Pengikut
Senin, 13 Desember 2010
KEUTAMAAN BULAN MUHARRAM
“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram”. (At-Taubah: 36).
Semua ahli tafsir sepakat bahwa empat bulan yang tersebut dalam ayat di atas adalah Zulqa’dah, Zul-Hijjah, Muharam dan Rajab.
Ketika haji wada’ Rasulallah bersabda:
Dari Abi Bakrah RA bahwa Nabi SAW bersabda: “Setahun ada dua belas bulan, empat darinya adalah bulan suci. Tiga darinya berturut-turut; Zulqa’dah, Zul-Hijjah, Muharam dan Rajab”. (HR. Imam Bukhari, Muslim, Abu Daud dan Ahmad).
Dalam hadist di atas Nabi SAW hanya menyebut nama empat bulan, dan ini bukan berarti selain dari nama bulan yang disebut di atas tidak suci, karena bulan Ramadhan tidak disebutkan dalam hadist diatas. Dan kita semua tahu bahwa bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan kesucian, ada Lailatul Qadar, juga dinamakan dengan bulan rahmat, maghfirah dan pembebasan dari api neraka.
Ibnu Rajab al-Hambali ( 736 – 795 H ) mengatakan, Muharam disebut dengan syahrullah (bulan Allah) karena memiliki dua hikmah. Pertama, untuk menunjukkan keutamaan dan kemuliaan bulan Muharam. Kedua, untuk menunjukkan otoritas Allah SWT dalam mensucikankan bulan Muharam.
Bulan Muharram mempunyai karakteristik tersendiri, dan diantara karakteristik bulan Muharram adalah:
Pertama: Semangat HijrahSetiap memasuki tahun baru Islam, kita hendaknya memiliki semangat baru untuk merancang dan melaksanakan hidup ini secara lebih baik. Kita seharus merenung kembali hikmah yang terkandung di balik peristiwa hijrah yang dijadikan momentum awal perhitungan Tahun Hijriyah.
Tahun hijriyah mulai diberlakukan pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Sistem penanggalan Islam itu tidak mengambil nama ‘Tahun Muhammad’ atau ‘Tahun Umar’. Artinya, tidak mengandung unsur pemujaan seseorang atau penonjolan personifikasi, tidak seperti sistem penanggalan Tahun Masehi yang diambil dari gelar Nabi Isa, Al-Masih (Arab) atau Messiah (Ibrani).
Tidak juga seperti sistem penanggalan Bangsa Jepang, Tahun Samura, yang mengandung unsur pemujaan terhadap Amaterasu O Mi Kami (dewa matahari) yang diproklamasikan berlakunya untuk mengabadikan kaisar pertama yangdianggap keturunan Dewa Matahari, yakni Jimmu Tenno (naik tahta tanggal 11 pebruari 660 M yang dijadikan awal perhitungan Tahun Samura) Atau penangalan Tahun Saka bagi suku Jawa yang berasal dari Raja Aji Saka.
Penetapan nama Tahun Hijriyah (al-Sanah al-Hijriyah) merupakan kebijaksanaan Khalifah Umar. Seandainya ia berambisi untuk mengabadikan namanya dengan menamakan penanggalan itu dengan Tahun Umar sangatlah mudahbaginya melakukan itu. Umar tidak mementingkan keharuman namanya atau membanggakan dirinya sebagai pencetus ide sistem penanggalaan Islam itu.
Ia malah menjadikan penanggalan itu sebagai zaman baru pengembangan Islam, karena penanggalan itu mengandung makna spiritual dan nilai historis yang amat tinggi harganya bagi agama dan umat Islam. Selain Umar, orang yangberjasa dalam penanggalan Tahun Hijriyah adalah Ali bin Abi Thalib. Beliaulah yang mencetuskan pemikiran agar penanggalan Islam dimulai penghitungannya dari peristiwa hijrah, saat umat Islam meninggalkan Makkah menuju Yatsrib (Madinah).
Dalam sejarah hijrah nabi dari Makkah ke madinah terlihat jalinan ukhuwah kaum Ansor dan Muhajirin yang melahirkan integrasi umat Islam yang sangat kokoh. Kaum Muhajirin-Anshar membuktikan, ukhuwah Islamiyah bisa membawa umat Islam jaya dan disegani. Bisa dimengerti, jika umat Islam dewasa ini tidak disegani musuh-musuhnya, menjadi umat yang tertindas, serta menjadi bahan permainan umat lain, antara lain akibat jalinan ukhuwah Islamiyah yang tidak seerat kaum Mujahirin-Anshar.
Dari situlah mengapa konsep dan hikmah hijrah perlu dikaji ulang dan diamalkan oleh umat Islam. Setiap pergantian waktu, hari demi hari hingga tahun demi tahun, biasanya memunculkan harapan baru akan keadaan yang lebih baik. Islam mengajarkan, hari-hari yang kita lalui hendaknya selalu lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Dengan kata lain, setiap Muslim dituntut untuk menjadi lebih baik dari hari ke hari.
Hadis Rasulullah yang sangat populer menyatakan, ”Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari kemarin, adalah orang yang beruntung”.
Bila hari ini sama dengan kemarin, berarti orang merugi, dan jika hari ini lebih jelek dari kemarin, adalah orang celaka.” Oleh karena itu, sesuai dengan firman Allah:
”Hendaklah setiap diri memperhatikan (melakukan introspeksi) tentang apa-apa yang telah diperbuatnya untuk menghadapi hari esok (alam akhirat) dan bertakwalah, sesungguhnya Allah maha tahu dengan apa yang kamu perbuatkan”. (QS. Al-Hasyar: 18).
Karakteristik Kedua: Di sunnahkan berpuasaPada zaman Rasulullah, orang Yahudi juga mengerjakan puasa pada hari ‘asyuura. Mereka mewarisi hal itu dari Nabi Musa AS.
Dari Ibnu Abbas RA, ketika Rasulullah SAW tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa.
Rasulullah SAW bertanya, “Hari apa ini?Mengapa kalian berpuasa?” Mereka menjawab, “Ini hari yang agung, hari ketika Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya serta menenggelamkan Fir’aun. Maka Musa berpuasa sebagai tanda syukur, maka kami pun berpuasa. “Rasulullah SAW bersabda, “Kami orang Islam lebih berhak dan lebih utama untuk menghormati Nabi Musa daripada kalian.” (HR. Abu Daud).
Puasa Muharram merupakan puasa yang paling utama setelah puasa ramadhan.Rasululllah SAW bersabda:Dari Abu Hurairah RA, Rasululllah SAW bersabda: “Sebaik-baik puasa setelah puasa ramadhan adalah puasa dibulan muharram, dan sebaik-baik shalat setelah shalat fardhu adalah shalat malam”. (HR. Muslim, Abu Daud, Tarmizi, dan Nasa’ ).
Puasa pada bulan Muharam yang sangat dianjurkan adalah pada hari yang kesepuluh, yaitu yang lebih dikenal dengan istilah ‘asyuura.
Aisyah RA pernah ditanya tentang puasa ‘asyuura, ia menjawab, “Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW puasa pada suatu hari yang beliau betul-betul mengharapkan fadilah pada hari itu atas hari-hari lainnya, kecuali puasa pada hari kesepuluh Muharam.” (HR Muslim).
Dalam hadits lain Nabi juga menjelaskan bahwa puasa pada hari ‘asyura (10 Muharram) bisa menghapuskan dosa-dosa setahun yang telah lewat.
Dari Abu Qatadah RA, Rasululllah SAW ditanya tentang puasa hari ‘asyura, beliau bersabda: ”Saya berharap ia bisa menghapuskan dosa-dosa satu tahun yang telah lewat” (HR. Muslim).
Disamping itu disunnahkan untuk berpuasa sehari sebelum ‘Asyura yaitu puasa Tasu’a pada tanggal 9 Muharram, sebagaimana sabda Nabi SAW yang termasuk dalam golongan sunnah hammiyah (sunnah yang berupa keinginan/cita2 Nabi tetapi beliau sendiri belum sempat melakukannya):
Ibnu Abbas RA menyebutkan, Rasulullah SAW melakukan puasa ‘asyuura dan beliau memerintahkan para sahabat untuk berpuasa. Para sahabat berkata,“Ini adalah hari yang dimuliakan orang Yahudi dan Nasrani. Maka Rasulullah saw. bersabda, “Tahun depan insya Allah kita juga akan berpuasa pada tanggal sembilan Muharam.” Namun, pada tahun berikutnya Rasulullah telahwafat. (HR Muslim, Abu Daud).
Berdasar pada hadis ini, disunahkan bagi umat Islam untuk juga berpuasa pada tanggal sembilan Muharam. Sebagian ulama mengatakan, sebaiknya puasa selama tiga hari: 9, 10, 11 Muharam.
Ibnu Abbas r.a. berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Puasalah pada hari ‘asyuura dan berbedalah dengan orang Yahudi. Puasalah sehari sebelum ‘asyuura dan sehari sesudahnya.” (HR Ahmad).
Ibnu Sirrin berkata: melaksanakan hal ini dengan alasan kehati-hatian. Karena, boleh jadi manusia salah dalam menetapkan masuknya satu Muharam. Boleh jadi yang kita kira tanggal sembilan, namun sebenarnya sudah tanggal sepuluh. (Majmuu’ Syarhul Muhadzdzab VI/406) .
Mudah-mudahan dengan masuknya awal tahun baru hijriyah ini, kita bisa merancang hidup kita kedepan agar lebih baik dan bermanfaat bagi umat manusia, yakni mengubah perilaku buruk menjadi baik, melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
(disadur dan diolah dari pesantrenvirtual.com)
Selasa, 19 Oktober 2010
Sekolah Inklusi
Oleh;
Mishad*
Yang harus disadari adalah anak dengan kebutuhan khusus itu bukan hanya tanggung jawab orangtua, melainkan kita.
-- Fasli Jalal (Wakil Menteri Pendidikan Nasional)
Pemerintah akan memberikan insentif khusus bagi sekolah umum yang bersedia menerima dan mendidik anak berkebutuhan khusus (ABK). Insentif khusus itu diharapkan bisa digunakan untuk pemberian pelatihan-pelatihan mengenai cara menangani anak dengan kebutuhan khusus kepada guru-guru. Peran sekolah umum diperlukan, karena kebutuhan anak dengan kebutuhan khusus tidak bisa dipenuhi hanya oleh sekolah luar biasa.
Selain memberi insentif khusus, Kemendiknas kini juga tengah memperbaiki sistem pelatihan guru agar guru memiliki kemampuan untuk menangani anak berkebutuhan khusus. Salah satu caranya dengan memberi pengetahuan baru seputar anak berkebutuhan khusus, salah satunya mengenai autisme. Konsep pendidikan inklusi sudah seharusnya menjadi bagian penting dari sistem pelatihan guru.
Pelatihan untuk guru ini tidak terbatas pada guru di sekolah luar biasa (SLB), tetapi juga guru sekolah umum yang memiliki tugas mengajar mata pelajaran lain untuk semua anak. Melalui cara ini, masyarakat pada umumnya diharapkan akan memahami dunia anak berkebutuhan khusus. Memang pelatihan-pelatihan untuk guru seperti ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Melalui pelatihan ini, sekolah umum diharapkan bisa lebih siap dan terbuka menerima dan mendidik anak berkebutuhan khusus.
Menurut data Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) dan Indonesia Centre forAutism Resource and Expertise (Indocare), sekitar 80 persen anak dengan kebutuhan khusus, terutama penderita gejala autis adalah anak laki-laki. Jumlah anak dengan kebutuhan khusus yang memasuki usia sekolah terus meningkat. Seharusnya mereka bisa menempuh pendidikan di sekolah umum, tetapi terhambat oleh keterbatasan sarana dan prasarana pendidikan sekolah umum. Muncullah ide sekolah inklusi sebagai alternatif solusi untuk melayani anak berkebutuhan khusus tersebut (Kompas,Selasa, 2 Maret 2010).
Konsep Sekolah Inklusi
Pendidikan Luar Biasa (Special Education) telah berkembang dari sistem segregasi (Sekolah Luar Biasa atau Sekolah Khusus) dimana layanan pendidikan bagi anak luar biasa diselenggarakan di sekolah luar biasa atau sekolah khusus yang terpisah dari teman sebaya pada umumnya, dengan layanan pendidikan yang sama bagi semua tanpa membedakan perbedaan individual. Secara berangsur-angsur sistem berkembang sampai sesepenuhnya integrasi (terpadu) yaitu dimana anak luar biasa diterima di sekolah regular dengan keharusan anak menyesuaikan kurikulumyang digunakan oleh sekolah tersebut, pada mata pelajaran tertentu anak luar biasa ada di kelas khusus hingga anak luar biasa berada di dalam kelas biasa dengan bimbingan khusus untuk mata pelajaran tertentu.
Layanan pendidikan bagi anak luar biasa mengalami banyak perubahan . Perubahan-perubahan dalam pendidikan bagi anak luar biasa ini termasuk perubahan dalam kesadaran dan sikap, keadaan, metodologi, penggunaan konsep-konsep terkait dan sebagainya. Layanan pendidikan bagi anak luar biasa terus berkembang dan diperjuangkan agar anak luar biasa mendapatkan hak yang sama dengan anak pada umumnya dalam pendidikan. Muncullah pendidikan inklusi yang merupakan perkembangan terkini dari model bagi anak luar biasa yang secara formal kemudian ditegaskan dalam pernyataan Salamanca pada Konferensi Dunia tentang Pendidikan Berkelainan pada bulan Juni 1994. Prinsip mendasar dari pendidikan inklusi adalah selama memungkinkan, semua anak seyogyanya belajar bersama-sama tanpa memandang kesulitan ataupun perbedaan yang mungkin ada pada mereka.
Pendidikan inklusi memiliki pengertian yang beragam. Stainback dan Stainback (1990) mengemukakan bahwa sekolah inklusi adalah sekolah yang menampung semua siswa di kelas yang sama. Sekolah ini menyediakan program pendidikan yang layak, menentang, tetapi sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan setiap siswa maupun bantuan dan dukungan yang dapat diberikan oleh para guru agar siswa-siswanya berhasil. Lebih dari itu, sekolah inklusi juga merupakan tempat setiap anak dapat diterima menjadi bagian dari kelas tersebut, dan saling membantu dengan guru dan teman sebayanya maupun anggota masyarakat lain agar kebutuhan individualnya dapat terpenuhi.
Pendidikan inklusi adalah layanan pendidikan yang semaksimal mungkin mengakomodasi semua anak termasuk anak yang memiliki kebutuhan khusus atau anak luar biasa di sekolah atau lembaga pendidikan (diutamakan yang terdekat dengan tempat tinggal anak) bersama dengan teman-teman sebayanya dengan memperhatikan kebutuhan dan kemampuan yang dimiliki oleh anak.(Tim Pendidikan Inklusi Jawa Barat)
Pendapat lain mengatakan Pendidikan Inklusi adalah pendidikan yang memberikan layanan kepada setiap anak tanpa terkecuali. Pendidikan yang memberikan layanan terhadap semua anak tanpa memandang kondisi fisik, mental, intelektual, sosial, emosi, ekonomi, jenis kelamin, suku, budaya, tempat tinggal, bahasa dan sebagainya. Semua anak belajar bersama-sama, baik di kelas/ sekolah formal maupun nonformal yang berada di tempat tinggalnya yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing anak. (Pendidikan yang Terbuka Bagi Semua, Djuang Sunanto)
Dapat disimpulkan bahwa pendidikan inklusi adalah:
1) Pendidikan yang mengakomodasi semua anak tanpa memandang kondisi fisik, intelektual, emosional, sosial maupun kondisi lainnya. 2) Pendidikan yang memungkinkan semua anak belajar bersama-sama tanpa memandang perbedaan yang ada pada mereka. 3) Pendidikan yang berupaya memenuhi kebutuhan anak sesuai dengan kemampuannya. 4) Pendidikan yang dilaksanakan tidak hanya di sekolah formal, tetapi juga di lembaga pendidikan dan tempat lainnya.
Perkembangan Sekolah Inklusi Di Indonesia
Sekolah inklusi memang tengah bergerak progresif. Walaupun pada saat ini baru terdapat 624 sekolah Inklusi di seluruh Indonesia, dari tingkat SD hingga SMA. Pada awalnya, dikarenakan begitu sulitnya dan terbatasnya mencari sekolah untuk anak - anak berkebutuhan khusus atau cacat, muncul ide untuk menerima mereka di sekolah biasa dengan program khusus. Artinya mereka dapat mengikuti kelas biasa, namun di sisi lain merekapun harus mengikuti program khusus sesuai dengan kebutuhan dan kapasitas mereka. Kurikulumpun mereka mengikuti kurikulum biasa, namun dengan implementasi yang "terpotong-potong". Namundemikian, sekolah inklusi tidaklah hanya sebatas untuk memberi kesempatan kepada anak - anak berkebutuhan khusus untuk menikmati pendidikan yang sama, namun hak berpendidikan juga untuk anak - anak lain yang kurang beruntung, misalnya anak dengan HIV/AIDS, anak - anak jalananan, anak yang tidak mampu (fakir - miskin), anak - anak korban perkosaan, korban perang dan lainnya, tanpa melihat agama, ras dan bahasanya.
Pendidikkan inklusi memang tengah bergerak, namun masih banyak ditemukan kendala untuk melaksanakannya. Dari fasilitas yang terbatas, misalnya fasilitas program khusus, seperti ruang terapi, alat terapi, maupun sumber daya manusia yang kapabel. Dilain pihak sekolah inklusi masih asing didengar oleh sebagia masyarakat kita. Bahkan tak jarang ada orang tua yang keberatan anaknya disatukan dalam satu kelas dengan anak berkebutuhan khusus, karena takut anaknya tertular.
Sekolah inklusi adalah sebuah metamorfosa budaya manusia yang semakin moderen dan mengglobal. Bahwa setiap manusia adalah sama, punya hak yang sama dan kesempatan yang sama untuk berkembang dan mendapatkan pendidikan demi mengejar kehidupannya yang lebih baik. Tanpa melihat apakah warna kulitnya, rasnya, agama, maupun bawaan genetiknya, setiap orang berhak untuk sejajar dalam berkependidikan. Saya kira sekolah inklusi merupakan salah satu jawaban, bahwa pendidikan tak mengenal diskriminasi, bahwa semua berhak untuk mendapatkannya.
Walaupun demikian sampai saat ini, sekolah inklusi masih identik dengan mencampur anak berkebutuhan khusus dengan anak biasa. Padahal sekolah bisa disebut inklusi, jika kita dapat melihat anak secara individual dengan pendekatan individual, bukan klasikal. Saat ini, pendidikan kita masih melihat peserta didik dengan satu kaca mata, semua anak adalah sama. Padahal, setiap anak terlahir dengan membawa perbedaan dan keunikannya masing-masing. Artinya, setiap anak harus diberi ruang dan hak untuk berkembang sesuai dengan kapasitas yang dibawanya. Sekilas saya bisa melihatnya, bahwa sekolah inklusipun bisa bersesuaian dengan pendekatan multiple intelegences. Sebuah pendekatan pembelajaran yang sedang banyak dikembangkan pula.
Di masyarakat, tidak semua orang tua yang punya anak berkebutuhan khusus yang mau menyekolahkan anaknya ke sekolah inklusi. Pertimbangannya pun beragam, mulai dari tidak tahan terhadap kritikan dan cemoohan dari orang tua yang enggan anaknya yang normal tapi disatukan dengan anaknya yang berkebutuhan khusus. Ada juga orang tua yang kurang percaya diri dan kasihan anaknya yang berkebutuhan khusus sekolah di sekolah inklusi. Mereka lebih nyaman menyekolahkan anaknya yang berkebutuhan khusus itu di sekolah luar biasa sebagaimana mestinya. Wallohua’lam.
Tayangan Televisi dan Budaya Kekerasan
Oleh:
Mishad*
Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menilai, hampir semua stasiun televisi sudah melanggar UU Penyiaran serta Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (PPP-SPS) ketika menayangkan unsur-unsur kekerasan melalui tayangan berita konflik kekerasan yang marak terjadi akhir-akhir ini. KPI melakukan pemantauan mulai akhir September hingga awal Oktober. Di rentang waktu itu, televisi banyak menyiarkan peristiwa kekerasan secara vulgar, seperti dalam tayangan penggerebekan gerombolan perampok Bank CIMB Niaga di Sumatera Utara, perburuan teroris di Sumatera Barat, dan konflik masyarakat di Tarakan, Kalimantan Timur. Secara terbuka televisi menyiarkan jalannya konflik, darah, aksi kekerasan, dan alat kekerasan yang dipakai pelaku dan korban. (Kompas, 6/10/2010)
Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) mengingatkan media massa untuk mematuhi UU Penyiaran serta Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (PPP-SPS) dalam menayangkan pemberitaan-pemberitaan terkait peristiwa-peristiwa kriminal dan konflik. Pasalnya, media berpotensi tinggi untuk membuat konflik makin intensif. Menurut Ketua Umum KPI Pusat Dadang Rahmat Hidayat, informasinya tentang peristiwa di suatu tempat memang dibutuhkan,. Tapi, cara penyampaian kepada publiknya tampaknya sudah memunculkan peristiwa yang vulgar. Misalnya, ada darah yang masih berceceran, orang yang luka, atau ada beberapa hal yang bisa saja jika tidak tepat menyampaikannya, misalnya konflik daerah, lalu disiarkan, lalu ada harapan konflik itu selesai. Tapi jangan-jangan karena pemberitaan, konflik jadi melebar.
Makin berbahaya, lanjutnya, ketika hal-hal ini kemudian ditayangkan berulang-ulang hingga malah menimbulkan eskalasi tanpa mengedepankan prinsip-prinsip jurnalisme. Dadang mengacu pada pengakuan salah satu kontribusi televisi nasional kepadanya mengenai potensi media menimbulkan konflik. Jadi, ada peristiwa demonstrasi yang harus diliputnya. Dia sampaikan bahwa kalau berita demo yang teriak-teriak saja tidak akan naik tayang. Nah supaya masuk, agak ditambahin dengan bakar ban. Mereka menyuruh itu. Ya tambah dengan guncang-guncang pagar, atau bentrok dengan polisi. Itu yang katanya punya news value yang tinggi. Anggota Dewan Pers Agus Sudibyo merujuk contoh media radio yang berpihak kepada salah satu kelompok yang berkonflik di Rwanda, antara suku Hutu dan Tutsi. Radio ini punya kelompok mayoritas, akhirnya menjadi propaganda yang berikan informasi kepada suku Hutu tentang sedang apa suku Tutsi dan itu digunakan untuk membunuh Tutsi. Itu contoh peran miring media yang paling telanjang.
Potensi serupa juga terdeteksi dalam perilaku media ketika pecah kerusuhan antar kelompok di Ambon. Media terkesan mengompori masing-masing kelompok afiliasinya dan menjadi salah satu faktor yang mengintensifkan konflik. Setiap media, cetak, radio, televisi, ataupun online harus memegang teguh prinsip-prinsip jurnalisme dan merealisasikannya di lapangan. Media dapat melakukannya dengan tetap berfokus pada akar masalah dalam suatu peristiwa konflik, kriminal atau kerusuhan, tidak mereduksi atau malah membesar-besarkan masalah, memperhatikan korban, serta memperhatikan dampak yang bisa terjadi.
Mengkritisi Tayangan Televisi Kita
Tayangan televisi di Indonesia begitu beragam, mulai dari hiburan, olahraga, berita, investigasi, gosip, mistik, dan masih banyak lagi. Dari begitu banyaknya tayangan televisi yang disiarkan, begitu sedikitnya tayangan yang dinilai memberi manfaat bagi pemirsa. Tayangan gosip adalah salah satunya yang pada akhirnya mendapatkan ’sertifikasi’ haram dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Tayangan jenis ini menurut MUI dianggap hanya menceritakan hal-hal buruk tentang orang lain dan bisa memicu fitnah karena informasi yang tidak benar.
Belum lagi tayangan untuk konsumsi remaja yang pula dinilai tidak mendidik dan lebih mengajarkan tentang kebebasan dalam pergaulan, berfoya-foya, hedonis, dan materialistik. Tidak sedikit tayangan yang dikemas untuk pasar remaja ini hanya menampilkan kisah percintaan. Padahal, itu semua bukan produk budaya bangsa kita yang terkenal sebagai masyarakat religius, sopan dan sangat memerhatikan tata krama dalam pergaulan. Pengaruh budaya barat pun begitu mudah ditularkan lewat tayangan-tayangan jenis ini. Mulai dari cara berpakaian, pergaulan yang lebih mengutamakan kebebasan tanpa mengindahkan norma-norma yang ada dalam agama dan masyarakat. Bahkan dari sekian banyak tayangan yang tidak mendidik, muncul genre tayangan misteri penuh bernuansa pornografi.
Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) yang selama ini diharapkan menjadi lembaga ‘penyaring’ tayangan televisi idealnya harus terus menunjukkan tajinya sebagai lembaga yang terhormat dan berwibawa. Karena pada gilirannya masyarakat pemirsalah yang dirugikan dengan gelontoran tayangan yang kurang mendidik. Selama ini KPI sebatas melakukan peringatan pada sejumlah tayangan televisi yang dinilai melanggar dan belum menerapkan sanksi secara khusus. Tidak mengherankan bila sejumlah tayangan yang sempat kena semprit kemudian berganti baju, namun dengan kemasan yang tidak jauh berbeda sebelum mendapat peringatan. Tentu tidak sedikit pemirsa yang berharap bisa memetik pelajaran dari tayangan televisi yang mendidik, menyuntikkan inspirasi, menularkan motivasi, sekaligus mencerahkan. Semisal tayangan ilmu pengetahuan yang tidak bisa dimungkiri mampu membuka wawasan dan cakrawala.
Atau tayangan sekelas talk show yang mendidik dalam kemasan yang bisa merangkul semua segmen. Sebuah produk lokal macam Kick Andy dan Save Our Nation di Metro TV adalah jenis tayangan yang bisa disebut mampu memberi pencerahan dan wawasan.
Sudah saatnya masyarakat pemirsa tak sekadar dicekoki dengan tayangan-tayangan komersil. Jenis tayangan menyegarkan yang bisa memberi pencerahan serta membangkitkan semangat hidup pun layak diterima penonton televisi. Peran serta pemerintah dan pihak-pihak terkait dengan dunia pertelevisian sangat dibutuhkan demi menyuguhkan kemasan yang mendidik.
Pemicu Budaya Kekerasan
Seolah-olah masyarakat sudah lupa dengan budaya-budaya luhur kita. Budaya nenek moyang kita, musyawarah mufakat untuk menyelesaikan semua permasalahan, budaya saling menghormati, budaya mengutamakan kepentingan bersama, nilai-nilai luhur ini seolah-olah telah lenyap dari keseharian kita. Keadilan sekarang menjadi barang yang langka. Masyarakat kita sudah terlalu banyak disuguhi "ketidakadilan" ini. Baik dari segi ekonomi, politik, hukum, maupun sosial. Bagaimana beban hidup tiap hari bertambah berat di sisi lain para pejabat kita mendapat fasilitas yang "wah" untuk ukuran masyarakat kita. Anggota legislatif bisa dengan mudah mendapat dana yang begitu besar untuk studi banding ke negeri orang berbanding terbalik dengan pembagian BLT yang berdesak-desakkan dan memakan korban.
Menurut Abi Zuhdi, pengamat sosial, ketidakpastian hukum yang sering menjadi konsumsi media menjadi hot topik bagi masyarakat sehingga kepercayaan terhadap hukum dan perangkatnya sudah mencapai titik nadir. Jadi, masyarakat lebih suka bermain sebagai hakim. Ini sebagian kecil saja dari banyak ketidakadilan lainnya. Secara tidak sadar sehari-hari masyarakat disuguhi adegan-adegan "kekerasan". Baik kekerasan fisik maupun non fisik. "Kekerasan" yang ditunjukan oleh pejabat-pejabat kita dengan melontarkan kata makian dan hinaan terhadap lawan bicara ketika bersidang. Mempermaikan hukum sehingga terjadinya ketidakadilan ini juga merupakan "kekerasan" secara tidak langsung.
Kita pun begitu. Coba kita lihat tiap hari di jalanan. Pengguna kendaraan saling serobot, ugal-ugalan, sehingga jamak saling umpat sampai adu fisik pun sering kita jumpai. Mengapa terjadi demikian? Karena. kita merasa lebih dari orang lain. Budaya menghargai orang lain pun sudah kalah dengan egoisme. Pejabat merasa lebih terhomat dari rakyat. Padahal kalau tidak ada rakyat tidak ada pejabat. Yang bermobil merasa lebih dari yang bermotor sehingga merasa harus didulukan di jalan. Yang bermotor merasa lebih dari yang berjalan. Maka trotoar pun menjadi arena balap. Yang berdemo merasa lebih baik dari yang didemo sehingga merasa pantas mengeluarkan kata-kata hinaan, cacian.
Anak-anak kita pun akrab dengan budaya kekerasan. Di sekolah ada pengajar yang memperlihatkan kekuatan otot dengan dalih disiplin, mendidik, dan lain-lain. Maka kita saksikan murid pulang ke rumah dengan luka memar. Di rumah anak kita disuguhi budaya otoriter orang tua. Tontonan kekerasan yang tiap hari disaksikan secara berulang. Untuk menyebarkankebaikan pun kita banyak menggunakan "kekerasan" dengan dalih mendidik seolah-olah sah-sah saja kekerasan fisik kepada siswa pun digunakan. Dengan dalih memberantas terorisme, memberantas kemaksiatan pun, seolah-olah sah saja kekerasan fisik digunakan. Atau ketika kelompok tertentu merasa keyakinannya paling benar pun bisa "memaksakan" keyakinannya. Seolah-olah pintu dialog musyawarah ditinggalkan dan sudah bukan zamannya lagi. Maka tidak ada jalan lain budaya "kekerasan" ini harus diminimalisir dengan menggali lagi nilai-nilai luhur bangsa kita. Pejabat harus memberikan contoh yang baik dan bekerja keras untuk melayani dan mensejahterakan rakyat. Hukum harus ditegakkan. Masyarakat pun harus sabar dalam menaati peraturan.
Pemerintah juga sudah mulai merespon gejala degradasi moralitas bangsa kita. Melalui jalur pendidikan pemerintah memasukkan indikator nilai-nilai karakter bangsa dalam rencana pelasanaan pembelajaran yang harus dibuat oleh guru. Indikator nilai-nilai yang diinginkan pada siswa pun cukup mengena, seperti toleransi, demokratis, peduli lingkungan, peduli sosial, kerja keras, menghargai, gemar membaca, bersahabat, tanggungjawab, dan lain-lain. Kendalanya, intrumen penilaian untuk mengevaluasi indikator-indikator tersebut di lapangan sangat beragam dan subyektif. Kendala itu semakin berat, ketika nilai-nilai itu sudah ditanamkan di sekolah. Namun ketika pulang dari sekolah, para siswa disuguhi oleh perilaku kekerasan di jalan-jalan, di keluarga mereka, terutama dari tayangan-tayangan siaran televisi. Tidak heran kalau ada yang berkelakar “siaran televisi” adalah saingan berat “Kementerian pendidikan Nasional” dalam mencerdaskan anak bangsa. Wallohua’lam
Selasa, 22 Juni 2010
BIRRUL WALIDAIN
Mishad Khoiri
Malam kian larut, udara dingin seperti menusuk masuk ke tulang. Kerumunan orang masih terlihat di depan ruangan bercat serba putih. Dari dalam tampak seseorang berkomunikasi menggunakan HP sambil sesekali geleng-geleng kepala. Sebagian yang lain tampak hilir mudik keluar masuk ruangan. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi di ruang paviliun A-10 di sebuah rumah sakit swasta terkenal di kota itu.
Ternyata yang sakit dan dirawat di ruang paviliun VIP itu adalah bu Badri, orang yang cukup terpandang di kampungnya. Tapi kini penyakit stroke bu Badri makin akut. Bahkan sudah beberapa hari mengalami “koma” dan harus menjalani terapi khusus. Tetapi bu Badri tidak kunjung sadar. Tidak satu pun dari tujuh anaknya yang mendampinginya di rumah sakit. Tetangga pak Badri lah yang selama ini merawat beliau dan mengantarnya periksa ke dokter atau ke klinik rumah sakit . Karena saking parahnya sakit bu Badri, sampai-sampai dokter menyarankan ke tetangga bu Badri untuk mendatangkan anak-anaknya. Maklum, ketujuh anaknya seluruhnya bekerja atau bertugas di luar kota, bahkan ada yang di luar negeri.
Satu per satu anak-anak bu Badri di kontak oleh pak Soleh tetangganya. Hasilnya semua anak-anak bu Badri belum bersedia untuk pulang. Mereka tidak bisa pulang untuk menjenguk ibunya dengan mengatakan “Maaf ya pak, tolong kalau ibu sudah sadar sampaikan ke beliau, bahwa kami masih sibuk dan terikat dengan pekerjaan kami, terimakasih”. Kalimat itu yang sebagian besar terucap dari anak-anak mereka.
Setelah lima hari mengalami koma, nyawa bu Badri tidak tertolong lagi lantaran pembuluh darah ke otak bu Badri dinyatakan beku dan tidak berfungsi lagi. “Menyedihkan” dalam kondisi menghembuskan nafas terakhir, tujuh orang anaknya tidak ada yang mendampingi. Baru ketika akan di kubur tampak dua dari tujuh anaknya datang. Peristiwa tragis seperti ini tidak hanya terjadi kini. Dua tahun lalu pak Badri (bapak mereka) juga meninggal tanpa ditemani anak-anaknya sama sekali.
Ada pepatah yang mungkin sesuai dengan peristiwa di atas, yaitu “kasih ibu (orang tua) sepanjang masa, kasih anak sepanjang penggalan”. Kasih sayang orang tua, terutama ibu begitu luar biasa kepada anak-anaknya. Mulai mengandung kurang lebih 9 bulan 10 hari dengan penuh perjuangan. Melahirkan anaknya dengan taruhan hidup atau mati. Merawat anak-anak-nya dengan kasih sayang dan kesabaran. Bagaimana tidak?, orang tua rela tidak tidur apabila anaknya sakit atau rewel. Jika anaknya sakit maka orang tua rela jika harus cuti bekerja. Orang tua akan bekerja apa saja yang penting halal demi memenuhi kebutuhan anaknya. Itu belum yang lain-lain.
Memperlakukan orang tua dengan hormat dan baik meruapakan salah satu ajaran teragung dalam Islam. Islam menempatkan kebaikan dan sikap hormat kepada orang tua berada hanya satu tingkat di bawah keimanan kepada Alloh dan ibadah yang benar kepada-Nya. Sebagaimana firman Alloh dalam Al Qur’an surat Annisa’ ayat 36:
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa”
Al Qur’an juga menunjukkan gambaran yang tegas mengenai tingginya kedudukan orang tua, dan menerangkan cara yang baik bagi seorang muslim dalam memperlakukan mereka, jika salah satu atau keduanya hidup pada usia senja dan mencapai masa udzur dan lemah. Firman Alloh dalam Al Qur’an surat Al- Isra’ ayat 23 – 24:
23. Dan Tuhanmu Telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia[*].
24. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua Telah mendidik Aku waktu kecil".
[*] mengucapkan kata ah kepada orang tua tidak dlbolehkan oleh agama apalagi mengucapkan kata-kata atau memperlakukan mereka dengan lebih kasar daripada itu.
Kisah tentang seorang ahli ibadah bernama Juraij yang disampaikan oleh Nabi, merupakan ilustrasi tegas mengenai pentingnya menghormati orang tua dan mematuhi mereka. Suatu hari, ibu Juraij memanggilnya ketika dia sedang sholat. Dia bingung,“Wahai Tuhan, ibuku atau shalatku?” Dia memilih melanjutkan sholat (daripada menjawab panggilan ibunya). Ibunya memanggil untuk yang kedua kalinya, tetapi dia melanjutkan sholat dan tidak menjawabnya. Ibunya memanggil untuk ketiga kali, tetapi dia masih tidak menjawabnya. Ibunya kemudian berdoa agar Alloh tidak mencabut nyawanya sampai dia melihat wajah seorang pelacur.
Suatu ketika ada seorang pelacur di kota itu yang melakukan zina dengan seorang gembala, lalu hamil. Ketika dia menyampaikan kepada gembala kalau dia hamil, gembala itu berkata kepadanya “Jika kamu ditanya tentang bapak si anak, katakan bahwa bapaknya adalah Juraij, seorang ahli ibadah”. Inilah yang kemudian dikatakan oleh wanita pelacur itu ketika ditanya oleh penduduk kota. Akibatnya orang-orang datang merusak tempat ibadah yang biasa digunakan Juraij untuk melakukan sholat. Penguasa kemudian membawa Juraij, wanita pelacur dan bayinya ke hadapan public. Ketika itu Juraij ingat doa ibunya lalu tersenyum. Ketika dia akan dihukum, dia minta izin untuk sholat dua rakaat lalu dia bertanya kepada si bayi dan berbisik di telinganya: “Siapa bapakmu?” Si bayi menjawab: “Ayahku adalah seorang gembala” Orang-orang pun meneriakkan, “La Ilaaha Illalah” dan “Allahu Akbar”. Kemudian mereka berkata kepada Juraij “Kami akan membangun kembali tempat ibadahmu dengan perak dan emas”. Juraij menjawab, “Tidak, bangunlah tempat ibadah itu seperti dulu dengan batu”.
Berkaitan dengan cerita yang diriwayatkan oleh Bukhori ini, Nabi Muhammad SAW bersabda “Kalau saja Juraij memilih pengetahuan yang dalam, ia akan tahu bahwa menjawab panggilan ibunya lebih penting daripada melanjutkan sholatnya. “Karena itulah, para fuqaha menyarankan, jika seorang sholat sunat dan ibunya memanggilnya, maka dia wajib menghentikan sholatnya untuk menjawab panggilan ibunya.
Ada pelajaran berharga juga bagi kita sebagai seorang anak untuk selalu berbakti pada orang tua. Jangan sampai lantaran pekerjaan yang sebenarnya bisa kita tinggalkan, tapi kita tidak bisa menyempatkan diri untuk menjenguk orang tua yang sedang kritis apalagi sudah meninggal. Bukankah kisah Juraij orang yang ahli ibadah bisa menjadi inspirasi bagi kita tentang pentingnya mendahulukan birrrul walidain (berbakti/berbuat baik pada orang tua) daripada pekerjaaan lain. Mudah-mudahan kita diberi kekuatan oleh Alloh untuk bisa berbuat baik pada orang tua kita, Amiin. Wallahua’lam.
Rabu, 09 Juni 2010
SMS Untuk Fulanah
Mishad Khoiri
Wajah Fulanah tampak muram, sepertinya ada sesuatu yang dipikirkannya. Hari yang mestinya diliputi rasa bahagia berubah menjadi duka. Seperti tak terbendung, butiran air terus menetes dari mata nanar Fulanah. Tampak sebagian tamu undangan dalam “momen sakral” itu buru-buru pamitan pulang. Mereka seolah tahu telah terjadi “sesuatu” diantara mempelai berdua. Hujan deras yang mengguyur lokasi perhelatan resepsi pernikahan Fulan dan Fulanah menambah suasana acara menjadi semakin “hampa”.
Malam sudah tiba, setelah seluruh tamu sudah pulang hanya kerabat dekat yang tampak meramaikan suasana. Sepasang pengantin sudah turun dari pelaminan menuju ruang peraduan untuk istirahat. Aneh, Fulanah yang mestinya menuju ke kamar pengantin mendadak membelokkan arah jalannya ke ruang keluarga. Sembari berkaca-kaca, Fulanah langsung bersimpuh di pangkuan Maimunah ibundanya. “Ada apa nak?” tanya ibundanya ke Fulanah. Pertanyaan Maimunah hanya dijawab dengan isak tangis oleh Fulanah.
Maimunah tidak tinggal diam, malam itu dia berusaha mengorek keterangan tentang apa yang terjadi pada Fulanah. Tidak seberapa lama terkuaklah sudah apa yang menjadi pemicu kegalauan Fulanah. Ternyata hanya karena sebuah kalimat SMS. “Fulan suamimu itu sudah tidak perjaka lagi”. Begitu bunyi kalimat sms yang tidak jelas pemilik nomor pengirimnya. Maimunah dan Abdullah suaminya sontak punya ide untuk melacak sejatinya siapa sebenarnya pengirim sms itu? Malam itu juga dikontak lah nomor HP pengirim tersebut. Setelah beberapa saat menunggu, kontak ke pemilik nomor HP itu pun sudah terhubung, sebut saja si A. Setelah ditanya perihal sms itu, dia bilang jika sms itu adalah pesanan temannya, sebut saja si B.
Sepertinya keluarga Fulanah ingin tahu siapa sebenarnya otak pengirim sms tersebut. Dikontaklah lagi nomor si B yang memesan pengirim sms itu. Setelah terhubung, dia juga mengatakan hal yang sama, bahwa dia juga dipesan temannya (sebut saja si C) untuk mengirim pesan itu. Setelah tahu nomor HP si C, Maimunah mengontaknya lagi, tidak lama kemudian kontak sudah terhubung. Setelah mengucapkan salam, Maimunah langsung menanyakan apakah benar dia yang memesan agar si B mengirim sms itu ke Fulanah? Sambil terbata-bata Si C menjawab ii..ii…iiya. Apa benar informasi tentang Fulan yang kamu beritakan lewat sms itu? Pertanyaan ke dua dari Maimunah dijawab panjang lebar oleh Si C. Intinya si C merasa bersalah dan mau menjelaskan bahwa berita lewat sms yang dikirimnya itu tidak benar. Si C juga berterus terang kalau ia mengirimkan pesan bohong itu lantaran iri hati pada Fulanah yang memenangkan perebutan untuk mendapatkan Fulan sebagai suami tercinta mereka.
Alhamdulillah, tersingkaplah sudah tabir gelap yang hampir saja menghancurkan bahtera keluarga yang baru saja diarungi oleh keluarga Fulanah. Maimunah menjelaskan delik asal muasal terkait dengan bunyi sms si C kepada kepada Fulanah. Untuk meyakinkan kebenaran informasi ibunya, Fulanah langsung mengkontak Si C. Setelah kontak terhubung dia terlibat dalam pembicaraan serius dengan Si C. Ternyata benar jika Si C yang menyebar pesan bohong lewat sms ke Fulanah. Si C juga mengaku jika dia dengki pada Fulanah yang menjadikan Fulan berpaling darinya. Fulanah tidak sanggup menahan marah sehingga dia sempat memaki Si C yang juga menjadi teman akrabnya itu. Makian Fulanah yang pedas hanya dijawab si C dengan permohonan maaf.
Seperti orang haus yang sudah meminum air, wajah Fulanah tampak segar kembali. Pikirannnya yang sudah ingin minta cerai berubah menjadi permintaan maaf pada Fulan suaminya yang sempat dikecewakan dengan sikap dinginnya. Bahtera keluarga dua pengantin itu pun dapat diselamatkan dari gangguan riak-riak gelombang , berupa iri dan dengki seorang teman yang hampir saja menenggelamkan biduk rumah tangganya. Ternyata rasa iri dan dengki menjadi pemicu keberanian si C untuk memfitnah dan menghancurkan masa depan teman akrabnya sendiri.
Rasulullah memberikan peringatan keras terhadap orang yang punya sifat iri hati (hasad). Beliau menegaskan, bahwa keimanan dan kedengkian tidak bisa berjalan bersama-sama. Sabda beliau “Keimanan dan kedengkian tidak bisa menyatu bersama dalam hati seorang hamba”. Damurah bin Tsa’labah berkata Rasulullah bersabda “Seorang akan menjadi baik selama dia tidak iri hati kepada orang lain”. Salah satu jiwa seorang muslim adalah, bahwa jiwanya bebas dari sikap curang, iri hati, khianat, dan benci. Kesucian hati ini akan mengantarkannya kepada kesuksesan baik di dunia maupun di akhirat.
Hati yang bersih dari sifat iri, dengki, dan perbuatan buruk lainnya dapat mengangkat derajat kita dalam pandangan Alloh Ta’ala. Karena kesucian hati akan menjadikan orang lain selamat dari sikap kita. Meski ibadah kita sedikit tapi kita seperti batu bata yang utuh dan kuat dalam struktur masyarakat islam. Sementara orang yang hatinya dipenuhi kebencian, iri hati, curang dan khianat kepada orang lain, dia tidak akan sukses sekalipun ibadahnya banyak. Seorang muslim harus mengkombinasikan antara ibadah, kesucian hati, dan perlakuan yang baik terhadap orang lain, sehingga karakter batinnya sesuai dengan penampilan luarnya dan perbuatannya sesuai dengan kata-katanya. Dengan keadaan seperti ini, maka struktur masyarakat Islam akan kuat dan kokoh.
Apa yang dilakukan si C pada Fulanah adalah contoh nyata perbuatan iri dan dengki. Andaikan si C berhasil menghancurkan rumah tangga Fulanah, Niscaya bukan berarti menjadikan hidup si C akan sukses. Tapi yang terjadi adalah si C akan dihinggapi rasa kegalauan dan dihantui perasaan bersalah. Adapun kepuasan untuk membalas dendam karena rasa iri hati hanya akan menjadikan kita kian terpuruk lantaran hidup kita tidak produktif. Aktifitas dan pikiran kita akan habis hanya untuk menjatuhkan dan mengalahkan orang yang kita iri. Alhasil hidup kita akan semakin jauh dari kebaikan dan kesuksesan, na’udzubillah. Wallahu’a’lam.
Jumat, 09 April 2010
KORUPSI
Mishad Khairi
Setelah sekitar 30 menit ngantri, giliran motor saya untuk diservis tiba juga. “Sudah lama mas ngantri” sapa seseorang yang tiba-tiba mendekati saya. “sekitar 30 menit” jawab saya sambil menggeser posisi duduk. Pria berkumis tipis yang kira-kira berumur 45 tahunan itu pun sudah duduk di samping kiri saya. Tidak lama kemudian kami berdua bercengkerama sambil menunggu motor kami yang sama-sama diservis di dealer “UD Candra Motor” di jalan Kayu Tangan, Malang. Kelihatannya pria ini mengalami trauma, sehingga dia dengan penuh semangat menceritakan pengalaman masa lalunya—seolah curhat pada saya.
Rupanya Fulan, sebut saja pria ini adalah mantan seorang pegawai negeri yang mengajukan pensiun dini. Dia mengaku jebolan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) dan sudah belasan tahun malang melintang sebagai pegawai perpajakan. Dia mengajukan pensiuan dini lantaran selama aktif bekerja sering sakit-sakitan. Ada yang ganjil dari keterangan Fulan tentang penyebab penyakitnya. Dia merasa sering tiba-tiba sakit karena saking banyaknya menerima uang yang tidak jelas sumbernya dari mana. Bahkan sewaktu bertugas di Batam dia kerap mendapatkan uang ratusan juta rupiah dalam tempo singkat. Rupanya dia merasa uang “gelap” yang sering didapatkan itu telah mengundang penyakitnya.
Ketika dia mengurus pajak beberapa perusahaan di Batam, dia sering mendapatkan sejumlah uang suap. Tanpa meminta uang suap itu pun, dia sering mendapatkan “amplop” dengan istilah “jatah”. Anehnya dengan uang yang berlimpah dari hasil tersebut hidupnya tidak pernah tenang. Bagaimanapun hati kecilnya tidak bisa mengingkari jika “rezeki” yang didapatkannnya banyak tercampur dengan uang haram. Mungkin karena “kegelisahan akut” ini yang membuat pria ini sering tiba-tiba sakit. Fulan bahkan pernah bercerita, suatu ketika kakinya tiba-tiba lumpuh. Ketika diperiksakan ke dokter, hasil diagnosa dokter mengatakan tidak ada apa-apa dan memang beberapa saat kemudian dia pun pulih kembali, tapi di kemudian hari datang lagi.
Anehnya, dia menyimpulkan sendiri jika kegelisahan dan penyakit yang sering dideritanya tiba-tiba itu adalah lantaran seringnya dia menerima uang syubhat. Karena itulah dia mengajukan pensiun dini, dan sekarang dia menikmati profesi barunya sebagai seorang wiraswastawan di Kota Malang. Dia merasa puas dan tenang mengais rezeki dari bisnis perdagangan bersama keluarga yang kini ditekuninya. Kini dia merasa lebih bahagia dan badannya tidak sakit-sakitan lagi, walaupun ke mana-mana dia lebih sering naik motor.
Saya yakin tidak semua pegawai pajak mengalami atau melakukan perbuatan seperti yang dialami dan dilakukan Fulan. Saya juga yakin perbuatan atau kejadian seperti yang dialami Fulan juga pernah terjadi pada mereka yang berprofesi lain. Memang akhir-akhir ini banyak lembaga negara yang menjadi sorotan masyarakat. Lembaga tersebut mulai dari Mabes POLRI, Kejaksaan, BI, dan Depkeu, termasuk di dalamnya lembaga Perpajakan. Beberapa oknum pelaku markus (makelar kasus)-nya telah menjadi aktor saban hari di layar TV. Bahkan banyak di antara oknum pejabat/pegawai yang terlibat adalah seorang muslim, termasuk Gayus Tambunan. Mengapa penyakit korupsi seperti ini bisa terjadi dan menjakiti diri kita?
Bagaimanapun akar permasalahan di atas terjadi adalah karena kita kurang memahami agama—bukan tidak tahu agama. Sebab di lembaga agama yang orang-orangnya tahu agama juga tidak jarang terjadi korupsi. Jadi langkah efektif untuk menanggulangi masalah tersebut adalah dengan menjadikan Islam ini sebagai mafahim (pedoman hidup) bukan maklumat (pengetahuan). Dengan cara tersebut, maka insya Alloh kita akan senantiasa dapat mengontrol perilaku hidup kita—termasuk untuk tidak menipu, curang atau korupsi. Sekali lagi cara jitu mencegah korupsi bukan dengan menaikkan gaji. Ini terbukti dari fakta, bahwa gaji pejabat/pegawai Depkeu yang sudah di-renumerasi sehingga gajinya bisa naik 3 atau lebih kali lipat tapi kini terbukti justru kerap melakukan korupsi
Seorang muslim yang mafahim dan tulus, maka dia tidak akan mentoleransi kecurangan. Sebaliknya, dia akan enggan melakukannya, karena dia sadar, bahwa mengerjakan tindak kejahatan itu akan menyebabkannya keluar dari batas-batas Islam. Rasulullah Muhammad SAW bersabda:
“Barang siapa yang menyingsingkan lengan baju untuk melawan kami, dia tidak termasuk umat kami. Dan barang siapa yang curang, dia pun tidak termasuk umat kami” (HR: Muslim).
Dalam riwayat Muslim yang lain diceritakan, bahwa pernah Rasulullah Muhammad SAW melewati gundukan makanan (di pasar), lalu memasukkan tangan beliau ke dalamnya dan merasakan basah (meskipun di bagian luarnya kering). Beliau mengatakan, “Wahai pemilik makanan, apa ini?” Si pemilik makanan menjawab, “Makanan itu rusak terkena hujan, wahai Rasulullah,” Lalu Rasulullah bilang, “Dan kamu tidak meletakkan makanan yang rusak oleh hujan ini di bagian luar, sehingga orang bisa melihatnya! Barang siapa menipu, dia tidak termasuk umat kami”
Dari Hadits Rasulullah di atas menunjukkan, bahwa kecurangan adalah perbuatan yang sangat dilaknat oleh Alloh Ta’ala dan rasul-Nya. Masyarakat muslim adalah masyarakat yang dibangun atas dasar cinta dan ketulusan yang diliputi oleh kesalehan, kejujuran serta kebenaran. Maka tidak ada ruang dalam kaum muslim ini untuk menipu, berkhianat, memperdaya, mencelakai, dan curang. Oleh karena itu kita perlu waspada dan mencari solusi untuk mencegah terjadinya perbuatan-perbuatan tersebut, termasuk perbuatan korupsi. Cara yang jitu untuk itu adalah dengan senantiasa mendekat diri (taqorrub) dan selalu ingat (dzikir) pada Alloh. Dengan demikian, mudah-mudahan Alloh Ta’ala selalu memberikan hidayah-Nya pada kita, agar senantiasa bertindak serta berbuat jujur dan benar, Aamiin. Wallahu a’lam
Jumat, 26 Maret 2010
Menggagas Ide Sekolahnya Manusia
Mishad*
“Sekolah yang punya maqom (kedudukan) tinggi adalah sekolah yang tidak menyeleksi muridnya pada saat penerimaan siswa baru (PSB), tetapi sekolah yang menerima siswa baru apa adanya . Tetapi sekolah itulah yang akan mencerdaskannya, membekalinya dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan guna menyongsong masa depannya” (Munif Chatib)
Seperti yang kita ketahui tiap tahun pelajaran baru, sekolah-sekolah membuka pendaftaran siswa baru (PSB). Sekolah yang menjadi rebutan calon siswa baru adalah sekolah yang dianggap mereka sebagai sekolah favorit. Saking banyaknya pendaftar ke sekolah favorit, maka banyak dari sekolah tersebut menyeleksi calon siswa barunya. Ada beragam cara mereka untuk menyeleksi siswa barunya, mulai me-ranking Nilai Ujian Nasional (NUN), tes kemampuan akademik, tes kesehatan, wawancara, seleksi piagam penghargaan, dan lain-lain. Tidak heran, jika siswa baru yang lolos ke sekolah-sekolah favorit adalah siswa pilihan yang punya NUN tinggi dan ranking tes-nya juga tinggi.
Dengan bekal “The Best Input” sekolah-sekolah favorit punya modal yang cukup untuk dapat menjadikan siswa-siswinya meraih prestasi terbaik. Sangat lumrah jika input yang baik menghasilkan siswa yang berprestasi dalam proses belajar maupun out put-nya. Tetapi mencetak siswa dengan in put seadanya menjadi siswa yang berprestasi dalam proses belajarnya dan lulus dengan predikat yang baik adalah sekolah yang menekankan “The Best Process”. Disain sekolah dengan menekankan proses pembelajaran terbaik (tidak harus in put yang baik) adalah salah satu konsep sekolah unggul “sekolahnya manusia” yang digagas oleh Munif Chatib, seorang konsultan pendidikan didikan langsung Bobby De Porter, master quantum teaching.
Pendidikan “The Best Process” yang dikembangkan oleh Munif Chatif menggunakan pendekatan Multipple Intelegence System (MIS). Masing-masing siswa dianggap memiliki beberapa kecerdasan dan gaya belajar. Model pembagian kelas yang dikembangkan adalah mengklasifikasikan siswa berdasarkan gaya belajar dan jenis kecerdasan yang sinergi. Harapannya, gaya mengajar guru disesuaikan dengan gaya belajar dan jenis kecerdasan siswa. Kondisi tersebut diharapkan dapat melejitkan potensi siswa untuk berprestasi menurut minat dan bakatnya masing-masing.
Konsep sekolahnya manusia
Ada tujuh komponen utama yang diperlukan dalam mendisain sekolah unggul dengan konsep sekolahnya manusia. Tujuh komponen sekolahnya manusia adalah sebagai berikut:
1. Religion and character building
Sekolahnya manusia merupakan sekolah yang mempunyai pandangan dunia dan visi keagamaan yang kuat. Untuk membangun karakter siswanya, sekolahnya manusia juga mengembangkan pemikiran, membelajarkan jiwa, mendidik siswa kreatif, mampu menyelesaikan masalah, berakhlakul karimah dan mampu memberi manfaat bagi lingkungannya.
2. Agent of change
Sekolahnya manusia harus berperan sebagai agen pengubah kondisi siswanya dari kondisi negatif menjadi kondisi positif.
3. The Best Process
Sekolahnya manusia mengedepankan proses pembelajaran yang berkualitas dan menyenangkan untuk semua kondisi. Bagaimanapun ragam kondisi in put siswa akan menjadi out put yang baik jika dalam proses pembelajarann mereka dapat dilaksanakan secara optimal. Menerima siswa dengan in put siswa apa adanya untuk diproses secara baik hingga menjadi out put siswa yang berprestasi adalah misi utama sekolahnya manusia.
4. The Best Teachers
Dalam konsep sekolahnya manusia guru merupakan fasilitator dan katalisator. Dalam pembelajarannya guru lebih dulu mengenal gaya belajar siswa. Dalam kegiatan belajar mengajarnya, guru diharapkan mampu menyelaraskan dengan gaya belajar siswa.
5. Active Learning
Strategi belajar pada sekolahnya manusia menitik beratkan pada keaktifan siswa, sehingga siswa mempunyai target untuk BISA APA?, selain harus TAHU APA?
6. Applied learning
Dalam pembelajarannya sekolahnya manusia, guru diharapkan selalu berusaha mengaitkan materi belajar dengan kehidupan nyata sehari-hari, sehingga siswa tidak hanya belajar konsep-konsep abstrak tetapi pembelajaran yang langsung diaplikasikan
7. Management Control
Sekolahnya manusia mempunyai siklus kontrol dalam proses pembelajarannya, mulai dari perencanaan mengajar, konsultasi, observasi kelas, dan analisa perbaikan yang dilakukan secara kontinyu.
Aplikasi Multiple Intelelligece System (MIS)
Ingat, masing-masing siswa memiliki kecerdasan yang bergeda-beda. Dalam MIS dikenal ada 8 jenis kecerdasan siswa, yaitu interpersonal (cerdas bergaul), linguistic (cerdas bahasa), music (cerdas musik), spasial-visual (cerdas gambar dan ruang), interpersonal (cerdas diri), matematis-logis (cerdas angka dan logika), kinestetis (cerdas gerak), dan naturalis (cerdas alam).
Dalam mengklasifikasikan jenis kecerdasan siswa sekolah seharusnya melakukan riset tentang kondisi siswa yang mendaftar ke sekolah tersebut, sehingga didapat data yang cukup. Data tersebut merupakan masukan penting dan acuan bagi sekolah dalam proses belajar mengajar. Teknik yang sesuai untuk mengidentifikasi jenis kecerdasan siswa adalah Multiple Intelligence Research (MIR), yaitu sebuah riset untuk mengetahui kecenderungan kecerdasan dan gaya belajar siswa.
Hasil MIR ada dua bagian, yaitu berupa laporan dan saran. Bagian laporan memberikan keterangan psikologis perkembangan kecerdasan anak dan kecenderungan gaya belajar. Sedangkan bagian saran memberikan masukan kepada guru dan orangtua untuk melakukan aktivitas-aktivitas kreatif untuk melejitkan kecerdasan anak. Aktivitas tersebut meliputi kegiatan kreatif dan jenis permainan yang sesuai untuk siswa.
Kegunaan MIR dalam kegiatan akademik adalah dapat menjadi pedoman bagai guru untuk melihat kecenderungan kecerdasan siswa sehingga dapat disesuaikan dengan gaya mengajar guru. MIR juga dapat digunakan untuk pembagian kelas sesuai dengan kecenderungan kecerdasan. Data MIR dapat digunakan sebagai data riwayat kecerdasan setiap siswa pada riset berikutnya dan dapat digunakan juga untuk memilih jurusan di perguruan tinggi.
Bagi orang tua, kegunaan MIR bermanfaat untuk katalisator atau teknik pemantik kreatifitas anak. MIR juga berguna sebagai fasilitator atau sumber informasi untuk orang tua dan anak tentang kebiasaan yang perlu dikembangkan sehingga diharapkan anak cepat menemukan kondisi akhir terbaiknya. MIR adalah modal utama dalam pelaksanaan proses pembelajaran di sekolahnya manusia. Hasil MIR dijadikan sebagai pijakan utama untuk menyelaraskan gaya mengajar guru dan gaya belajar siswa. Jika siswa dan guru bersinergi dalam kegiatan belajar mengajar, maka terwujudlah “The Best Process”. Kondisi itulah yang menjadi karakter khas dari sekolahnya manusia.
Aplikasi dari konsep sekolahnya manusia merupakan tantangan tersendiri bagi dunia pendidikan kita. Sebab sistem pendidikan kita masih sangat mengedepankan seleksi akademik atau non akademik untuk menjaring siswa barunya. Mulai dari seleksi NUN, tes kemampuan, portofolio sertifikat, dan lain-lain. Fenomena ini terjadi karena jumlah pendaftar lebih besar dari kuota bangku yang tersedia, sehingga dibutuhkan proses seleksi. Selain itu, sekolah berlomba merekrut in put calon siswanya yang terbaik. Jadi sangat wajar jika ide sekolah yang menerima siswa baru dengan kondisi kemampuan apa adanya mendapat respon yang kontroversial, terutama bagi sekolah negeri atau sekolah swasta yang sudah merasa favorit. Tapi barangkali ada sisi-sisi positif yang bisa kita petik dari ide mulia ini. Wallahua’lam*Penulis adalah guru MAN 3 Malang