Oleh:
Mishad*
“Sekolah yang punya maqom (kedudukan) tinggi adalah sekolah yang tidak menyeleksi muridnya pada saat penerimaan siswa baru (PSB), tetapi sekolah yang menerima siswa baru apa adanya . Tetapi sekolah itulah yang akan mencerdaskannya, membekalinya dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan guna menyongsong masa depannya” (Munif Chatib)
Seperti yang kita ketahui tiap tahun pelajaran baru, sekolah-sekolah membuka pendaftaran siswa baru (PSB). Sekolah yang menjadi rebutan calon siswa baru adalah sekolah yang dianggap mereka sebagai sekolah favorit. Saking banyaknya pendaftar ke sekolah favorit, maka banyak dari sekolah tersebut menyeleksi calon siswa barunya. Ada beragam cara mereka untuk menyeleksi siswa barunya, mulai me-ranking Nilai Ujian Nasional (NUN), tes kemampuan akademik, tes kesehatan, wawancara, seleksi piagam penghargaan, dan lain-lain. Tidak heran, jika siswa baru yang lolos ke sekolah-sekolah favorit adalah siswa pilihan yang punya NUN tinggi dan ranking tes-nya juga tinggi.
Dengan bekal “The Best Input” sekolah-sekolah favorit punya modal yang cukup untuk dapat menjadikan siswa-siswinya meraih prestasi terbaik. Sangat lumrah jika input yang baik menghasilkan siswa yang berprestasi dalam proses belajar maupun out put-nya. Tetapi mencetak siswa dengan in put seadanya menjadi siswa yang berprestasi dalam proses belajarnya dan lulus dengan predikat yang baik adalah sekolah yang menekankan “The Best Process”. Disain sekolah dengan menekankan proses pembelajaran terbaik (tidak harus in put yang baik) adalah salah satu konsep sekolah unggul “sekolahnya manusia” yang digagas oleh Munif Chatib, seorang konsultan pendidikan didikan langsung Bobby De Porter, master quantum teaching.
Pendidikan “The Best Process” yang dikembangkan oleh Munif Chatif menggunakan pendekatan Multipple Intelegence System (MIS). Masing-masing siswa dianggap memiliki beberapa kecerdasan dan gaya belajar. Model pembagian kelas yang dikembangkan adalah mengklasifikasikan siswa berdasarkan gaya belajar dan jenis kecerdasan yang sinergi. Harapannya, gaya mengajar guru disesuaikan dengan gaya belajar dan jenis kecerdasan siswa. Kondisi tersebut diharapkan dapat melejitkan potensi siswa untuk berprestasi menurut minat dan bakatnya masing-masing.
Konsep sekolahnya manusia
Ada tujuh komponen utama yang diperlukan dalam mendisain sekolah unggul dengan konsep sekolahnya manusia. Tujuh komponen sekolahnya manusia adalah sebagai berikut:
1. Religion and character building
Sekolahnya manusia merupakan sekolah yang mempunyai pandangan dunia dan visi keagamaan yang kuat. Untuk membangun karakter siswanya, sekolahnya manusia juga mengembangkan pemikiran, membelajarkan jiwa, mendidik siswa kreatif, mampu menyelesaikan masalah, berakhlakul karimah dan mampu memberi manfaat bagi lingkungannya.
2. Agent of change
Sekolahnya manusia harus berperan sebagai agen pengubah kondisi siswanya dari kondisi negatif menjadi kondisi positif.
3. The Best Process
Sekolahnya manusia mengedepankan proses pembelajaran yang berkualitas dan menyenangkan untuk semua kondisi. Bagaimanapun ragam kondisi in put siswa akan menjadi out put yang baik jika dalam proses pembelajarann mereka dapat dilaksanakan secara optimal. Menerima siswa dengan in put siswa apa adanya untuk diproses secara baik hingga menjadi out put siswa yang berprestasi adalah misi utama sekolahnya manusia.
4. The Best Teachers
Dalam konsep sekolahnya manusia guru merupakan fasilitator dan katalisator. Dalam pembelajarannya guru lebih dulu mengenal gaya belajar siswa. Dalam kegiatan belajar mengajarnya, guru diharapkan mampu menyelaraskan dengan gaya belajar siswa.
5. Active Learning
Strategi belajar pada sekolahnya manusia menitik beratkan pada keaktifan siswa, sehingga siswa mempunyai target untuk BISA APA?, selain harus TAHU APA?
6. Applied learning
Dalam pembelajarannya sekolahnya manusia, guru diharapkan selalu berusaha mengaitkan materi belajar dengan kehidupan nyata sehari-hari, sehingga siswa tidak hanya belajar konsep-konsep abstrak tetapi pembelajaran yang langsung diaplikasikan
7. Management Control
Sekolahnya manusia mempunyai siklus kontrol dalam proses pembelajarannya, mulai dari perencanaan mengajar, konsultasi, observasi kelas, dan analisa perbaikan yang dilakukan secara kontinyu.
Aplikasi Multiple Intelelligece System (MIS)
Ingat, masing-masing siswa memiliki kecerdasan yang bergeda-beda. Dalam MIS dikenal ada 8 jenis kecerdasan siswa, yaitu interpersonal (cerdas bergaul), linguistic (cerdas bahasa), music (cerdas musik), spasial-visual (cerdas gambar dan ruang), interpersonal (cerdas diri), matematis-logis (cerdas angka dan logika), kinestetis (cerdas gerak), dan naturalis (cerdas alam).
Dalam mengklasifikasikan jenis kecerdasan siswa sekolah seharusnya melakukan riset tentang kondisi siswa yang mendaftar ke sekolah tersebut, sehingga didapat data yang cukup. Data tersebut merupakan masukan penting dan acuan bagi sekolah dalam proses belajar mengajar. Teknik yang sesuai untuk mengidentifikasi jenis kecerdasan siswa adalah Multiple Intelligence Research (MIR), yaitu sebuah riset untuk mengetahui kecenderungan kecerdasan dan gaya belajar siswa.
Hasil MIR ada dua bagian, yaitu berupa laporan dan saran. Bagian laporan memberikan keterangan psikologis perkembangan kecerdasan anak dan kecenderungan gaya belajar. Sedangkan bagian saran memberikan masukan kepada guru dan orangtua untuk melakukan aktivitas-aktivitas kreatif untuk melejitkan kecerdasan anak. Aktivitas tersebut meliputi kegiatan kreatif dan jenis permainan yang sesuai untuk siswa.
Kegunaan MIR dalam kegiatan akademik adalah dapat menjadi pedoman bagai guru untuk melihat kecenderungan kecerdasan siswa sehingga dapat disesuaikan dengan gaya mengajar guru. MIR juga dapat digunakan untuk pembagian kelas sesuai dengan kecenderungan kecerdasan. Data MIR dapat digunakan sebagai data riwayat kecerdasan setiap siswa pada riset berikutnya dan dapat digunakan juga untuk memilih jurusan di perguruan tinggi.
Bagi orang tua, kegunaan MIR bermanfaat untuk katalisator atau teknik pemantik kreatifitas anak. MIR juga berguna sebagai fasilitator atau sumber informasi untuk orang tua dan anak tentang kebiasaan yang perlu dikembangkan sehingga diharapkan anak cepat menemukan kondisi akhir terbaiknya. MIR adalah modal utama dalam pelaksanaan proses pembelajaran di sekolahnya manusia. Hasil MIR dijadikan sebagai pijakan utama untuk menyelaraskan gaya mengajar guru dan gaya belajar siswa. Jika siswa dan guru bersinergi dalam kegiatan belajar mengajar, maka terwujudlah “The Best Process”. Kondisi itulah yang menjadi karakter khas dari sekolahnya manusia.
Aplikasi dari konsep sekolahnya manusia merupakan tantangan tersendiri bagi dunia pendidikan kita. Sebab sistem pendidikan kita masih sangat mengedepankan seleksi akademik atau non akademik untuk menjaring siswa barunya. Mulai dari seleksi NUN, tes kemampuan, portofolio sertifikat, dan lain-lain. Fenomena ini terjadi karena jumlah pendaftar lebih besar dari kuota bangku yang tersedia, sehingga dibutuhkan proses seleksi. Selain itu, sekolah berlomba merekrut in put calon siswanya yang terbaik. Jadi sangat wajar jika ide sekolah yang menerima siswa baru dengan kondisi kemampuan apa adanya mendapat respon yang kontroversial, terutama bagi sekolah negeri atau sekolah swasta yang sudah merasa favorit. Tapi barangkali ada sisi-sisi positif yang bisa kita petik dari ide mulia ini. Wallahua’lam*Penulis adalah guru MAN 3 Malang
Pengikut
Jumat, 26 Maret 2010
Jumat, 08 Januari 2010
BERPRILAKU BAIK MELALUI UCAPAN, PERBUATAN, DAN SEGALA BENTUK AL-MA’RUF
Diantara sarana untuk menghilangkan kegundahan, kesedihan dan kegelisahan adalah : Berprilaku baik kepada orang lain melalui ucapan, perbuatan dan segala bentuk al-ma’ruf (kebajikan). Semua itu adalah kebaikan untuk diri dan tindak kebajikan untuk orang lain. Lantaran kebajikan itu dan sesuai dengan kadar kebajikan itu jua, Allah menangkis segala kegundahan dan kesedihan, baik untuk orang yang berprilaku baik atau untuk orang yang jahat. Hanya saja, yang diperoleh orang mu’min lebih sempurna. Ia unggul karena kebaikannya timbul dari keikhlasan dan keberharapan hanya pada pahala Allah. Karena ia mengharapkan yang baik, maka Allah memudahkan baginya berprilaku baik. Dan, karena ikhlas dan hanya mengaharap pahala dari Allah, maka Allah menangkis untuknya segala cobaan berat. Allah berfirman.“Artinya : Tidak ada kebaikan pada kebanyakan pembicaraan-pembicaraan antara mereka, kecuali pembicaraan orang yang menyuruh (manusia) bersedekah, atau melakukan kebajikan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami mengaruniakan kepadanya pahala yang besar” [An-Nisaa : 114]Allah Subhanahu wa Ta’ala menerangkan, bahwa itu semua adalah suatu kebaikan yang timbul dari pelakunya. Sedangkan suatu kebaikan akan menghasilkan kebaikan dan menangkis keburukan. Dan bahwasanya orang mu’min yang hanya berharap pahala Allah akan dianugrahi olehNya pahala yang agung. Termasuk pahala agung itu adalah hilangnya kegundahan, kesedihan, keruwetan hati dan semacamnya.BERSIKAP ADIL DAN BIJAKSANA DALAM BERGAULRasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.“Artinya : Janganlah seorang mu’min lelaki membenci seorang wanita mu’minah. Karena, kalaupun ia tidak menyenangi suatu karakter yang ada padanya, tentu ia menyenangi karakter lain yang ada padanya” [1]Hadits ini mengandung dua hikmah yang agung.Pertama.Arahan untuk bergaul dengan isteri, kerabat dekat, teman, orang yang bekerja sama dengan anda, dan semua yang ada keterkaitan dan hubungan antara anda dan dia. Yaitu, seyogianya anda tata batin anda dalam bergaul dengannya, bahwa pasti ia mempunyai cela atau kekurangan atau hal lain yang tidak anda sukai. Jika anda dapati hal yang demikian, bandingkanlah itu dengan kuatnya pertalian dan kesinambungan cinta antara anda dan dia yang wajib atau seyogianya anda bina, dengan mengingat sisi-sisi kebaikan, maksud-maksud baik yang bersifat umum atau khusus yang ada pada dirinya. Dengan menutup mata dari sisi-sisi keburukkan dan memandang sisi kebaikan, persahabatan dan tali hubungan akan langgeng dan ketenteraman batin akan terwujud bagi anda.Kedua.Yaitu hilangnya kegelisahan maupun keguncangan,langgengnya ketulusan cinta, keberlanjutan menunaikan tuntunan bergaul yang bersifat wajib maupun sunnah, dan terwujudnya ketentraman batin antara kedua belah pihak.Baransiapa yang tidak mengambil pelajaran dari hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini, tetapi bahkan ia melakukan sebaliknya, yaitu dengan memperhatikan sisi-sisi keburukan dan membutakan mata dari melihat sisi-sisi kebaikan, maka pasti ia akan guncang dan gelisah, dan pasti tidaklah mulus cinta yang ada antara dia dan orang yang sudah terjalin hubungan dengannya. Disamping itu, sejumlah hak maupun kewajiban yang harus dipelihara oleh masing-masing dari keduanyapun akan putus.Banyak tokoh atau pahlawan yang mampu menguatkan hatinya untuk sabar dan tenang saat terjadinya bencana atau malapetaka besar. Namun, di saat menghadapi perkara-perkara remeh dan sederhana, maka justeru guncang, dan kepolosan hatinya tidak jernih lagi. Sebabnya adalah karena mereka dapat menguatkan hati dalam menghadapi perkara-perkara besar,namun saat menghadapi perkara-perkara kecil, justeru mereka biarkan diri mereka tanpa kontrol, sehingga membahayakan mereka dan berefek buruk pada ketenangan mereka.Orang yang berkepribadian kokoh mampu menguatkan hatinya untuk menghadapi perkara kecil maupun besar. Ia memohon pertolongan Allah untuk menghadapinya dan memohon agar Allah tidak menitipkan dirinya kepada dirinya walau sekejap mata. Maka, di saat itulah perkara kecil menjadi mudah baginya, sebagaimana perkara besar pun menjadi mudah. Dan, ia tetap berjiwa tenteram dan berhati tenang dan nyaman.
Jumat, 18 Desember 2009
Refleksi Akhir dan Awal Tahun
إRefleksi Akhir TahunPenghujung 2009 M,sekaligus penghujung 1430 H telah terlihat dekat di depan mata. Tahun baru telah menyongsong kita. Lalu apa yang kita hadirkan untuk masa depan hari-hari kita di tahun 2010/1431 ? Agenda apa yang telah kita siapkan? Planning apa yang akan kita susun? Sudah seyogyanya tidak cuma urusan dunia dan kehidupan sehari-hari kita. Namun kita juga harus memperbaiki dan meningkatkan kualitas ruhani kita. Hal yang sebenarnya adalah titik dan inti dari tujuan asal penciptaan manusia. Yaitu menjadikan hidupnya bernilai ibadah, aplikasi penghambaan makhluk pada penciptanya, yang pada saat yang sama, justru merupakan sumber ketenangan makhluk itu sendiri (lantas, adakah yang kita cari selain rasa aman dan ketenangan hidup lahir batin?).Sudahkah kita meluangkan waktu barang sejenak saja untuk merenung? Untuk bertafakkur? Untuk mengheningkan cipta berkontemplasi meraba jiwa dan diri? Apa yang telah kita lakukan sepanjang tahun ini? Bagaimana fluktuasi kualitas ruhani kita, Menunjukkan grafik meningkat atau malah menurun tajam? Jika memang naik, alhamdulillah, patut kita bersyukur, sekaligus tetap menetralkan hati pada posisinya agar tidak terpeleset pada perasaan bangga diri yang bisa mengerosi nilai ikhlas di hati kita. Dan jika makin menurun, saat yang tepat untuk menutup tahun dengan beristighfar, menyesal serta bertekad untuk memperbaiki diri di tahun depan.Adalah tentu orang yang beruntung jika hari ini dia lebih baik dari kemarin.. Dan terpedaya jika hari ini kualitasnya stagnan tetap sama dengan kemarin.. Serta otomatis merugi jika hari ini lebih dan semakin memburuk daripada kemarin. Itu yang hari ini, bagaimana buat hari esok?Kontemplasi yang terhenti dan masih terbatas dalam pembenahan jiwa dan diri sendiri. Sekarang, pergaulan kita dengan orang lain, perlu dan harus juga kita cari catatan merahnya dan harus kita garis bawahi. Apakah tingkah laku kita, kata-kata kita, sikap kita, melukai orang lain apa tidak? Ataukah di hati kita, masih ada ketidaksukaan pada orang lain atau tidak? Ataukah kita masih saja tidak peduli dengan keadaan orang lain atau tidak? Mengingat posisi kita sebagai makhluk sosial yang interaktif. Sebab hal itu semua berpengaruh pada pola kerja hati yang menjadi dinamo kehidupan kita. Sekali hati itu rusak oleh virus-virus penyakit hati, maka berarti terancamnya eksistensi kestabilan hidup kita secara vertikal dan horizontal sekaligus, harus segera kita tanggulangi sebelum memutus tali ikatan batin kepada sesama makhluk, dan tali ikatan ruhani kepada Allah Ta'ala.Momentum akhir tahun yang tepat untuk kembali menata dan mengkontrasikan serta mengarahkan tujuan hidup kita pada jalan yang sebenarnya, apapun itu bentuk profesi dan status kita. Inna akromakum indallahi atqaakum. Sebaik-baik kalian menurut Allah adalah yang paling bertaqwa. Dan karena hanya Allah saja yang tahu siapa yang paling takwa, maka kita harus berkompetisi tanpa ada rasa rivalitas dalam meraih titel takwa itu.Akhir catatan, hidup dan segala pengalaman juga kejadian yang telah lalu, adalah pelajaran. Tak akan ada kerugian jika kita melihat masa depan sebagai semangat dan tujuan, meniti masa kini sebagai jalan, dan meneliti masa lampau sebagai koreksi, peta dan pegangan.. Dan semoga kita makin baik di hari-hari ke depan, wallahu-l musta'an.(Diambil dari posting-posting Grup Bengkel Jiwa, dengan perubahan dan penambahan)¤ Bekal Untuk Akhir dan Awal TahunPuasa Akhir Dzul Hijjah dan Awal Muharromذَكَرَ الْحَافِظُ ابْنُ حَجَرٍ عَنْ حَفْصَةَ أَنَّ النَّبِيَّ قَالَ: مَنْ صَامَ أخِرَ يَوْمٍ مِنْ ذِي الْحِجَّةِ وَأَوَّلَ يَوْمٍ مِنَ الْمُحَرَّمِ جَعَلَهُ اللهُ تَعَالَى لَهُ كَفَارَةَ خَمْسِيْنَ سَنَةً، وَصَوْمُ يَوْمٍ مِنَ الْمُحَرَّمِ بِصَوْمِ ثَلاَثِيْنَ يَوْمًا.Al-Hafidz Ibnu Hajar menuturkan dari Sayyidah Hafsoh, sesungguhnya Rosululloh bersabda,: "Barang siapa berpuasa pada hari terakhir bulan Dzul Hijjah dan hari pertama bulan Muharrom, maka Alloh menghapus dosanya selama 50 tahun. Dan puasa sehari pada bulan Muharrom sama dengan puasa 30 hari.”Do'a Akhir Tahunبِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ. وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ألِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. [ اَللّهُمَّ ] مَا عَمِلْتُ مِنْ عَمَلٍ فِي السَّنَةِ الْمَاضِيَةِ وَلَمْ تَرْضَهُ، وَنَسِيْتُهُ وَلَمْ تَنْسَهُ، وَحَلُمْتَ عَنِّيْ مَعَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوْبَتِيْ، وَدَعَوْتَنِيْ إِلَى التَّوْبَةِ بَعْدَ جَرَاءَتِيْ عَلَيْكَ. [ اَللّهُمَّ ] وَمَا عَمِلْتُ مِنْ عَمَلٍ تَرْضَاهُ وَوَعَدْتَنِيْ عَلَيْهِ الثَّوَابَ وَالْغُفْرَانَ فَتَقَبَّلْهُ مِنِّيْ وَلاَ تَقْطَعْ رَجَائِيْ مِنْكَ يَا كَرِيْمُ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ألِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. (٣×).Do'a ini dibaca setelah Ashar pada hari terakhir bulan Dzil Hijjah, maka setan merasa menyesal menganggu kita selama setahun, tetapi semuanya gagal hanya karena do'a yang kita ucapkan ini. Do'a Awal Tahunبِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلاَةً تَمْلأُ خَزَائِنَ اللهِ نُوْراً. وَتَكُوْنُ لَنَا وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ فَرَجًا وَفَرَحًا وَسُرُوْرًا وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. اَللّهُمَّ أَنْتَ اْلأَبَدِيُّ الْقَدِيْمُ اْلأَوَّلُ. وَعَلَى فَضْلِكَ الْعَظِيْمِ وَكَرِيْمِ جُوْدِكَ الْعَمِيْمِ الْمُعوَّلِ. وَهٰذَا عَامٌ جَدِيْدٌ قَدْ أَقْبَلَ. أَسْأَلُكَ الْعِصْمَةَ فِيْهِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَأَوْلِيَآئِهِ وَالْعَوْنَ عَلَى هٰذِهِ النَّفْسِ اْلأَمَّارَةِ بِالسُّوْءِ وَاْلإِشْتَغَالَ بِمَا يُقَرِّبُنِيْ إِلَيْكَ زُلْفَى، يَا ذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ. وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ (٣×).Barang siapa membaca do'a ini sebanyak 3 kali pada malam pertama bulan Muharrom, maka akan aman dari gangguan syetan dan akan mendapatkan pengawalan dari 2 malaikat, insya Alloh.Keterangan: Akhir tahun insya Alloh jatuh pada hari Kamis (17 Desember 2009 M). Sehingga do’a akhir tahun di atas, kita baca setelah sholat Ashar pada hari Kamis 17 Desember 2009 M, dan do’a awal tahunnya kita baca setelah sholat Maghribnya (malam Jum’at). Sedangkan puasanya, kita laksanakan pada hari Kamis dan Jum’at.
Kembali ke PesanSunting Langganan
Buat sebuah Iklan
XFree Oil Commentary
Kembali ke PesanSunting Langganan
Buat sebuah Iklan
XFree Oil Commentary
Selasa, 27 Oktober 2009
SUMPAH PEMUDA
Salah satu peristiwa paling bersejarah di indonesia adalah sumpah pemuda (28 Oktober 1928). Rumusan / teks sumpah pemuda ditulis oleh Moehammad Yamin. tentang Sumpah ini awalnya dicabakan oleh Soegondo walau akhirnya dijelaskan secara rinci oleh Yamin.
Tentang isi teks dari Sumpah pemuda adalah sebagai berikut :
PERTAMA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia.
KEDOEA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia.
KETIGA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia.
Gagasan tentang penyelenggaraan Kongres Pemuda II (momen pembacaan teks sumpah pemuda)adalah dari Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI). Saat kongres ini ditudup diperdengarkan lagu Indonesia raya karya Wage Rudolf Supratman. Yang akhirnya juga ditutup dengan mengumumkan rumusan hasil kongres. Oleh para pemuda saat itu, rumusan itu diucapkan sebagai Sumpah Setia.
Para peserta dari kongres sumpah pemuda ini adalah dari berbagai organisasi pemuda seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, PPPI, Pemuda Kaum Betawi bahkan ada juga keturunan Tionghoa yang bertindak sebagai pengamat.
Dari teks tentang artikel sejarah yang bintang dapat, gedung tempat pemakaian dari acara ini adalah Bangunan di Jalan Kramat Raya 106,. Sebuah bangunan tempat pemondokan bagi pelajar maupun mahasiswa. Sekarang gedung ini dikenal dengan Gedung Sumpah Pemuda
Untuk artikel sejarah lebih lengkap silahkan lihat di wikipedia tentang sumpah pemuda. Gambar diatas adalah teks sumpah pemuda yang saya dapat melalui internet. Semoga kita dapat terus menghayati dan melaksanakan cita-cita para pahlawan kita.
Tentang isi teks dari Sumpah pemuda adalah sebagai berikut :
PERTAMA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia.
KEDOEA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia.
KETIGA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia.
Gagasan tentang penyelenggaraan Kongres Pemuda II (momen pembacaan teks sumpah pemuda)adalah dari Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI). Saat kongres ini ditudup diperdengarkan lagu Indonesia raya karya Wage Rudolf Supratman. Yang akhirnya juga ditutup dengan mengumumkan rumusan hasil kongres. Oleh para pemuda saat itu, rumusan itu diucapkan sebagai Sumpah Setia.
Para peserta dari kongres sumpah pemuda ini adalah dari berbagai organisasi pemuda seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, PPPI, Pemuda Kaum Betawi bahkan ada juga keturunan Tionghoa yang bertindak sebagai pengamat.
Dari teks tentang artikel sejarah yang bintang dapat, gedung tempat pemakaian dari acara ini adalah Bangunan di Jalan Kramat Raya 106,. Sebuah bangunan tempat pemondokan bagi pelajar maupun mahasiswa. Sekarang gedung ini dikenal dengan Gedung Sumpah Pemuda
Untuk artikel sejarah lebih lengkap silahkan lihat di wikipedia tentang sumpah pemuda. Gambar diatas adalah teks sumpah pemuda yang saya dapat melalui internet. Semoga kita dapat terus menghayati dan melaksanakan cita-cita para pahlawan kita.
Selasa, 15 September 2009
Mudik
Oleh:
Mishad Khairi
Malam itu suasana kota Malang tampak semarak sekali. Suara takbir bersahut-sahutan dari beberapa mushola dan masjid. Bahkan ada beberapa kendaraan, mulai sepeda motor, pick up hingga truk membawa rombongan takbir keliling. Semua kegiatan tersebut dilakukan dalam rangka takbiran untuk mengagungkan asma Allah SWT. Allahu Akbar ... Allahu Akbar .... Allahu Akbar.
Di saat yang sama, Azis dan Ali kelihatan masih sibuk menyiapkan agenda pelaksanaan sholat Idhul Fitri besok hari. Mereka memasang tenda dan menggelar karpet tambahan untuk persiapan jika jamaah sholat Ied besok meluber sampai keluar masjid. Dua pemuda perantau ini harus bersabar untuk tidak mudik ke kampungnya sebelum distribusi zakat fitrah/Maal dan pelaksanaan sholat Ied di masjidnya tuntas. Azis dan Ali adalah dua mahasiswa sebuah PTN di Malang yang kuliah sambil ber-khidmah- di sebuah masjid perumahan.
Nasib Azis dan Ali masih mending jika di bandingkan dengan nasib Mukhlas. Mukhlas adalah seoarang TKI yang bekerja di luar negeri. Dia berpisah dengan anak istri yang ada di tanah air. Saat hari raya seperti ini, dia belum tentu bisa pulang. Hal ini lantaran ikatan pekerjaan yang belum bisa ditinggalkan. Di samping itu, jika pulang tiap tahun, maka akan menambah pengeluaran. Mukhlas harus bersabar untuk menunda kepulangannya pada lebaran tahun depan agar bisa membawa uang lebih. Mungkin masih banyak cerita lain tentang mereka yang harus sabar untuk menunda keinginan mudiknya. Walaupun agak tertunda momen mudik pada hari raya adalah kebutuhan yang tak bisa digantikan dengan telpon, sms, apalagi dengan mengirim kartu lebaran kepada sanak famili di kampung.
Arus Mudik Tahun Ini
Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal menyatakan jumlah pemudik Hari raya Idhul Fitri 2008 diperkirakan mencapai sekitar 15,8 juta jiwa. "Dari perkiraan jumlah pemudik tersebut yang menggunakan angkutan darat sekitar 9.888.000 jiwa, terdiri dari angkutan jalan 6.922.000 jiwa, angkutan sungai danau dan penyeberangan 2.966.000 jiwa. Rata-rata tumbuh sekitar 5,2 persen dari tahun lalu," kata Menhub di Semarang, Jumat (29/8). Kemudian yang menggunakan angkutan kereta api (KA) sekitar 2.377.000 jiwa atau naik 5,38 persen dari tahun lalu. Pemudik yang memanfaatkan angkutan laut sekitar 1.018.000 jiwa, angkutan udara 1.885.000 jiwa atau naik 9,32 persen dari tahun lalu. "Penumpang angkutan laut diperkirakan naik paling tinggi sekitar 10 persen yang tahun lalu hanya mencapai 926.000 jiwa. Kondisi ini diperkirakan berlangsung pada H-7 hingga H+7 Hari raya Idhul Fitri 2008," katanya. Ia mengatakan, jumlah kendaraan motor tanpa sepeda motor diperkirakan meningkat 4,61 persen yakni 1.808.150 kendaraan tahun 2007 menjadi 1.891.523 kendaraan tahun 2008. Sejumlah kendaraan tersebut terdiri dari mobil pribadi sebanyak 1.284.488 kendaraan, bus besar 1999.451 kendaraan, bus sedang 43.994 kendaraan, nonbus 64.468 kendaraan, dan truk 263.000.Selain itu, katanya, sekitar 2.506.572 sepeda motor diperkirakan akan hilir mudik selama Hari raya Idhul Fitri. Kesiapan sarana, katanya, untuk angkutan jalan sebanyak 34.395 bus, dengan kapasitas 16,5 juta orang, angkutan sungai danau dan penyeberangan 127 kapal dengan kapasitas 11,4 juta orang, 223 KA dengan kapasitas 3,25 juta orang, angutan laut 593 kapal kapasitas 3,3 juta orang, dan angkutan udara 183 pesawat kapasitas 2,11 juta orang."Jumlah sarana yang ada melebihi permintaan. Sarana dan kebutuhan cukup memadai untuk mengangkut 15,79 juta jiwa arus mudik," katanya. (KOMPAS, 30/8/2008)
Mengapa Harus Mudik?
Mudik, sebuah istilah yang akan sangat hangat menjadi pembicaraan pada bulan ramadhan terutama menjelang Idhul Fitri tiba. Puluhan tahun istilah ini telah dikenal masyarakat luas di Indonesia dari berbagai kalangan. Menurut Krismanto (2007), mudik berasal dari kata udik, yang bisa diartikan pedalaman atau bisa juga pinggiran, namun dalam hal ini pedalaman dikonotasikan multidimensi. Secara harfiah berarti kembali dari sebuah titik pusat kehidupan masyarakat ke pedalaman atau pinggiran daerah mereka berasal, sedangkan secara simbolik mudik merupakan budaya masyarakat Indonesia yang berdimensi religius, dimensi demografi, ekonomi, dan lain lain.
Setiap tahun tepatnya di hari raya Idhul Fitri masyarakat yang sehari-harinya hiruk pikuk mencari penghidupan di kota akan mudik pulang kampung. Dari kota manapun mereka akan ramai-ramai pulang ke keluarganya masing-masing untuk merayakan hari raya Idhul Fitri bersama-sama. Namun karena kota Jakartalah yang terbesar dalam urusan mudik ini maka sorotan mudik akan terpusat di kota Jakarta. Mereka akan mudik menuju berbagai penjuru tanah air dari Sabang bahkan sampai Merauke.
Hiruk pikuk mudik manusia sebanyak itu tak ayal membuat pemerintah sibuk untuk mengurusinya terutama dalam hal transportasi. Berbagai macam transportasi baik darat, udara dan laut disiagakan. Bahkan untuk transportasi tertentu sudah sibuk sejak sebulan yang lalu atau awal Ramadhan. Tak heran jika tiket Kereta api dan pesawat sudah jadi barang langka dan mahal justru ketika Idhul Fitri semakin dekat. Kelangkaan dan mahal itulah yang membuat sebagian masyarakat rela menggunakan sepeda motor walaupun dengan jarak yang sangat jauh dan berisiko tinggi akan kecelakaan. Bahkan jumlahnyapun setiap tahun terus meningkat.
Memang untuk urusan mudik ini masyarakat akan rela melakukan apa saja demi tercapainya tujuan mereka ber-Hari raya Idhul Fitri bersama keluarga di kampung. Mereka rela antri tiket berjam-jam bahkan bisa seharian. Tiket semahal apapun akan mereka beli bahkan melalui calo tiket sekalipun. Bahkan tiket tanpa tempat duduk pun merek tetap beli asalkan terangkut. Bermudik dengan sepeda motor juga banyak mereka tempuh, padahal dengan sepeda motor itu mereka akan kepanasan, kehujanan, bahkan menjadi armada yang paling rawan kecelakaan di jalan raya.
Hikmah Mudik
Memang inilah uniknya budaya mudik, tak dapat diingkari banyak hikmah yang bisa diambil dari budaya ini. Hikmah secara religi jelas bahwa mudik merupakan sebuah silaturahmi masal dari umat Islam yang sehari-hari hidup di kota kepada keluarga dan familinya di desa. Keyakinan bahwa silaturahmi merupakan perbuatan amaliyah yang berpahala besar, membuka pintu rezeki dan menambah usia harapan hidup bertambah seakan-akan membakar tekad dan semangat umat untuk ramai-ramai mudik di Idhul Fitri. Sebenarnya mudik juga banyak dilakukan pada waktu-waktu tertentu, namun Idhul Fitri lah momen yang paling sakral. Hikmah lainnya adalah secara kebangsaan, mudik jelas akan semakin memperkuat tali persaudaraan dan persatuan bangsa. Akan nampak jelas ikatan kekeluargaan yang kuat dan kental masyarakat yang tinggal di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di momen mudik Idhul Fitri itu. Belum lagi mereka yang mudik antar kota lain di seluruh wilayah tanah air selain Jakarta. Mereka yang menyebar dari berbagai penjuru kota akan saling bertemu di kampung dan berbagi cerita dan kisah hidup.
Hikmah secara sosial ekonomi, mudik merupakan sebuah gambaran kepulangan masal dari masyarakat daerah yang telah bertekad melakukan sebuah mobilitas sosial di kota. Secara umum mobilitas sosial dapat digambarkan sebagai sebuah proses perpindahan atau kesempatan untuk berpindah pada kelompok-kelompok sosial yang berada di masyarakat, terutama sekali proses perpindahan dari kelompok masyarakat yang kurang beruntung menjadi masyarakat yang lebih beruntung secara sosial ekonomi. Kota adalah menjadi tempat tujuan mereka untuk bermobilitas sosial tersebut, walaupun pada kenyataannya mereka belum tentu berhasil melakukannya. Berhasil dalam arti pindah dari kurang beruntung menjadi beruntung secara ekonomi. Dari proses tersebut tentu banyak materi, cerita dan pengalaman yang mereka bagikan kepada sanak saudara ketika mudik. Alhasil hikmah ini membawa dampak baik positif maupun negatif.
Positifnya adalah mereka yang berhasil melakukan proses mobilitas dari kurang beruntung menjadi beruntung secara ekonomi yang kemudian dikenal dengan istilah ”orang sukses” akan membawa keberhasilannya secara materi itu ke desanya. Milayaran bahkan trilyunan rupiah akan masyarakat bawa ketika bermudik. Mereka akan belanjakan rupiah mereka baik di sepanjang perjalanan maupun di desanya. Dampak ini sungguh luar biasa. Pemerataan ekonomi yang tidak usah repot-repot direncanakan pemerintah, tapi sudah pasti terjadi setiap tahunnya. Dari hal yang paling sepele seperti membeli makan di jalan-jalan ketika macet, warung makan di sepanjang perjalanan, memberi angpao kepada sanak famili, belanja keperluan Hari raya Idhul Fitri di desa, servis motor dan mobil di bengkel-bengkel daerahnya, bahkan bisa jadi sampai membangun atau renovasi rumah di desa. Tapi dengan adanya mudik nilai kebermaknaan Idhul Fitri akan menjadi semakin mengena dan mendalam baik untuk diri pribadi setiap muslim, keluarganya, masyarakat desanya bahkan sampai pada negara ini. Wallahua’lam
Mishad Khairi
Malam itu suasana kota Malang tampak semarak sekali. Suara takbir bersahut-sahutan dari beberapa mushola dan masjid. Bahkan ada beberapa kendaraan, mulai sepeda motor, pick up hingga truk membawa rombongan takbir keliling. Semua kegiatan tersebut dilakukan dalam rangka takbiran untuk mengagungkan asma Allah SWT. Allahu Akbar ... Allahu Akbar .... Allahu Akbar.
Di saat yang sama, Azis dan Ali kelihatan masih sibuk menyiapkan agenda pelaksanaan sholat Idhul Fitri besok hari. Mereka memasang tenda dan menggelar karpet tambahan untuk persiapan jika jamaah sholat Ied besok meluber sampai keluar masjid. Dua pemuda perantau ini harus bersabar untuk tidak mudik ke kampungnya sebelum distribusi zakat fitrah/Maal dan pelaksanaan sholat Ied di masjidnya tuntas. Azis dan Ali adalah dua mahasiswa sebuah PTN di Malang yang kuliah sambil ber-khidmah- di sebuah masjid perumahan.
Nasib Azis dan Ali masih mending jika di bandingkan dengan nasib Mukhlas. Mukhlas adalah seoarang TKI yang bekerja di luar negeri. Dia berpisah dengan anak istri yang ada di tanah air. Saat hari raya seperti ini, dia belum tentu bisa pulang. Hal ini lantaran ikatan pekerjaan yang belum bisa ditinggalkan. Di samping itu, jika pulang tiap tahun, maka akan menambah pengeluaran. Mukhlas harus bersabar untuk menunda kepulangannya pada lebaran tahun depan agar bisa membawa uang lebih. Mungkin masih banyak cerita lain tentang mereka yang harus sabar untuk menunda keinginan mudiknya. Walaupun agak tertunda momen mudik pada hari raya adalah kebutuhan yang tak bisa digantikan dengan telpon, sms, apalagi dengan mengirim kartu lebaran kepada sanak famili di kampung.
Arus Mudik Tahun Ini
Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal menyatakan jumlah pemudik Hari raya Idhul Fitri 2008 diperkirakan mencapai sekitar 15,8 juta jiwa. "Dari perkiraan jumlah pemudik tersebut yang menggunakan angkutan darat sekitar 9.888.000 jiwa, terdiri dari angkutan jalan 6.922.000 jiwa, angkutan sungai danau dan penyeberangan 2.966.000 jiwa. Rata-rata tumbuh sekitar 5,2 persen dari tahun lalu," kata Menhub di Semarang, Jumat (29/8). Kemudian yang menggunakan angkutan kereta api (KA) sekitar 2.377.000 jiwa atau naik 5,38 persen dari tahun lalu. Pemudik yang memanfaatkan angkutan laut sekitar 1.018.000 jiwa, angkutan udara 1.885.000 jiwa atau naik 9,32 persen dari tahun lalu. "Penumpang angkutan laut diperkirakan naik paling tinggi sekitar 10 persen yang tahun lalu hanya mencapai 926.000 jiwa. Kondisi ini diperkirakan berlangsung pada H-7 hingga H+7 Hari raya Idhul Fitri 2008," katanya. Ia mengatakan, jumlah kendaraan motor tanpa sepeda motor diperkirakan meningkat 4,61 persen yakni 1.808.150 kendaraan tahun 2007 menjadi 1.891.523 kendaraan tahun 2008. Sejumlah kendaraan tersebut terdiri dari mobil pribadi sebanyak 1.284.488 kendaraan, bus besar 1999.451 kendaraan, bus sedang 43.994 kendaraan, nonbus 64.468 kendaraan, dan truk 263.000.Selain itu, katanya, sekitar 2.506.572 sepeda motor diperkirakan akan hilir mudik selama Hari raya Idhul Fitri. Kesiapan sarana, katanya, untuk angkutan jalan sebanyak 34.395 bus, dengan kapasitas 16,5 juta orang, angkutan sungai danau dan penyeberangan 127 kapal dengan kapasitas 11,4 juta orang, 223 KA dengan kapasitas 3,25 juta orang, angutan laut 593 kapal kapasitas 3,3 juta orang, dan angkutan udara 183 pesawat kapasitas 2,11 juta orang."Jumlah sarana yang ada melebihi permintaan. Sarana dan kebutuhan cukup memadai untuk mengangkut 15,79 juta jiwa arus mudik," katanya. (KOMPAS, 30/8/2008)
Mengapa Harus Mudik?
Mudik, sebuah istilah yang akan sangat hangat menjadi pembicaraan pada bulan ramadhan terutama menjelang Idhul Fitri tiba. Puluhan tahun istilah ini telah dikenal masyarakat luas di Indonesia dari berbagai kalangan. Menurut Krismanto (2007), mudik berasal dari kata udik, yang bisa diartikan pedalaman atau bisa juga pinggiran, namun dalam hal ini pedalaman dikonotasikan multidimensi. Secara harfiah berarti kembali dari sebuah titik pusat kehidupan masyarakat ke pedalaman atau pinggiran daerah mereka berasal, sedangkan secara simbolik mudik merupakan budaya masyarakat Indonesia yang berdimensi religius, dimensi demografi, ekonomi, dan lain lain.
Setiap tahun tepatnya di hari raya Idhul Fitri masyarakat yang sehari-harinya hiruk pikuk mencari penghidupan di kota akan mudik pulang kampung. Dari kota manapun mereka akan ramai-ramai pulang ke keluarganya masing-masing untuk merayakan hari raya Idhul Fitri bersama-sama. Namun karena kota Jakartalah yang terbesar dalam urusan mudik ini maka sorotan mudik akan terpusat di kota Jakarta. Mereka akan mudik menuju berbagai penjuru tanah air dari Sabang bahkan sampai Merauke.
Hiruk pikuk mudik manusia sebanyak itu tak ayal membuat pemerintah sibuk untuk mengurusinya terutama dalam hal transportasi. Berbagai macam transportasi baik darat, udara dan laut disiagakan. Bahkan untuk transportasi tertentu sudah sibuk sejak sebulan yang lalu atau awal Ramadhan. Tak heran jika tiket Kereta api dan pesawat sudah jadi barang langka dan mahal justru ketika Idhul Fitri semakin dekat. Kelangkaan dan mahal itulah yang membuat sebagian masyarakat rela menggunakan sepeda motor walaupun dengan jarak yang sangat jauh dan berisiko tinggi akan kecelakaan. Bahkan jumlahnyapun setiap tahun terus meningkat.
Memang untuk urusan mudik ini masyarakat akan rela melakukan apa saja demi tercapainya tujuan mereka ber-Hari raya Idhul Fitri bersama keluarga di kampung. Mereka rela antri tiket berjam-jam bahkan bisa seharian. Tiket semahal apapun akan mereka beli bahkan melalui calo tiket sekalipun. Bahkan tiket tanpa tempat duduk pun merek tetap beli asalkan terangkut. Bermudik dengan sepeda motor juga banyak mereka tempuh, padahal dengan sepeda motor itu mereka akan kepanasan, kehujanan, bahkan menjadi armada yang paling rawan kecelakaan di jalan raya.
Hikmah Mudik
Memang inilah uniknya budaya mudik, tak dapat diingkari banyak hikmah yang bisa diambil dari budaya ini. Hikmah secara religi jelas bahwa mudik merupakan sebuah silaturahmi masal dari umat Islam yang sehari-hari hidup di kota kepada keluarga dan familinya di desa. Keyakinan bahwa silaturahmi merupakan perbuatan amaliyah yang berpahala besar, membuka pintu rezeki dan menambah usia harapan hidup bertambah seakan-akan membakar tekad dan semangat umat untuk ramai-ramai mudik di Idhul Fitri. Sebenarnya mudik juga banyak dilakukan pada waktu-waktu tertentu, namun Idhul Fitri lah momen yang paling sakral. Hikmah lainnya adalah secara kebangsaan, mudik jelas akan semakin memperkuat tali persaudaraan dan persatuan bangsa. Akan nampak jelas ikatan kekeluargaan yang kuat dan kental masyarakat yang tinggal di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di momen mudik Idhul Fitri itu. Belum lagi mereka yang mudik antar kota lain di seluruh wilayah tanah air selain Jakarta. Mereka yang menyebar dari berbagai penjuru kota akan saling bertemu di kampung dan berbagi cerita dan kisah hidup.
Hikmah secara sosial ekonomi, mudik merupakan sebuah gambaran kepulangan masal dari masyarakat daerah yang telah bertekad melakukan sebuah mobilitas sosial di kota. Secara umum mobilitas sosial dapat digambarkan sebagai sebuah proses perpindahan atau kesempatan untuk berpindah pada kelompok-kelompok sosial yang berada di masyarakat, terutama sekali proses perpindahan dari kelompok masyarakat yang kurang beruntung menjadi masyarakat yang lebih beruntung secara sosial ekonomi. Kota adalah menjadi tempat tujuan mereka untuk bermobilitas sosial tersebut, walaupun pada kenyataannya mereka belum tentu berhasil melakukannya. Berhasil dalam arti pindah dari kurang beruntung menjadi beruntung secara ekonomi. Dari proses tersebut tentu banyak materi, cerita dan pengalaman yang mereka bagikan kepada sanak saudara ketika mudik. Alhasil hikmah ini membawa dampak baik positif maupun negatif.
Positifnya adalah mereka yang berhasil melakukan proses mobilitas dari kurang beruntung menjadi beruntung secara ekonomi yang kemudian dikenal dengan istilah ”orang sukses” akan membawa keberhasilannya secara materi itu ke desanya. Milayaran bahkan trilyunan rupiah akan masyarakat bawa ketika bermudik. Mereka akan belanjakan rupiah mereka baik di sepanjang perjalanan maupun di desanya. Dampak ini sungguh luar biasa. Pemerataan ekonomi yang tidak usah repot-repot direncanakan pemerintah, tapi sudah pasti terjadi setiap tahunnya. Dari hal yang paling sepele seperti membeli makan di jalan-jalan ketika macet, warung makan di sepanjang perjalanan, memberi angpao kepada sanak famili, belanja keperluan Hari raya Idhul Fitri di desa, servis motor dan mobil di bengkel-bengkel daerahnya, bahkan bisa jadi sampai membangun atau renovasi rumah di desa. Tapi dengan adanya mudik nilai kebermaknaan Idhul Fitri akan menjadi semakin mengena dan mendalam baik untuk diri pribadi setiap muslim, keluarganya, masyarakat desanya bahkan sampai pada negara ini. Wallahua’lam
Kamis, 13 Agustus 2009
Menjadikan Puasa Ramadhan Penuh Hikmah
Oleh:
Mishad Khairi
Bulan ramadhan tahun 1430 Hijriyah hampir tiba. Datangnya bulan ramadhan disambut dengan beragam aktifitas kaum muslim. Aktifitas itu mulai dari renovasi masjid atau musholla, tradisi megengan (baca:sedekah saling kirim makanan), ziarah kubur, hingga saling memberi ucapan selamat menunaikan ibadah puasa lewat milis atau sms. Sambutan ramadhan berupa publikasi pun tidak kalah ramainya. Lihat saja spanduk penyambutan ramadhan bertebaran diberbagai jalan protokol, kantor-kantor, hingga perusahaan-perusahaan. Tidak kalah santernya iklan di media massa, seperti di surat kabar, majalah, radio, televisi, bahkan di internet mayoritas membawa pesan ramadhan. Bukan hanya iklan, kini rubrik acara di radio dan TV juga didominasi oleh tema-tema yang bernuansa ramadhan.
Terlepas dari beberapa perusahaan yang mengiklankan tema ramadhan dengan tujuan melariskan produknya atau hanya untuk meraup keuntungan ekonomi semata. Mudah-mudahan apa saja yang dilakukan oleh kaum muslim dalam menyongsong bulan Ramadhan, dengan ragam kegiatan, merupakan bentuk rasa senang atas kehadirannya. Sabda nabi Muhammad SAW dalam sebuah Haditsnya: “Man fariha biduhûli ramadhâna harrama Allahu jasadahu ‘alanniron”. Barang siapa yang bergembira dengan datangnya bulan Ramadhan, maka Allah mengharamkan jasadnya atas api neraka. Salah satu ibadah penting yang dilakukan dalam bulan ramadhan aalah puasa ramadhan.
Puasa Ramadhan adalah suatu kewajiban bagi orang-orang beriman, sesuai yang termaktub dalam Kitabullah, Sunnah Rasul-Nya dan ijma’ kaum muslimin. Dalam Al Qur’an, berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (Al Baqarah: 183)
Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Islam dibangun di atas lima hal: bersaksi bahwasanya tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi kecuali Alloh dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Alloh, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan dan haji ke Baitullah.” (Muttafaqun ‘alaih dari Ibnu ‘Umar)
Kaum muslimin bersepakat, bahwa puasa Ramadhan adalah wajib hukumnya. Maka barangsiapa yang mengingkari kewajiban puasa Ramadhan, berarti dia dianggap murtad Puasa Ramadhan diwajibkan mulai pada tahun kedua hijriyyah. Ini berarti Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam sempat melakukannya selama sembilan kali. Karena beliau menjumpai 9 kali bulan ramadhan sejak diperintahkan oleh Alloh Ta’ala. Puasa Ramadhan wajib bagi setiap muslim yang telah ‘aqil baligh dan berakal sehat. Maka puasa tidak wajib bagi orang kafir dan tidak akan diterima pahalanya jika ada di antara mereka yang melakukannya sampai dia masuk Islam.
Puasa juga tidak wajib bagi anak kecil sampai dia ‘aqil baligh. ‘Aqil balighnya ini diketahui ketika dia telah masuk usia 15 tahun atau tumbuh rambut kemaluannya atau keluar air mani (sperma) ketika bermimpi. Ini bagi anak laki-laki, sementara bagi anak wanita ditandai dengan haidh (menstruasi). Maka jika seorang anak telah mendapati tanda-tanda ini, maka dia telah ‘aqil baligh. Akan tetapi dalam rangka sebagai latihan dan pembiasaan, sebaiknya seorang anak (yang belum baligh –pent) disuruh untuk berpuasa, jika kuat dan tidak membahayakannya.
Puasa juga tidak wajib bagi orang yang kehilangan akal, baik itu karena gila atau penyakit syaraf atau sebab lainnya. Berkenaan dengan inilah jika ada orang yang telah menginjak dewasa namun masih tetap idiot dan tidak berakal sehat, maka tidak wajib baginya berpuasa dan tidak pula menggantinya dengan membayar fidyah.
Hikmah dan Manfaat Puasa Puasa disyari’atkan dan difardhukan oleh Alloh kepada hamba-hamba-Nya mempunyai hikmah dan manfaat yang banyak sekali. Di antara hikmah puasa adalah bahwasanya puasa itu merupakan ibadah yang bisa digunakan seorang hamba untuk ber-taqarrub kepada Alloh dengan meninggalkan kesenangan-kesenangan dunianya seperti makan, minum dan menggauli istri dalam rangka untuk mendapatkan ridha Rabb-nya dan keberuntungan di kampung kemuliaan (baca: kampung akhirat).
Dengan puasa ini jelas bahwa seorang hamba akan lebih mementingkan kehendak Rabb-nya daripada kesenangan-kesenangan pribadinya. Lebih cinta kampung akhirat daripada kehidupan dunia.Hikmah puasa yang lain adalah bahwa puasa adalah sarana untuk menghadapi derajat takwa apabila seseorang melakukannya sesuai dengan syari’at. Alloh Ta’ala berfirman (yang artinya):“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (Al-Baqarah:183)
Orang yang berpuasa berarti diperintahkan untuk bertakwa kepada Alloh, yakni dengan mengerjakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Inilah tujuan agung dari disyari’atkannya puasa. Jadi bukan hanya sekedar melatih untuk meninggalkan makan, minum dan menggauli istri.
Apabila kita membaca ayat tersebut, maka tentulah kita mengetahui apa hikmah diwajibkannya puasa, yakni takwa dan menghambakan diri kepada Alloh.Adapun takwa adalah meninggalkan keharaman-keharaman, dan kata takwa ini ketika dimutlakkan (penggunaannya) maka mengandung makna mengerjakan perintah-perintah dan meninggalkan larangan-larangan, Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:
(مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزَّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ للهِ عَزَّ وَجَلَّ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ)
“Barangsiapa yang tidak bisa meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta maka Alloh tidak butuh terhadap amalan dia meninggalkan makanan dan minumannya.” (HR. Al-Bukhariy)
Berdasarkan dalil ini, maka diperintahkan terhadap setiap orang yang berpuasa untuk mengerjakan segala kewajiban, demikian juga menjauhi hal-hal yang diharamkan baik berupa perkataan maupun perbuatan. Maka kita tidak boleh mencela, ghibah (menggunjing orang lain), berdusta, mengadu domba antar mereka, menjual barang dagangan yang haram, mendengarkan apa saja yang haram yang itu semuanya dapat melalaikan dari ketaatan kepada Alloh, serta menjauhi segala bentuk keharaman lainnya.
Apabila seseorang mengerjakan semuanya itu dalam satu bulan penuh dengan penuh keimanan dan mengharap pahala kepada Alloh maka itu akan memudahkannya kelak untuk istiqamah di bulan-bulan tersisa lainnya dalam tahun tersebut.Akan tetapi betapa sedihnya, kebanyakan orang yang berpuasa tidak membedakan antara hari puasanya dengan hari berbukanya, mereka tetap menjalani kebiasaan yang biasa mereka lakukan yakni meninggalkan kewajiban-kewajiban dan mengerjakan keharaman-keharaman, mereka tidak merasakan keagungan dan kehormatan puasa.
Perbuatan ini memang tidak membatalkan puasa tetapi mengurangi pahalanya, bahkan seringkali perbuatan-perbuatan tersebut merusak pahala puasa sehingga hilanglah pahalanya. Hikmah puasa yang lainnya adalah seorang kaya akan mengetahui nilai nikmat Alloh dengan kekayaannya itu di mana Alloh telah memudahkan baginya untuk mendapatkan apa yang diinginkannya, seperti makan, minum dan menikah serta apa saja yang dibolehkan oleh Alloh secara syar’i. Alloh telah memudahkan baginya untuk itu. Maka dengan begitu ia akan bersyukur kepada Rabb-nya atas karunia nikmat ini dan mengingat saudaranya yang miskin. Dengan begitu ia akan berderma kepadanya dalam bentuk shadaqah dan perbuatan yang baik lainnya.
Diantara hikmah puasa juga adalah melatih seseorang untuk menguasai dan berdisiplin dalam mengatur jiwanya. Sehingga ia akan mampu memimpin jiwanya untuk meraih kebahagiaan dan kebaikannya di dunia dan di akhirat serta menjauhi sifat kebinatangan.Puasa juga mengandung berbagai macam manfaat kesehatan yang direalisasikan dengan mengurangi makan dan mengistirahatkan alat pencernaan pada waktu-waktu tertentu serta mengurangi kolesterol yang jika terlalu banyak akan membahayakan tubuh. Juga manfaat lainnya dari puasa sangat banyak.
Banyak sekali ayat yang tegas dan muhkam (qath’i) dalam Kitabullah yang mulia, memberikan anjuran untuk puasa sebagai sarana untuk taqarrub kepada Alloh ‘Azza wa Jalla dan juga menjelaskan keutamaan-keutamaannya, seperti firman ALLOH (yang artinya) : “Sesungguhnya kaum muslimin dan muslimat, kaum mukminin dan mukminat, kaum pria yang patuh dan kaum wanita yang patuh, dan kaum pria serta wanita yang benar (imannya) dan kaum pria serta kaum wanita yang sabar (ketaatannya), dan kaum pria serta wanita yang khusyu’, dan kaum pria serta wanita yang bersedekah, dan kaum pria serta wanita yan berpuasa, dan kaum pria dan wanita yang menjaga kehormatannya (syahwat birahinya), dan kaum pria serta wanita yang banyak mengingat Alloh, Alloh menyediakan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar” [QS: Al-Ahzab : 35]
Dan firman ALLOH (yang artinya) : “Dan kalau kalian puasa, itu lebih baik bagi kalian kalau kalian mengetahuinya” [QS: Al-Baqarah : 184].
Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan dalam hadits yang shahih bahwa puasa adalah benteng dari syahwat, perisai dari neraka. Alloh Tabaraka wa Ta’ala telah mengkhususkan satu pintu surga untuk orang yang puasa. Puasa bisa memutuskan jiwa dari syahwatnya, menahannya dari kebiasaan-kebiasaan yang jelek, hingga jadilah jiwa yang tenang. Inilah pahala yang besar, keutamaan yang agung ; dijelaskan secara rinci dalam hadits-hadits shahih berikut ini, dijelaskan dengan penjelasan yang sempurna.
1. Puasa Adalah Perisai (Pelindung)
Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam menyuruh orang yang sudah kuat syahwatnya dan belum mampu untuk menikah agar berpuasa, menjadikannya sebagai wijaa’[memutuskan] bagi syahwat ini, karena puasa menahan kuatnya anggota badan hingga bisa terkontrol, menenangkan seluruh anggota badan, serta seluruh kekuatan (yang jelek) ditahan hingga bisa taat dan dibelenggu dengan belenggu puasa. Telah jelas bahwa puasa memiliki pengaruh yang menakjubkan dalam menjaga anggota badan yang dhahir dan kekuatan bathin.
Oleh karena itu Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai sekalian para pemuda, barangsiapa di antara kalian telah mampu ba’ah [mampu dgn berbagai macam persiapannya] hendaklah menikah, karena menikah lebih menundukkan pandangan, dan lebih menjaga kehormatan. Barangsiapa yang belum mampu menikah, hendaklah puasa karena puasa merupakan wijaa’ (pemutus syahwat) baginya” [Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)
Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa surga diliputi dengan perkara-perkara yang tidak disenangi, dan neraka diliputi dengan syahwat. Jika telah jelas demikian -wahai muslim- sesungguhnya puasa itu menghancurkan syahwat, mematahkan tajamnya syahwat yang bisa mendekatkan seorang hamba ke neraka, puasa menghalangi orang yang puasa dari neraka. Oleh karena itu banyak hadits yang menegaskan bahwa puasa adalah benteng dari neraka, dan perisai yang menghalangi seseorang dari neraka.
Bersabda Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam (yang artinya) : “Tidaklah seorang hamba yang puasa di jalan Alloh kecuali akan Alloh jauhkan dia (karena puasanya) dari neraka sejauh tujuh puluh musim” [Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim. Sabda Rasulullah : "70 musim" yakni : perjalanan 70 tahun, demikian dikatakan dalam Fathul Bari 6/48. Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Puasa adalah perisai, seorang hamba berperisai dengannya dari api neraka” (Hadits Riwayat Ahmad).
Daalam hadits lain, Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang berpuasa sehari di jalan Alloh maka di antara dia dan neraka ada parit yang luasnya seperti antara langit dengan bumi” (Hadits Riwayat Tirmidzi). Dan dikeluarkan pula oleh At-Thabrani di dalam Al-Kabir 8/260,274, 280 dari dua jalan dari Al-Qasim dari Abi Umamah. Dan pada bab dari Abi Darda', dikeluarkan oleh Ath-Thabrani di dalam Ash-Shagir 1/273.
2. Puasa Bisa Memasukkan Hamba ke Surga
Dari Abu Umamah RadhiyAllohu ‘anhu katanya, “Aku berkata (kepada Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam) : “Wahai Rasulullah, tunjukkan padaku suatu amalan yang bisa memasukkanku ke surga.? Beliau menjawab : “Atasmu puasa, tidak ada (amalan) yang semisal dengan itu” (Hadits Riwayat Nasa'i 4/165, Ibnu Hibban hal. 232 Mawarid, Al-Hakim 1/421)
3. Pahala Orang Puasa Tidak Terbatas (Seluruhnya terkumpul pembahasannya pada hadits-hadits yang akan datang)
4. Orang Puasa Punya Dua Kegembiraan (Seluruhnya terkumpul pembahasannya pada hadits-hadits yang akan datang)
5. Bau Mulut Orang Yang Puasa Lebih Wangi dari Baunya Misk (Seluruhnya terkumpul pembahasannya pada hadits-hadits yang akan datang)
Dari Abu Hurairah Radhiyallohu ‘anhu, (bahwasanya) Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Semua amalan bani Adam untuknya kecuali puasa [Baginya pahala yang terbatas, kecuali puasa karena pahalanya tidak terbatas] , karena puasa itu untuk-Ku dan Aku akan membalasnya, puasa adalah perisai, jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa janganlah berkata keji dan berteriak-teriak, jika ada orang yang mencercanya atau memeranginya, maka ucapkanlah : ‘Aku sedang berpuasa’ [1]. Demi dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, sesunguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Alloh daripada bau misk[2] orang yang puasa mempunyai dua kegembiraan, jika berbuka mereka gembira, jika bertemu Rabbnya mereka gembira karena puasa yang dilakukannya” [Hadits Riwayat:Bukhari dan Muslim)
Di dalam riwayat Bukhari Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Meninggalkan makan, minum dan syahwatnya karena puasa untuk-Ku, dan Aku yang akan membalasnya, kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipat yang semisal dengannya”
Di dalam riwayat Muslim Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Semua amalan bani Adam akan dilipatgandakan, kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipat yang semisal dengannya, sampai tujuh ratus kali lipat. Alloh Ta’ala berfirman : “Kecuali puasa, karena puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya, dia (bani Adam) meninggalkan syahwatnya dan makanannya karena Aku” Bagi orang yang puasa ada dua kegembiraan ; gembira ketika berbuka dan gembira ketika bertemu Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang puasa di sisi Alloh adalah lebih wangi daripada bau misk”
6. Puasa dan Al-Qur’an Akan Memberi Syafa’at Kepada Ahlinya di hari Kiamat
Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda “Puasa dan Al-Qur’an akan memberikan syafaat kepada hamba di hari Kiamat, puasa akan berkata : “Wahai Rabbku, aku akan menghalanginya dari makan dan syahwat, maka berilah dia syafa’at karenaku”.
7. Puasa Sebagai KafaratDiantara keistimewaan puasa yang tidak ada dalam amalan lain adalah ; Alloh menjadikannya sebagai kafarat bagi orang yang memotong rambut kepalanya (ketika haji) karena ada udzur sakit atau penyakit di kepalanya, kaparat bagi yang tidak mampu memberi kurban, kafarat bagi pembunuh orang kafir yang punya perjanjian karena membatalkan sumpah, atau yang membunuh binatang buruan di tanah haram dan sebagai kafarat zhihar. Akan jelas bagimu dalam ayat-ayat berikut ini.
Alloh Ta’ala juga berfirman (yang artinya) : “Dan jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat (denda) yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang mukmin. Barangsiapa yang tidak memperolehnya, maka hendaklah (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut sebagai cara taubat kepada Alloh. Dan adalah Alloh Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (An-Nisaa' : 92)
Demikian pula, puasa dan shadaqah bisa menghapuskan fitnah seorang pria dari harta, keluarga dan anaknya. Dari Hudzaifah Ibnul Yaman RadhiyAllohu ‘anhu, Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Fitnah pria dalam keluarga (isteri), harta dan tetangganya, bisa dihapuskan oleh shalat, puasa dan shadaqah” (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim).
8. Orang yang Puasa mendapatkan Ar RayyanDari Sahl bin Sa’ad Radhiyallohu ‘anhu, dari Nabi Shallallohu ‘alaihi wa sallam (bahwa beliau) bersabda) : “Sesungguhnya dalam surga ada satu pintu yang disebut dengan Rayyan, orang-orang yang puasa akan masuk di hari kiamat nanti dari pintu tersebut, tidak ada orang selain mereka yang memasukinya. Jika telah masuk orang terkahir yang puasa ditutuplah pintu tersebut. Barangsiapa yang masuk akan minum, dan barangsiapa yang minum tidak akan merasa haus untuk selamanya” (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim).
Wallohua’lam
Mishad Khairi
Bulan ramadhan tahun 1430 Hijriyah hampir tiba. Datangnya bulan ramadhan disambut dengan beragam aktifitas kaum muslim. Aktifitas itu mulai dari renovasi masjid atau musholla, tradisi megengan (baca:sedekah saling kirim makanan), ziarah kubur, hingga saling memberi ucapan selamat menunaikan ibadah puasa lewat milis atau sms. Sambutan ramadhan berupa publikasi pun tidak kalah ramainya. Lihat saja spanduk penyambutan ramadhan bertebaran diberbagai jalan protokol, kantor-kantor, hingga perusahaan-perusahaan. Tidak kalah santernya iklan di media massa, seperti di surat kabar, majalah, radio, televisi, bahkan di internet mayoritas membawa pesan ramadhan. Bukan hanya iklan, kini rubrik acara di radio dan TV juga didominasi oleh tema-tema yang bernuansa ramadhan.
Terlepas dari beberapa perusahaan yang mengiklankan tema ramadhan dengan tujuan melariskan produknya atau hanya untuk meraup keuntungan ekonomi semata. Mudah-mudahan apa saja yang dilakukan oleh kaum muslim dalam menyongsong bulan Ramadhan, dengan ragam kegiatan, merupakan bentuk rasa senang atas kehadirannya. Sabda nabi Muhammad SAW dalam sebuah Haditsnya: “Man fariha biduhûli ramadhâna harrama Allahu jasadahu ‘alanniron”. Barang siapa yang bergembira dengan datangnya bulan Ramadhan, maka Allah mengharamkan jasadnya atas api neraka. Salah satu ibadah penting yang dilakukan dalam bulan ramadhan aalah puasa ramadhan.
Puasa Ramadhan adalah suatu kewajiban bagi orang-orang beriman, sesuai yang termaktub dalam Kitabullah, Sunnah Rasul-Nya dan ijma’ kaum muslimin. Dalam Al Qur’an, berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (Al Baqarah: 183)
Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Islam dibangun di atas lima hal: bersaksi bahwasanya tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi kecuali Alloh dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Alloh, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan dan haji ke Baitullah.” (Muttafaqun ‘alaih dari Ibnu ‘Umar)
Kaum muslimin bersepakat, bahwa puasa Ramadhan adalah wajib hukumnya. Maka barangsiapa yang mengingkari kewajiban puasa Ramadhan, berarti dia dianggap murtad Puasa Ramadhan diwajibkan mulai pada tahun kedua hijriyyah. Ini berarti Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam sempat melakukannya selama sembilan kali. Karena beliau menjumpai 9 kali bulan ramadhan sejak diperintahkan oleh Alloh Ta’ala. Puasa Ramadhan wajib bagi setiap muslim yang telah ‘aqil baligh dan berakal sehat. Maka puasa tidak wajib bagi orang kafir dan tidak akan diterima pahalanya jika ada di antara mereka yang melakukannya sampai dia masuk Islam.
Puasa juga tidak wajib bagi anak kecil sampai dia ‘aqil baligh. ‘Aqil balighnya ini diketahui ketika dia telah masuk usia 15 tahun atau tumbuh rambut kemaluannya atau keluar air mani (sperma) ketika bermimpi. Ini bagi anak laki-laki, sementara bagi anak wanita ditandai dengan haidh (menstruasi). Maka jika seorang anak telah mendapati tanda-tanda ini, maka dia telah ‘aqil baligh. Akan tetapi dalam rangka sebagai latihan dan pembiasaan, sebaiknya seorang anak (yang belum baligh –pent) disuruh untuk berpuasa, jika kuat dan tidak membahayakannya.
Puasa juga tidak wajib bagi orang yang kehilangan akal, baik itu karena gila atau penyakit syaraf atau sebab lainnya. Berkenaan dengan inilah jika ada orang yang telah menginjak dewasa namun masih tetap idiot dan tidak berakal sehat, maka tidak wajib baginya berpuasa dan tidak pula menggantinya dengan membayar fidyah.
Hikmah dan Manfaat Puasa Puasa disyari’atkan dan difardhukan oleh Alloh kepada hamba-hamba-Nya mempunyai hikmah dan manfaat yang banyak sekali. Di antara hikmah puasa adalah bahwasanya puasa itu merupakan ibadah yang bisa digunakan seorang hamba untuk ber-taqarrub kepada Alloh dengan meninggalkan kesenangan-kesenangan dunianya seperti makan, minum dan menggauli istri dalam rangka untuk mendapatkan ridha Rabb-nya dan keberuntungan di kampung kemuliaan (baca: kampung akhirat).
Dengan puasa ini jelas bahwa seorang hamba akan lebih mementingkan kehendak Rabb-nya daripada kesenangan-kesenangan pribadinya. Lebih cinta kampung akhirat daripada kehidupan dunia.Hikmah puasa yang lain adalah bahwa puasa adalah sarana untuk menghadapi derajat takwa apabila seseorang melakukannya sesuai dengan syari’at. Alloh Ta’ala berfirman (yang artinya):“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (Al-Baqarah:183)
Orang yang berpuasa berarti diperintahkan untuk bertakwa kepada Alloh, yakni dengan mengerjakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Inilah tujuan agung dari disyari’atkannya puasa. Jadi bukan hanya sekedar melatih untuk meninggalkan makan, minum dan menggauli istri.
Apabila kita membaca ayat tersebut, maka tentulah kita mengetahui apa hikmah diwajibkannya puasa, yakni takwa dan menghambakan diri kepada Alloh.Adapun takwa adalah meninggalkan keharaman-keharaman, dan kata takwa ini ketika dimutlakkan (penggunaannya) maka mengandung makna mengerjakan perintah-perintah dan meninggalkan larangan-larangan, Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:
(مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزَّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ للهِ عَزَّ وَجَلَّ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ)
“Barangsiapa yang tidak bisa meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta maka Alloh tidak butuh terhadap amalan dia meninggalkan makanan dan minumannya.” (HR. Al-Bukhariy)
Berdasarkan dalil ini, maka diperintahkan terhadap setiap orang yang berpuasa untuk mengerjakan segala kewajiban, demikian juga menjauhi hal-hal yang diharamkan baik berupa perkataan maupun perbuatan. Maka kita tidak boleh mencela, ghibah (menggunjing orang lain), berdusta, mengadu domba antar mereka, menjual barang dagangan yang haram, mendengarkan apa saja yang haram yang itu semuanya dapat melalaikan dari ketaatan kepada Alloh, serta menjauhi segala bentuk keharaman lainnya.
Apabila seseorang mengerjakan semuanya itu dalam satu bulan penuh dengan penuh keimanan dan mengharap pahala kepada Alloh maka itu akan memudahkannya kelak untuk istiqamah di bulan-bulan tersisa lainnya dalam tahun tersebut.Akan tetapi betapa sedihnya, kebanyakan orang yang berpuasa tidak membedakan antara hari puasanya dengan hari berbukanya, mereka tetap menjalani kebiasaan yang biasa mereka lakukan yakni meninggalkan kewajiban-kewajiban dan mengerjakan keharaman-keharaman, mereka tidak merasakan keagungan dan kehormatan puasa.
Perbuatan ini memang tidak membatalkan puasa tetapi mengurangi pahalanya, bahkan seringkali perbuatan-perbuatan tersebut merusak pahala puasa sehingga hilanglah pahalanya. Hikmah puasa yang lainnya adalah seorang kaya akan mengetahui nilai nikmat Alloh dengan kekayaannya itu di mana Alloh telah memudahkan baginya untuk mendapatkan apa yang diinginkannya, seperti makan, minum dan menikah serta apa saja yang dibolehkan oleh Alloh secara syar’i. Alloh telah memudahkan baginya untuk itu. Maka dengan begitu ia akan bersyukur kepada Rabb-nya atas karunia nikmat ini dan mengingat saudaranya yang miskin. Dengan begitu ia akan berderma kepadanya dalam bentuk shadaqah dan perbuatan yang baik lainnya.
Diantara hikmah puasa juga adalah melatih seseorang untuk menguasai dan berdisiplin dalam mengatur jiwanya. Sehingga ia akan mampu memimpin jiwanya untuk meraih kebahagiaan dan kebaikannya di dunia dan di akhirat serta menjauhi sifat kebinatangan.Puasa juga mengandung berbagai macam manfaat kesehatan yang direalisasikan dengan mengurangi makan dan mengistirahatkan alat pencernaan pada waktu-waktu tertentu serta mengurangi kolesterol yang jika terlalu banyak akan membahayakan tubuh. Juga manfaat lainnya dari puasa sangat banyak.
Banyak sekali ayat yang tegas dan muhkam (qath’i) dalam Kitabullah yang mulia, memberikan anjuran untuk puasa sebagai sarana untuk taqarrub kepada Alloh ‘Azza wa Jalla dan juga menjelaskan keutamaan-keutamaannya, seperti firman ALLOH (yang artinya) : “Sesungguhnya kaum muslimin dan muslimat, kaum mukminin dan mukminat, kaum pria yang patuh dan kaum wanita yang patuh, dan kaum pria serta wanita yang benar (imannya) dan kaum pria serta kaum wanita yang sabar (ketaatannya), dan kaum pria serta wanita yang khusyu’, dan kaum pria serta wanita yang bersedekah, dan kaum pria serta wanita yan berpuasa, dan kaum pria dan wanita yang menjaga kehormatannya (syahwat birahinya), dan kaum pria serta wanita yang banyak mengingat Alloh, Alloh menyediakan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar” [QS: Al-Ahzab : 35]
Dan firman ALLOH (yang artinya) : “Dan kalau kalian puasa, itu lebih baik bagi kalian kalau kalian mengetahuinya” [QS: Al-Baqarah : 184].
Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan dalam hadits yang shahih bahwa puasa adalah benteng dari syahwat, perisai dari neraka. Alloh Tabaraka wa Ta’ala telah mengkhususkan satu pintu surga untuk orang yang puasa. Puasa bisa memutuskan jiwa dari syahwatnya, menahannya dari kebiasaan-kebiasaan yang jelek, hingga jadilah jiwa yang tenang. Inilah pahala yang besar, keutamaan yang agung ; dijelaskan secara rinci dalam hadits-hadits shahih berikut ini, dijelaskan dengan penjelasan yang sempurna.
1. Puasa Adalah Perisai (Pelindung)
Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam menyuruh orang yang sudah kuat syahwatnya dan belum mampu untuk menikah agar berpuasa, menjadikannya sebagai wijaa’[memutuskan] bagi syahwat ini, karena puasa menahan kuatnya anggota badan hingga bisa terkontrol, menenangkan seluruh anggota badan, serta seluruh kekuatan (yang jelek) ditahan hingga bisa taat dan dibelenggu dengan belenggu puasa. Telah jelas bahwa puasa memiliki pengaruh yang menakjubkan dalam menjaga anggota badan yang dhahir dan kekuatan bathin.
Oleh karena itu Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai sekalian para pemuda, barangsiapa di antara kalian telah mampu ba’ah [mampu dgn berbagai macam persiapannya] hendaklah menikah, karena menikah lebih menundukkan pandangan, dan lebih menjaga kehormatan. Barangsiapa yang belum mampu menikah, hendaklah puasa karena puasa merupakan wijaa’ (pemutus syahwat) baginya” [Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)
Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa surga diliputi dengan perkara-perkara yang tidak disenangi, dan neraka diliputi dengan syahwat. Jika telah jelas demikian -wahai muslim- sesungguhnya puasa itu menghancurkan syahwat, mematahkan tajamnya syahwat yang bisa mendekatkan seorang hamba ke neraka, puasa menghalangi orang yang puasa dari neraka. Oleh karena itu banyak hadits yang menegaskan bahwa puasa adalah benteng dari neraka, dan perisai yang menghalangi seseorang dari neraka.
Bersabda Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam (yang artinya) : “Tidaklah seorang hamba yang puasa di jalan Alloh kecuali akan Alloh jauhkan dia (karena puasanya) dari neraka sejauh tujuh puluh musim” [Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim. Sabda Rasulullah : "70 musim" yakni : perjalanan 70 tahun, demikian dikatakan dalam Fathul Bari 6/48. Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Puasa adalah perisai, seorang hamba berperisai dengannya dari api neraka” (Hadits Riwayat Ahmad).
Daalam hadits lain, Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang berpuasa sehari di jalan Alloh maka di antara dia dan neraka ada parit yang luasnya seperti antara langit dengan bumi” (Hadits Riwayat Tirmidzi). Dan dikeluarkan pula oleh At-Thabrani di dalam Al-Kabir 8/260,274, 280 dari dua jalan dari Al-Qasim dari Abi Umamah. Dan pada bab dari Abi Darda', dikeluarkan oleh Ath-Thabrani di dalam Ash-Shagir 1/273.
2. Puasa Bisa Memasukkan Hamba ke Surga
Dari Abu Umamah RadhiyAllohu ‘anhu katanya, “Aku berkata (kepada Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam) : “Wahai Rasulullah, tunjukkan padaku suatu amalan yang bisa memasukkanku ke surga.? Beliau menjawab : “Atasmu puasa, tidak ada (amalan) yang semisal dengan itu” (Hadits Riwayat Nasa'i 4/165, Ibnu Hibban hal. 232 Mawarid, Al-Hakim 1/421)
3. Pahala Orang Puasa Tidak Terbatas (Seluruhnya terkumpul pembahasannya pada hadits-hadits yang akan datang)
4. Orang Puasa Punya Dua Kegembiraan (Seluruhnya terkumpul pembahasannya pada hadits-hadits yang akan datang)
5. Bau Mulut Orang Yang Puasa Lebih Wangi dari Baunya Misk (Seluruhnya terkumpul pembahasannya pada hadits-hadits yang akan datang)
Dari Abu Hurairah Radhiyallohu ‘anhu, (bahwasanya) Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Semua amalan bani Adam untuknya kecuali puasa [Baginya pahala yang terbatas, kecuali puasa karena pahalanya tidak terbatas] , karena puasa itu untuk-Ku dan Aku akan membalasnya, puasa adalah perisai, jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa janganlah berkata keji dan berteriak-teriak, jika ada orang yang mencercanya atau memeranginya, maka ucapkanlah : ‘Aku sedang berpuasa’ [1]. Demi dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, sesunguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Alloh daripada bau misk[2] orang yang puasa mempunyai dua kegembiraan, jika berbuka mereka gembira, jika bertemu Rabbnya mereka gembira karena puasa yang dilakukannya” [Hadits Riwayat:Bukhari dan Muslim)
Di dalam riwayat Bukhari Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Meninggalkan makan, minum dan syahwatnya karena puasa untuk-Ku, dan Aku yang akan membalasnya, kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipat yang semisal dengannya”
Di dalam riwayat Muslim Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Semua amalan bani Adam akan dilipatgandakan, kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipat yang semisal dengannya, sampai tujuh ratus kali lipat. Alloh Ta’ala berfirman : “Kecuali puasa, karena puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya, dia (bani Adam) meninggalkan syahwatnya dan makanannya karena Aku” Bagi orang yang puasa ada dua kegembiraan ; gembira ketika berbuka dan gembira ketika bertemu Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang puasa di sisi Alloh adalah lebih wangi daripada bau misk”
6. Puasa dan Al-Qur’an Akan Memberi Syafa’at Kepada Ahlinya di hari Kiamat
Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda “Puasa dan Al-Qur’an akan memberikan syafaat kepada hamba di hari Kiamat, puasa akan berkata : “Wahai Rabbku, aku akan menghalanginya dari makan dan syahwat, maka berilah dia syafa’at karenaku”.
7. Puasa Sebagai KafaratDiantara keistimewaan puasa yang tidak ada dalam amalan lain adalah ; Alloh menjadikannya sebagai kafarat bagi orang yang memotong rambut kepalanya (ketika haji) karena ada udzur sakit atau penyakit di kepalanya, kaparat bagi yang tidak mampu memberi kurban, kafarat bagi pembunuh orang kafir yang punya perjanjian karena membatalkan sumpah, atau yang membunuh binatang buruan di tanah haram dan sebagai kafarat zhihar. Akan jelas bagimu dalam ayat-ayat berikut ini.
Alloh Ta’ala juga berfirman (yang artinya) : “Dan jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat (denda) yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang mukmin. Barangsiapa yang tidak memperolehnya, maka hendaklah (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut sebagai cara taubat kepada Alloh. Dan adalah Alloh Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (An-Nisaa' : 92)
Demikian pula, puasa dan shadaqah bisa menghapuskan fitnah seorang pria dari harta, keluarga dan anaknya. Dari Hudzaifah Ibnul Yaman RadhiyAllohu ‘anhu, Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Fitnah pria dalam keluarga (isteri), harta dan tetangganya, bisa dihapuskan oleh shalat, puasa dan shadaqah” (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim).
8. Orang yang Puasa mendapatkan Ar RayyanDari Sahl bin Sa’ad Radhiyallohu ‘anhu, dari Nabi Shallallohu ‘alaihi wa sallam (bahwa beliau) bersabda) : “Sesungguhnya dalam surga ada satu pintu yang disebut dengan Rayyan, orang-orang yang puasa akan masuk di hari kiamat nanti dari pintu tersebut, tidak ada orang selain mereka yang memasukinya. Jika telah masuk orang terkahir yang puasa ditutuplah pintu tersebut. Barangsiapa yang masuk akan minum, dan barangsiapa yang minum tidak akan merasa haus untuk selamanya” (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim).
Wallohua’lam
Kamis, 06 Agustus 2009
AGUSTUSAN
Oleh:
Mishad Khoiri
Butiran bening keringat mulai keluar dari pori-pori kulit wajah pria yang sudah berumur itu. Desahan nafas panjang mulai keluar sesekali dari mulut dan hidungnya. Ketegangan tidak bisa disembunyikan dari raut wajahnya yang semakin berkerut. Pak Doso sebut saja sopir truk itu tampak kesal karena terjebak dalam kemacetan lalu lintas. Di pikirannya sudah terbayang, satu kontainer barang bawaannya bakal telat nyampai di tempat tujuan. Kerugian waktu, pikiran, dan tenaga sudah terpampang di depan mata. Sebenarnya yang membuat prihatin Pak Doso adalah mengenai penyebab kemacetan lalu lintas waktu itu. Penyebabnya bukan perbaikan jalan, kecelakaan, atau faktor teknis lainnya. Akan tetapi kemacetan itu disebabkan oleh acara pawai agustusan yang diadakan oleh warga setempat.
Saya yakin kita juga sering mengalami hal yang sama, seperti yang dirasakan Pak Doso. Ketika agustusan tidak jarang gang-gang atau jalan-jalan ditutup oleh warga dengan alasan ada kegiatan pentas atau lomba-lomba agustusan. Kita yang saat itu ada keperluan penting terpaksa seringkali tidak bisa melewati jalan/gang tersebut. Saya tidak mempermasalahkan tentang partisipasi kita untuk memperingati hari kemerdekaan. Tetapi tidak adakah cara lain yang lebih baik dalam rangkah memperingati proklamasi kemerdekaan itu.
Sebagai contoh kegiatan pawai agustusan yang menyebabkan terjebaknya truk pak Doso dan kendaraan lainnya. Saya lihat kegiatan tersebut tidak hanya memacetkan, akan tetapi juga tidak atau kurang manfaat. Peserta pawai yang terdiri dari utusan beberapa desa mengikuti kegiatan tersebut. Satu desa mengirim satu delegasi tim/kelompok barisan dengan tema yang rata-rata kurang memaknai kemerdekaan. Dari pengamatan saya, rata-rata mereka membawakan tema yang sekedar lucu dan “eksploitasi gender” (baca: wanita memerankan pria sedangkan yang pria memerankan wanita). Dengan dandanan tak lazim dan sensual mereka pawai berarak-arakan di jalan dan memacetkan lalu lintas dengan alasan atas nama memperingati kemerdekaan.
Tidak hanya itu, di kampung-kampung agustusan sering diperingati dengan cara-cara yang kontroversial, kurang makna, bahkan merusak. Ada kecenderungan antar kampung seringkali bersaing seru ketika memperingati kemerdekaan. Alhamdulillah, sebagian kegiatan juga cukup bahkan sarat makna, seperti kerja bakti, lomba kebersihan, mengecat pagar, trotoar, dan poskamling, tasyakuran dan lain-lain. Hanya saja kita juga menjumpai kegiatan yang kurang baik, seperti adu petasan, adu kencang-kencangan sound system, kegiatan lomba yang tidak mendidik, mabuk-mabukan di malam kemerdekaan, dan lain-lain.
Keprihatinan kita yang cukup mendalam adalah ketika masyarakat menganggap kegiatan yang kurang baik itu dianggap sebagai sesuatu yang biasa dan rutinitas. Bahkan ada justifikasi “La wong satu tahun sekali ya ndak apa-apa”, “Demi memperingati kemerdekaan begini saja ya ndak apa-apa”, “Agustusan yang penting meriah” dan lain-lain. Suatu saat agaknya kita perlu merenung dan membayangkan apa kata para pahlawan kita yang gugur di medan perang demi kemerdekaan ketika melihat kegiatan peringatan agustusan yang melenceng itu? Apakah mereka tidak menangis jika kucuran darah mereka diperingati dengan adu petasan? Apakah mereka tetap tersenyum ketika melihat pemuda yang asyik pesta miras di malam peringatan kemerdekaan?
Sebenarnya ada beberapa pertanyaan yang cukup mendasar tentang kemerdekaan yang hakiki bagi bangsa ini. Yaitu, apakah kita sekarang ini sudah benar-benar terbebas dari berbagai belenggu penjajahan? Apakah dengan dibacanya teks proklamasi dan hengkangnya pasukan Belanda dari negeri ini menandakan telah berakhirnya masa penjajahan itu? Kalau belum berakhir penjajahan itu, lalu penjajahan macam apa yang terjadi sekarang ini?
Jawabnya adalah penjajahan itu masih ada, tetapi model dan bentuknya muncul dengan wajah baru. Dia bukan berupa pendudukan negara atas sebuah negara atau ia bukan hanya menguasai satu atau dua negara. Imperialisme modern itu berupa sosialisasi pola atau sistem tertentu dalam hal ideologi, politik, ekonomi, budaya, dan agama yang dimiliki oleh suatu negara atau lebih luasnya peradaban barat hingga menembus ke seantero jagad (mendunia). Menurut Dr. Yusuf Al-Qaradhawi dalam buku yang bertajuk “Islam dan Globalisasi Dunia” dikatakan oleh beliau bahwa globalisasi (‘Aulamah) menghilangkan batas-batas kenasionalan dalam bidang ekonomi (perdagangan) dan membiarkan segala sesuatu bebas melintas dunia dan menembus level internasional sehingga terancamlah nasib suatu bangsa atau negara yang dianggap belum bisa bersaing, termasuk Indonesia.
Bentuk riilnya penjajahan modern yang bertopeng globalisai adalah dalam penjajahan di bidang ekonomi, politik, dan sosial budaya. Di bidang ekonomi kita sudah melihat bagaimana investasi asing sudah mengusai bumi kita. Privatisasi BUMN yang menyebabkan terjualnya aset bangsa ke pihak asing dan eksploitasi sebagian besar barang tambang kita oleh asing adalah contoh imperealisme di bidang ekonomi. Di bidang politik kita juga sering ditekan oleh asing. Sebagai contoh tekanan politik asing adalah memberi hak diplomatik pada tentara Amerika untuk program NAMRU yang digelindingkan USA. Tekanan politik asing juga sangat tampak pada penanganan pemerintah terhadap isu terorisme.
Dalam bidang sosial-budaya kita mengenal misi imperialisme itu dengan istilah 3 F, yaitu Food, Funny, dan Fashion. Pertama, Food atau makanan. Kita lihat, berapa banyak gerai makanan, kafe-kafe, dan restoran asing yang menjamur di Indonesia. Parahnya, kebanyakan di antara kita sangat bangga untuk mengkonsumsi makanan beresep import. Kita lebih punya gengsi jika makan atau minum di gerai Kentucky Fried Chiken atau Pizza Hut dari pada di Warung Pecel Madiun atau Soto Ayam Lamongan. Kita tidak sadar telah memberi keuntungan yang besar pada pengusaha makanan asing yang mungkin saja keuntungan itu digunakan untuk gerakan misionaris dan kemaksiatan.
Kedua, Funny, permainan dan hiburan. Dunia permainan dan hiburan menempati rating yang tinggi dikonsumsi oleh masyarakat kita. Model-model permainan dan hiburan yang mengarah pada pemborosan, perjudian dan kemaksiatan cukup marak di Indonesia. Play Station (PS) sangat digemari anak-anak dan pelajar di Indonesia. Dampaknya, uang saku mereka yang seharusnya lebih produktif digunakan untuk membeli buku bacaan digunakan untuk menyewa PS. Belum lagi waktu yang seharusnya digunakan belajar, terbuang percuma hanya digunakan main PS. Di kalangan remaja dan dewasa, juga sangat gemar mengunjungi tempat permainan dan hiburan. Bahkan untuk melihat pertandingan sepak bola piala dunia saja harus nonton bareng di kafe-kafe. Bahkan tidak jarang diselingi dengan acara judi taruhan.
Sekarang, mulai marak perjudian terselubung melalui kuis sms. Caranya, konsumen berlomba-lomba mengirim sms dengan memilih atau menjawab sesuatu ke penyelenggara judi terselubung itu. Karena harga per sms itu tarifnya lebih mahal dari tarif normal, maka mereka meraup keuntungan dari selisih tarif sms tersebut. Sebagian keuntungan dari selisih tarif tersebut digunakan untuk memberi hadiah pemenang dan sisanya sebagai keuntungan. Unsur judi ini terlihat dari konsumen yang harus mengeluarkan uang untuk menjawab kuis tersebut dan mereka mengharap hadiah. Sedangkan dari pihak penyelenggara unsur judi terlihat dari usaha untuk mencari keuntungan dalam penyelengaraan kuis tersebut di samping memberi hadiah yang uangnya diambil dari hasil selisih tarif sms konsumen.
Dengan maraknya permainan dan hiburan, masyarakat kita menjadi lalai dan hidupnya menjadi tidak produktif. Waktunya yang seharusnya digunakan untuk bekerja habis digunakan di arena hiburan dan permainan. Kebutuhan hidupnya yang seharusnya dicukupi dengan hasil kerja menjadi tidak jelas karena kita menggantungkan diri dari mengharap hadiah. Permainan dan hiburan yang menjurus pada perjudian, kemaksiatan, dan berlebihan menyebabkan kita malas dan terjerumus pada lembah kehancuran.
Ketiga, Fashion atau Mode dan pakaian. Salah satu pemicu kemaksiatan di tengah-tengah masyarakat kita disebabkan mode dan pakaian. Salah satu buktinya adalah pernah terjadi seorang bocah SMP yang memperkosa siswa SD. Menurut pengakuannya, dia melakukan itu karena terangsang ketika melihat tarian film India dengan pakaian yang terlihat pusarnya. Dunia mode dan pakaian begitu menggejala di masyarakat kita. Ujung-ujungnya mode dan pakaian Barat yang dijadikan rujukan oleh muda-mudi kita. Kita masih ingat, betapa mode rambut artis Demi moore bintang utama film Ghost pernah mendunia di eranya. Begitu juga dengan pakaian, model pakaian you can see, yang dipakai artis-artis barat betapa sangat digemari remaja kita.
Alhasil penjajahan dalam bentuk yang riil, yaitu ekonomi, politik, dan sosial budaya dengan kendaraan globalisasi sebenarnya ada di depan mata kita. Jangan menganggap penjajahan itu hanya pendudukan negara atas negara lain yang bisa dibebaskan dengan proklamasi kemerdekaan. Sadarlah jika penjajahan melalui topeng globalisasi lebih halus tetapi dampaknya sangat kronis. Oleh karena itu mari kita isi kegiatan agustusan tahun ini dan tahun-tahun mendatang dengan penuh introspeksi diri dan mengadakan kegiatan yang positif serta mencerdaskan umat. Jika umat ini memili IPTEKS dan IMTAQ yang baik, maka kita bisa melawan dan melepaskan diri dari penjajahan asing dalam bentuk dan model apapun. Wallahua’lam
Mishad Khoiri
Butiran bening keringat mulai keluar dari pori-pori kulit wajah pria yang sudah berumur itu. Desahan nafas panjang mulai keluar sesekali dari mulut dan hidungnya. Ketegangan tidak bisa disembunyikan dari raut wajahnya yang semakin berkerut. Pak Doso sebut saja sopir truk itu tampak kesal karena terjebak dalam kemacetan lalu lintas. Di pikirannya sudah terbayang, satu kontainer barang bawaannya bakal telat nyampai di tempat tujuan. Kerugian waktu, pikiran, dan tenaga sudah terpampang di depan mata. Sebenarnya yang membuat prihatin Pak Doso adalah mengenai penyebab kemacetan lalu lintas waktu itu. Penyebabnya bukan perbaikan jalan, kecelakaan, atau faktor teknis lainnya. Akan tetapi kemacetan itu disebabkan oleh acara pawai agustusan yang diadakan oleh warga setempat.
Saya yakin kita juga sering mengalami hal yang sama, seperti yang dirasakan Pak Doso. Ketika agustusan tidak jarang gang-gang atau jalan-jalan ditutup oleh warga dengan alasan ada kegiatan pentas atau lomba-lomba agustusan. Kita yang saat itu ada keperluan penting terpaksa seringkali tidak bisa melewati jalan/gang tersebut. Saya tidak mempermasalahkan tentang partisipasi kita untuk memperingati hari kemerdekaan. Tetapi tidak adakah cara lain yang lebih baik dalam rangkah memperingati proklamasi kemerdekaan itu.
Sebagai contoh kegiatan pawai agustusan yang menyebabkan terjebaknya truk pak Doso dan kendaraan lainnya. Saya lihat kegiatan tersebut tidak hanya memacetkan, akan tetapi juga tidak atau kurang manfaat. Peserta pawai yang terdiri dari utusan beberapa desa mengikuti kegiatan tersebut. Satu desa mengirim satu delegasi tim/kelompok barisan dengan tema yang rata-rata kurang memaknai kemerdekaan. Dari pengamatan saya, rata-rata mereka membawakan tema yang sekedar lucu dan “eksploitasi gender” (baca: wanita memerankan pria sedangkan yang pria memerankan wanita). Dengan dandanan tak lazim dan sensual mereka pawai berarak-arakan di jalan dan memacetkan lalu lintas dengan alasan atas nama memperingati kemerdekaan.
Tidak hanya itu, di kampung-kampung agustusan sering diperingati dengan cara-cara yang kontroversial, kurang makna, bahkan merusak. Ada kecenderungan antar kampung seringkali bersaing seru ketika memperingati kemerdekaan. Alhamdulillah, sebagian kegiatan juga cukup bahkan sarat makna, seperti kerja bakti, lomba kebersihan, mengecat pagar, trotoar, dan poskamling, tasyakuran dan lain-lain. Hanya saja kita juga menjumpai kegiatan yang kurang baik, seperti adu petasan, adu kencang-kencangan sound system, kegiatan lomba yang tidak mendidik, mabuk-mabukan di malam kemerdekaan, dan lain-lain.
Keprihatinan kita yang cukup mendalam adalah ketika masyarakat menganggap kegiatan yang kurang baik itu dianggap sebagai sesuatu yang biasa dan rutinitas. Bahkan ada justifikasi “La wong satu tahun sekali ya ndak apa-apa”, “Demi memperingati kemerdekaan begini saja ya ndak apa-apa”, “Agustusan yang penting meriah” dan lain-lain. Suatu saat agaknya kita perlu merenung dan membayangkan apa kata para pahlawan kita yang gugur di medan perang demi kemerdekaan ketika melihat kegiatan peringatan agustusan yang melenceng itu? Apakah mereka tidak menangis jika kucuran darah mereka diperingati dengan adu petasan? Apakah mereka tetap tersenyum ketika melihat pemuda yang asyik pesta miras di malam peringatan kemerdekaan?
Sebenarnya ada beberapa pertanyaan yang cukup mendasar tentang kemerdekaan yang hakiki bagi bangsa ini. Yaitu, apakah kita sekarang ini sudah benar-benar terbebas dari berbagai belenggu penjajahan? Apakah dengan dibacanya teks proklamasi dan hengkangnya pasukan Belanda dari negeri ini menandakan telah berakhirnya masa penjajahan itu? Kalau belum berakhir penjajahan itu, lalu penjajahan macam apa yang terjadi sekarang ini?
Jawabnya adalah penjajahan itu masih ada, tetapi model dan bentuknya muncul dengan wajah baru. Dia bukan berupa pendudukan negara atas sebuah negara atau ia bukan hanya menguasai satu atau dua negara. Imperialisme modern itu berupa sosialisasi pola atau sistem tertentu dalam hal ideologi, politik, ekonomi, budaya, dan agama yang dimiliki oleh suatu negara atau lebih luasnya peradaban barat hingga menembus ke seantero jagad (mendunia). Menurut Dr. Yusuf Al-Qaradhawi dalam buku yang bertajuk “Islam dan Globalisasi Dunia” dikatakan oleh beliau bahwa globalisasi (‘Aulamah) menghilangkan batas-batas kenasionalan dalam bidang ekonomi (perdagangan) dan membiarkan segala sesuatu bebas melintas dunia dan menembus level internasional sehingga terancamlah nasib suatu bangsa atau negara yang dianggap belum bisa bersaing, termasuk Indonesia.
Bentuk riilnya penjajahan modern yang bertopeng globalisai adalah dalam penjajahan di bidang ekonomi, politik, dan sosial budaya. Di bidang ekonomi kita sudah melihat bagaimana investasi asing sudah mengusai bumi kita. Privatisasi BUMN yang menyebabkan terjualnya aset bangsa ke pihak asing dan eksploitasi sebagian besar barang tambang kita oleh asing adalah contoh imperealisme di bidang ekonomi. Di bidang politik kita juga sering ditekan oleh asing. Sebagai contoh tekanan politik asing adalah memberi hak diplomatik pada tentara Amerika untuk program NAMRU yang digelindingkan USA. Tekanan politik asing juga sangat tampak pada penanganan pemerintah terhadap isu terorisme.
Dalam bidang sosial-budaya kita mengenal misi imperialisme itu dengan istilah 3 F, yaitu Food, Funny, dan Fashion. Pertama, Food atau makanan. Kita lihat, berapa banyak gerai makanan, kafe-kafe, dan restoran asing yang menjamur di Indonesia. Parahnya, kebanyakan di antara kita sangat bangga untuk mengkonsumsi makanan beresep import. Kita lebih punya gengsi jika makan atau minum di gerai Kentucky Fried Chiken atau Pizza Hut dari pada di Warung Pecel Madiun atau Soto Ayam Lamongan. Kita tidak sadar telah memberi keuntungan yang besar pada pengusaha makanan asing yang mungkin saja keuntungan itu digunakan untuk gerakan misionaris dan kemaksiatan.
Kedua, Funny, permainan dan hiburan. Dunia permainan dan hiburan menempati rating yang tinggi dikonsumsi oleh masyarakat kita. Model-model permainan dan hiburan yang mengarah pada pemborosan, perjudian dan kemaksiatan cukup marak di Indonesia. Play Station (PS) sangat digemari anak-anak dan pelajar di Indonesia. Dampaknya, uang saku mereka yang seharusnya lebih produktif digunakan untuk membeli buku bacaan digunakan untuk menyewa PS. Belum lagi waktu yang seharusnya digunakan belajar, terbuang percuma hanya digunakan main PS. Di kalangan remaja dan dewasa, juga sangat gemar mengunjungi tempat permainan dan hiburan. Bahkan untuk melihat pertandingan sepak bola piala dunia saja harus nonton bareng di kafe-kafe. Bahkan tidak jarang diselingi dengan acara judi taruhan.
Sekarang, mulai marak perjudian terselubung melalui kuis sms. Caranya, konsumen berlomba-lomba mengirim sms dengan memilih atau menjawab sesuatu ke penyelenggara judi terselubung itu. Karena harga per sms itu tarifnya lebih mahal dari tarif normal, maka mereka meraup keuntungan dari selisih tarif sms tersebut. Sebagian keuntungan dari selisih tarif tersebut digunakan untuk memberi hadiah pemenang dan sisanya sebagai keuntungan. Unsur judi ini terlihat dari konsumen yang harus mengeluarkan uang untuk menjawab kuis tersebut dan mereka mengharap hadiah. Sedangkan dari pihak penyelenggara unsur judi terlihat dari usaha untuk mencari keuntungan dalam penyelengaraan kuis tersebut di samping memberi hadiah yang uangnya diambil dari hasil selisih tarif sms konsumen.
Dengan maraknya permainan dan hiburan, masyarakat kita menjadi lalai dan hidupnya menjadi tidak produktif. Waktunya yang seharusnya digunakan untuk bekerja habis digunakan di arena hiburan dan permainan. Kebutuhan hidupnya yang seharusnya dicukupi dengan hasil kerja menjadi tidak jelas karena kita menggantungkan diri dari mengharap hadiah. Permainan dan hiburan yang menjurus pada perjudian, kemaksiatan, dan berlebihan menyebabkan kita malas dan terjerumus pada lembah kehancuran.
Ketiga, Fashion atau Mode dan pakaian. Salah satu pemicu kemaksiatan di tengah-tengah masyarakat kita disebabkan mode dan pakaian. Salah satu buktinya adalah pernah terjadi seorang bocah SMP yang memperkosa siswa SD. Menurut pengakuannya, dia melakukan itu karena terangsang ketika melihat tarian film India dengan pakaian yang terlihat pusarnya. Dunia mode dan pakaian begitu menggejala di masyarakat kita. Ujung-ujungnya mode dan pakaian Barat yang dijadikan rujukan oleh muda-mudi kita. Kita masih ingat, betapa mode rambut artis Demi moore bintang utama film Ghost pernah mendunia di eranya. Begitu juga dengan pakaian, model pakaian you can see, yang dipakai artis-artis barat betapa sangat digemari remaja kita.
Alhasil penjajahan dalam bentuk yang riil, yaitu ekonomi, politik, dan sosial budaya dengan kendaraan globalisasi sebenarnya ada di depan mata kita. Jangan menganggap penjajahan itu hanya pendudukan negara atas negara lain yang bisa dibebaskan dengan proklamasi kemerdekaan. Sadarlah jika penjajahan melalui topeng globalisasi lebih halus tetapi dampaknya sangat kronis. Oleh karena itu mari kita isi kegiatan agustusan tahun ini dan tahun-tahun mendatang dengan penuh introspeksi diri dan mengadakan kegiatan yang positif serta mencerdaskan umat. Jika umat ini memili IPTEKS dan IMTAQ yang baik, maka kita bisa melawan dan melepaskan diri dari penjajahan asing dalam bentuk dan model apapun. Wallahua’lam
Senin, 20 Juli 2009
Isra’ Mi’raj Dalam Prespektif Al Qur’an, Hadits dan Sains
Oleh:
Mishad Khairi
Dalam pengertiannya, Isra’ Mi’raj merupakan perjalanan suci, dan bukan sekadar perjalanan “wisata” biasa bagi Rasul. Sehingga peristiwa ini menjadi perjalanan bersejarah yang akan menjadi titik balik dari kebangkitan dakwah Rasulullah SAW. John Renerd dalam buku ”In the Footsteps of Muhammad: Understanding the Islamic Experience,” seperti pernah dikutip Azyumardi Azra, mengatakan bahwa Isra Mi’raj adalah satu dari tiga perjalanan terpenting dalam sejarah hidup Rasulullah SAW, selain perjalanan hijrah dan Haji Wada. Isra Mi’raj, menurutnya, benar-benar merupakan perjalanan heroik dalam menempuh kesempurnaan dunia spiritual.
Ketika Nabi Muhammad SAW menceritakan pengalamannya pergi dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, kemudian ke langit ke 7 hingga Sidratul Muntaha dalam waktu semalam, maka orang-orang kafir Quraisy mentertawakannya, sementara banyak orang yang telah masuk Islam, akhirnya murtad kembali karena tidak percaya akan Isra’ dan Mi’raj.
Abu Bakar ra, ketika ditanyakan apakah dia mempercayai Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad, dengan penuh keyakinan berkata, “Jika yang berkata demikian itu adalah Muhammad bin Abdullah, maka yang lebih aneh dari itu pun aku percaya, karena sesungguhnya Muhammad itu tidak pernah berbohong.” Meski Nabi Muhammad SAW tidak pernah berbohong sehingga sampai dijuluki Al Amin (Yang Terpercaya) oleh orang Quraisy Mekkah, tapi hanya sedikit Muslim sajalah yang beriman akan cerita Nabi Muhammad SAW. Abu Bakar adalah salah satu dari sedikit orang itu yang dengan tegas menyatakan keyakinannya, sehingga beliau dijuluki Ash Shiddiq.
Hingga sekarangpun banyak Muslim yang masih ragu akan kebenaran Isra’ dan Mi’raj, meski itu nyata tertuang dalam Al Qur’an dan juga hadits Nabi yang shahih. Bagaimana mungkin orang bisa pergi dari Mekkah hingga Yerusalem, kemudian ke langit ke 7 dan kembali lagi dalam semalam? Itu tidak rasional, begitu pendapat mereka. Ada juga yang berpendapat apa yang dialami Nabi tidak lebih dari mimpi (perjalanan rohani) belaka.
Padahal jika hanya mimpi, itu bukan mu’jizat Allah! Kita semua bisa mimpi pergi ke negeri asing, ke bulan, bahkan ke langit dalam sekejap. Selain itu, tak mungkin terjadi kegemparan yang demikian heboh, sehingga orang-orang kafir pada tertawa, orang-orang Islam yang imannya pas-pasan murtad kembali, dan Abu Bakar sampai digelari Ash Shiddiq.
Tinjauan Al-Qur'an dan Hadits
Di dalam QS. Al-Isra':1 Allah menjelaskan tentang isra':
Maha Suci Allah, yang Telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang Telah kami berkahi sekelilingnya[*] agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya dia adalah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.
(Al Israa’:1)
[*] Maksudnya: Al Masjidil Aqsha dan daerah-daerah sekitarnya dapat berkat dari Allah dengan diturunkan nabi-nabi di negeri itu dan kesuburan tanahnya.
Dan tentang mi'raj Allah menjelaskan dalam QS. An-Najm:13-18:
"Dan sesungguhnya dia (Nabi Muhammad SAW) telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, di Sidratul Muntaha*. Di dekat (Sidratul Muntaha) ada syurga tempat tinggal. (Dia melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh suatu selubung. Penglihatannya tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar."
[*] Sidratul Muntaha adalah tempat yang paling tinggi, di atas langit ke-7, yang Telah dikunjungi nabi ketika Mi'raj.
Sidratul muntaha secara harfiah berarti 'tumbuhan sidrah yang tak terlampaui', suatu perlambang batas yang tak seorang manusia atau makhluk lainnya bisa mengetahui lebih jauh lagi. Hanya Allah yang tahu hal-hal yang lebih jauh dari batas itu. Sedikit sekali penjelasan dalam Al-Qur'an dan hadits yang menerangkan apa, di mana, dan bagaimana sidratul muntaha itu.
Kejadian-kejadian sekitar isra' dan mi'raj dijelaskan di dalam hadits- hadits nabi. Dari hadits-hadits yang sahih, didapati rangkaian kisah-kisah berikut. Suatu hari malaikat Jibril datang dan membawa Nabi, lalu dibedahnya dada Nabi dan dibersihkannya hatinya, diisinya dengan iman dan hikmah. Kemudian didatangkan buraq, 'binatang' berwarna putih yang langkahnya sejauh pandangan mata. Dengan buraq itu Nabi melakukan isra' dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsha (Baitul Maqdis) di Palestina.
Nabi SAW shalat dua rakaat di Baitul Maqdis, lalu dibawakan oleh Jibril segelas khamr (minuman keras) dan segelas susu; Nabi SAW memilih susu. Kata malaikat Jibril, "Engkau dalam kesucian, sekiranya kau pilih khamr, sesatlah ummat engkau."
Dengan buraq pula Nabi SAW melanjutkan perjalanan memasuki langit dunia. Di sana dijumpainya Nabi Adam yang dikanannya berjejer para ruh ahli surga dan di kirinya para ruh ahli neraka. Perjalanan diteruskan ke langit ke dua sampai ke tujuh. Di langit ke dua dijumpainya Nabi Isa dan Nabi Yahya. Di langit ke tiga ada Nabi Yusuf. Nabi Idris dijumpai di langit ke empat. Lalu Nabi SAW bertemu dengan Nabi Harun di langit ke lima, Nabi Musa di langit ke enam, dan Nabi Ibrahim di langit ke tujuh. Di langit ke tujuh dilihatnya baitul Ma'mur, tempat 70.000 malaikat shalat tiap harinya, setiap malaikat hanya sekali memasukinya dan tak akan pernah masuk lagi.
Perjalanan dilanjutkan ke Sidratul Muntaha. Dari Sidratul Muntaha didengarnya kalam-kalam ('pena'). Dari sidratul muntaha dilihatnya pula empat sungai, dua sungai non-fisik (bathin) di surga, dua sungai fisik (dhahir) di dunia: sungai Efrat dan sungai Nil. Lalu Jibril membawa tiga gelas berisi khamr, susu, dan madu, dipilihnya susu. Jibril pun berkomentar, "Itulah (perlambang) fitrah (kesucian) engkau dan ummat engkau." Jibril mengajak Nabi melihat surga yang indah. Inilah yang dijelaskan pula dalam Al-Qur'an surat An-Najm. Di Sidratul Muntaha itu pula Nabi melihat wujud Jibril yang sebenarnya.
Puncak dari perjalanan itu adalah diterimanya perintah shalat wajib. Mulanya diwajibkan shalat lima puluh kali sehari-semalam. Atas saran Nabi Musa, Nabi SAW meminta keringanan dan diberinya pengurangan sepuluh- sepuluh setiap meminta. Akhirnya diwajibkan lima kali sehari semalam. Nabi enggan meminta keringanan lagi, "Saya telah meminta keringan kepada Tuhanku, kini saya rela dan menyerah." Maka Allah berfirman, "Itulah fardlu-Ku dan Aku telah meringankannya atas hamba-Ku."
Urutan kejadian sejak melihat Baitul Ma'mur sampai menerima perintah shalat tidak sama dalam beberapa hadits, mungkin menunjukkan kejadian- kajadian itu serempak dialami Nabi. Dalam kisah itu, hal yang fisik (dzhahir) dan non-fisik (bathin) bersatu dan perlambang pun terdapat di dalamnya. Nabi SAW yang pergi dengan badan fisik hingga bisa shalat di Masjidil Aqsha dan memilih susu yang ditawarkan Jibril, tetapi mengalami hal-hal non-fisik, seperti pertemuan dengan ruh para Nabi yang telah wafat jauh sebelum kelahiran Nabi SAW dan pergi sampai ke surga. Juga ditunjukkan dua sungai non-fisik di surga dan dua sungai fisik di dunia. Dijelaskannya makna perlambang pemilihan susu oleh Nabi Muhammad SAW, dan menolak khamr atau madu. Ini benar-benar ujian keimanan, bagi orang mu'min semua kejadian itu benar diyakini terjadinya. Allah Maha Kuasa atas segalanya.
"Dan (ingatlah), ketika Kami wahyukan kepadamu: "Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia". Dan Kami tidak menjadikan pemandangan yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia...." (QS. 17:60).
"Ketika orang-orang Quraisy tak mempercayai saya (kata Nabi SAW), saya berdiri di Hijr (menjawab berbagai pertanyaan mereka). Lalu Allah menampakkan kepada saya Baitul Maqdis, saya dapatkan apa yang saya inginkan dan saya jelaskan kepada mereka tanda-tandanya, saya memperhatikannya...." (HR. Bukhari, Muslim, dan lainnya).
Prespektif Sains
Pada zaman sekarang ini, perjalanan Isra’ Mi’raj yang jauh dalam waktu sedemikian singkat, seharusnya sudah mulai masuk di akal kita. Dulu orang menganggap perjalanan dari Mekkah ke Yerusalem dalam semalam mustahil. Itu wajar, karena mereka masih naik onta yang kecepatannya tak lebih dari 60 km per jam. Tapi sekarang dengan pesawat tempur yang canggih (contohnya pesawat SR-71 Blackbird) yang kecepatannya sampai mach 3 (3 kali kecepatan suara atau sekitar 3000 km per jam), maka perjalanan itu bisa di tempuh dalam waktu kurang dari 4 jam dengan teknologi manusia pada zaman ini! Bahkan manusia telah mampu menciptakan roket yang bisa melaju hingga lebih dari 40 ribu kilometer per jam. Artinya dalam waktu kurang dari satu jam, bumi sudah selesai dikitari!
Teknologi telpon, memungkinkan suara seseorang bisa diterima hampir seketika meski jaraknya sampai 20 ribu kilometer (misalnya dari Hawaii ke Eropa), walaupun kecepatan suara itu cuma sekitar 1000 kilometer per jam. Menurut nalar manusia primitif, seharusnya suaranya tertunda hingga 20 jam. Teknologi manusia memungkinkan hal itu terjadi.
Sekarang kita bisa mengirim e-mail atau berita dengan sekejap meski jaraknya puluhan ribu kilometer. Di zaman kuno, hal itu tidak mungkin. Begitu pikiran orang-orang yang kuno. Di zaman yang akan datang, teknologi manusia akan terus berkembang dan berkembang, sehingga kecepatan pesawat akhirnya bisa mendekati kecepatan cahaya.
Bagaimana dengan teknologi ciptaan Allah? Lebih jelek atau lebih baik dari buatan makhluknya? Jika akal kita masih sehat, tentulah kita akan mengakui bahwa Allah Maha Kuasa tentu akan jauh lebih hebat kemampuannya ketimbang manusia yang cuma makhluk ciptaannya. Manusia hanya bisa membuat dari bahan yang sudah diciptakan oleh Allah SWT, sementara Allah mampu menciptakan sesuatu dari ketidak-adaan. Jika manusia bisa membuat logam mati yang tidak bergerak menjadi pesawat yang berkecepatan tinggi hingga beberapa kali kecepatan suara, bukankah Allah SWT yang telah menciptakan cahaya dengan kecepatan 300 ribu kilometer per DETIK lebih mampu lagi menciptakan kendaraan atau makhluk yang jauh lebih cepat dari cahaya?
Ada satu cerita. Konon ada seekor semut yang hinggap di kopiah seorang haji. Pak Haji ini, kemudian pergi dari Surabaya ke Banjarmasin pada pagi hari, kemudian kembali lagi pada sore hari. Ketika semut itu berkata, bahwa dia telah pergi ke Banjarmasin pada pagi hari, kemudian kembali lagi pada sore hari, maka teman-temannya tidak percaya. “Tidak mungkin!” Demikian kata teman-temannya. Surabaya dan Banjarmasin itukan jaraknya lebih dari 1000 km dan terpisah laut yang luas, bagaimana mungkin kamu pulang pergi ke sana cuma dalam sehari?”
Begitulah pikiran semut. Jika semut itu yang pergi sendiri, itu memang tidak mungkin. Tapi kalau semut itu menumpang pada teknologi manusia, bukankah hal itu jadi mungkin?
Demikian pula Nabi Muhammad SAW. Jika Nabi Muhammad SAW pergi sendiri, tentulah tak akan bisa melakukannya dalam semalam, meski hanya pergi ke Yerusalem. Tapi karena Allah SWT yang menyediakan kendaraannya serta memperjalankan Nabi, maka hal itu mungkin saja, karena Allah SWT adalah Tuhan yang Maha Kuasa. Allah SWT adalah pencipta segalanya, termasuk ruang dan waktu.
Menurut pikiran manusia (yang cuma makhluk ciptaan Allah SWT), hal itu mungkin tidak mungkin (terutama bagi orang yang imannya berada “di bawah garis kemiskinan”:), tapi kalau bagi Allah SWT, itu adalah hal yang mudah sekali.
Sesungguhnya, perjalanan melintas penjuru langit dan bumi itu dapat dilakukan oleh manusia (meski tidak sehebat Israa’ Mi’raj). Allah SWT telah menyatakan hal ini bahwa jin dan manusia bisa melakukan itu jika mereka memakai kekuatan (power):
“Hai jama`ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan.” [Ar Rahman:33]
Sekarang manusia telah menciptakan berbagai pesawat dari yang kekuatannya ribuan tenaga kuda (Horse Power), hingga jutaan tenaga kuda (bahkan lebih di masa depan nanti). Semakin modern kita, di mana terjadi banyak penemuan kendaraan-kendaraan yang berkecepatan makin lama makin tinggi, seharusnya perjalanan seperti Israa’ Mi’raj itu akan makin mudah diterima. Jika ada yang menganggap tidak masuk akal, tentu pikirannya tidak berbeda jauh dengan pikiran primitif orang-orang kafir Quraisy macam Abu Jahal dan Abu Lahab yang tinggal di zaman baheula.
Tentang Langit Lapis Tujuh
Peristiwa isra' mi'raj yang menyebut-nyebut tujuh langit mau tak mau mengusik keingintahuan kita akan hakikat langit, khususnya berkaitan dengan tujuh langit yang juga sering disebut-sebut dalam Al-Qur'an.
Bila kita dengar kata langit, yang terbayang adalah kubah biru yang melingkupi bumi kita. Benarkah yang dimaksud langit itu lapisan biru di atas sana dan berlapis-lapis sebanyak tujuh lapisan? Warna biru hanyalah semu, yang dihasilkan dari hamburan cahaya biru dari matahari oleh partikel-partikel atmosfer. Langit (samaa' atau samawat) berarti segala yang ada di atas kita, yang berarti pula angkasa luar, yang berisi galaksi, bintang, planet, batuan, debu dan gas yang bertebaran. Dan lapisan-lapisan yang melukiskan tempat kedudukan benda-benda langit sama sekali tidak ada.
Bilangan 'tujuh' sendiri dalam beberapa hal di Al-Qur'an tidak selalu menyatakan hitungan eksak dalam sistem desimal. Di dalam Al-Qur'an ungkapan 'tujuh' atau 'tujuh puluh' sering mengacu pada jumlah yang tak terhitung. Misalnya, di dalam Q.S. Al-Baqarah:261 Allah menjanjikan:
"Siapa yang menafkahkan hartanya di jalan Allah ibarat menanam sebiji benih yang menumbuhkan tujuh tangkai yang masing-masingnya berbuah seratus butir. Allah melipatgandakan apahala orang-orang yang dikehendakinya...."
Juga di dalam Q.S. Luqman:27:
"Jika seandainya semua pohon di bumi dijadikan sebagai pena dan lautan menjadi tintanya dan ditambahkan TUJUH lautan lagi, maka tak akan habis Kalimat Allah...."
Jadi 'tujuh langit' lebih mengena bila difahamkan sebagai tatanan benda-benda langit yang tak terhitung banyaknya, bukan sebagai lapisan-lapisan langit.
Lalu, apa hakikatnya langit dunia, langit ke dua, langit ke tiga, ... sampai langit ke tujuh dalam kisah isra' mi'raj? Mungkin ada orang mengada-ada penafsiran, mengaitkan dengan astronomi. Para penafsir dulu ada yang berpendapat bulan di langit pertama, matahari di langit ke empat, dan planet-planet lain di lapisan lainnya. Kini ada sembilan planet yang sudah diketahui, lebih dari tujuh. Tetapi, mungkin masih ada orang yang ingin mereka-reka. Kebetulan, dari jumlah planet yang sampai saat ini kita ketahui, dua planet dekat matahari (Merkurius dan Venus), tujuh lainnya --termasuk bumi-- mengorbit jauh dari matahari. Nah, orang mungkin akan berfikir langit dunia itulah orbit bumi, langit ke dua orbit Mars, ke tiga orbit Jupiter, ke empat orbit Saturnus, ke lima Uranus, ke enam Neptunus, dan ke tujuh Pluto. Kok, klop ya. Kalau begitu, Masjidil Aqsha yang berarti masjid terjauh dalam QS. 17:1, ada di planet Pluto.
Dan Sidratul Muntaha adalah planet ke sepuluh yang tak mungkin terlampaui. Jadilah, isra' mi'raj dibayangkan seperti kisah Science Fiction, perjalanan antar planet dalam satu malam. Na'udzu billah mindzalik.
Pengertian langit dalam kisah isra' mi'raj bukanlah pengertian langit secara fisik. Karena, fenomena yang diceritakan Nabi pun bukan fenomena fisik, seperti perjumpaan dengan ruh para Nabi. Langit dan Sidratul Muntaha dalam kisah isra' mi'raj adalah alam ghaib yang tak bisa kita ketahui hakikatnya dengan keterbatasan ilmu manusia. Hanya Rasulullah SAW yang berkesempatan mengetahuinya. Isra' mi'raj adalah mu'jizat yang hanya diberikan Allah kepada Nabi Muhammad SAW.
Bagaimanapun ilmu manusia tak mungkin bisa menjabarkan hakikat perjalanan isra' mi'raj. Allah hanya memberikan ilmu kepada manusia sedikit sekali (QS. Al-Isra: 85). Hanya dengan iman kita mempercayai bahwa isra' mi'raj benar-benar terjadi dan dilakukan oleh Rasulullah SAW. Rupanya, begitulah rencana Allah menguji keimanan hamba-hamba-Nya (QS. Al-Isra:60) dan menyampaikan perintah shalat wajib secara langsung kepada Rasulullah SAW.
Makna Penting Isra’ Mi’raj
Makna penting isra' mi'raj bagi ummat Islam ada pada keistimewaan penyampaian perintah shalat wajib lima waktu. Ini menunjukkan kekhususan shalat sebagai ibadah utama dalam Islam. Shalat mesti dilakukan oleh setiap Muslim, baik dia kaya maupun miskin, dia sehat maupun sakit. Ini berbeda dari ibadah zakat yang hanya dilakukan oleh orang-orang yang mampu secara ekonomi, atau puasa bagi yang kuat fisiknya, atau haji bagi yang sehat badannya dan mampu keuangannya.
Shalat lima kali sehari semalam yang didistribusikan di sela-sela kesibukan aktivitas kehidupan, mestinya mampu membersihkan diri dan jiwa setiap Muslim. Allah mengingatkan:
"Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur'an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Ankabut:45)
Sehingga jika kita tarik benang merahnya, ada beberapa makna dalam perjalanan Rasulullah SAW ini. Pertama, adanya penderitaan dalam perjuangan yang disikapi dengan kesabaran yang dalam. Kedua, kesabaran yang berbuah balasan dari Allah berupa perjalanan Isra Mi’raj dan perintah shalat. Dan ketiga, shalat menjadi senjata bagi Rasulullah SAW dan kaum Muslimin untuk bangkit dan merebut kemenangan. Ketiga hal diatas telah terangkum dengan sangat indah dalam salah satu ayat Al-Quran, yang berbunyi “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. (Yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” Mishad Khairi
Daftar Rujukan:
- Al Qur’an Karim
- Ahmad Nurcholish, 2007, TELISIK::Isra’ Mi’raj dalam Beragam Persepektif, ICRP
- T. Djamaluddin,2007, ISRA' MI'RAJ: Mu'jizat, Salah Tafsir, dan Makna Pentingnya
(peneliti bidang matahari & lingkungan antariksa, Lapan, Bandung).
- Lukman santoso Az,2008 Hikmah Isra’ Mi’raj,Centre for Studies of Religion and State (CSRS) Yogyakarta
Mishad Khairi
Dalam pengertiannya, Isra’ Mi’raj merupakan perjalanan suci, dan bukan sekadar perjalanan “wisata” biasa bagi Rasul. Sehingga peristiwa ini menjadi perjalanan bersejarah yang akan menjadi titik balik dari kebangkitan dakwah Rasulullah SAW. John Renerd dalam buku ”In the Footsteps of Muhammad: Understanding the Islamic Experience,” seperti pernah dikutip Azyumardi Azra, mengatakan bahwa Isra Mi’raj adalah satu dari tiga perjalanan terpenting dalam sejarah hidup Rasulullah SAW, selain perjalanan hijrah dan Haji Wada. Isra Mi’raj, menurutnya, benar-benar merupakan perjalanan heroik dalam menempuh kesempurnaan dunia spiritual.
Ketika Nabi Muhammad SAW menceritakan pengalamannya pergi dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, kemudian ke langit ke 7 hingga Sidratul Muntaha dalam waktu semalam, maka orang-orang kafir Quraisy mentertawakannya, sementara banyak orang yang telah masuk Islam, akhirnya murtad kembali karena tidak percaya akan Isra’ dan Mi’raj.
Abu Bakar ra, ketika ditanyakan apakah dia mempercayai Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad, dengan penuh keyakinan berkata, “Jika yang berkata demikian itu adalah Muhammad bin Abdullah, maka yang lebih aneh dari itu pun aku percaya, karena sesungguhnya Muhammad itu tidak pernah berbohong.” Meski Nabi Muhammad SAW tidak pernah berbohong sehingga sampai dijuluki Al Amin (Yang Terpercaya) oleh orang Quraisy Mekkah, tapi hanya sedikit Muslim sajalah yang beriman akan cerita Nabi Muhammad SAW. Abu Bakar adalah salah satu dari sedikit orang itu yang dengan tegas menyatakan keyakinannya, sehingga beliau dijuluki Ash Shiddiq.
Hingga sekarangpun banyak Muslim yang masih ragu akan kebenaran Isra’ dan Mi’raj, meski itu nyata tertuang dalam Al Qur’an dan juga hadits Nabi yang shahih. Bagaimana mungkin orang bisa pergi dari Mekkah hingga Yerusalem, kemudian ke langit ke 7 dan kembali lagi dalam semalam? Itu tidak rasional, begitu pendapat mereka. Ada juga yang berpendapat apa yang dialami Nabi tidak lebih dari mimpi (perjalanan rohani) belaka.
Padahal jika hanya mimpi, itu bukan mu’jizat Allah! Kita semua bisa mimpi pergi ke negeri asing, ke bulan, bahkan ke langit dalam sekejap. Selain itu, tak mungkin terjadi kegemparan yang demikian heboh, sehingga orang-orang kafir pada tertawa, orang-orang Islam yang imannya pas-pasan murtad kembali, dan Abu Bakar sampai digelari Ash Shiddiq.
Tinjauan Al-Qur'an dan Hadits
Di dalam QS. Al-Isra':1 Allah menjelaskan tentang isra':
Maha Suci Allah, yang Telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang Telah kami berkahi sekelilingnya[*] agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya dia adalah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.
(Al Israa’:1)
[*] Maksudnya: Al Masjidil Aqsha dan daerah-daerah sekitarnya dapat berkat dari Allah dengan diturunkan nabi-nabi di negeri itu dan kesuburan tanahnya.
Dan tentang mi'raj Allah menjelaskan dalam QS. An-Najm:13-18:
"Dan sesungguhnya dia (Nabi Muhammad SAW) telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, di Sidratul Muntaha*. Di dekat (Sidratul Muntaha) ada syurga tempat tinggal. (Dia melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh suatu selubung. Penglihatannya tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar."
[*] Sidratul Muntaha adalah tempat yang paling tinggi, di atas langit ke-7, yang Telah dikunjungi nabi ketika Mi'raj.
Sidratul muntaha secara harfiah berarti 'tumbuhan sidrah yang tak terlampaui', suatu perlambang batas yang tak seorang manusia atau makhluk lainnya bisa mengetahui lebih jauh lagi. Hanya Allah yang tahu hal-hal yang lebih jauh dari batas itu. Sedikit sekali penjelasan dalam Al-Qur'an dan hadits yang menerangkan apa, di mana, dan bagaimana sidratul muntaha itu.
Kejadian-kejadian sekitar isra' dan mi'raj dijelaskan di dalam hadits- hadits nabi. Dari hadits-hadits yang sahih, didapati rangkaian kisah-kisah berikut. Suatu hari malaikat Jibril datang dan membawa Nabi, lalu dibedahnya dada Nabi dan dibersihkannya hatinya, diisinya dengan iman dan hikmah. Kemudian didatangkan buraq, 'binatang' berwarna putih yang langkahnya sejauh pandangan mata. Dengan buraq itu Nabi melakukan isra' dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsha (Baitul Maqdis) di Palestina.
Nabi SAW shalat dua rakaat di Baitul Maqdis, lalu dibawakan oleh Jibril segelas khamr (minuman keras) dan segelas susu; Nabi SAW memilih susu. Kata malaikat Jibril, "Engkau dalam kesucian, sekiranya kau pilih khamr, sesatlah ummat engkau."
Dengan buraq pula Nabi SAW melanjutkan perjalanan memasuki langit dunia. Di sana dijumpainya Nabi Adam yang dikanannya berjejer para ruh ahli surga dan di kirinya para ruh ahli neraka. Perjalanan diteruskan ke langit ke dua sampai ke tujuh. Di langit ke dua dijumpainya Nabi Isa dan Nabi Yahya. Di langit ke tiga ada Nabi Yusuf. Nabi Idris dijumpai di langit ke empat. Lalu Nabi SAW bertemu dengan Nabi Harun di langit ke lima, Nabi Musa di langit ke enam, dan Nabi Ibrahim di langit ke tujuh. Di langit ke tujuh dilihatnya baitul Ma'mur, tempat 70.000 malaikat shalat tiap harinya, setiap malaikat hanya sekali memasukinya dan tak akan pernah masuk lagi.
Perjalanan dilanjutkan ke Sidratul Muntaha. Dari Sidratul Muntaha didengarnya kalam-kalam ('pena'). Dari sidratul muntaha dilihatnya pula empat sungai, dua sungai non-fisik (bathin) di surga, dua sungai fisik (dhahir) di dunia: sungai Efrat dan sungai Nil. Lalu Jibril membawa tiga gelas berisi khamr, susu, dan madu, dipilihnya susu. Jibril pun berkomentar, "Itulah (perlambang) fitrah (kesucian) engkau dan ummat engkau." Jibril mengajak Nabi melihat surga yang indah. Inilah yang dijelaskan pula dalam Al-Qur'an surat An-Najm. Di Sidratul Muntaha itu pula Nabi melihat wujud Jibril yang sebenarnya.
Puncak dari perjalanan itu adalah diterimanya perintah shalat wajib. Mulanya diwajibkan shalat lima puluh kali sehari-semalam. Atas saran Nabi Musa, Nabi SAW meminta keringanan dan diberinya pengurangan sepuluh- sepuluh setiap meminta. Akhirnya diwajibkan lima kali sehari semalam. Nabi enggan meminta keringanan lagi, "Saya telah meminta keringan kepada Tuhanku, kini saya rela dan menyerah." Maka Allah berfirman, "Itulah fardlu-Ku dan Aku telah meringankannya atas hamba-Ku."
Urutan kejadian sejak melihat Baitul Ma'mur sampai menerima perintah shalat tidak sama dalam beberapa hadits, mungkin menunjukkan kejadian- kajadian itu serempak dialami Nabi. Dalam kisah itu, hal yang fisik (dzhahir) dan non-fisik (bathin) bersatu dan perlambang pun terdapat di dalamnya. Nabi SAW yang pergi dengan badan fisik hingga bisa shalat di Masjidil Aqsha dan memilih susu yang ditawarkan Jibril, tetapi mengalami hal-hal non-fisik, seperti pertemuan dengan ruh para Nabi yang telah wafat jauh sebelum kelahiran Nabi SAW dan pergi sampai ke surga. Juga ditunjukkan dua sungai non-fisik di surga dan dua sungai fisik di dunia. Dijelaskannya makna perlambang pemilihan susu oleh Nabi Muhammad SAW, dan menolak khamr atau madu. Ini benar-benar ujian keimanan, bagi orang mu'min semua kejadian itu benar diyakini terjadinya. Allah Maha Kuasa atas segalanya.
"Dan (ingatlah), ketika Kami wahyukan kepadamu: "Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia". Dan Kami tidak menjadikan pemandangan yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia...." (QS. 17:60).
"Ketika orang-orang Quraisy tak mempercayai saya (kata Nabi SAW), saya berdiri di Hijr (menjawab berbagai pertanyaan mereka). Lalu Allah menampakkan kepada saya Baitul Maqdis, saya dapatkan apa yang saya inginkan dan saya jelaskan kepada mereka tanda-tandanya, saya memperhatikannya...." (HR. Bukhari, Muslim, dan lainnya).
Prespektif Sains
Pada zaman sekarang ini, perjalanan Isra’ Mi’raj yang jauh dalam waktu sedemikian singkat, seharusnya sudah mulai masuk di akal kita. Dulu orang menganggap perjalanan dari Mekkah ke Yerusalem dalam semalam mustahil. Itu wajar, karena mereka masih naik onta yang kecepatannya tak lebih dari 60 km per jam. Tapi sekarang dengan pesawat tempur yang canggih (contohnya pesawat SR-71 Blackbird) yang kecepatannya sampai mach 3 (3 kali kecepatan suara atau sekitar 3000 km per jam), maka perjalanan itu bisa di tempuh dalam waktu kurang dari 4 jam dengan teknologi manusia pada zaman ini! Bahkan manusia telah mampu menciptakan roket yang bisa melaju hingga lebih dari 40 ribu kilometer per jam. Artinya dalam waktu kurang dari satu jam, bumi sudah selesai dikitari!
Teknologi telpon, memungkinkan suara seseorang bisa diterima hampir seketika meski jaraknya sampai 20 ribu kilometer (misalnya dari Hawaii ke Eropa), walaupun kecepatan suara itu cuma sekitar 1000 kilometer per jam. Menurut nalar manusia primitif, seharusnya suaranya tertunda hingga 20 jam. Teknologi manusia memungkinkan hal itu terjadi.
Sekarang kita bisa mengirim e-mail atau berita dengan sekejap meski jaraknya puluhan ribu kilometer. Di zaman kuno, hal itu tidak mungkin. Begitu pikiran orang-orang yang kuno. Di zaman yang akan datang, teknologi manusia akan terus berkembang dan berkembang, sehingga kecepatan pesawat akhirnya bisa mendekati kecepatan cahaya.
Bagaimana dengan teknologi ciptaan Allah? Lebih jelek atau lebih baik dari buatan makhluknya? Jika akal kita masih sehat, tentulah kita akan mengakui bahwa Allah Maha Kuasa tentu akan jauh lebih hebat kemampuannya ketimbang manusia yang cuma makhluk ciptaannya. Manusia hanya bisa membuat dari bahan yang sudah diciptakan oleh Allah SWT, sementara Allah mampu menciptakan sesuatu dari ketidak-adaan. Jika manusia bisa membuat logam mati yang tidak bergerak menjadi pesawat yang berkecepatan tinggi hingga beberapa kali kecepatan suara, bukankah Allah SWT yang telah menciptakan cahaya dengan kecepatan 300 ribu kilometer per DETIK lebih mampu lagi menciptakan kendaraan atau makhluk yang jauh lebih cepat dari cahaya?
Ada satu cerita. Konon ada seekor semut yang hinggap di kopiah seorang haji. Pak Haji ini, kemudian pergi dari Surabaya ke Banjarmasin pada pagi hari, kemudian kembali lagi pada sore hari. Ketika semut itu berkata, bahwa dia telah pergi ke Banjarmasin pada pagi hari, kemudian kembali lagi pada sore hari, maka teman-temannya tidak percaya. “Tidak mungkin!” Demikian kata teman-temannya. Surabaya dan Banjarmasin itukan jaraknya lebih dari 1000 km dan terpisah laut yang luas, bagaimana mungkin kamu pulang pergi ke sana cuma dalam sehari?”
Begitulah pikiran semut. Jika semut itu yang pergi sendiri, itu memang tidak mungkin. Tapi kalau semut itu menumpang pada teknologi manusia, bukankah hal itu jadi mungkin?
Demikian pula Nabi Muhammad SAW. Jika Nabi Muhammad SAW pergi sendiri, tentulah tak akan bisa melakukannya dalam semalam, meski hanya pergi ke Yerusalem. Tapi karena Allah SWT yang menyediakan kendaraannya serta memperjalankan Nabi, maka hal itu mungkin saja, karena Allah SWT adalah Tuhan yang Maha Kuasa. Allah SWT adalah pencipta segalanya, termasuk ruang dan waktu.
Menurut pikiran manusia (yang cuma makhluk ciptaan Allah SWT), hal itu mungkin tidak mungkin (terutama bagi orang yang imannya berada “di bawah garis kemiskinan”:), tapi kalau bagi Allah SWT, itu adalah hal yang mudah sekali.
Sesungguhnya, perjalanan melintas penjuru langit dan bumi itu dapat dilakukan oleh manusia (meski tidak sehebat Israa’ Mi’raj). Allah SWT telah menyatakan hal ini bahwa jin dan manusia bisa melakukan itu jika mereka memakai kekuatan (power):
“Hai jama`ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan.” [Ar Rahman:33]
Sekarang manusia telah menciptakan berbagai pesawat dari yang kekuatannya ribuan tenaga kuda (Horse Power), hingga jutaan tenaga kuda (bahkan lebih di masa depan nanti). Semakin modern kita, di mana terjadi banyak penemuan kendaraan-kendaraan yang berkecepatan makin lama makin tinggi, seharusnya perjalanan seperti Israa’ Mi’raj itu akan makin mudah diterima. Jika ada yang menganggap tidak masuk akal, tentu pikirannya tidak berbeda jauh dengan pikiran primitif orang-orang kafir Quraisy macam Abu Jahal dan Abu Lahab yang tinggal di zaman baheula.
Tentang Langit Lapis Tujuh
Peristiwa isra' mi'raj yang menyebut-nyebut tujuh langit mau tak mau mengusik keingintahuan kita akan hakikat langit, khususnya berkaitan dengan tujuh langit yang juga sering disebut-sebut dalam Al-Qur'an.
Bila kita dengar kata langit, yang terbayang adalah kubah biru yang melingkupi bumi kita. Benarkah yang dimaksud langit itu lapisan biru di atas sana dan berlapis-lapis sebanyak tujuh lapisan? Warna biru hanyalah semu, yang dihasilkan dari hamburan cahaya biru dari matahari oleh partikel-partikel atmosfer. Langit (samaa' atau samawat) berarti segala yang ada di atas kita, yang berarti pula angkasa luar, yang berisi galaksi, bintang, planet, batuan, debu dan gas yang bertebaran. Dan lapisan-lapisan yang melukiskan tempat kedudukan benda-benda langit sama sekali tidak ada.
Bilangan 'tujuh' sendiri dalam beberapa hal di Al-Qur'an tidak selalu menyatakan hitungan eksak dalam sistem desimal. Di dalam Al-Qur'an ungkapan 'tujuh' atau 'tujuh puluh' sering mengacu pada jumlah yang tak terhitung. Misalnya, di dalam Q.S. Al-Baqarah:261 Allah menjanjikan:
"Siapa yang menafkahkan hartanya di jalan Allah ibarat menanam sebiji benih yang menumbuhkan tujuh tangkai yang masing-masingnya berbuah seratus butir. Allah melipatgandakan apahala orang-orang yang dikehendakinya...."
Juga di dalam Q.S. Luqman:27:
"Jika seandainya semua pohon di bumi dijadikan sebagai pena dan lautan menjadi tintanya dan ditambahkan TUJUH lautan lagi, maka tak akan habis Kalimat Allah...."
Jadi 'tujuh langit' lebih mengena bila difahamkan sebagai tatanan benda-benda langit yang tak terhitung banyaknya, bukan sebagai lapisan-lapisan langit.
Lalu, apa hakikatnya langit dunia, langit ke dua, langit ke tiga, ... sampai langit ke tujuh dalam kisah isra' mi'raj? Mungkin ada orang mengada-ada penafsiran, mengaitkan dengan astronomi. Para penafsir dulu ada yang berpendapat bulan di langit pertama, matahari di langit ke empat, dan planet-planet lain di lapisan lainnya. Kini ada sembilan planet yang sudah diketahui, lebih dari tujuh. Tetapi, mungkin masih ada orang yang ingin mereka-reka. Kebetulan, dari jumlah planet yang sampai saat ini kita ketahui, dua planet dekat matahari (Merkurius dan Venus), tujuh lainnya --termasuk bumi-- mengorbit jauh dari matahari. Nah, orang mungkin akan berfikir langit dunia itulah orbit bumi, langit ke dua orbit Mars, ke tiga orbit Jupiter, ke empat orbit Saturnus, ke lima Uranus, ke enam Neptunus, dan ke tujuh Pluto. Kok, klop ya. Kalau begitu, Masjidil Aqsha yang berarti masjid terjauh dalam QS. 17:1, ada di planet Pluto.
Dan Sidratul Muntaha adalah planet ke sepuluh yang tak mungkin terlampaui. Jadilah, isra' mi'raj dibayangkan seperti kisah Science Fiction, perjalanan antar planet dalam satu malam. Na'udzu billah mindzalik.
Pengertian langit dalam kisah isra' mi'raj bukanlah pengertian langit secara fisik. Karena, fenomena yang diceritakan Nabi pun bukan fenomena fisik, seperti perjumpaan dengan ruh para Nabi. Langit dan Sidratul Muntaha dalam kisah isra' mi'raj adalah alam ghaib yang tak bisa kita ketahui hakikatnya dengan keterbatasan ilmu manusia. Hanya Rasulullah SAW yang berkesempatan mengetahuinya. Isra' mi'raj adalah mu'jizat yang hanya diberikan Allah kepada Nabi Muhammad SAW.
Bagaimanapun ilmu manusia tak mungkin bisa menjabarkan hakikat perjalanan isra' mi'raj. Allah hanya memberikan ilmu kepada manusia sedikit sekali (QS. Al-Isra: 85). Hanya dengan iman kita mempercayai bahwa isra' mi'raj benar-benar terjadi dan dilakukan oleh Rasulullah SAW. Rupanya, begitulah rencana Allah menguji keimanan hamba-hamba-Nya (QS. Al-Isra:60) dan menyampaikan perintah shalat wajib secara langsung kepada Rasulullah SAW.
Makna Penting Isra’ Mi’raj
Makna penting isra' mi'raj bagi ummat Islam ada pada keistimewaan penyampaian perintah shalat wajib lima waktu. Ini menunjukkan kekhususan shalat sebagai ibadah utama dalam Islam. Shalat mesti dilakukan oleh setiap Muslim, baik dia kaya maupun miskin, dia sehat maupun sakit. Ini berbeda dari ibadah zakat yang hanya dilakukan oleh orang-orang yang mampu secara ekonomi, atau puasa bagi yang kuat fisiknya, atau haji bagi yang sehat badannya dan mampu keuangannya.
Shalat lima kali sehari semalam yang didistribusikan di sela-sela kesibukan aktivitas kehidupan, mestinya mampu membersihkan diri dan jiwa setiap Muslim. Allah mengingatkan:
"Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur'an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Ankabut:45)
Sehingga jika kita tarik benang merahnya, ada beberapa makna dalam perjalanan Rasulullah SAW ini. Pertama, adanya penderitaan dalam perjuangan yang disikapi dengan kesabaran yang dalam. Kedua, kesabaran yang berbuah balasan dari Allah berupa perjalanan Isra Mi’raj dan perintah shalat. Dan ketiga, shalat menjadi senjata bagi Rasulullah SAW dan kaum Muslimin untuk bangkit dan merebut kemenangan. Ketiga hal diatas telah terangkum dengan sangat indah dalam salah satu ayat Al-Quran, yang berbunyi “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. (Yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” Mishad Khairi
Daftar Rujukan:
- Al Qur’an Karim
- Ahmad Nurcholish, 2007, TELISIK::Isra’ Mi’raj dalam Beragam Persepektif, ICRP
- T. Djamaluddin,2007, ISRA' MI'RAJ: Mu'jizat, Salah Tafsir, dan Makna Pentingnya
(peneliti bidang matahari & lingkungan antariksa, Lapan, Bandung).
- Lukman santoso Az,2008 Hikmah Isra’ Mi’raj,Centre for Studies of Religion and State (CSRS) Yogyakarta
Langganan:
Postingan (Atom)