batin, di samping puasa dhahir. Artinya ia harus menjaga beberapa perbuatan dan sikap yang “merusak” nilai-nilai puasa, yaitu hikmah yang dikandungnya.
Terkait dengan hal ini, Imam al Ghazali menyebutkan, diantara perbuatan yang harus dihindarkan adalah mengerjakan dosa-dosa yang dilarang agama dari seluruh anggota tubuh, misalnya telinga, mata, mulut, tangan, kaki dan anggota lainnya. Dan pelaku puasa model inilah, sebagaimana ditegaskan al Ghazali adalah puasa bagi orang yang khusus (shaum al Khusus), bukan puasanya kebanyakan orang (al umum), yang hanya cukup puasa dengan rasa lapar dan haus.
Terkait dengan hal ini juga, ditemukan dalam hadits lain: “man lam yada’ qawla al zûri wal ‘amal bihi wal jahla fa laysa lillahi hâjatun fi ayyada’a tha’âmanu wa syarâbahu”, artinya: Barang siapa yang tidak meninggalkan ucapan dan perbuatan bohong serta merasa bodoh, maka Allah tidak ada hajat (membalas) pada orang yang meninggalkan makan dan minum (HR. Bukhori).
Meniti ibadah dengan ragamnya amalan-amalan yang dianjurkan pada bulan Ramadhan menjadi nilai tersendiri, selain kewajiban puasa, agar dapat merasakan kemanfaatannya yang hakiki. Di samping itu harus komitmen untuk tidak mengerjakan perbuatan yang membatalkannya baik secara dhahir, misalnya minum dan lain-lain, atau secara batin, misalnya perbuatan bohong, adu domba dan sejenisnya.
Mengais Berkah
Puncak dari hikmah Ramadhan sebagaimana dijanjikan adalah terciptanya peningkatan ketaqwaan yang membentuk perilaku pelaku puasa, yaitu Sebuah nilai yang diidam-idamkan khalayak umat, tanpa mengenal jenis kelamin, jabatan dan suku apapun. Inna akramakum ‘inda Allah atqâkum, (sesungguhnya yang paling utama diantara kamu adalah orang yang paling bertaqwa).
Secara sosial, hikmah Ramadhan akan dirasakan semua orang, jika pelaku puasa mampu merawatnya dengan baik dan menghayatinya. Karena, puasa mendidik seseorang untuk sabar, belajar dan menghindari tindakan-tindakan yang merugikan orang lain. Hikmah inilah yang paling penting pada saat ini, di samping secara vertikal harapan ganjaran langsung dari Allah tidak dilupakan sebagai sebuah keyakinan beragama, yaitu harapan mendapat rahmat-Nya, pengampunan-Nya hingga bebas dari api neraka.
Keterpurukan moral sudah menjadi pandangan keseharian kita, sehingga hampir pasti, dalam setiap harinya, kita disuguhkan melihatnya berbagai tayangan media massa baik cetak maupun eletronik. Kekerasan, tindakan saling menikam antar individu maupun kelompok serta prilaku amoral lainnya sudah sering ditemukan, sehingga pada saatnya sulit membedakan kebenaran dan kebatilan. Yang terjadi keuntungan individu maupun kelompok menjadi tujuan terpenting dari tindakan-tindakan ini.
Pada akhirnya, puasa kali ini diharapkan mampu menjadi awal perubahan dan pencapaian hakekat hikmahnya, bukan sekedar cukup merasa puas dengan lapar dan haus, sehingga pasca Ramadhan cita-cita sebagai insan yang bertaqwa tetap mewarnai kehidupan pelaku puasa, baik individu maupun kelompok. Dan semua kembali pada kesiapan kita dalam memaknai dan menghayati bulan Ramadhan.

Hikmah Puasa
Apabila Allah SWT mewajibkan sesuatu kepada manusia, pasti ada hikmahnya. Hikmah diwajibkannya puasa di bulan Ramadhan diantaranya adalah sebagai berikut:1. Menghapus dosa-dosa kecil.Sebagai manusia kita tidak bisa lepas dari kesalahan, kekeliruan, dan kemaksiatan. Tidak ada manusia yang steril dari dosa, kecuali para nabi yang ma’sum (terpelihara dari perbuatan dosa). Puasa Ramadhan merupakan sarana untuk menghapuskan dosa. Puasa yang kita lakukan menjadi penghapus dosa-dosa kecil setahun ke belakang, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, berikut ini,“Shalat-shalat yang lima dan Jum'at ke Jum'at serta Ramadhan ke Ramadhan adalah penghapus dosa-dosa di antara itu apabila dosa-dosa besar dijauhi" (HR. Muslim).2. Melatih muraqabah.Muraqabah artinya suatu kondisi psikis (jiwa) yang selalu merasa ditatap, dilihat, dan diawasi Allah SWT. Seorang pelajar atau mahasiswa yang muraqabah tidak akan menyontek walaupun tidak diawasi. Seorang yang muraqabah tidak akan korup walaupun ada kesempatan untuk melakukannya. Ketika puasa, kalau belum tiba waktu berbuka, kita tidak berani makan atau minum walau tidak ada seorang pun yang melihat kita, padahal makanan dan minuman tersedia. Jelaslah, bahwa puasa menjadi ajang latihan muraqabah.3. Melatih pengendalian nafsuManusia memiliki tiga nafsu (dorongan), yang selalu berkompetisi (bersaing), yaitu nafsu amarah, nafsu lawwamah, dan nafsu muthmainnah.Nafsu amarah adalah dorongan untuk melakukan pelanggaran dan kemaksiatan. Manusia paling saleh pun memiliki dorongan ini, karena sudah dipastikan tidak ada manusia yang steril dari dosa.Nafsu lawwamah adalah nafsu yang suka mengoreksi saat kita melakukan dosa atau maksiat. Kalau kita melakukan kemaksiatan, berbohong misalnya, coba siapa yang pertama kali mengingatkan bahwa perbuatan tersebut salah? Diri kita sendiri bukan? Inilah yang disebut nafsu lawwamah. Bersyukurlah bila kita masih merasa bersalah kalau melakukan dosa, ini menunjukkan nafsu lawwamahnya masih berfungsi. Kalau kita sudah tidak merasa lagi saat berbuat maksiat, ini menunjukkan nafsu lawwamahnya sudah tidak pekah, bahkan mungkin tidak berfungsi lagi.Nafsu muthmainnah adalah dorongan untuk berbuat kebaikan. Jiwa merasa tenteram kalau melaksanakan aturan-aturan Allah. Manusia yang paling bejat di muka bumi ini pun memiliki nafsu muthmainnah, karenanya sebejat-sebejatnya orang pasti dia pernah berbuat kebaikan. Manusia hakikatnya hanif (cenderung pada kebaikan), karena itu manusia akan merasa tenang, tenteram, dan bangga kalau sudah berbuat kebaikan, serta merasa gelisah dan menyesal bila melakukan pelanggaran dan dosa.Ketiga macam nafsu diatas, amarah, lawwamah dan muthmainnah selalu bersaing. Apabila nafsu muthmainnah memenangkan persaingan, akan lahir perbuatan baik. Kalau nafsu amarah yang menang (dominant), akan lahir perbuatan dosa. Jadi, puasa melatih jiwa agar mampu mengendalikan nafsu amarah, bahkan bisa menundukkannya, sehingga yang dominan dalam diri kita adalah nafsu muthmainnah. Dengan demikian, yang lahir dalam ucapan dan perbuatan kita hanyalah hal-hal yang baik, benar, dan diridhai Allah SWT.

DAFTAR PUSTAKA
Al Qur’an Karim
Dr. Ahmad Umar Hasyim: Yessy Afdhiani & Shocheh, Ha al-Shiyâm fî 'l-Islâm

KH. Ihya’ Ullumiddin, Risalah Puasa, V De Press Surabaya
Wasid Mansyur, 2007, Menyongsong Ramadhan: Menanam Ibadah, Menebar Hikmah, PusKAB Surabaya

Selasa, 12 Agustus 2008

POLITIKA

Pemimpin Selebritis
Oleh:
Mishad


Beberapa waktu ini di saaentero penjuru tanah air ramai digelar pemilihan kepala daerah (pilkada), mulai dari pemilihan bupati sampai gubernur. Sejak era reformasi, penyelenggaraan pilkada sudah berbeda dengan pada masa orba. Sekarang kepala daerah tidak lagi ditunjuk oleh DPR setempat, akan tetapi langsung dipilih oleh masyarakat melalui pilkada. Sistem baru ini membawa cara baru bagi para kandidat kepala daerah. Kini, mereka tidak hanya sosialisasi dan pendekatan kepada DPR, akan tetapi mereka harus mengkampanyekan dirinya kepada khalayak umum. Jangan heran kalau sekarang banyak kita jumpai pamflet, spanduk, hingga baliho calon kepala daerah bertebaran di mana-mana. Mereka ingin mengenalkan diri kepada masyarakat calon pemilih.


Indikator yang dianggap penting bagi calon kepala daerah adalah mereka harus dikenal, tentu saja dikenal yang baik. Karena harus dikenal, maka calon kepala daerah rata-rata sebelumnya adalah mereka yang pernah menjabat, anggota DPR, pimpinan partai, pimpinan ormas, tokoh masyarakat, atau bahkan artis. Sudah dua orang artis terkenal yang terpilih pada pilkada tahun 2008 ini, yaitu Rano Karno yang menjadi wakil bupati Tangerang dan Dede Yusuf yang meraih kursi Wagub Jawa Barat. Kini, beberapa nama baru artis tertarik mengikuti jejak mereka berdua. Syaiful Jamil, mantan suami Dewi Persik melalui PPP mencalonkan diri sebagai wabup Bekasi dan Wanda Hamidah dari PAN mencalonkan diri sebagai Wabup Garut. Mungkin langkah mereka terjun ke pilkada juga akan ditiru oleh artis-artis lain.

Munculnya nama artis menjadi pemenang di panggung pilkada adalah fenomena yang menarik. Berbagai analisa bermunculan mengomentari indikasi kemenangan mereka. Pendapat terbanyak mengerucut pada satu hal yang menyebabkan kemenangan mereka, yaitu mereka lebih dikenal oleh masyarakat sebagai artis yang sering nongol di telivisi. Terlepas valid tidaknya analisa tersebut, terpilihnya beberapa artis menjadi pemimpin daerah mencerminkan, bahwa sebagian masyarakat kita adalah pengagum atau paling tidak lebih suka artis terkenal yang menjadi pemimpin mereka. Ini membuktikan, bahwa dunia selebritis yang begitu gencarnya ditayangkan di media massa sangat mempengaruhi pilihan masyarakat kita. Termasuk tentang bagaimana kriteria mereka memilih pemimpin daerahnya?

Menengok Kriteria Islam
Ada baiknya kita sebagai seorang muslim menengok kembali sejarah dan ketentuan syari’at dalam memilih seorang pemimpin. Sahabat Abu Bakar ketika diangkat sebagai kholifah pertama, beliau berpidato,”wahai manusia,sesungguhnya aku telah diangkat menjadi pimpinan kalian, padahal aku bukan orang yang terbaik dari kalian. Jika kalian melihat aku berada diatas kebenaran, maka tolonglah aku. Dan jika kalian melihat aku berada diatas kebatilan,maka luruskan aku. Taatlah padaku selagi aku takut kepada Allah di tengah kalian, dan jika aku durhaka pada-Nya, maka tidak ada kewajiban bagi kalian untuk taat kepadaku.”
Ungkapan sahabat utama tersebut merupakan cerminan yang harus diutarakan tokoh Islam ketika didaulat menjadi pemimpin. Islam sangat berbeda dengan konsep yang dibawa oleh politik bangsa Barat (baca:politik Jahiliah). Kepemimpinan dalam Islam dihitung sebagai alat atau jalan, dan otomatis tidak menjadi tujuan. Kepemimpinan merupakan tanggungjawab sehingga sedapat mungkin dipikul sebagai amanah dan rasa takut.
Adapun Islam telah menyodorkan kriteria seorang untuk menjadi pemimpin. Pertama, harus muslim. Al Mawardi dan Al Ghozali menyebut sifat-sifat pemimpin hanya ada pada orang Islam. Misalnya, bertaqwa dan mampu berijtihad karena mengetahui hukum-hukum Islam. Kedua, akhlakul karimah. Penegasan tentang akhlakul karimah ini sangat jelas. Sebelum Nabi Muhammad diangkat menjadi Rosul, beliau selalu legitimed dari aspek moral. Oleh karena itu, beliau diberi gelar Al Amin. Ketiga, kepabelitas (kemampuan leader dan manajerial) menjadi syarat seorang pemimpin, termasuk mampu mengendalikan kondisi yang terjadi.
Imam Abu Ya’la menjelaskan, “kalau ada dua kandidat yang dicalonkan, sedang potensi yang menonjol dari satu orang adalah kepandaian, dan dari satunya lagi adalah keberanian, maka dilihat kebutuhan hidup masyarakat saat itu. Bila yang dibutuhkan seorang pemimpin yang mampu mengembangkan wilayah-wilayah Islam untuk menumpas kedloliman atau karena umat sedang dalam ancaman musuh, seorang pemimpin pemberani lebih diutamakan. Adapun bila masyarakat berada dalam keterbelakanga dan, kebodohan, maka pemimpin yang berilmu lebih didahulukan”.
Semoga pilihan masyarakat kita tidak hanya asal memilih yang terkenal, apalagi hanya lantaran mereka adalah artis. Kalaupun toh yang baik dan amanah itu adalah seorang artis, maka kita tidak meniatkan memilih mereka karena keartisannya akan tetapi karena kebaikan dan amanahnya. Kalau fakta yang ada menunjukkan masyarakat kita memilih pemimpin daerahnya karena keartisannya, maka saya khawatir ini adalah cermin mind set masyarakat kita yang lebih condong memilih pemimpin selebritis.
Harapan kita adalah para pemimpin kita yang terpilih pada panggung pilkada di berbagai daerah adalah orang yang sanggup memikul amanah sebagaimana Abu Bakar yang memikulkan makanan untuk penduduknya yang kelaparan. pemimpin yang jujur, adil, peduli, dan mampu mengantarkan masyarakatnya sejahtera dunia dan akhirat. Semoga kepala daerah kita adalah seorang pemimpin yang muslim, alim, arif, bijaksana, dan peduli dengan penegakan syariat. Selain itu, semoga pemimpin kita yang terpilih mampu mengantarkan bangsa ini menjadi “Baldatun Thoyyibatun Warabbun Ghofur”, dan tidak hanya sekedar pemimpin selebritis. Wallohua’lam

Selasa, 15 Juli 2008

ARTIKEL PENDIDIKAN

Belajar Soft Skill dari Laskar Pelangi

Oleh:
M i s h a d*
Abstrak/Resume:
Dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata tergambar kecintaan dan rasa hormat pada para Guru. Bagi Andrea, guru-guru seperti Bu Mus dan Pak Harfan adalah pelita, dalam arti yang sesungguhnya. Namun, sekarang profesi guru kerap dinodai perilaku tidak terpuji dari oknum guru, yang tidak sepatutnya dilakukan oleh seorang pendidik. Di antara contohnya adalah tindakan kekerasan fisik atau penganiayaan yang dilakukan beberapa oknum guru terhadap siswanya di beberapa daerah belakangan ini. Kondisi demikian terjadi diakibatkan oleh tidak terjalinnya komunikasi yang baik serta tidak ada toleransi di antara siswa dan guru. Dalam hal ini guru seharusnya dituntut memiliki rasa empati yang besar sebagai soft skill-nya. Guru yang berhasil memperbaiki anak didiknya adalah guru yang telah menguasai dirinya sendiri. Dia mampu menunjukkan kesalahan siswa tanpa harus merendahkannya. Profile guru yang memiliki soft skill ini lah yang patut kita teladani dari novel berjudul Laskar Pelangi.



Seru! Begitulah kesan kita, kalau membaca novel yang berjudul Laskar Perlangi, karya novelis Andrea Hirata. Novel yang terbit pertama kali bulan September 2005 itu, kini sudah dicetak enam belas kali. Laskar Pelangi bersumber dari kisah nyata penulisnya, yaitu Andrea yang dibesarkan dalam tipikal keluarga kelas menengah ke bawah Indonesia di sebuah kampung miskin yang berbatasan dengan sebuah kerajaan besar Perusahaan Negara (PN) Timah dengan semua fasilitas yang mewah & mahal. Di tengah-tengah kemewahan PN Timah, terdapat sebuah sekolah yang kelas-kelasnya berdinding kayu, berlantai tanah, beratap bocor, dan kalau malam menjadi kandang hewan. Tanpa poster burung garuda, foto presiden dan wakil presiden. Amat sederhana bangunan sekolah itu. Tapi persoalan apapun menyangkut pendidikan tak pernah sederhana.
Novel ini tidak mengajak pembaca untuk menangisi kemiskinan. Sebaliknya, mengajak kita untuk memandang kemiskinan dengan cara lain. Tepatnya melihat sisi lain dari kondisi kekurangan yang mampu melahirkan kreativitas-kreativitas tak terduga. Keterbatasan-keterbatasan yang dialami nyatanya menumbuhkan anggota Laskar Pelangi menjadi karakter-karakter yang unik. Kenakalan-kenakalan kecil bercampur dengan kepolosan yang cerdas, menghadirkan satu adonan menakjubkan tentang bagaimana masa kecil dipersepsi dan dijalani oleh anak-anak yang luar biasa ini. Mereka menjadi luar biasa karena hidup dalam keterbatasan, luar biasa karena dibesarkan dengan idealisme pendidikan yang terasa naif di zaman sekarang, sekaligus luar biasa karena garis nasib menuntun mereka menjadi sosok-sosok yang tidak pernah terduga oleh siapapun.
Dalam Laskar Pelangi tergambar pula kecintaan dan rasa hormat pada para Guru. Bagi Andrea, guru-guru seperti Bu Mus dan Pak Harfan adalah pelita, dalam arti yang sesungguhnya. Karya ini mengajak para pembaca untuk berterimakasih pada sang Guru dan merenungkan jasa-jasa mereka tanpa upacara atau nasihat-nasihat klise. Novel ini berpotensi menjadi satu diantara sedikit karya yang bakal membuat kita tergugah untuk menjenguk kembali sisa-sisa kenangan masa kecil yang mungkin masih kita miliki, serta menghormati sekolah dasar kita, guru-guru kita, lingkungan kecil kita, teman-teman bandel yang kerap menggoda dan dulu begitu menjengkelkan.
Sebagai seorang guru saya tertarik ketika Andrea bercerita tentang sosok gurunya yang bernama Pak Harfan. Dalam novelnya Andrea menulis tentang cara mengajar Pak Harfan “………. Ketika mengajukan pertanyaan beliau berlari-lari kecil mendekati kami, menatap kami penuh arti dengan pandangan matanya yang teduh seolah kami adalah anak-anak Melayu yang paling berharga. Lalu membisikkan sesuatu di telinga kami, menyitir dengan lancar ayat-ayat suci, menantang pengetahuan kami, berpantun, membelai hati kami dengan wawasan ilmu, lalu diam, diam berpikir seperti kekasih merindu, indah sekali. Beliau menorehkan benang merah kebenaran hidup yang sederhana melalui kata-katanya yang ringan namun bertenaga seumpama titik air hujan. Beliau mengobarkan semangat kami untuk belajar dan membuat kami tercengang dengan petuahnya tentang keberanian pantang menyerah melawan kesulitan apa pun ……… “
Petikan beberapa kalimat yang ditorehkan oleh Andrea untuk menggambarkan sosok gurunya di atas begitu mempesona. Alangkah bahagianya jika kita sebagai seorang guru bisa mencerminkan sosok guru yang ditulis Andrea. Yaitu sosok guru yang berwibawa, berwawasan ilmu luas, dan menyenangkan dalam mendidik siswanya. Pendekatan dalam mendidik siswa yang dilakukan oleh pak Harfan yang diceritakan dalam novel ini lah yang sekarang ini dikenal dengan istilah pendekatan soft skill. Yaitu mendidik siswa dengan pendekatan yang mengembangkan sikap toleran, simpati, empati, emosi, etika dan unsur psikologis lainnya.
Menerapkan Pendekatan Soft Skill
Keberadaan pendidikan sangat penting dan tidak bisa dipisahkan dari keseluruhan proses kehidupan manusia. Kebutuhan terhadap pendidikan bersifat mutlak baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, maupun masyarakat dan bangsa, terutama dalam proses penyampaian kebudayaan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Dalam proses pendewasaan manusia, selalu akan terbentuk suatu sistem perilaku yang juga ikut ditentukan oleh watak pribadinya, yaitu bagaimana ia akan memberi reaksi terhadap suatu pengalaman (Kemalia Shabarini:2007).
Sistem perilaku inilah yang akan menentukan dan membentuk sikapnya terhadap sesuatu. Tepat seperti kalimat bijak, “jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki; jika dibesarkan dengan penghinaan, ia belajar menyesali diri; jika anak dibesarkan oleh toleransi, ia belajar percaya diri; jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai; jika anak dibesarkan dengan sebaik-baik perlakuan, ia belajar keadilan, dan jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam hidupnya”.
Di tengah-tengah upaya membangun profesionalisme guru, profesi guru kerap dinodai perilaku tidak terpuji dari oknum guru yang tidak sepatutnya dilakukan oleh seorang pendidik. Di antara contohnya adalah tindakan kekerasan fisik atau penganiayaan yang dilakukan seorang oknum guru terhadap siswanya di beberapa daerah belakangan ini. Kemudian tindakan pencabulan yang juga pernah dilakukan oknum guru terhadap siswa yang berkelakuan khusus (hiperaktif dan autis) di Jakarta. Bahkan baru-baru ini di Bogor seorang oknum guru SMP menusuk muridnya dengan sebilah pisau hingga akhirnya tewas pada saat class meeting.
Menurut Indra Yusuf (2007), kondisi demikian terjadi di antaranya diakibatkan oleh tidak terjalinnya komunikasi yang baik serta tidak ada toleransi di antara siswa dan guru. Bagaimanapun, guru dan siswa adalah bagian dari suatu sistem dalam pendidikan yang tingkat interaksinya dalam mencapai suatu tujuan tertentu sangat tinggi, sehingga perlu dijalin komunikasi yang positif di antara keduanya. Dalam menjalin komunikasi positif itu seorang guru perlu memiliki soft skill yang dapat menghindarkannya dari kemungkinan terjadinya miscommunication atau misunderstanding sebagai pangkal semua persoalan.
Mengembangkan Soft Skill
Guru sebagai salah satu komponen dalam sistem pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan siswa, memiliki peranan penting dalam menentukan arah dan tujuan dari suatu proses pembelajaran. Kemampuan yang dikembangkan tidak hanya ranah kognitif dan psikomotorik semata yang ditandai dengan penguasaan materi pelajaran dan ketrampilan, melainkan juga ranah kepribadian siswa. Pada ranah ini siswa harus menumbuhkan rasa percaya diri sehingga menjadi manusia yang mampu mengenal dirinya sendiri yakni manusia yang berkepribadian yang mantap dan mandiri. Manusia utuh yang memiliki kemantapan emosional dan intelektual, yang mengenal dirinya, yang mengendalikan dirinya dengan konsisten dan memiliki rasa empati (tepo seliro). Menurut Howard Gardner dalam bukunya yang bejudul Multiple Inteligences (1993), bahwa ada 2 kecerdasan yang berkaitan dengan kemampuan mengembangkan kepribadian yaitu :
Kecerdasan Interpersonal (interpersonal Intelligence) adalah kemampuan untuk mengerti dan menjadi peka terhadap perasaan, intensi, motivasi, watak, dan temperamen orang lain. Kepekaan akan ekspresi wajah, suara dan gerak tubuh orang lain (isyarat), dan kemampuan untuk menjali relasi dan komunikasi dengan berbagai orang lain.
Kecerdasan Intrapersonal (intrapersonal intelligence) adalah kemampuan memahami diri dan bertindak adaptif berdasarkan pengetahuan tentang diri. Kemampuan berefleksi dan keseimbangan diri, kesadaran diri tinggi, inisiatif dan berani.
Mengingat pentingya soft skill dalam upaya membentuk karakter siswa, maka strategi pembelajaran yang bisa dikembangkan adalah dengan mengoptimalkan interaksi antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa, guru dengan siswa dan lingkungan, serta interaksi banyak arah. Disamping itu perlu juga kreativitas guru untuk mampu memancing siswa untuk terlibat secara aktif, baik fisik, mental, sosial dan emosional. Dengan demikian bila hal itu sudah terbiasa dilakukan oleh siswa maka akan terbawa nantinya bila mereka terjun di dunia kerja dan di masyarkat.


Manfaat Pendekatan Soft Skill
Kecakapan soft skill ini tentunya juga bisa bermanfaat untuk guru antara lain, pertama, membantu guru membuat keputusan dengan lebih baik. Kedua, meningkatkan kemampuan guru menyelesaikan masalah yang dihadapi. Ketiga, terjadinya internalisasi dan operasionalisasi faktor-faktor motivasional, timbulnya dorongan dalam diri guru untuk terus meningkatkan kemampuan kerja. Keempat, peningkatan kemampuan guru untuk mengatasi stress, frustrasi, dan konflik yang pada gilirannya memperbesar rasa percaya diri. Kelima, lahirnya kepekaan guru dalam merasa dan menyelesaikan permasalahan siswa.
Globalisasi, modernisasi, bahkan westernisasi telah merasuki gaya hidup semua orang, termasuk guru dan siswa. Dulu tampak besar sekali rasa hormat seorang siswa terhadap gurunya. Akan tetapi sekarang, kondisi tersebut sudah sedikit bergeser -- kalau tak bisa dikatakan menurun. Keadaan demikian juga dipicu oleh gagalnya pendidikan budi pekerti yang ditanamkan kepada siswa dan memang tidak diajarkan secara mandiri. Sementara proses pembelajaran yang berlangsung mengondisikan hubungan antara siswa dan guru lebih dekat pada posisi yang sejajar sebagai mitra. Kini, siswa tidak lagi merasa segan terhadap gurunya.
Terlepas dari terjadinya pergeseran itu, yang terpenting saat ini adalah bagaimana membangun komunikasi yang positif antara siswa dan guru. Dengan komunikasi yang terjalin dengan baik, tujuan pendidikan dan pengajaran diharapkan tercapai tanpa warna insiden yang merugikan kedua belah pihak. Sulit? Bisa jadi, karena guru dan siswa punya latar berbeda. Baik dari segi usia, psikografis, maupun tujuannya berada di dalam kelas. Tak heran bila dalam interaksinya mereka rentan terhadap konflik. Dalam hal ini guru seharusnya dituntut memiliki rasa empati yang besar sebagai soft skill-nya.
Dengan empati yang besar, kesenjangan komunikasi dan toleransi bisa teratasi. Seorang pendidik dikatakan berempati bila ia dapat berpikir sejenak dan berusaha memahami pikiran, perasaan, reaksi, perkembangan, dan motivasi dari siswa. Proses berpikir yang dilakukan melibatkan dirinya secara utuh, dengan segala macam resiko perbedaan pendapat, rasa, bahkan kemungkinan konflik. Jadi, empati merupakan kegiatan berpikir individual mengenai rasa yang dia hasilkan ketika berhubungan dengan orang lain. Dengan kata lain, seorang guru yang berempati tajam mampu menyelami kehidupan, apa yang diinginkan, dan dirasakan siswanya satu per satu. Dengan berempati, guru akan dapat membaca dan mengikuti arah siswa bergerak untuk kemudian mengendalikannya sesuai arah yang dituju bila arah siswa sudah melenceng.
Seorang guru yang memiliki empati mendalam berarti telah memiliki soft skill dalam dirinya. Perilakunya pun akan mencerminkan kematangan bertindak. Ketika akan menjatuhkan hukuman atau sanksi terhadap siswanya, dia tidak akan mengalami kesulitan karena dia memiliki seni dan caranya sendiri. Dengan demikian, sanksi yang diberikan akan dirasakan siswa tidak sebagai hukuman, melainkan dianggap sebagai pemicu semangat. Menjatuhkan hukuman dan memberi teguran merupakan suatu seni yang tak mudah dimiliki seorang guru. Guru yang berhasil memperbaiki anak didiknya adalah guru yang telah menguasai dirinya sendiri. Dia mampu menunjukkan kesalahan siswa tanpa harus merendahkannya. Profile guru yang memiliki soft skill ini lah yang patut kita teladani dari novel berjudul Laskar Pelangi. Walaupun agak terlambat, kami menghimbau pada para guru untuk belajar tentang soft skill dengan membaca novel Laskar Pelangi.

* Penulis adalah Guru di Madrasah Terpadu MAN 3 Malang

Senin, 16 Juni 2008

Pembelajaran

ACTIVE LEARNING:
Solusi Pembelajaran Aktif Kreatif, Efektif dan Menyenangkan

Oleh:
Mishad*


Yang saya dengar, saya lupa
Yang saya lihat, saya ingat
Yang saya kerjakan, saya pahami
(Konfusius)

Besok siang saya harus mengajar perdana, bab metodologi penelitian sosiologi di kelas III program ilmu sosial. Terus terang pikiran saya waktu itu agak pesimis dapat menyampaikan materi itu secara maksimal atau tidak. Maklum, materi pelajarannya berat, kondisi waktunya siang dengan tingkat pemahaman siswa program IPS yang rata-rata intelektualnya sedang atau bahkan kurang membuat saya berpikir keras. Intinya, yang saya pikirkan adalah bagaimana siswa kelas III IPS itu bisa menerima materi tersebut dengan pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan (PAKEM).
Terbersit di benak saya untuk melakukan apa yang dikatakan Konfusius, yaitu “yang saya kerjakan saya pahami”. Singkat cerita, untuk menyampaikan materi metodologi penelitian saya kemudian menyiapkan instrumen pembelajaran berupa sejumlah angket. Kemudian saya juga menyiapkan konsep dan instrumen pengkodean data, matriks data, rekapitulasi data, dan tabulasi data. Lalu, saya buat alur kerja yang harus saya lakukan di depan siswa dalam skenario pembelajaran. Tidak lupa, saya juga membuat sistematika tugas yang harus dilakukan siswa agar target materi dalam pembelajaran saya ke siswa tuntas.
Alhamdulillah, ketika saat mengajar itu tiba. Saya terapkan apa yang harus saya lakukan dan dilakukan oleh siswa. Pertama, setelah saya beri petunjuk cara pembuatan dan pengisiannya semua siswa langsung saya beri angket lengkap dengan instruksi untuk mengisinya secara benar. Kedua, mereka harus maju satu persatu ke depan untuk memindah hasil isian angket ke matriks data yang saya tuliskan di papan sesuai dengan pengkodean data yang mereka buat. Ketiga, dari matriks data tersebut mereka lalu membuat rekapitulasi data dan selanjutnya mentabulasikannya. Keempat, mereka membuat keterangan dari hasil tabulasi data mereka dan menyimpulkannya. Kelima setelah saya beri contoh sistematika sebuah laporan penelitian, mereka saya tugaskan untuk menentukan judul penelitian, membuat angket, pengkodean data, matriks data, rekapitulasi data, tabulasi data, menarik kesimpulan, dan membuat laporan secara berkelompok sesuai dengan judul penelitian mereka.
Saya melihat, dengan aktivitas learning to do atau learning by doing siswa saya tampak bersemangat. Setelah melakukannya, mereka menjadi paham tentang bagaimana cara menentukan judul, membuat instrumen penelitian, mengolah data, menganalisis data, dan menyimpulkan hasil penelitian. Siswa saya akhirnya berkata “Ehm..pak ternyata meneliti itu mudah”. Alhamdulillah, ternyata dengan pembelajaran aktif dengan prinsip “yang saya kerjakan saya paham” itu tepat sekali. Materi metodologi penelitian yang sulit dipahami siswa lewat ceramah dan latihan soal menjadi mudah dikerjakan dengan pendelegasian dan kerja kelompok. Kesimpulan saya, pembelajaran aktif (active learning) adalah satu cara yang efektif agar pembelajaran yang kita lakukan menyenangkan dan berhasil mencapai target tuntas.
Memang, variasi metode mengajar guru sangat diperlukan untuk memacu minat belajar siswa. Dengan berlakuknya kurikulum berbasis kompetensi, guru harus kreatif mencari model-model pembelajaran yang PAKEM. Salah satu metode belajar yang bisa dilakukan adalah dengan model pembelajaran aktif (active learning). Ciri mendasar dari pembelajaran aktif adalah dibentuknya kelompok, siswa aktif, guru lebih sebagai fasilitator, adanya media pembelajaran atau alur permainan (role-playing). Pembelajaran aktif bertujuan menyinergikan kemampuan melihat (visual), mendengar (auditorial), dan perilaku (kinestetik) siswa.
Seperti yang telah kita ketahui, sebagian besar orang cenderung mudah lupa tentang apa yang mereka dengar dan lihat saja. Salah satu alasan yang paling menarik adalah kaitannya dengan tingkat kecepatan bicara guru dan tingkat kecepatan mendengar siswa. Pada umumnya, guru ketika berbicara normal adalah dengan kecepatan 100 hingga 200 kata per menit. Sedangkan siswa normal hanya dapat merekam sekitar 50 sampai 100 kata saja atau setengahnya. Apalagi kalau gurunya bicara cepat dan lama, maka bisa dipastikan siswa akan pudar konsentrasinya. Berdasarkan hasil penelitian, siswa hanya mampu mendengarkan (tanpa memikirkan) 400-500 kata per menit saja. Apabila siswa mendengarkan dengan waktu yang berkepanjangan dan bicaranya guru tidak jelas, maka siswa cenderung jenuh. Pikiran mereka bisa mengembara entah ke mana.
Dalam penelitian Polio (1984) menunjukkan , bahwa dalam perkuliahan bergaya ceramah, mahasiswa kurang menaruh perhatian selama 40% dari seluruh waktu kuliah. Penelitian McKeachie (1986) memperkuat hasil temuan Polio, yaitu mahasiswa dapat mengingat 70% dalam sepuluh menit pertama kuliah, sedangkan dalam 10 menit terakhir, mereka hanya dapat mengingat 20% materi kuliah. Tidak heran jika mahasiswa dalam kuliah psikologi yang disampaikan dengan gaya ceramah hanya mengetahui 8 % lebih banyak dari kelompok pembanding yang sama sekali belum pernah mengikuti kuliah itu (Ricckard, 1988).
Hasil penelitian Pike (1989) menunjukkan adanya peningkatan pemahaman siswa sekitar 200% ketika digunakan media visual dalam mengajarkan kosa kata. Bahkan waktu yang digunakan untuk menyajikan sebuah konsep dapat berkurang hingga 40% ketika media visual digunakan untuk mendukung presentasi lisan. Hal ini lantaran media gambar punya nilai tiga kali lebih efektif dari kata-kata saja. Siswa terkadang suka belajar dengan cara mendengarkan. Di antara mereka juga ada yang suka belajar dengan gaya melihat atau mengamati. Namun cukupkah kita mengajar dengan mengasah kemampuan mendengar (auditori) atau melihat (visual) siswa saja?
Masih ada keterampilan siswa yang perlu difungsikan, yaitu kemampuan unjuk kerja (kinestetik). Untuk menyinergikan tiga gaya belajar tersebut diperlukan metode cara pembelajar aktif (active learning). Kegiatan belajar bersama secara berkelompok yang merupakan ciri pembelajaran aktif dapat memacu siswa belajar aktif. Melalui kegiatan kerjasama kelompok kecil-kecil akan memungkinkan mereka untuk memperoleh pemahaman dan penguasaan materi pelajaran. Metode belajar bersama, seperti Jigsaw akan mendorong siswa untuk tidak hanya belajar bersama namun juga mengajarkan antara satu dengan yang lain.
Ada bermacam-macam cara untuk menyusun diskusi dan mendapatkan respon dari siswa dalam pembelajaran aktif. Kita juga dapat menggabungkan beberapa metode ini—sebagai misal menggunakan sub-diskusi kemudian mengundang juru bicara dari masing-masing kelompok untuk bertugas dalam sebuah panel. Untuk lebih jelasnya, menurut Melvin L. Silberman (2004) beberapa metode pembelajaran aktif dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1. Diskusi terbuka : Diskusi terbuka yang sifatnya langsung sangatlah menarik. Jika anda khawatir kalau-kalau diskusi berkepanjangan , peringatkanlah siswa lebih dahulu. Untuk mendorong siswa supaya berpartisipasi, tanya berapa di antara kalian yang memiliki jawaban atas pertanyaan saya. Kemudian tunjuk salah satu siswa yang mengacungkan jari.
2. Kartu jawaban: Bagikan kartu indeks dan mintakan jawaban atas pertanyaan anda tanpa menyertakan nama. Serahkan atau sebarkan kartu indeks itu kepada semua kelompok. Gunakan kartu jawaban untuk menghemat waktu atau untuk melindungi privasi dari jawaban yang bisa menyinggung perasaan. Tuntutan untuk memberikan jawaban secara ringkas pada selembar kartu merupakan keunggulan juga.
3. Jajak pendapat: susunlah sebuah survei singkat yang diisi dan dihitung hasilnya di tempat itu juga, atau lakukan pemungutan suara secara lisan. Gunakan pemungutan suara untuk mendapatkan data secara cepat dan dalam bentuk yang bisa dihitung. Jika anda menggunakan survei tertulis, upayakan untuk menyampaikan kembali hasilnya kepada siswa selekas mungkin. Jika anda menggunakan survey lisan, mintalah siswa untuk mengacungkan jari atau perintahkan siswa untuk menunjukkan kartu jawaban.
4. Diskusi sub kelompok: Bagilah siswa menjadi sub-sub kelompok yang terdiri dari tiga anggota atau lebih untuk berbagi dan mencatat informasi. Gunakan diskusi sub kelompok bila anda memiliki cukup waktu untuk memproses pertanyaan dan soal. Ini merupakan salah satu metode utama untuk mendapatkan partisipan dari seluruh siswa.
5. Mitra belajar: Perintahkan siswa untuk mengerjakan tugas atau mendiskusikan pertanyaan-pertanyaan utama dengan siswa yang duduk di sebelahnya. Gunakan mitra belajar bila anda ingin melibatkan semua siswa. Tapi dengan cara ini tidak cukup waktu untuk melaksanakan diskusi kelompok kecil . Sebuah pasangan merupakan konfigurasi kelompok yang baik untuk membangun hubungan saling mendukung dan untuk melaksanakan aktivitas kompleks yang tidak cocok dengan konfigurasi kelompok besar.
6. Penyemangat: Datangi semua kelompok dan mintai jawaban singkat atas pertanyaan utama. Gunakan kalimat penyemangat bila anda menginginkan sesuatu secara cepat dari siswa. Penggalan kalimat, semisal “Usaha yang bisa kita lakukan untuk memberantas korupsi di Indonesia adalah……..”. dapat menjadi semacam penyemangat atau pelecut. Untuk menghindari perulangan, perintahkan siswa untuk memberi sumbang saran baru tentang proses yang sedang berlangsung.
7. Model Panel: Perintahkan sejumlah kecil siswa untuk mengemukakan pendapat mereka di depan kelas. Sebuah panel informal dapat dibentuk dengan meminta pendapat dari sejumlah siswa yang sudah ditentukan yang masih berada di tempat duduk masing-masing. Lakukan penggiliran panelis agar semua bisa berpartisipasi.
8. Ruang Terbuka (Fishbowl): Perintahkan sebagian siswa untuk membentuk lingkaran diskusi, dan perintahkan sebagian lain untuk membentuk lingkaran pendengar di sekeliling mereka. Bawalah kelompok baru ke lingkaran dalam untuk melanjutkan diskusi. Gunakan formasi ruang terbuka untuk membantu pemfokusan pada diskusi kelompok besar. Meski memakan waktu, cara ini merupakan metode terbaik untuk mengkombinasikan keunggulan dari diskusi kelompok besar dan kecil.
9. Permainan: Gunakan latihan yang menyenangkan atau permainan kuis untuk memancing pendapat, pengetahuan, atau keterampilan siswa. Tayangan di TV semisal kuis “Family 100” atau “Tebak kata” bisa digunakan sebagai landasan permainan yang mendorong siswa untuk berpartispasi. Gunakan permainan yang bisa membangkitkan semangat dan keterlibatan siswa. Permainan juga sangat membantu menciptakan suasana dramatis yang kelak akan terus diingat oleh siswa.
10. Memanggil pembicara selanjutnya: Perintahkan siswa untuk tunjuk jari, ketika mereka ingin berbagi pendapat, dan perintahkan agar pembicara yang sekarang untuk menunjuk pembicara berikutnya (bukannya guru yang menunjuknya). Gunakan tekhnik ini, bila anda yakin ada minat yang cukup besar terhadap diskusi atau aktivitas belajar, dan anda ingin meningkatkan interaksi siswa.
Dengan menerapkan active learning, maka diharapkan siswa lebih tersalurkan kemampuan visual, auditori dan kinestetiknya secara bersama. Hal ini sejalan dengan metode belajar kontrusktivistik yang mengasah kemampuan siswa menemukan sendiri (inquiry) konsep materi yang dipelajarinya. Melalui mendengar, melihat, dan unjuk kerja sangat dimungkinkan siswa akan menemukan sendiri materi yang dipelajarinya. Selain itu, situasi yang tercipta dalam active learning terasa siswa lebih kreatif, efektif, dan dalam situasi menyenangkan. Model-model pembelajaran yang demikian inilah yang diharapkan dalam penerapan kurikulum berbasis kompetensi.

* Penulis adalah praktisi Pendidikan di Madrasah Terpadu MAN 3 Malang, Staf redaktur di Majalah Al Mu’tashim, dan mantan wartawan Radar Bojonegoro